logo text

Bab 17 Benang Kusut Yang Terurai

"Mas, aku ingin ngomongin sesuatu tentang Vania." kataku malam itu.
"Iya, Dek. Memang nya ada apa dengan Vania?" tanya suamiku.
Malam itu, kami berdua duduk di teras rumah, karena memang belum ngantuk. Sementara Vania dan Gita, seperti biasa sedang menonton Tv.
"Anak yang ada di dalam kandungannya Vania itu bukan anaknya Adit, Mas."
"Lho. Trus?" kata Mas Ridwan kaget.
Kemudian aku menceritakan semua yang Vania katakan pagi tadi kepada Mas Ridwan, dan memintanya mencarikan solusi.
"Vania, kesini sebentar!" teriak Mas Ridwan.
Belum memberi komentar atas ceritaku, namun Mas Ridwan sudah memanggil Vania. Semoga saja tak terjadi apa apa ya Allah. Vania pun langsung menghampiri kami.
"Ada apa, Mas?" tanyanya.
"Duduk sini dulu." kata Mas Ridwan sambil menepuk kursi di samping kirinya.
Vania pun duduk, dan terlihat raut ketakutan di wajannya.
"Anak siapa yang ada di dalam kandunganmu itu?" tanya suamiku.
"I ini, anu, aku nggak tahu, Mas." kata Vania gugup.
"Van, kurang kah kasih sayang yang kuberikan kepadamu selama ini? Atau menurutmu apakah aku tak bersungguh sungguh membesarkanmu dan membiayai mu hingga kamu tak kalah dengan anak anak lain? Meski memang jujur kuaikui, aku tak bisa memberi kemewahan, namun aku sudah memaksimalkan semuanya." cecar Mas Ridwan.
Vania tak menjawab pertanyaan pertanyaan Mas Ridwan, dia hanya menunduk. Sepertinya dia tahu kemana arah pembicaraan Kakak Iparnya.
"Apakah pendidikan agama yang kami berikan juga kurang? Atau memang kamu tak pernah mengangap aku ada? Jawab, Van!. Jangan diam saja." kata suamiku sedikit emosi.
"Maafkan Vania, Mas!. Aku benar benar telah salah jalan. Aku menyesal, Mas. Tak bisa mengendalikan hawa nafsu. Tolong maafkan aku, Mas." rengek Vania sambil menangis.
Kini gantian Mas Ridwan lah yang diam saja, dia menyenderkan kepalanya ke tembok, dan menghirup rokoknya dalam dalam. Aku yang ada di samping kananya, juga hanya diam, tak bisa berkata apa apa.
"Aku sungguh menghargai semua yang Mas Ridwan berikan. Mas Ridwan selalu sayang kepadaku dan mencoba memberi segala yang terbaik untukku. Maafkan telah membuat malu keluarga Mas Ridwa . Aku sangat menyesal, Mas. Aku akan bertaubat." kata Vania lagi.
"Bagaimana bentuk penyesalanmu dan pertaubatanmu?" tanya Mas Huda tenang.
"Aku akan meninggalkan Om Budi, Mas. Dan juga tak akan lagi melakukan perbuatan zina itu. Aku juga akan meminta ampun kepada Allah dan lebih rajin ibadah. Dan juga akan berusaha jadi pribadi yang lebih baik." jawab Vania.
"Oke, semoga yang kamu ucapkan benar benar kamu lakukan dan bisa istiqomah. Lalu bagaimana rencana pernikahanmu dengan Adit, menurutmu?" tanya Mas Ridwan lagi.
"Aku ingin pernikahan ini tetap dilaksanakan, Mas. Demi anak dalam kandunganku ini, dan juga agar keluarga nama baik keluarga ini, Mas." jawab Vania yang mulai berhenti menangis.
Mas Ridwan sesaat manggut manggut dengan jawaban Vania. Sementara aku hanya bisa menjadi penonton sementara saja. Karena aku menghormati suamiku, biarlah dia yang akan mencoba menyelesaikan masalah ini. Saat nanti dia meminta saranku, baru aku akan bicara.
