logo text

82. BERDAMAI

Gibran melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan ibukota yang mulai lengang di malam hari.
Gerimis yang turun tadi sore masih menyisakan titik-titik air yang berjatuhan dari ranting dan dedaunan yang tertiup angin.
Kendaraan Gibran melesat bak anah panah yang lepas dari busurnya.
Tak memakan waktu lama, Gibran sampai di rumah barunya.
Keadaan pintu gerbang yang terbuka menandakan bahwa di kediamannya kini sedang ada tamu. Sebab, Gibran belum sempat menyewa security untuk menjaga rumah barunya tersebut.
Keamanan di komplek perumahan ini terjamin, itulah sebabnya, Gibran merasa belum begitu memerlukan jasa security untuk menjaga rumahnya. Lagipula, toh Gibran dan Gaby tidak berencana untuk bepergian jauh dalam waktu dekat.
Mereka sepakat ingin lebih banyak menghabiskan waktu berdua di rumah yang lebih terjaga privasinya.
Gibran baru saja memparkirkan kendaraan sportynya di halaman rumahnya yang dipenuhi pepohonan hias. Begitu keluar dari mobil, tatapannya langsung tertuju pada sebuah Motor matic hitam yang entah milik siapa.
Masa iya, lelaki bernama Steve itu pemiliknya?
Tidak sebanding dengan penampilannya!
Pikir Gibran meremehkan.
Langkah Gibran panjang menuju pintu utama yang keadaannya memang terbuka separuh. Gibran tak perlu mendorongnya karena dia sudah bisa masuk.
Begitu sampai di ruang tengah alias ruang keluarga, di mana terdapat sebuah televisi layar datar besar yang tampak menyala, langkah Gibran terhenti di ambang pintu. Dia tertegun menyaksikan kedekatan dua manusia berlainan jenis yang kini berada di ruangan itu.
Mereka Gaby dan Steve!
Saat itu Gibran melihat Steve dalam keadaan Shirtless dengan Gaby yang mengelus-elus dada bidang lelaki itu.
Apa-apaan?
"Mau aku ambilkan pakaian Gibran?"
Suara Gaby terdengar.
"Boleh," sahut Steve.
Gibran sedikit bersembunyi saa Gaby berjalan menuju tangga menuju lantai atas.
Emosi, Gibran mendekati Steve. "Dasar lelaki nggak tau diri! Ngapain Lo masih di sini? Pake buka-buka baju segala lagi!" Bentak Gibran di belakang tubuh Steve.
Steve yang saat itu sibuk membersihkan sesuatu di celananya, langsung menoleh hingga keduanya kini berdiri saling berhadapan.
"Oh, kamu sudah pulang," sahut Steve santai. Tanpa rasa bersalah apalagi sungkan.
"Abis ngapain Lo Sama Gaby?" Tanya Gibran masih berusaha menahan letupan amarahnya. Tatapannya nyalang ke arah Steve.
Steve tertawa remeh. "Oh, aku? Hm," Steve bergumam seraya mengerling mesum. "You know lah..." Serunya dengan senyuman penuh arti.
Emosi Gibran meledak, lelaki itu tak sanggup menahannya lagi dan langsung melayangkan satu pukulan mautnya ke wajah Steve, membuat tubuh atletis Steve jatuh tersungkur ke lantai setelah membentur vas bunga hingga pecah.
Suara berisik itu tertangkap Indra pendengaran Gaby yang terlihat berlari panik ketika mendapati Gibran sedang memukuli Steve berulang-ulang, namun Steve tidak melawan.
"Udah, Gib! Udah! Gibran!" Teriak Gaby mencoba melerai. Dia menarik sekuat tenaga tubuh Gibran yang saat itu menindihi tubuh kakaknya.
"GIBRAN! BERHENTI!" teriak Gaby lagi, kali ini lebih keras.
Mendengar teriakan Gaby, Gibran pun menghentikan aksinya. Dia menarik diri dari atas tubuh Steve yang sudah dia buat babak belur.
Steve meludah darah dari mulutnya, dibantu Gaby lelaki itu bangkit dan kembali duduk di sofa bersama Gaby.
"Aku akan ambil obat," ucap Gaby merasa kasihan melihat keadaan kakaknya saat itu. Gaby jadi kesal pada Gibran.
Melihat kepergian Gaby, Gibran lekas menyusul. Lelaki itu menahan Gaby saat Gaby hendak keluar dari kamarnya dengan sekotak obat di tangan.
"Cepat suruh dia pergi atau aku akan buat dia masuk rumah sakit malam ini! Ingat Gaby, ini rumahku, aku kepala rumah tangganya dan aku yang berhak menentukan siapa saja yang boleh menginjakkan kakinya di sini!" Ancam Gibran pada sang istri.
Gaby melepas cekalan tangan Gibran. Sama sekali tidak takut dengan ancaman Gibran. "Aku juga penghuni rumah ini dan itu artinya aku juga berhak mengajak siapa saja berkunjung ke rumah ini!" Balasnya yang langsung hengkang dari hadapan Gibran.
Tak mau menyerah, Gibran terus mengekor dan berhasil menahan langkah Gaby kembali.
"Ini peringatan terakhir, suruh dia pergi atau aku yang akan keluar!"
"Oke, silahkan keluar kalau memang itu maumu," kata Gaby bahkan tanpa berpikir. Dia melanjutkan langkahnya.
Mendengar jawaban Gaby, Gibran jadi melongo!
Apa hebatnya lelaki itu?
Kenapa Gaby bisa sampai mengacuhkannya sedemikian rupa?
Keluhnya membatin, tak habis pikir.
Dengan memendam kecewa atas sikap Gaby, Gibran menuruni tangga dan menghampiri dua manusia itu di ruang keluarga.
"Baik, aku akan pergi Gaby, lakukan saja apa yang ingin kalian lakukan," ucap Gibran dengan suara lemah namun sinis.
Lelaki itu hendak pergi namun langkahnya kembali terhenti ketika Steve tiba-tiba berteriak.
"Jika kamu memang benar-benar mencintai adikku, maka jangan lagi kamu menyakiti hatinya! Aku tidak akan tinggal diam,"
Gibran berbalik dengan wajah bingung, "adik?" Gumamnya.
Steve melangkah mendekati Gibran dia menepuk bahu Gibran satu kali.
"Ya, Gaby itu adikku. Dia satu-satunya saudara kandung yang aku miliki. Apa yang kamu pikirkan tentang kami tidak benar. Aku hanya ingin memberimu pelajaran setelah kemarin kamu sempat menyakiti Gaby dan malah menikah dengan wanita lain! Apa kamu sadar, bahwa tindakanmu itu sudah sangat keterlaluan?" Jelas Sean panjang lebar.
"Setahuku, Gaby adalah anak tunggalnya Om Michael, dia tidak memiliki saudara," balas Gibran yang tak bisa percaya begitu saja.
"Tapi kenyataan berbicara lain. Gaby dan aku dilahirkan dari satu rahim yang sama dengan Ayah yang sama. Kamu mau tau siapa Ayah kami sebenarnya?"
Gibran hanya diam.
"Duduklah, aku akan menceritakan semuanya padamu, Gibran," ajak Sean kemudian.
Meski ragu, Gibran menurut juga.
Mereka duduk berhadapan di sofa dan Sean pun memulai semua ceritanya sementara Gibran mendengarkan baik-baik semua penjelasan Sean.
"Jadi, Freddy ayah kandung kalian?" Tanya Gibran yang terlihat kaget. Lelaki itu benar-benar tidak menyangka jika penjahat kelas kakap macam Freddy ternyata adalah ayah mertuanya.
Sean dan Gaby mengangguk bersamaan.
"Aku pikir, rahasia ini cukup hanya kita bertiga saja yang tahu, lagi pula saat ini Freddy sudah mendapat ganjaran atas semua perbuatannya. Biarkan dia menebus dosanya di dalam penjara," jelas Sean mengakhiri ceritanya.
Setelah mendengar semua penjelasan Sean, hadir sebersit rasa bersalah karena telah membuat Sean babak belur.
"Maafkan aku, aku sudah salah paham," ucap Gibran kemudian. Dia merasa tidak enak hati pada Sean. Meski sesungguhnya, dalam hati kecilnya, Gibran masih sulit mempercayai ini semua.
"Aku paham mengapa kamu berbuat begitu. Kamu cemburu itu karena kamu mencintai Gaby. Aku percaya padamu Gibran, terlepas dari kasus Mirella, aku percaya kamu adalah lelaki yang terbaik untuk adikku," ucap Sean lagi. Dia menatap Gaby yang duduk di sampingnya. "Aku sangat menyayangi Gaby, jangan kecewakan adikku untuk kedua kali. Jaga dia baik-baik," tambahnya lagi seraya mengusap punggung tangan Gaby.
Gaby merasa terharu. Dia meraih tubuh Sean dan memeluknya. "Harusnya tadi kakak lawan dia, kenapa di pukuli begitu malah diam saja," kata Gaby yang mulai menangis di balik dada Sean.
Sean tersenyum. "Aku diam karena aku tidak ingin melihat adikku bersedih jika melihat lelaki yang dia cintai terluka,"
Dan pada akhirnya, Gibran pun percaya bahwa Sean memang benar-benar Kakak kandung Gaby.

Komentar Buku (176)

  • avatar
    Nouna Noviie

    lanjutt dooongg...... jadi penasaran apa bayi yg akan d adopsi itu setelah dwasa nanati akan membalaskan dendam sang ibu kandung... apa bila mngetahuin cerita semasa hidup ibu y dan mengetahuin bahwa ayah angkat'y lah Gibran yg sudh membunuh ibu y...!!??? ini Novel baguss menurutku berhasil membawa pembaca masuk ke dalam suasana isi novel ini😍

    21/12/2021

      2
  • avatar
    Muhammad Zulfani

    sangat menarik

    09/05

      0
  • avatar
    Callista

    kereenn bangett❤️❤️

    16/03

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru