logo text

Chapter 09 - Tiga Ribu

Di hari berikutnya, semuanya berjalan lancar karena baru ada sedikit kegiatan, dan Giska mulai mengenal teman-teman sekelasnya. Menurut guru yang measuk ke kelasnya tadi, kelas mereka adalah kelas campuran, jadi,  setelah masa orientasi siswa berakhir nanti akan ada pengelompokan ulang sesuai dengan peringkat tes masuk.
Sejak pagi, Giska belum bertemu dengan Nadia. Namun, semalam mereka chatting cukup lama hingga Giska tertidur. Keduanya langsung akrab dan mulai berbagi rahasia. Nadia sangat ceria, tahu banyak tempat hangout bagus, dan berencana mengajak Giska bermain bersama saat libur atau bosan belajar.
Sore itu, pulang sekolah ternyata membawa petaka baru. Giska berdiri di depan sekolah, canggung sendirian di trotoar. Meski puas tidak harus bertemu Aldo hari ini, pikiran Giska terusik. Senin depan, masa orientasi siswa yang sesungguhnya akan dimulai, tetapi gadis itu tak terlalu bersemangat karena berbagai tugas aneh menanti. Papan nama dengan julukan konyol, membuat topi atau rok dengan rumbai-rumbai, hingga tugas teka-teki aneh dari kakak kelas yang semua itu menghantui pikirannya.
“Gis! Kamu lagi nunggu jemputan?” suara Nadia tiba-tiba terdengar.
Giska menoleh ke samping kiri. Kehadiran Nadia mengejutkan lamunannya. Di kejauhan, Aldo berjalan keluar dari gerbang sekolah dengan senyum lebar saat bertatapan dengan Giska.
Keberuntungan ada di pihak Giska, karena dengan kehadiran Nadia, dia bisa menghindari basa-basi dengan Aldo. Dalam hati, dia mencoba menghindar karena takut diajak bermain, terutama karena Aldo terkadang membawa mobil ke sekolah. Usia Aldo 17 tahun dan memiliki SIM. Giska heran kenapa sekolah ini memperbolehkan siswa kelas 12 membawa mobil.
“Iya, kamu mau pulang sekarang juga, Nad?” Giska membalas dengan ramah.
“Sebenernya pengin di sekolah dulu, tapi Mama nyuruh aku pulang cepet. Di rumah lagi nggak ada orang, padahal pengin banget main, Gis,” kata Nadia dengan wajah masam.
“Halo, Girls,” sapa Aldo tiba-tiba dengan senyum tengil.
Giska terperanjat, merasa salah perhitungan. Dia pikir kehadiran Nadia akan menjauhkan Aldo, tetapi nyatanya Aldo malah mendekat, dan tampaknya mencoba menarik perhatian Nadia.
“Ko Aldo nggak pulang bareng Mas Indra?” Giska bertanya sekadar basa-basi.
Aldo menggeleng dan tersenyum lagi. “Indra ada urusan. Sabtu besok mau nonton film, Gis?”
Nadia tanpa sadar mencubit pinggang Giska, terkejut dengan ajakan kencan Aldo yang terlalu to the point. Di sini, di depan gerbang sekolah, Giska sama sekali tidak menduga hal seperti ini.
Tiba-tiba, sebuah bola bisbol melayang dan mengenai dahi Aldo dan membuatnya memaki. Giska dan Nadia menunduk, demi bisa melihat apa yang baru saja jatuh. Aldo mendekat ke arah pelaku yang ternyata seorang perempuan, lalu adu mulut pun terjadi. Giska mengenali gadis itu dari kantin beberapa waktu lalu.
Kerumunan siswa yang lewat terhenti, terkesiap melihat adegan itu. Tidak butuh penjelasan panjang, semua orang tahu Aldo baru saja putus dengan gadis itu karena alasan klise—bosan. Tingkahnya ini menjadi pusat perhatian sore itu.
“Wow! Ko Aldo ganteng banget,” bisik Nadia sambil merangkul Giska.
Giska menoleh cepat, mendapati mata Nadia berbinar-binar takjub pada Aldo. “Jangan bilang kalau kamu suka dia,” tuduh Giska.
“Sedikit,” jawab Nadia sambil meringis.
“Marga kalian sama.”
“Argh! Gis, kamu rusak mimpiku dalam hitungan detik. Kalian kelihatan akrab. Siapa Koko ganteng itu? Ayo cerita!”
Nadia menyeret Giska masuk ke mobil jemputannya. Mereka duduk nyaman di dalam, mengabaikan kerumunan di luar. Aldo, seperti biasa, senang menjadi pusat perhatian.