"Jadi, menurutmu kita harus mengorbankan Adit? Laki laki yang tidak bersalah itu. Dan kalau katamu untuk menjaga nama baik keluarga ini, kenapa harus Adit yang di korbankan, mengapa kita tidak memaksa salah satu dari lelaki yang pernah berhubungan zina denganmu itu? Atau kenapa nggak kita cari saja laki laki lain diluar sana, selain Adit untuk menikahimu?" tanya Mas Ridwan lagi tenang.
Vania sepertinya kaget dengan pertanyaan dari Mas Ridwan barusan, karena dia terlihat sesaat memandang wajah Mas Ridwan kemudian menunduk lagi.
"Candra dan juga Om Budi tak mau bertanggung jawab, Mas. Mereka saling melempar kesalahan. Dan aku pun tak mau menggugurkan kandungan untuk yang ketiga kalinya. Aku tak ingin menambah dosa. Aku memilih Mas Adit, karena sepertinya dia benar benar menyayangiku dan bisa menjadi ayah yang baik untuk anak ini." jawab Vania sambil menunduk.
"Hahaha, kasihan sekali ya Adit, karena menurutmu dia benar benar mencintaimu dan dia orang baik, maka kamu tega menumbalkannya. Lalu menurutmu, apakah Adit berhak tahu bahwa itu bukan anaknya sebelum pernikahan terjadi?" tanya Mas Ridwan lagi.
"Iya, Mas. Kalau bicara jujur aku takut, Adit akan pergi." jawab Vania polos.
"Hemmm...kamu jahat Vania. Pernikahan itu untuk selamanya, bukan untuk main main. Jadi jujurlah apapun kepada suamimu. Kita harus berterus terang kepada Adit tentang semua ini. Apapun nanti jawabanya kamu harus terima. Aku tak mau pernikahan terjadi atas dasar kebohongan." kata Mas Ridwan tegas.
"Tapi, Mas." kata Vania.
"Tak ada tapi tapian lagi. Besok aku akan meminta Adit kesini. Sekarang kamu masuk, dan istirahat ini sudah malam!" kata Mas Ridwan.
Vania pun tak berani berkata apa apa lagi, dia pun langsung masuk kedalam rumah. Kemudian Mas Ridwan pun menelepon Adit memintanya datang ke sini besok pagi, dan Adit pun menyetujuinya. Kebetulan juga besok hari minggu, jadi Mas Ridwan libur kerja.
"Ya sudah, Dek. Ayo sekarang kita tidur. Berdoa saja yang terbaik untuk hari esok. Dan apapun nanti yang menjadi keputusan Adit harus kita terima dengan legowo." kata Mas Ridwan sambil memegang lenganku dan mengajakku masuk.
***** ***** *****
Tepat pukul sembilan pagi, Adit sudah sampai dirumah kami, kebetulan aku dan Vania juga telah selesai mengantar pesanan kue, yang sudah kukerjakan sejak pukul tiga dini hari tadi dengan dibantu Vania.
Kami bertiga pun duduk di ruang tamu bersama Adit, sementara Gita, tadi pamit main kerumah temanya, yang letaknya ada di samping kanan rumahku.
"Lagi repot nggak nih, Dit?" kata Mas Ridwan membuka obrolan pagi itu.
"Kalau repot sih selalu, tapi kan ada waktu waktu disaat repot itu haris di nomer duakan, Mas. Heheheh. Apalagi kan ini hari minggu, kata orang orang kan family time kan." jawab Adit, sambil melirik Vania yang duduk di sampingnya.
"Hahaha iya benar, Dit. Sebenarnya ada hal yang sangat penting yang harus dikatakan sebelum acara pernikahanmu dengan Vania nanti. Silahkan Van, kamu katakan sejujurnya sendiri pada Adit." kata Mas Ridwan.
"Eh kok kayaknya jadi serius gini ya. Emang ada apa sih, Yank?" tanya Adit.
Vania masih diam saja, sambil memainkan jari jarinya. Aku tahu akan sangat sulit mengatakan hal ini pada Adit. Adit yang belum mengerti, bergantian melihatku dan Mas Ridwan.
"Katakan, Van. Tak perlu khawatir ada aku disini. Insyaallah semua akan jadi lebih baik setelah kamu jujur." kataku.
Kemudian dengan masih menunduk, Vania mengatakan yang sebenarnya tentang siapa ayah bayi di dalam kandungannya tersebut. Dan juga tentang jebakanya malam itu, setelah menghadiri acara pernikahan teman Adit. Aku dan Mas Ridwan pun hanya bisa diam saja. Vania tak berbicara tentang masa lalunya, hanya kehamilan kali ini saja.
Setelah mendengarkan semua perkataan dari Vania, kulihat Adit sepertinya sedikit syok. Dia menyenderkan kepala ke kursi dan menutup wajahnya dengan tangannya. Beberapa saat dia terdiam, kemudian dia menarik nafas panjang, dan mulai berbicara.
"Aku ingin kamu jawab dengan sejujur jujurnya pertanyaanku ini. Apakah di hatimu benar benar ada rasa cinta untukku? Atau kebersamaan kita selama ini hanya lah pelampiasan?" tanya Adit pelan pada Vania.
"Jujur, saat di awal awal kita pacaran rasa itu belum ada. Namun seiring berjalannya waktu, rasa itu tumbuh dengan sendirinya. Karena semua kasih sayang dan perhatian yang kamu berikan kepadaku. Dan kini aku benar benar mencintaimu." kata Vania sambil memandang Adit.
"Baik. Aku tau kamu tak berbohong dengan jawabanmu barusan. Dan terima kasih juga kamu telah berkata jujur kepadaku sebelum pernikahan, aku tahu itu sangat sulit." kata Adit sambil mengacak rambut Vania.
Aku sangat lega melihat itu, berarti dia bisa menerima keadaan Vania saat ini. Aku sebenarnya sudah menduga dengan semua ini, karena aku tahu sesungguhnya Adit adalah laki laki penyayang dan baik hati.
"Jadi bagaimana, Dit. Pernikahan itu tetap akan berlangsung atau dibatalkan saja?. Kami akan menerima apapun keputusanmu. Dan tolong jangan memaksakan hatimu jika kamu tak bisa, karena pernikahan itu bukan permainan, dan kami tak ingin nanti kamu malah makin tersiksa. Atau kamu ingin waktu untuk memikirkannya? " tanya Mas Ridwan pada Adit.
"Tidak, Mas. Aku tak perlu waktu untuk berfikir, pernikahan itu akan tetap dilaksanakan sesuai rencana. Aku sudah terlanjur jatuh cinta pada Vania, Mas. Apapun keadaanya aku akan menerimanya dengan ikhlas, karena dia pun sudah mau jujur. Aku akan bertanggung jawab pada kehamilan Vania ini, dan akan mengagapnya sebagai darah dagingku sendiri. Dan aku pun tak ingin melakukan kesalahan untuk kedua kali, Mas." kata Adit sambil melirikku.
"Alhamdulillah, terima kasih banyak ya, Dit. Aku tahu kamu orang baik. Aku memasrahkan Vania padamu. Vania, kamu harus benar benar berubah dan menjadi istri yang baik untuk Adit. Jangan sampai nanti kamu mengecewakannya." kata Mas Ridwan.
Alhamdulillah semua berjalan sesuai permintaanku, ya Allah. Semoga acara pernikahan nanti lancar, dan pernikahan mereka langgeng.

Komentar Buku (99)

  • avatar
    SungSam

    semakin menarik suka bangat❤️❤️

    16d

      0
  • avatar
    Sri Sunarti

    bagus banget suka semua karya kakak

    10/08

      0
  • avatar
    ZaHanRi

    kok bisa gituh

    03/11

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru