logo text

91. KETIKA SEMESTA BERKONSPIRASI

Seorang supir truk lintas propinsi yang baru saja melewati jalan raya hutan belantara di tenggara pulau Jawa tampak memparkirkan kendaraannya di sebuah rumah makan.
"Celana lu kancingin dulu tuh," ucap si kenek truk.
Sang supir pun langsung menarik retsleting celananya yang lupa dia betulkan setelah di tengah perjalanan tadi dirinya dan rekan satu perjalanannya baru saja mendapat durian runtuh.
Hidup sebagai seorang supir truk lintas propinsi membuat mereka harus rela hidup berjauhan dengan istri di kampung. Menjadi hal yang sangat membahagiakan tatkala mereka diberi kesempatan menuntaskan hasrat terpendam mereka secara gratis pada seorang wanita yang rela menukar tubuhnya dengan makanan yang tak seberapa.
"Kenapa tadi nggak lu ajak nikah aja sekalian tuh cewek. Lumayankan buat simpenan kalau lu lagi singgah di pulau Jawa," ujar si kenek lagi yang masih terus terbayang-bayang setelah berhasil merasakan nikmatnya bercinta dengan wanita misterius itu.
Biarlah misterius yang penting dia cantik dan memuaskan. Pikirnya dalam hati.
"Istri gue udah terlalu banyak, di mana-mana ada," jawab sang supir.
Selesai memesan makanan mereka duduk di bangku panjang di dalam warung makan itu sambil memperhatikan berita yang tersiar di televisi.
Saat itu berita yang menampilkan wajah seorang wanita yang menjadi buronan polisi terlihat oleh mereka.
"Itu bukannya perempuan yang tadi kita temuin di hutan ya Bang?" Ucap sang kenek.
"Iya Bud, bener," sahut sang supir membenarkan.
Lalu keduanya saling berpandangan.
Berita itu terus berlanjut dan menginfokan kepada semua orang untuk segera melapor jika ada yang melihat wajah wanita itu.
Tanpa menunggu lagi, sang supir itu pun akhirnya langsung melapor ke kantor polisi setempat.
*****
Hari itu juga, gubuk reyot tempat di mana Mimi menyiksa Gaby langsung digerebek pihak kepolisian.
Sayangnya, mereka tak mendapati keberadaan Mirella di sana.
Hanya ada tubuh seorang wanita yang tergolek di atas tempat tidur kayu dengan keadaan yang sangat mengenaskan.
Saat diperiksa, nyatanya wanita itu masih bernapas, hanya saja kondisinya kritis.
*****
Berita mengenai ditemukannya Gaby terdengar oleh Gibran dan keluarga di Bandung.
Detik itu juga mereka berbondong-bondong menuju lokasi di mana kini Gaby mendapat pertolongan.
Kedatangan Gibran dan keluarga ternyata ditunggu oleh pihak medis rumah sakit yang menangani Gaby.
Tim medis mengatakan bahwa Gaby mengalami keguguran dan mereka harus segera mengambil tindakan untuk mengangkat rahim Gaby Akibat pendarahan dalam di area rahim yang diderita Gaby terlalu parah. Hal itu disebabkan akibat pukulan keras pada area sekitar perut.
Selaku orang yang paling bertanggung jawab atas diri Gaby, Gibran pun menyetujui hal itu dan dengan berat hati menandatangani berkas operasi sebelum tim medis mengambil tindakan.
Malam itu, seluruh keluarga termasuk Gibran dan Sean turut menunggu dengan cemas hasil operasi.
Gibran memilih untuk menyendiri.
Pikirannya benar-benar kacau.
Cukup lama dia berdiam diri dengan tatapan penuh amarah, hingga akhirnya lelaki itu pergi dari koridor di depan ruangan operasi.
Sean sempat melihat kepergian Gibran, namun setelah satu jam berlalu, lelaki itu tak kunjung kembali.
*****
Malam itu, gerimis turun satu-satu.
Seorang wanita tampak berjalan sendirian di tepi jalan raya yang membelah hutan.
Tubuhnya menggigil.
Sekelebat cahaya mobil tampak dikejauhan, wanita itu buru-buru berlari mencari tempat sembunyi di balik pohon.
Ketika mobil itu sudah melewatinya dan menjauh, wanita itu kembali keluar dan melanjutkan langkahnya.
Angin berhembus dingin mencengkram kulit tubuhnya yang hanya terbalut kemeja tipis.
Wanita itu memeluk tubuhnya sendiri. Bibirnya sudah gemetar saking tak kuat menahan dingin. Bahkan kakinya mulai terasa beku dan sulit melangkah.
Wanita itu mulai terjatuh.
Lututnya berdarah.
Dia merintih dengan wajah meringis.
Sekuat tenaga bangkit. Namun dia sudah tidak kuat.
Hingga setelahnya, wanita itu pun terduduk di tepi jalan dengan merengkuh tubuhnya kuat-kuat.
Bahkan dia sudah tidak perduli dengan kendaraan yang berlalu lalang di jalanan itu.
Hingga akhirnya, sebuah kendaraan mewah pun melintas dihadapannya lalu berhenti.
Wanita itu hendak bangkit untuk kabur, sayangnya ketika sepasang netranya bertubrukan dengan seapasang netra seorang lelaki yang baru saja keluar dari mobil mewah itu, langkah si wanita seketika terhenti.
Dia menatap sendu sosok yang berdiri tak jauh darinya itu.
Lalu satu tetes air matanya mengalir disertai ucapan lirih dari mulutnya.
"Gibran..."
*****
"Bagaimana? Sudah merasa lebih baik?" Tanya Gibran pada Mirella yang saat ini duduk bersamanya di dalam mobil.
Gibran memberikan pakaian ganti untuk mantan istrinya itu dan mulai melajukan kendaraannya menuju lokasi yang dia pastikan aman dari pencarian polisi.
Hampir tiga jam kendaraan Gibran berputar-putar di sekitar lokasi di mana polisi menemukan Gaby hingga akhirnya apa yang dia yakini dalam hatinya mengenai keberadaan Mirella di lokasi itu pun terbukti.
Setelah seharian penuh pihak kepolisian mencari Mirella di lokasi itu namun tak menemukannya, akhirnya Gibran memutuskan untuk melakukan pencarian seorang diri.
Dan sepertinya, semesta memang sudah merancang semua ini hingga membuatnya begitu mudah menemukan apa yang dia cari.
"Apa kamu akan membawaku ke kantor polisi?" Tanya Mirella saat itu.
"Aku akan menyembunyikan mu dari dunia, aku akan menyelamatkanmu agar kamu tidak hidup dalam penderitaan lagi," ucap Gibran sambil fokus menyetir. Geraham lelaki itu tampak mengeras. Bahkan dengan kencang dia memegang kemudi hingga otot-otot tangannya terlihat.
"Kamu tidak marah padaku?" Tanya Mirella terharu.
Gibran menggeleng dengan senyuman tipis. "Aku sudah memaafkanmu Mimi," ucapnya tanpa menoleh.
Mirella menggelayut manja di lengan Gibran dengan menumpukkan kepalanya di bahu sang mantan suami yang begitu dia cintai itu.
Meski dia membenci Gibran, namun sejatinya Mirella tak sanggup hidup tanpa Gibran. Dirinya terlalu lemah jika sudah berada dihadapan Gibran.
"Bagaimana keadaan Gaby?" Tanya Mirella saat itu. Terdengar santai tanpa sedikit pun rasa bersalah.
Gibran menarik napas dalam, dia tersenyum getir. Luapan amarah yang tertahan di dadanya membuat jantungnya sedikit nyeri.
"Aku sudah tidak perduli pada Gaby," jawab Gibran datar.
Mirella mengangkat wajahnya dan menatap Gibran dengan senyuman lebar. "Sungguh?" Tanyanya kemudian.
"Ya," jawab Gibran cepat.
"Kalau begitu, bawa aku pergi Gibran. Bawa aku pergi jauh dari sini. Kita bisa memulai hidup bahagia bersama tanpa ada yang mengganggu," ucap Mirella lagi.
Gibran tersenyum sinis seraya berujar dalam hati.
Baik Mimi, jika memang itu maumu.
Aku akan membawamu pergi ke tempat yang jauh!
Sangat-sangat jauh...
Hingga kamu tak bisa menemukan aku lagi!
Ujar Gibran dalam hati.

Komentar Buku (176)

  • avatar
    Nouna Noviie

    lanjutt dooongg...... jadi penasaran apa bayi yg akan d adopsi itu setelah dwasa nanati akan membalaskan dendam sang ibu kandung... apa bila mngetahuin cerita semasa hidup ibu y dan mengetahuin bahwa ayah angkat'y lah Gibran yg sudh membunuh ibu y...!!??? ini Novel baguss menurutku berhasil membawa pembaca masuk ke dalam suasana isi novel ini😍

    21/12/2021

      2
  • avatar
    Muhammad Zulfani

    sangat menarik

    09/05

      0
  • avatar
    Callista

    kereenn bangett❤️❤️

    16/03

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru