logo text

Bab 17 Apa Ini Karma 2?

AKU PASTI BISA TANPAMU
Apa ini Karma 2?
"Sepertinya lebih terlihat ceria Jum. Malah sering kulihat dia teleponan sambil senyam-senyum gitu. Dia juga kemarin kulihat punya jam tangan baru, dan juga dia pulang beberapa hari yang lalu, membawa belanjaan yang lumayan banyak , saat kutanya katanya sedang dapat arisan yang diadakan dengan sesama teman kuliahnya di kampus," jawab Bu Sarah.
"Eh, tapi tiap hari Mbak Selfi masih minta uang saku 'kan Bu?" tanyaku lagi.
"Minta lah, tapi nggak di kasih juga nggak protes kayak dulu. Emmm kayaknya dia juga sudah jarang minta uang untuk sekedar beli buku atau kerjain tugas bareng teman-temannya."
"Oh, begitu...terus Bu Sarah nggak nanya gitu, kok nggak pernah minta uang buat keperluan kuliah lagi?" tanyaku lagi.
"Nggak lah, kupikir malah enak dia tak pernah minta uang untuk ini itu, jadi nggak terlalu buat aku dan Johan tertekan. Ya kalau dulu ada Wulan, enak tinggal minta duit selesai, lah kalau sekarang Selfi minta duit, kami harus kelimpungan dulu nyari uangnya."
Ya ampun kenapa nggak ditanyain sih? Bisa jadi hal itu yang membuat Selfi akhirnya macem-macem di luar.
"Maaf ya, Bu. Bukannya saya sok pintar, tapi menurut saya, Ibu harusnya menanyakan dengan tegas hal itu, agar Mbak Selfi merasa diperhatikan dan takut kalau macam-macam di luaran, Bu. "
"Iya nggak apa-apa kok, Jum. Aku malah senang sekarang ada teman curhatku seperti kamu ini. Ya nanti kalau dia pulang akan kutanyakan."
"Iya, Bu. Saya juga senang berada di sini. Saya pamit salat magrib dulu ya, Bu. Sudah telat ini keburu isya'."
"Ya sudah sana salat, doakan agar keluargaku baik-baik saja ya. Oh iya, jangan bilang ke Johan semua tentang Selfi, biar kucari tahu dulu kebenarannya."
⁷"Iya, Bu," jawabku, kemudian aku segera mengambil wudu untuk shalat magrib karena waktunya sudah meppet.
Setelah salat, kubuka sebentar handphoneku, untuk mengecek perkembangan novelku, Alhamdulillah banyak sekali kemajuannya. Nanti malam aku harus bisa mengetik dua bab, agar menjadi lebih banyak yang membuka kunci.
Hatiku kini malah menjadi tak tega untuk keluar dari sini, melihat apa yang terjadi, terutama pada mertuaku itu, dulu dia pernah sangat menyayangiku. Paling tidak dengan addanya aku di sini, bisa sedikit menenangkan beban pikiran beliau. Kasihan di usianya yang sekarang ini, kedua anaknya tak bisa membahagiakan, malah hanya membebaninya saja.
Aku kemudian segera mencuci pakaian yang tadi belum sempat kuselesaikan, dan segera menjemurnya di belakang. Belakang rumahku ini terdapat sedikit halaman, yang sudah dipagari, dan memang di fungsikan menjadi tempat menjemur pakaian dari dulu. Setelah selesai aku pun segera maksud dan berniat akan istirahat, namun saat menyaksikan mertuaku duduk sendirian di teras, aku pun tak tega dan jadi ikut nimbrung bersamanya.
"Bu, kok bengong? Ini sudah pukul delapan malam loh, nggak tidur?" tanyaku sambil duduk di sampingnya.
"Masih sore gini kok tidur, Jum. Kamu saja tidur sana, kan sudah nggak ada pekerjaan lagi!" jawabnya sambil matanya terus lurus menatap ke depan.
"Belum ngantuk juga ini Bu, hehehe."
"Kamu nggak ingin menceritakan tentang keluargamu Jum?" tanya Bu Sarah tiba-tiba.
"Keluarga? Saya sebatang kara, Bu. Orang tua saya sudah meninggal sejak saya kecil."
"Loh, katanya kemarin kamu lagi nunggu di jemput Kakakmu? Kok sekarang bilang sebatang kara itu loh?!" tanya Bu Sarah lagi sambil menoleh ke arahku.
Hemmm, ternyata mertuaku ini, ingat dengan apa yang tadi pagi aku bilang, hihihi, padahal aku yang akting saja lupa kok, dasar amatiran.
"Oh itu, dia hanya Kakak angkat saja, Bu. Namun entah kapan datangnya, belum ada kabar darinya," jawabku mencoba setenang mungkin, agar tak terlihat berbohong.
"Ya sudah kalau nggak ada kabar, kamu tinggal di sini saja terus sama aku, toh kamu tahu kan aku nggak pernah punya teman di sini. Meski kedua anakku di rumah, tapi mereka sibuk dengan urusannya masing-masing dan tak ada yang menghiraukanku."
Tuh 'kan, aku jadi kasihan kepada beliau, karena dulu aku sudah mengagpanya sebagai ibu kandungku sendiri, beliau pun awalnya sangat baik padaku di dua tahun pernikahan, kami sering sekali bercanda dan bercengkarama berdua, namun kembali setelah Mas Johan bangkrut, semua berubah sikapnya, termasuk Bu Sarah, ibu mertuaku ini.
"Insyaallah, Bu. Saya tak enak di sini terus, merepotkan Ibu. Dan saya juga ingin pulang ke rumah saya di kampung yang sudah lama kosong , sejak saya menikah dan di boyong suami ke kota ini," kilahku.
"Kamu itu nggak ngrepotin kok, malah kamu ngringanin bebanku di sini. Itu perempuan simpananya si Johan, tak pernah mau membantu pekerjaan rumah sama sekali, beda sekali dengan Wulan dulu, yang selalu memperlakukan kami seperti raja di sini. Kerjaannya sama dengan Johan, hanya main perintah saja. Kalau bukan karena kami ini suka dengan uangnya, dan motornya di pakai oleh Selfi, maka sudah kuusir saja dia itu dari sini!" ucapnya berapi-api.
Sifat serakah dan mata duitannya keluar 'kan? Dan jika dalam keadaan tak enak, pasti yang dicari adalah Wulan, karena memang hanya aku yang tulus melayani mereka, hehehe. Kasihan juga sih si wanita pelakor itu, dimanfaatin oleh keluarga ini, tapi ya rasain juga sih, siapa suruh ngerebut suami orang, cepat atau lambat karma akaan datang pada orang tak tahu diri sepertinya.
"Maaf, ya Bu. Apa Ibu nggak takut, kalau Mas Johan dan selingkuhannya itu terus-terusan di sini? Apa nggak takut digrebek warga suatu saat?"
"Ah, hal itu tak mungkin terjadi, Jum. Warga di sini itu orangnya cuek, nggak ngurusin satu sama lain. Lagian kalau misal malam-malam ada yang ketok pintu, misal warga ingin menggerebek nih, kan bisa dia pindah tidur bersama Selfi, selesai 'kan?" jawabnya enteng.
"Itukan kalau pas siap, Bu, lah kalau pas lagi apes gimana? Apa Ibu juga nggak takut juga dengan dosa, karena membiarkan terjadinya perzinahan?"
"Halah aku saat ini nggak mikirin dosa, Jum. Yang penting bisa makan itu cukup! Kalau cuma mikirin dosa, aku dan anak-anakku kini sudah hidup di jalanan karena tak punya rumah. Kadang dalam hidup itu diperlukan sedikit kecurangan, agar kita bisa menang. Buat pengalaman saja nih, Jum.
Dulu kami semua selalu berlaku jujur dan benar, malah semua yang kami miliki hilang. Dan itu membuat kami berfikir, jika menjadi orang yang baik itu rugi, sedikit banyak kami harus berlaku curang pada siapapun, termasuk kepada Wulan. Meski dia baik sekali, namun mengakalinya harus tetap di lakukan agar kami bisa punya rumah. Dan kali ini, si Johan sedang merayu simpananya yang baru, agar kami bisa dapat satu motor lagi."
Astaghfirullah aladzim, kenapa pikiran beliau jadi sejahat itu? Berarti semua berubah hanya karena mereka bangkrut? Padahal seharusnya, dengan diberi cobaan seperti itu, mereka harusnya bisa evaluasi diri, dan lebih mendekatkan diri pada Allah, bukan malah semakin menjauh seperti ini, naudzubillahimindzalik.
Berarti memang benar adanya, hanya karena harta, bisa merubah seratus delapan puluh derajat sifat seseorang. Kasihan juga sih sebenarnya selingkuhan baru Mas Johan itu, dia tak tahu, jika kini dia tengah berada di sarang penyamun, yang setiap saat berusaha menyingkirkannya hanya untuk memdapatkan hartanya saja.

Komentar Buku (443)

  • avatar
    Loezee

    ceritanya bikin ga bisa brenti baca....bagussss....semangat berkarya buat authornya

    02/04/2022

      0
  • avatar
    Nisa Khairunisa

    semua akan baik baik saja tanpa mu

    22/08

      0
  • avatar
    Echy Msn

    aku suka cerita ini.

    09/08

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru