Beranda/Dicintai Pangeran Sekolah/
Bab 13 Si Misterius dan Bunga
Putri yang sedang sibuk mencuci piring, melihat makanan sisa spaghetti ingatannya berputar saat guru biologi menyuruhnya membawa ati ayam untuk uji coba enzim katalase. Tidak ada hubungannya memang spaghetti dengau yang muncul dalam ingatannya. Segera ia mencuci tangannya, mengambil ponselnya di kantung celemek dan membuat catatan.
Sudah cukup kehilafannya di pelajaran seni budaya sampai berakhir begitu dramatis.
Bagaimana tidak? Arch secara tiba-tiba memutuskan pertunanggannya di saat semua orang tidak tahu kalau dia sudah bertunangan dengan Lidya.
Sunggung heboh berita itu sampai dua pekan tidak surut dari perbincangan. Bahkan Lidya sendiri sampai tidak masuk sekolah setelah kejadian tersebut.
Menggeleng kepalanya untuk menyingkirkan semua pikiran itu, Putri kembali bertugas. Melihat piring-piring yang terus berdatangan ingin sekali Putri mendapatkan promosikan sebagai pencuci piring di dapur restoran.
Jadi seperti ini, di restoran terdapat ruang tersendiri untuk piring kotor untuk di cuci. Ada tiga pekerja di sini termasuk Putri. Tugasnya ya ... cuci piring, tapi cuci piring aja yang terus berdatangan selama pelanggan di restoran tidak berhenti datang. Sedangkan pencuci piring di dapur, tugasnya memcuci peralatan yang diperlukan para chef.
Dengan hanya dibatasi sekat transparan, Putri selalu memperhatikan pencuci piring di dapur itu. Iri itu wajar bukan? Setidaknnya belum sampai dengki. Putri pikir jika ia bisa berkesempatan bekerja di dapur ia bisa sekalian belajar memasak. Siapa tahu kalau ia bosan kerja di restoran V5P bisa membuka jasa ketering, misalnya.
Bisa saja, Putri belajar masaka di rumah. Tapi jiwa-jiwa mager (malas gerak) Putri bergitu kuat dan menjadikannya bucin (budak cinta) dengan kasur kesayangannya.
“Put, Gue duluan ya. Abang gue jemput.” Kinan yang sudah berganti pakaian bebasnya.
“Sok atuh, Gue masih mau bersih-bersih dulu.”
Mengelap tangannya pada serbet yang digantung. Putri membuka lokernya yang sudah penuh dengan berkas-berkas yang harus ia pelajari. Memasukkannya ke dalam tas, tiba-tiba ada tepukan di pundaknya.
“Naik angkot atau sepeda?” tanya Mbak Fai. Dia adalah pencuci piring di dapur.
“Eh Mbak, naik angkot kayaknya.”
“Kok kayaknya?”
“Udah nyuruh adek buat jemput, tapi ditelepon dari tadi nggak dianggakat.”
“Bareng yuk? Aku nggak ada paketan mau pesan ojol.”
“WiFi resto nggak bisa Mbak? Aku juga nggak ada paketan lagi.”
“Nggak tahu ini, Mbak udah coba masuk tapi no connected.”
“Wah ... si Vi belom bayar kayaknya, hahaha ... Ok deh Mbak. Sebentar ya aku ganti baju dulu.”
Beberapa menit Putri berganti baju, Mbak Fai memperhatikan ruang ganti sampai Putri keluar.
“Sudah?”
Putri mengangguk, mengambil tasnya yang cukup berat lalu keluar restoran.
Di dalam angkot yang hanya ada beberapa orang Mbak Fai membuka pertanyaan, “Kamu dekat sama Bos Vian ya?”
“Dekat sih nggak Mbak, cuma Bos Vi baru tahu kalau kami satu sekolah.”
“Tapi dengan Kinan tidak begitu. Apa karena Bos Vian tidak tahu Kinan di sekolah yang sama? Apa lagi pas tragedi dapur berantakan gara-gara temennya Bos Vian. Kelihatannya mereka lengket banget sama kamu.”
“Ah ... itu hanya ... merekanya aja emang pembuat onar. Mereka itu gangguin aku Mbak, karena aku terlihat gampang di-bully kayaknya.” Putri menunduk sambil membuka ponselnya pura-pura sibuk. Pertanyaan macam apa itu? Mbak Fai terlalu ingin tahu urusan orang lain. bahkan Putri sendiri yang menjalani hanya mengikuti arusnya saja.
Melihat sudah sampai tujuan, Putri segera turun. Sebelumnya ia juga berpamitan pada Mbak Fai.
Masih butuh berjalan kaki untuk sampai rumah, karena angkot hanya melewati depan perumahannya saja. Dengan iseng Putri menendang kerikil di jalan seperti bola. Bersama dengan pentalan kerikil, ia melihat sepasang sepatu yang cukup besar sudah berada di hadapannya.
“Okh!” Putri tersenyum melihat lelaki yang ia kenali masih menggunakan seragam sekolah yang sama seperti Putri.
Melihat kiri kanan, ia tidak melihat motor atau kenadaraan lain. Kenapa lelaki ini masih di sini? “Rumah lo daerah sini?”
Lelaki itu menggeleng.
“Lo kesasar lagi?”
Lagi-lagi lelaki itu hanya menggelang.
“Bener nih nggak kesasar? Mau gue anter sampe depan perumahan?”
Kali ini hanya diam saja. Putri semakin tidak mengerti, terakhir bertemu dia cukup banyak bicara dan bertanya, sekarang seperti orang bisu lagi.
“Apa dari rumah lo emang lewat perumahan sini?”
Tidak dijawab.
Hah ... Putri sedang tidak ada keinginan untuk marah atau berdebat. Yang ia inginkan segera pulang dan istirahat.
“Ya udah gue balik duluan ya.”
“Tunggu!”
Kan, selalu seperti ini. Ini ketiga kalinya saat Putri pamit, baru lelaki ini mengatakan apa yang ingin ia katakan. Untuk selanjutnya Putri pasti akan sudah terbiasa. “Kenapa?”
“Rumah lo dimana?”
Basa-basi? “Depan gang pertama belok yang pagernya warna putih dinding rumahnya warna cokelat itu rumah gue, deket, kan? Kenapa emangnya?”
“Nggak, salam buat ortu (orang tua) lo. Gue duluan.” Lelaki itu berlalu begitu saja. Putri jadi berpikir, bukankah tadi yang pamit duluan dia?
“Dalfon!” Sekarang harus Putri yang pergi duluan.
Lelaki itu berhenti dan kembali menghadap ke belakang tanpa raut wajah apapun. Memang tidak punya ekspresi.
“Btw lo dari kelas mana? Gue nggak pernah lihat lo.” Putri sebenarnya basa-basi, tapi memang ingin menanyakannya. Lelaki pendiam itu sangat misterius menurut Putri.
“12 IPA A,” jawabnya singkat.
Putri sempat berpikir. “Oh ... gue juga ada teman di kelas itu, ya udah gue pulang ya, bye~”
Putri langsung berlari sebelum dihentikan lagi. Kali ini harus dia duluan yang pergi, karena Putri duluan yang pamit.
Dalfon melihat tingkah kekanak-kanakan Putri sedikit menarik sudut bibirnya tanpa mengubah raut wajah datarnya. “Gue yang nggak sanggup lihat lo pergi lebih dulu,” ucapnya lirih sebelum pergi.
***
Jantung berdegup kencang, kaki tidak bisa diam terus merasa gelisah, dan bibir bawahnya digigit. Seperti sedang ujian! Rasanya Putri sangat gugup.
Putri baru tahu jika Vian saat serius cukup menyeramkan. Ia kira, mungkin akan santai karena sifatnya begitu ramah. Tapi tidak! Dengan kacamata kotak besar bertengger di hidung mancung Vian, ketampanan itu tampak manakutkan di mata Putri.
“Resume macam apa ini?”
Deg! ‘Pasti ada yang salah,’ pikir Putri.
“Kamu tidak konsultasi dengan Nio? Atau sekedar bertanya mengenai pemahamanmu?” lanjut pertanyaan Vian yang terdengar begitu tajam.
“Nggak, Pak. Saya kira, Bapak memberi berkas-berkas itu untuk saya pahami lebih dulu, setelah itu jika ada tugas baru bekerja bersama Nio.” Sepanjang penjelasan Putri meramatkan ujung roknya.
“Jika pemahamanmu saja salah, apa yang kamu pahami?!” Image ramah Vian lenyap bagai ditelan bumi.
“Saya minta maaf. Saya berpikir untuk memahaminya sendiri, tapi ternyata ada yang butuh dijelaskan oleh ahlinya terutama pemahaman yang sulit saya mengerti.”
“Itu gunanya Nio sebagai pembimbingmu.”
Sunggu, Putri memang merasa jika sudah melakukan kesalahan besar. Tapi cara Vian begitu tegas membuat Putri menciut.
“Maaf, Pak. Jika diberi kesempatan, saya akan memperbaikinya.”
“Tidak perlu. Sudah terlambat untuk kamu masih belajar dengan membuat resume dari jurnal yang saya berikan. Pulanglah, besok aku akan memberikan tugas pertamamu. Pelajari sendiri lagi jurnal itu dan menfaatkan Nio dengan baik. Ada satu file yang penting dan tidak kamu masukkan, cantumkan itu bersama tugas pertamamu.” Vian bangun dari kursi kebesarannya dan pergi begitu saja.
Putri hanya menunduk masih terdiam di dalam ruang kerja Vian. Setelah tidak lagi mendengar langkah kaki yang menjauh baru ia keluar dan bersiap pulang.
Sebelum pulang, dengan sepedanya. Putri mampir sebentar di lapangan RT dekat rumahnya. Tumben sekali tidak ada yang bermain bola, biasanya sore seperti ini banyak anak SD atau SMP bermain di sana. Yah ... dipikir akan mendapat hiburan nyatanya kehampaan yang didapat.
Memarkirkan sepeda dan duduk di pos ronda yang terbuat dari kayu yang sudah usang. Semua terasa perubahannya. Selama ini Putri yang terlalu tidak peduli dengan keadaan sekitar, kenapa jadi sering membandingkan hal kecil? Bahkan dengan masa yang sudah berlalu.
Mungkin ini efek pikirannya sedang kacaw.
“Sisa dari toko.”
Putri mendengak melihat sebuket bunga lily bercamur dengan bunga kecil-kecil yang sudah berada di depan wajahnya. Mengambilnya dengan hati-hati, Putri tersenyum mendapat bunga cantik tiba-tiba. Ini disebuat rezeki, walau nggak bisa dimakan, tapi pikiran negatifnya jadi buyar.
“Dalfon, ya ampun ... bunga ini lagi. Comelnyeeee!” Putri gemas memegang kelopak bunga yang begitu mungil.
“Namanya baby’s breath.”
Putri mendengus geli dengan sikap dingin lelaki di hadapannya ini. Aura menyeramkannya hadir, tapi malah seperti hiburan yang Putri rasakan. Mungkin bisa dikatakan intimidasi yang tidak tersampaikan.
Yang Putri herankan, Dalfon ini suka sekali datang tiba-tiba seperti jalangkung.
“Eh? Kenapa namanya napas bayi? Apa karena bunganya begitu kecil seperti bayi?”
“Itu makna yang puitis, jadi jangan di bahasa Indonesia kan.”
“Hahaha ... benar juga. Btw, rumah lo emang daerah sini ya?” Putri melihat Dalfon dari atas sampai bawa masih menggunakan seragam lengkapnya. Terlihat bukan seperti anak nakal, malah sebaliknya. Sangat rapih dan ... sangat pas.
“Hanya lewat.” Dalfon duduk di sebelah Putri menatap langit dengan pandangan kosong.
Putri kembali memperhatikan bunga-bunganya. “Makasih ya, yang waktu itu aja padahal jadi sampah karena layu.”
“Seharusnya diganti dengan yang baru.”
“Mending uangnya buat jajan gue dari pada mahal-mahal beli bunga yang cepet layu.”
Putri menoleh tertegun dengan wajah samping Dalfon yang terlihat begitu indah. Seakan seperti maha karya pahatan yang begitu sempurna. Hidung mancung dan rahang yang terlihat tegas dengan alis yang tebal dan bulu mata yang lentik.
Sepertinya Putri sedang sensitif. Pikirannya jadi mudah melayang memikirkan sestuatu yang bahkan tidak pernah ia pedulikan.
“Cantik.” Tanpa sadar itu yang keluar dari mulutnya.
Dalfon menoleh dan melihat muka Putri yang tidak dikondisikan sama sekali. “Aku ini laki-laki.”
Seakan tersadar Putri seperti orang bodoh bertingkah tidak jelas sakin malunya.
Rasanya seperti kepergok lihat orang makan mubang sambil ngiler. Bahkan di hadapan lelaki tampan seperti Dalfon, ia tidak ada jaim-jaimnya (jaga image).
“Ma-maaf, oh ya, ini bunga lily lo bawa karena sisakan? Thanks ya.” Putri jadi mengalihkan bicara karena malu.
“Yang sisa baby’s breath. Bunga lily sengaja gue bawa, karena lo suka bunga itu.”
Putri tidak menyangka Dalfon masih mengingatnya, padahal saat itu pun Putri bilang lebih menyukai aroma parfumnya. Tapi tetap saja hal itu semakin membuat Putri malu dan berdebar. Untung saja kulit Putri kuning langsat jadi tidak, akan ada rona merah yang terlihat di wajahnya.
“Gue lewat daerah sini memang buat nemuin lo. Lo kenal sama Vi?”
Putri reflek menatap mata hitam pekat Dalfon yang begitu kelam dan dalam. Sekali lagi sempat terpanah akan kemisteriusan itu. Namun, pikirannya tetap teralihnya. ‘Vi? Bukan Vian?’Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (48)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
kerenn bangett
28/05/2025
0seru banget ceritanya
19/05/2025
0bgsss bgtt kak
26/04/2025
0Lihat Semua