logo text

93. DAN MUSIM PUN BERGANTI

Setelah mengganti pakaian dan merapikan penampilannya di salah satu pom bensin yang dia lewati dalam perjalanan kembali menuju rumah sakit, Gibran tidak bisa fokus menyetir.
Tangan lelaki itu terus gemetaran.
Pikirannya bercabang dan penuh.
Tatapannya berkabut akibat air mata yang membendung di kelopak matanya.
Bayangan terakhir saat dirinya berhasil melenyapkan nyawa seseorang kian membuatnya frustasi. Di satu sisi dia merasa bersalah, namun di sisi lain dia juga tak akan membiarkan Mirella terus menerus mengganggu ketentraman hidup rumah tangganya bersama Gaby.
Lantas, apakah yang dilakukannya ini benar?
Apakah ini adil untuk Mirella?
Apakah ini adil untuk Gaby?
Mungkinkah dirinya mampu melewati hari-harinya di depan setelah apa yang dia lakukan malam tadi di atas bukit itu?
Setelah dirinya membunuh Mirella...
*
Aku tidak bisa... Aku mencintaimu, Ib... Aku tidak bisa melakukannya," Mirella berhambur memeluk tubuh Gibran dan menangis terisak di balik dada lelaki yang sangat dia cintai itu. "Awalnya aku memang berpikir akan lebih baik jika kamu mati, daripada aku tidak bisa memilikimu, tapi kenyataannya, aku tidak bisa melakukan hal itu, Gibran... Aku mencintaimu..." Ucap Mirella setelah melempar pisau yang diberikan Gibran hingga terjatuh ke tanah basah.
Gibran membalas pelukan Mirella dengan satu tangannya yang sudah menyimpan pisau lain.
Dan..
Satu tusukan berhasil menembus perut bagian bawah dada Mirella yang langsung membelalakkan matanya. Menatap tak percaya ke arah wajah Gibran dengan tatapan lelaki itu yang berkaca-kaca.
"Gib-ran..." Lirih Mirella saat aliran darah di perutnya mulai mengalir.
"Maafkan aku Mimi... Maaf..."
Hingga setelahnya, Gibran kembali menusukkan pisau itu sebanyak dua kali ke area lain di sekitar perut Mirella.
Gibran membawa tubuh Mirella yang bersimbah darah turun dari tepi jurang lalu dia menaruh kepala Mirella di atas pangkuannya. Mirella yang saat itu sudah dalam keadaan sekarat.
"Ke-na-pa Gibran? Kena-pa ka-mu mela-kukan ini pa-daku?" Mirella menangis. Napasnya mulai terputus-putus seiring dengan semakin derasnya aliran darah yang terus keluar dari luka tusukan itu.
"Maafkan aku... Maafkan aku..." Gibran hanya bisa menangis dan terus menangis hingga akhirnya Mirella pun menghembuskan napasnya yang terakhir di atas pangkuannya.
Gibran kalut. Dia bingung harus melakukan apa sampai akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi Sean.
"Halo Gibran? Kamu di mana? Seluruh keluargamu mencarimu di sini?" Cecar Sean saat itu. Suara lelaki itu terdengar khawatir.
"Sean... A-aku... baru saja membunuh Mimi..."
Sean jelas terkejut. Meski dengan mudah dia menguasai diri. "Tenang, jangan panik. Di mana kamu sekarang?"
Gibran pun memberitahukan lokasi di mana dirinya berada saat itu.
"Oke, tetap tenang," bisik Sean lagi. Lelaki itu mencari tempat aman untuk bicara dengan Gibran.
"Apa yang harus aku lakukan Sean?" Tanya Gibran lagi, lelehan air matanya masih terus mengalir.
"Apa kamu sudah memastikan tidak ada orang lain di sana?" Tanya Sean pada sang adik ipar.
"Tidak, di sini hanya ada aku dan mayat Mimi,"
"Oke, sekarang, kamu buka pakaian Mimi dan buang ke jurang, lalu kamu kubur mayat Mimi dalam-dalam dan pastikan kembali tak ada yang melihatmu saat ini,"
Setelah mendapat instruksi dari Sean, Gibran pun melaksanakan apa yang diperintahkan Sean. Usai menyelesaikan semua tugasnya, Gibran berlari menuju mobilnya.
Saking lelah, kalut dan takut, dirinya malah tertidur di dalam mobil hingga pagi.
Bahkan dia sempat bermimpi buruk saat itu.
*****
Hari sudah sore ketika Gibran kembali ke rumah sakit.
Dirinya langsung di cecar dengan berbagai pertanyaan oleh keluarganya hingga Sean pun membantunya menjawab semua pertanyaan-pertanyaan itu.
Sean mengajak Gibran untuk bicara dengan membawa adik iparnya itu ke salah satu sisi area rumah sakit yang sepi.
"Apa kamu sudah melakukan apa yang kuperintahkan?" Tanya Sean saat itu.
Gibran hanya mengangguk.
Sean tersenyum miris. Dia menepuk bahu Gibran. "Apa yang kamu lakukan ini benar Gibran, aku tidak menyalahkanmu. Mungkin seandainya saja aku bisa melakukannya, aku sudah melakukannya sejak dulu. Sayangnya, aku terlalu lemah untuk bisa menyakiti wanita apalagi harus membunuhnya. Aku tidak bisa," jelas Sean sedikit memberi hiburan untuk Gibran. Sean tahu betul apa yang kini sedang dirasakan dan dialami oleh lelaki dihadapannya itu.
"Sudahlah, tidak usah berpikir macam-macam apalagi merasa bersalah. Wanita iblis itu memang pantas mati. Sebab jika tidak, harus berapa lagi nyawa orang-orang tak bersalah yang melayang karena ulahnya? Tidak usah menghukum dirimu hanya karena masalah ini. Percaya padaku, tak akan ada seorang pun yang tahu masalah ini, termasuk Gaby. Ini akan menjadi rahasia kita berdua,"
Sean pun melangkah pergi, namun beberapa meter di depan dia kembali menoleh dan berkata, "Ayolah, sampai kapan kamu akan terus di situ? Operasi Gaby berjalan lancar, dokter bilang Gaby akan lekas pulih dalam waktu dekat," teriak Sean sebelum akhirnya lelaki itu kembali melanjutkan langkahnya diikuti Gibran di belakang.
*****
Waktu berlalu dan musim pun berganti.
Kasus pencarian atas diri Mirella masih terus berlanjut tanpa menemukan titik temu.
Sementara di rumah sakit, setelah dinyatakan pulih pasca operasi pengangkatan rahim yang harus dijalani Gaby, kini kondisi kesehatan Gaby sudah jauh lebih baik.
Meski, hal itu berbanding terbalik dengan efek luka batin yang dideritanya.
Kesehatan Gaby memang pulih dan membaik dari waktu ke waktu, namun tidak untuk keadaan mentalnya yang terguncang hebat.
Setelah tahu kini dirinya tak bisa lagi mengandung akibat rahimnya yang harus di angkat, Gaby pun harus dipaksa menerima kondisi fisiknya yang cacat setelah penyiksaan berat yang dialaminya akibat kebrutalan Mirella.
Wajah Gaby rusak bahkan rambut indahnya pun kini lenyap menyisakan seonggok kulit kepala yang melepuh akibat luka bakar siraman air panas.
Sejak dirinya dinyatakan sadar pasca operasi dan mengetahui keadaannya sekarang, Gaby tak mau bertemu dengan siapapun, termasuk Gibran.
Hanya Sean satu-satunya orang yang mau diterima oleh Gaby untuk melihat kondisinya saat ini.
Itu pun setelah susah payah Gaby menyembunyikan wajahnya dari Sean. Sayangnya, Gaby memang tak bisa melakukan hal itu lebih jauh. Hingga Sean pun akhirnya melihat bagaimana mengerikannya sosok Gaby saat ini. Dan hebatnya Sean, lelaki itu hanya tersenyum dan mengatakan bahwa baginya, tak ada satu pun wanita di muka bumi ini yang lebih cantik dari adik tersayangnya itu.
Berkat semangat yang terus diberikan Sean setiap harinya, Gaby perlahan mampu menerima kondisinya dan mampu untuk kembali berdiri di atas kakinya sendiri, tentunya setelah fase hari-hari menyedihkan yang harus Gaby lewati setelah dia menggugat cerai Gibran.
Awalnya Gibran tidak mau menandatangani gugatan cerai yang dilayangkan Gaby untuknya. Lelaki itu terus berusaha untuk tetap mempertahankan pernikahannya dengan Gaby. Gibran sudah menempuh segala cara agar Gaby mau menemuinya, sayangnya semua hal itu hanya berujung pada ke sia-siaan.
Bahkan Sean sendiri pun sudah menyerah membantu mereka dalam hal ini.
Hingga akhirnya ketukan palu di pengadilan pun menjawab semuanya.
Kini, Gaby dan Gibran sudah bercerai secara sah hukum dan agama.
Keduanya kembali menjalani kehidupan masing-masing setelah Gaby memutuskan untuk kembali menetap di Amerika bersama Sean.
Dan sejak saat itu juga, Gaby dan Gibran putus komunikasi. Tentunya setelah Gaby yang memblokir semua akun media sosial yang dia miliki sehingga Gibran benar-benar kehilangan akses untuk mengetahui bagaimana keadaan Gaby saat ini.
Gibran pasrah menerima nasib, dan mau tidak mau tetap terus menjalankan rutinitas kesehariannya seperti semula.
Seperti dulu.
Meski, kini semua yang dia jalani dalam kehidupannya terasa tidak lagi selengkap dulu.
Pada akhirnya, Gibran benar-benar merasakan bagaimana rasanya kehilangan yang benar-benar hilang.
Tanpa pernah tahu, apa yang sebenarnya telah direncanakan Tuhan untuknya.
Di masa depan.

Komentar Buku (176)

  • avatar
    Nouna Noviie

    lanjutt dooongg...... jadi penasaran apa bayi yg akan d adopsi itu setelah dwasa nanati akan membalaskan dendam sang ibu kandung... apa bila mngetahuin cerita semasa hidup ibu y dan mengetahuin bahwa ayah angkat'y lah Gibran yg sudh membunuh ibu y...!!??? ini Novel baguss menurutku berhasil membawa pembaca masuk ke dalam suasana isi novel ini😍

    21/12/2021

      2
  • avatar
    Muhammad Zulfani

    sangat menarik

    09/05

      0
  • avatar
    Callista

    kereenn bangett❤️❤️

    16/03

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru