Beranda/Aku Pasti Bisa Tanpamu/
Bab 35 Sedikit Karma
AKU PASTI BISA TANPAMU
Jangan lupa klik berlangganan ya teman-teman, biar tak ketinggalan update terbarunya.
Terima kasih banyak untuk yang sudah meluangkan waktu membaca cerita saya.
Semoga sehat dan sukses selalu ya...
***************************************
Part 35
Sedikit Karma
Aku sungguh sangat kaget, saat melihat di depan rumah Sinta yang megah itu, banyak orang bergerombol dan juga ada beberapa mobil yang di parkir kurang rapi di depan rumah itu.
Aku pun segera berhenti dan bertanya kepada sesorang ibu-ibu yang juga sedang berhenti di pinggir jalan sama sepertiku.
"Maaf, Bu, ada apa di rumah itu? Kok rame sekali ya?" tanyaku.
"Sedang ada pelakor yang di grebek katanya, Mbak," jawab itu dengan wajah datar.
Pelakor? Siapa? Sinta atau Selfi?
Ah jawaban dari ibu tadi, tak memuaskan rasa kepoku, yang ada malah makin penasaran.
Akhirnya aku menitipkan motor, di rumah yang berada tepat di depan rumah Sinta, dan segera masuk kedalam kerumunan orang di depan rumah itu.
Kini di depan mataku kini terpampang sebuah kejadian yang amat mengejutkan.
Selfi sedang dianiaya seorang gadis yang umurnya kurang lebih sama dengan Selfi.
"Kurang ajar kamu Ya, berani sekali kamu menggoda Papaku!" teriak gadis itu sambil⁶ menjambaki rambut Selfi.
Bu Sarah tentu saja berteriak histeris saat putrinyya diperlakukan seperto itu.
"Sudah...! Sudah! Jangan sakiti anakku!" Teriaknya yang sedang dipegangi dua orang perempuan itu.
"Apa katamu? Anakmu nggak bersalah? Dia sudah menggoda suamiku, dasar gadis tak punya harga diri! Pasti kamu tak mendidiknya dengan bail dirumah. Atau mungkin dia ini menuruni sifatmu? Pasti itu!" Teriak seorang wanita yang seumuran dengan Bu Sarah itu.
"Suamimu saja yang mata keranjang! Pergi kalian dari sini! Stop jangan sakiti anakku terus, dia sedang hamil!" teriak Bu Sarah lagi.
Empat perempuan berwajah oriental itu saling pandang saat mendengar ucapan Bu Sarah itu, dan saling pandang satu sama lain, kemudian tertawa bersaama.
"Hahaha jadi hal ini yang kau gunakan untuk menjerat suamiku...tapi, palingan itu juga anak nggak jelas! Secara kamu kan open BO, pasti yang melakukan hal itu sama kamu bukan hanya suamiku! Kupikir, kamu pasti pakai guna-guna agar suamiki nempel terus sama kamu!" jawab salah satu wanita itu sengit.
"Jangan sembarangan, aku tak pernah open Bo! Aku hanya menjadi simpanan Om Joni saja, tak pernah aku melakukan ini dengan pria lain! Dan asal kalian tahu, anak dalam kandunganku ini laki-laki dan sangat diharapkan oleh Om Joni!" teriak Selfi sambil menangis.
Tak kulihat wajah Mas Johan di sini, hanya ada Sinta yang berusaha membantu Selfi. Pasti ini adalah keluarga Om Joni.
Sungguhnaku sangat terkejut dengan kejadian ini, ternyata karma itu memang datangnya sangat cepat dan tanpa di duga. Semoga saja mereka bisa mengambil hikmahnya.
Perang mulut dan adu jotos diantara para wanita itu, masih terus berlanjut, hingga kemudian datang beberapa pria yang meminta kerumunan membubarkan diri, dan mengajak para perempuan itu bermusyawarah, sepertinya mereka adalah para perangkat desa setempat.
Aku dan yang lainnya, tentu saja langsung membubarkan diri, karena pagar rumah besar milik Sinta itu pun, kini dikunci dari dalam, mungkin agar tak ada orang yang mengganggu.
Tetangga Sinta yang kutitipi motor itu, membuka toko kelontong kecil-kecilan, dan sebelum pulang, kuputuskan membeli minuman dingin dan roti, kemudian memakannya di teras.
"Rumahnya mana Mbak?" Tiba-tiba si empunya rumah menanyaiku dan kini sudah duduk di dekatku.
"Katerban ,Bu." Aku menyebut nama kampungku.
"Wah, lumayan jauh dong dari sini? Lah tadi kok bisa ke sini?" tanyanya lagi.
"Habis dari kota, Bu. Ini tadi lalu mau beli gado-gado Bu Jum yang terkenal itu, eh nemu rame-rame, ya mampir dulu, hehehe,"
"Iya gado-gado itu memang rame, Mbak. Do rumah besar ini memang sering ramai Mbak, terutama setelah di tempati Sinta. Apa Mbak kenal dengan yang punya rumah itu?" tanyanya lagi.
"Ya pernah kenal, Bu. Dulu beberapa kali naik ojek onlinenya. Tapi saya kaget kok rumahnya di sini? Masak iya orang kaya narik ojek online?" ucapku sambil sedikit berbohong.
"Dia itu aslinya anak orang kaya Mbak, ya di sini rumah orang tuanya, tapi dia itu nakal, nggak kayak kakaknya Dewa. Sudah lama dia tak tinggal di sini. Baru saja tiga minggu, sudah banyak sekali ulahnya.
Dia tinggal di rumah itu dengan keluarga dari suami sirinya, mertua dan adik iparnya. Lima hari tinggal bersama, warga di sini menggrebek Sinta dan pria bernama Johan itu, karena mereka kan belum menikah. Sebenarnya, mereka mau dilaporkan polisi saat itu, tapi warga masih sungkan sama Dewa, kakaknya Sinta yang baik hati dan dermawan itu, jadi kamu hanya meminta mereka untuk menikah siri saat itu juga." Tanpa di minta, ibu itu pun bercerita, dan di wajahnya nampak tak suka sekali dengan tetangga depan rumahnya itu.
Jadi Mas Johan dan Sinta di grebek lagi? Dan itu berarti mereka sudah dua kali digrebek warga, naudzubillahimindzalik, amit-amit. Ternyata teguran Allah yang kemarin itu belum juga membuat mereka bertaubat.
"Lah Mas Dewa itu, tinggal di sini juga, Bu?" tanyaku lagi.
"Dewa, pindah kerumah besar yang satu lagi, kan memang rumah ini sudah menjadi bagiannya Sinta. Dia sepertinya tak suka dengan keluarganya Johan itu.
Tak hanya Dewa sih, kami juga warga sekitar tak ada yang suka pada mereka, terlebih ibunya itu. Orang kaya baru saja belagu banget, sukanya cari masalah sama warga lain." Wajah tak suka itu makin nampak darinya.
"Ohhh...begitu ya, Bu. Tapi kok kayaknya tadi suami Sinta tak ada ya saat tadi?" tanyaku lagi.
"Dia masih di rumah sakit, tiga hari yang lalu, dia tertabrak motor dan kayaknya sekarang masih di rumah sakit. Soalnya katanya lukanya parah, dia gegar otak dan sebelah kakinya harus diamputasi.
Warga di sini juga tak begitu suka padanya. Kalau nyetir itu loh, sukanya ngebut padahal ini kampung loh, banyak anak kecil, mangkanya saat di kecelakaan banyak yang nyukurin!"
Ya Allah jadi saat ini Mas Johan sedang sakit di rumah sakit? Meski dia jahat, tapi saat mendengarnya sakit, aku juga tak tega. Jadi mungkin karena banyaknya masalah yang terjadi pada keluarga ini, jadi mereka pun tak jadi menerorku.
"Jadi suaminya Sinta itu saat ini masih kritis gitu, Bu?" selidikku lagi.
"Katanya sih begitu, warga sini jarang kok yang menjenguk. Belum selesai masalah kakaknya, eh kini masalah adik iparnya. Memang keluarga bermasalah mereka itu."
"Jadi ceritanya digrebek istri sah atau gimana sih ini tadi, Bu? Kan saya datangnya telat, hehehe." Kembali ku korek info pada ibu itu.
"Ya seperti itulah, Mbak. Sebenarnya jika istri sahnya itu tidak datang, justru wargalah yang akan kembali menggrebek mereka. Sikap mereka kan mencurigakan, nggak mungkin kan si Selfi itu sudah nikah sama Om-Om itu, belum nikah malah sudah hamil, dan mereka itu sering menginap di sini loh. Mangkanya banyak yang nyukurin juga, Mbak," timpal si ibu masih dengan kesal.
Mengapa mereka tak bisa berubah, padahal di kampungku dulu berulah, kenapa di sini harus berulah lagi?
Apa Bu Sarah dan Selfi juga belum bisa berubah, meski keadaan Mas Johan sudah kritis?Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (443)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
ceritanya bikin ga bisa brenti baca....bagussss....semangat berkarya buat authornya
02/04/2022
0semua akan baik baik saja tanpa mu
22/08
0aku suka cerita ini.
09/08
0Lihat Semua