“Dia hanya perlu istirahat. Jangan kaget kan dia seperti keusilanmu tadi,” ucap dokter setelah beliau memeriksa keadaan Anna. Dokter yang sama, dengan ruangan yang tantu sama juga. “Kenapa dok?” “Yaaa, kalau kian Dia punya penyakit jantung, dan penyakit itu malah menyerang dirinya karena syok, apa yang mau kamu katakan lagi selain menyesal, huh?” “Baiklah dok. Saya tidak akan lakukan keinginan dokter~ups, maksudnya Saya akan melakukan keinginan dokter.” “Lagi pula, kondisi kesehatannya pun belum berangsur membaik. Tentu, setelah kamu membuatnya terkejud. Juga obat yang saya berikan semalam itu hanya membuat racun dalam tubuhnya sedikit berkurang, dan perlu suntikan lagi ketika dia sudah sadar.” “Ya sudah, saya akan pergi. Beri tahu saja jika nona Anna sudah siuman ya,” ujar dokter hendak pergi dari dalam ruangan. Tapi terlebih dahulu, di cekal oleh pemikiran dokter Adam mengenai hal itu ... Adam berbalik badan. Kembali berjalan kearah Ravel yang sudah sedaritadi duduk menunggu bangunnya Anna. Dan hal itu terjadi setiap kali dia menangani Anna untuk kedua kalinya. Hubungan sangat dekat sekali. Bahkan boleh dikata baik. Justru lebih erat kebanding ketika Anna bersama Raka. Apakah ... “Oh ya Rav.” Tiga kata itu berhasil membuat Ravel menoleh. Pria itu menoleh ke sumber suara, walau tampa bicara, raut wajah Ravel tampak bertanya-tanya dengan pembicaraan yang sempat selesai tadi. “Sudah kah kamu berikan surat itu pada nona Anna?” Ravel mengembalikan pandangannya ke arah Anna. Wajah ayu saat tertidur, bahkan sangat manis, ingin rasanya, Ravel menggingit pipi dan tak lupa ... bibir raumnya. Oh my god! Pikiran kotor Ravel mulai muncul! Ravel menggeleng-geleng kan kepala. Tidak-tidak! Ravel tak boleh seperti ini. Ravel kan hanya sebagai pacar palsu nya Anna. Bukan pada persebenarannya. Lagi pula bibir itu, hanya boleh dicicipi oleh pria yang akan kembali pada Anna setelah hubungan mereka kembali langgeng. “Rav, are you okay?” seru Adam sambil menyentuh bahu Ravel. Laki-laki itu akhirnya menghentikan kegiatan gelengan pada kepalanya. “I'm fine. You don't have to tink about it,” Ravel tersenyum kik-kuk tak tau mengatakan apa lagi. Ah! Dia—benar-benar lah. Sudah hilang akal! “Is that true?” ucap Dokter sedikit merasa aneh dengan tingkah Ravel. “Ya, benar. Saya tidak apa-apa. Hmm ... Tapi, apa dokter butuh sesuatu?” Ravel menatap Dokter. Wajah dengan sedikit guratan keriput tanda kalau pria itu sudah mulai menua, terlalu menampakkan kalau Adam ingin memberitahu sesuatu. “Oh, ya. Ya, saya hampir melupakannya. Rav, surat yang saya berikan kepada kamu ... Apakah sudah diberikan pada Anna?” “Belum Dok. Maaf. Soalnya tadi saya sudah terlalu lelah mencari keberadaan Anna. Hingga melupakannya. Hehehe,” “Hum ... Yah sudah deh, tidak apa. Nanti, setelah nona Anna bangun, kamu berikan, ya. Jangan sampai melupakannya, oke?” “Baiklah Dok.” Dokter segera pergi dari dalam ruangan, kembali menyisakan keheningan dari ruangan itu, lagi—lagi, dan lagi. Sementara Anna terbaring di ranjang, Ravel duduk di samping ranjang Anna, menatap Anna seksama. Paras Anna memang manis, kulit lembut putih, seputih susu. Selama sesering mungkin menyentuh permukaan kulit Anna, Ravel hanya merasakan kelembutan tiada tara. Membuat dirinya mampu berlama-lama menggendong gadis itu di lengannya. Jika dibandingkan dengan Ravel dan Anna, mereka kan hanya sebagai partner. Partner yang saling bekerja sama demi keuntungan pribadi. Anna membutuhkan Ravel sebagai pacar agar Raka nantinya cemburu dan akhirnya mengembalikan hubungan yang telah kandas beberapa waktu ini. Sedang Ravel membutuhkan Anna agar Ibunya tetap hidup dengan obat-obatannya. Tentu biaya yang cukup mahal, dan Anna bisa dengan mudahnya mengabulkan keinginan Ravel. Mengingat, Anna itu adalah anak orang kaya. Sekilas, Ravel melihat jari telunjuk Anna bergerak, pria itu langsung tersenyum cukup lebar dan melihat Anna dalam bayangannya. Sebentar lagi akan siuman! “Akh! Kepalaku ... Sakit sekali!” seru Anna perlahan memegangi kepalanya. Selintas, isi pemikiran gadis itu menjelajah ke waktu sebelum dia pingsan. Wajah mayat dalam ruangan itu membuatnya sungguh merinding! Ravel bangkit dari posisi duduknya, ketika melihat Anna mulai menggerakkan tubuhnya. Pria itu mulai panik dalam pergerakannnya, “Kamu, kamu tidak apa 'kan, Ann?” Sedikit memerengkan kepala kearah Ravel, pandangan masih cukup rabun hingga tak terlalu kelihatan wajah Ravel. Wajah mayat, dalam ruangan tadi ... Itulah yang terasa di kepalanya. “Ha—han—hantuuuu!” Anna menjerit cukup histeris. Menyelimuti wajahnya dibalik sulur-sulur rambut yang memanjang miliknya. Tentu membuat semua orang di luar runagan itu menoleh kearah mereka. Mereka menggeleng-geleng kan kepala karena lagi-lagi, pasangan berdua di dalam sana selalu menggemparkan seisi rumah sakit. Sungguh pasangan yang sangat cocok! Sedang di dalam sana, Ravel mengguncang tubuh Anna lewat kedua bahu yang digenggamnya, menyerukan kalau Ravel itu bukan lah manusia seperti pemikiran Anna. Mayat. Tapi Anna semakin histeris. Dokter Adam mendengar dari lantai bawah, dimana Pria itu sedang makan siang di jam senggang ini. Rasa panik menyelimutinya sebab dia tau, Anna itu seperti apa lewat pemantauannya selama ini. Adam meneguk air putihnya, menutup segera bekal makanannya dan keluar dari ruangan setelah ruangan Adam di kunci. Pria itu berjalan dengan membawa tas kedokterannya dan dia terhenti saat melihat cukup banyak manusia mengerumuni pintu ruangan Anna. Banyak kata terdengar, kalalu Anna memiliki sakit pada jiwanya, ada juga yang mengatakan, kalau Anna dan Ravel adalah pasangan cukup cocok untuk menjadi pasangan menikah. Mungkin mereka yang mengatakan hal semenarik itu sudah sering melihat mereka semenjak pasangan palsu itu menghumbar kemesraan di lorong rumah sakit. “Permisi, permisi, saya mau lewat. Tolong berikan jalan pada Saya,” seru dokter Adam membelah kerumunan orang hingga akhirnya beliau bisa masuk kedalam ruangan Anna. Semua orang semula bertanya-tanya, kenapa dokter Adam, selaku pemilik rumah sakit ini berkata seperti itu? Dia ingin memeriksa gadis itu? Pikiran sedikit runyam mulai bermunculan dari pikiran manusia yang bertengger di depan pintu tersebut. Ya, Adam adalah pemilik rumah sakit ini. Dan tak ada yang mengetahui kalau Anna adalah keponakan dari sang dokter. Sebab sejak kematian Ibu Anna, semua jalur informasi tentang Anna pada ditutup, entah seperti apa alasannya, juga maksud di balik hal itu. Dengan telaten Adam mulai memeriksa tubuh Anna, sedikit berbincang berupa bisik-bisik pada Ravel, Pria itu dan mulai menyuntikkan sesuatu pada baju Anna dan gadis itu berangsur membaik, kelihatannya. Mereka bertiga keluar di sambut dengan bubarnya seluruh manusia di luar ruangan. **** Bersambung ...
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
cerita novel nya sangat baguss hebatt💞
06/05/2022
4cerita nya bagus kak..
18/03/2025
0bagus
16/02/2025
0Lihat Semua