Setelah menginap di rumah Nadia, malam itu mereka membahas Aldo. Giska menjelaskan singkat bagaimana dia mengenal Aldo, karena Papa mereka adalah teman baik. Giska dan Aldo sering bertemu di gereja atau acara keluarga. Karena cerita itu, Nadia mulai menangkap maksud peringatan Giska soal marga, menyimpulkan bahwa Giska sebenarnya menyukai Aldo.
“Aku benci Ko Aldo,” kata Giska dengan wajah ditekuk.
“Kenapa?” tanya Nadia, terkejut.
“Karena dia suka tarik ulur perasaan orang,” keluh Giska.
“Apa? Tapi kelihatannya kalian saling suka.” Nadia sulit mempercayai itu.
Mereka berdua sedang berada di kamar Nadia, duduk di karpet sambil menonton acara televisi. Giska mengabari Bi Ijah bahwa dia akan menginap di rumah teman, sehingga Bi Ijah tidak perlu menunggunya pulang.
Nadia memaksa Giska menginap karena orang tuanya sedang dinas ke luar negeri. Malam ini, Nadia tidak ingin sendirian dan Giska juga senang karena tidak perlu pulang ke rumah.
***
Tahun 2019
Hari itu adalah tanggal merah, jadi Giska bisa tidur lebih lama. Tidak ada yang lebih indah selain bermalas-malasan di hari libur. Namun, suara bel pintu apartemen mengganggu tidurnya. Dengan malas, Giska turun dari ranjang dan membuka pintu.
Dia terkejut melihat kurir ojek online berdiri dengan membawa satu buket besar mawar merah yang merekah, begitu banyak hingga kurir itu kesulitan membawanya.
“Kak, mohon diterima dulu, ya,” kata si kurir.
Giska mengerutkan dahi, memeluk buket yang luar biasa besar di tangannya. Ini pasti ulah Aldo! “Bisa cancel aja nggak, Pak?” tanya Giska, ragu-ragu.
Tentu saja tidak. Kalau bisa, Giska lebih suka melempar buket itu ke muka si pengirim—Aldo yang tengil. Ini bukan pertama kalinya dia menerima mawar merah dari Aldo. Di dalam apartemen sudah ada banyak bunga serupa, Giska bingung harus tertawa atau menangis melihatnya.
“Romantis pun ada batasnya, Ko,” keluh Giska dalam hati.
“Tugas saya hanya mengantar ini, Kak. Kalau ada komplain, mungkin bisa langsung ke pengirim, Revaldo Aditya?” balas si kurir.
Giska menghela napas panjang, menyadari tak ada gunanya membuat kurir kerepotan. Dia menandatangani penerimaan dengan setengah hati, lalu kembali ke dalam apartemen sambil menggerutu. Ruang tamu penuh dengan sepuluh buket bunga serupa. Sialan Aldo!
“Do, kamu pikir aku ini reseller bunga?” gerutunya.
Dengan kesal, Giska melempar buket baru itu ke lantai. Bau harum mawar memenuhi ruangan, membuatnya semakin frustasi. Bagaimana caranya Giska membuang bunga-bunga ini tanpa mengganggu penghuni apartemen lain?
Tingkah Aldo semakin menjadi-jadi sejak Giska lulus kuliah. Mereka jarang bertemu, hanya sesekali di acara keluarga, tapi Giska selalu berusaha menghindar. Giska takut, karena Naomi, kakaknya Aldo, sering mengancam akan membuatnya dipecat dari pekerjaan yang didapatnya dengan susah payah ini.
Giska tidak mau masalah ini berimbas pada pekerjaannya. Dengan kesal, dia menghubungi Nadia. Temannya itu sekarang bekerja di Singapura.
“Angkat, Nad.” Giska berjalan mondar-mandir di dalam kamar, gelisah. Dia ingin sekali memukul Aldo.
“Hai, Cici Teller!” sapa Nadia saat mengangkat video call.
Nadia sedang berada di dalam mobil. Giska keluar dari kamar, memperlihatkan pemandangan sepuluh buket mawar merah. Nadia tertawa terbahak-bahak melihat ruang tamu Giska yang mirip taman bunga.
“Romantis banget, ya? Ko Aldo romantis banget!” ejek Giska dengan nada kesal.
“Kenapa Ko Aldo jadi agresif begini, ya? Apa dia baru mau serius sama kamu sekarang? Apa karena baru sadar, ya? Ohh, Giska, Koko sayang kamu, I love you 3000, Gis!” Nadia terus menggoda.
“Please, deh, dia itu berengsek,” gerutu Giska.

Komentar Buku (82)

  • avatar
    Raihana Rahma Putri

    baguss

    26/05/2025

      0
  • avatar
    BukriSana

    sukaaa bangettt

    19/03/2025

      0
  • avatar
    Tisha

    bagusss

    18/03/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru