Beranda/Membalas Perselingkuhan Suamiku/
Bab 47 Mencintaimu Segenap Jiwa dan Raga
Manik abu-abu milik Leona perlahan mengerjap, berusaha untuk terbuka. Samar tampak sosok pria sedang berbaring di samping seraya menatap dirinya.
“Aku pasti rindu denganmu, West. Sehingga bermimpi kau ada di sini,” gumamnya dengan suara serak.
Kelopak mata lebar itu kembali tertutup dengan senyum lebar. Mustahil jika West ada di sini, karena baru tiga jam yang lalu ayahnya menghubungi pria itu dan mengatakan Leona ada di Outville. Perjalanan dari Earth Ville menuju Outville memakan waktu setidaknya lima jam.
“Sayangnya kau benar, Leona,” ucap suara bariton membuat senyum Leona semakin lebar.
“Tidak mungkin. Rasanya tiga jam yang lalu Daddy menghubungi—” Kedua mata Leona langsung terbuka nyalang sebelum kalimat yang diucapkan selesai.
“Astaga! Apa itu benar-benar dirimu, Sayang? Aku tidak bermimpi?” cicit Leona mengusap kedua mata, kemudian meraba pipi kiri West.
Pria yang tidur di depannya tersenyum lebar. “Jika bukan aku siapa lagi?” sahut West berdecak.
Leona menatap pria itu sendu. “Kenapa kau ke sini? Ini masih malam.”
“Aku merindukan istriku yang pergi begitu saja,” lirih West dengan sorot penuh kerinduan. Baru ditinggal beberapa jam oleh Leona, ia sudah merasakan rindu yang luar biasa. Apalagi ponselnya tidak aktif sejak sore, sehingga tidak bisa dihubungi.
Wanita itu langsung beringsut ke dekat suaminya, lalu membenamkan kepala di dada bidang milik West. Aroma citrus yang begitu menenangkan kembali terendus di hidungnya.
“Maafkan aku, karena telah berburuk sangka terhadapmu,” ucapnya penuh sesal. Dia sangat kesal dengan diri sendiri, karena begitu mudah menilai buruk seseorang. Semua disebabkan oleh pengkhianatan yang dilakukan oleh Mark.
“Sssttt, jangan berkata begitu. Kau tidak salah, Sayang. Aku yang salah karena telah menutupi semuanya darimu.” West melonggarkan pelukan, lantas menarik dagu yang dihiasi belah itu ke atas. Dia menyeka bulir bening yang mengalir di sudut mata Leona.
“Aku minta maaf, karena tidak berterus terang sejak awal,” sambung West memandang netra abu-abu itu bergantian.
Kepala Leona menganggukkan kepala dengan seulas senyum getir. “Daddy berkata kau mengalami masa-masa sulit karena Mark.”
“Kau lebih sulit lagi, Leona. Apa yang aku alami belum seberapa dengan apa yang kau alami.”
Dagu Leona semakin bergetar ketika mendengar perkataan pria itu. Bahkan setelah apa yang dilaluinya, West masih berpikir apa yang dihadapi Leona jauh lebih parah.
“Kenapa kau begitu baik, West? Aku merasa tidak pantas menjadi istrimu,” isak Leona dengan air mata kembali mengalir.
Tubuh West langsung merosot ke bawah, sehingga kepala mereka menjadi sejajar. Dia memberi kecupan bertubi-tubi di bibir berisi milik Leona.
“Jangan pernah berkata seperti itu, Sayang. Kau adalah wanita yang paling berharga bagiku. Aku sangat mencintaimu, melebihi apapun di dunia ini,” katanya sungguh-sungguh.
Batin Leona semakin menjerit sakit dengan apa yang diucapkan oleh pria itu. Bahkan di saat ia tidak pernah melirik ke arahnya, West masih saja mencintai dengan segenap jiwa dan raga. Ternyata ada orang yang mencintai begitu tulus.
“I love you, West. I love you. Aku sangat beruntung bertemu dengan pria sepertimu,” tutur Leona penuh haru. Dia langsung melumat bibir tipis West dengan intens, sebagai bentuk permintaan maaf.
“Bagaimana kau bisa sampai ke sini dalam waktu singkat?” tanya Leona setelah pagutan bibir mereka terlepas.
“Kau lupa kalau malam hari jalanan tidak ramai, sehingga aku bisa tiba di sini dalam waktu dua jam,” jawab West tanpa beban.
“What? Dua jam? Bukan tiga jam?” Mata Leona terbelalak.
West mengangguk-anggukkan kepala. “Aku sudah ada di sini sejak satu jam yang lalu, Sayang. Melihatmu tidur pulas.”
“Bagaimana kau bisa masuk?” Leona masih mengajukan pertanyaan bernada heran.
“Kau tidak mengunci pintu. Begitu Tuan Parker masuk ke kamar, aku mencoba untuk membukanya.”
“Nakal,” tuding Leona mencolek ujung hidung mancung suaminya.
“Kau istriku, jadi sudah sewajarnya aku masuk ke kamarmu.” Tangan West mulai gerayangan di balik gaun yang dikenakan Leona.
“Kau tidak lelah?” desah wanita itu ketika merasakan hormon dopamin mulai diproduksi di dalam tubuh.
West menggelengkan kepala. “Ini obat lelah, Sayang,” bisiknya seraya mencium daun telinga Leona.
Apa boleh dibuat, Leona juga tak kuasa menolak ajakan suaminya untuk jalan-jalan menuju tempat terindah bernama surga dunia. Seperti yang pernah ia katakan, berada di dekat West membuatnya tak bisa menahan diri.
***
“Leona, bangun.” Samar-samar terdengar suara Emilia memanggil di balik pintu.
Leona tidak menjawab malah semakin mengeratkan pelukan di tubuh suaminya.
“Leona, sudah waktunya sarapan. Ajak West sekalian,” sambung sang Ibu lagi lebih mengeraskan suara.
Sepasang netra abu-abu langsung terbuka lebar mendengar apa yang dikatakan Emilia. Dia baru ingat West tidur di kamarnya sejak tadi malam. Saat ini mereka juga berpelukan tanpa sehelai benang di bawah selimut.
“Ya, Mom. Aku segera turun lima belas menit lagi,” sahutnya seraya meraih pakaian yang dilucuti West tadi malam.
Setelah memasangkan lagi semua pakaian itu ke tubuhnya, ia langsung membangunkan West. Jika tidak, pria itu pasti akan menariknya lagi ke bawah selimut dan meneruskan ke ronde berikutnya. Haha!
“West bangun,” katanya menepuk lengan berotot itu.
Pria itu masih lelap seperti enggan untuk bangun. Perjalanan dari Earth Ville menuju Outville pasti membuatnya lelah. Tidak biasanya West masih tidur di saat Leona telah bangun.
“Bangun, Sayang. Mommy ada di balik pintu,” sambung Leona lagi panik.
Sebagai putri seorang bangsawan, melakukan hubungan suami-istri sebelum menikah adalah hal yang sangat tabu. Dia cemas jika kedua orang tuanya tahu apa yang sudah terjadi di antara mereka. Apalagi Tuan dan Nyonya Parker belum tahu bahwa Leona dan West sudah menikah di bawah tangan.
“West?” Leona sedikit mengeraskan suara membuat netra biru pria itu mulai mengerjap.
“Kenapa?” gumam West dengan suara parau.
“Mommy ada di luar,” bisiknya mengerling ke arah pintu.
“Kenapa kau panik seperti itu?” tanggap West terlihat santai.
“Aku bisa digantung hidup-hidup jika mereka melihatmu di kamarku tanpa pakaian,” balas Leona melebarkan mata ketika menahan volume suaranya.
West tergelak mendengar perkataan istrinya. Dia langsung mengubah posisi menjadi duduk di sela hangover karena kurang tidur.
“Mungkin memang saatnya mereka tahu kalau kita sudah menikah,” ujar West tanpa beban.
Leona mengalihkan pandangan ke arah pintu. Dia yakin sang Ibu masih berdiri di sana. Setidaknya itulah yang biasa terjadi. Wanita paruh baya itu belum akan beranjak dari sana, sampai ia membuka pintu kamar dan berbicara dengannya.
“Kenakan pakaianmu. Mommy pasti masih ada di sana,” suruh Leona melirik pakaian West yang tergeletak di lantai.
Pria itu langsung menuruti perintah istrinya yang menunjukkan raut wajah tegang. Tampak kecemasan luar biasa di wajah cantik Leona sekarang.
Begitu West mengenakan lagi pakaian dengan lengkap, Leona segera beranjak menuju pintu. Sebelum membukanya, ia menarik napas dalam-dalam lalu dibuang perlahan. Jari-jarinya bergerak merapikan rambut.
“Good morning, Mom,” sapa Leona tersenyum aneh kepada ibunya.
Emilia tidak menjawab pertanyaan sang Putri. Dia justru mendongakkan kepala agar bisa melihat West yang baru saja melangkah ke dekat Leona.
“Apa kau berada di sini semalaman, West?” selidik Emilia curiga.
Pria itu menganggukkan kepala. “Ini tidak seperti apa yang Anda pikirkan, Nyonya Parker. Aku bisa menjelaskannya di bawah sebelum kita sarapan.”
Pandangan Emilia beralih kepada Leona. “Aku memang menyukai West, tapi itu bukan berarti kalian bisa melakukan hubungan seks sebelum menikah,” tegasnya dengan air muka serius.
“Jangan lupa kalian berdua keturunan bangsawan dan hal ini sangat tabu dalam keluarga kita,” sambungnya lagi.
“Ka-karena itu, kami akan menjelaskan kepada kalian nanti,” balas Leona tergagap.
“Segera mandi dan turun ke bawah,” titah wanita paruh baya itu.
Leona dan West mengangguk serentak. Setelah Emilia menghilang di pertengahan tangga, West segera pergi ke kamar yang ada di sebelah kamar Leona. Mereka berdua kembali membersihkan diri, sebelum menemui Tuan dan Nyonya Parker.
Selang lima belas menit kemudian, suami istri tersebut bertemu lagi di dekat tangga. Mereka berdua menganggukkan kepala, pertanda sudah siap mengatakan yang sebenarnya kepada Tuan dan Nyonya Parker. Leona melihat selembar kertas, bukti tanda pernikahan yang ada di tangan kanan sebelum melangkah menuruni anak tangga.
“Duduk di sana,” lontar Tuan Parker menunjuk sofa yang bisa diduduki dua orang dengan ujung dagu.
Mata abu-abu tajam miliknya melihat Leona dan West bergantian. Tampak raut murka di wajah yang sudah dipenuhi kerutan tersebut. Emilia pasti sudah bercerita tentang apa yang dilihatnya barusan.
“Mohon maaf, Tuan Parker,” ucap West sebelum pria paruh baya itu marah kepada mereka berdua.
West mengambil kertas yang dipegang Leona, lalu meletakkannya di atas meja. “Kami berdua sudah menikah di bawah tangan. Tepat tiga hari yang lalu. Saya mengaku salah, karena tidak memberitahukan kepada Anda sebelumnya,” jelas pria itu sungguh-sungguh.
Kening Tuan dan Nyonya Parker tampak berkerut. Pria itu membaca kertas yang diserahkan West dengan teliti.
“Apa yang sudah kukatakan, Emilia. Putri kita tidak mungkin seperti itu.” Tuan Parker melihat istrinya dengan menyipitkan mata. “Apalagi dengan West. Pria yang sudah kita kenal dengan baik.”
Dia menyerahkan kertas tersebut kepada istrinya seraya mengeluarkan tawa. Tuan Parker langsung berdiri dengan membentangkan kedua tangan.
“Selamat datang di keluarga Parker, West Taylor. Aku sudah lama menunggu hari ini,” sambutnya ketika West sudah berada di dalam pelukan. Dia menepuk punggung sang Menantu dua kali.
“Terima kasih, Tuan Parker.”
“Sampai kapan kau akan memanggilku dengan sebutan itu. Panggil Daddy, West,” decaknya mengecilkan mata abu-abu itu.
“Baik, Dad.”
Leona mengembuskan napas lega, karena sang Ayah tidak marah dengan pernikahan diam-diam mereka.
“Tunggu!” sentak Nyonya Parker. Mata biru yang dikelilingi kerutan itu bergerak naik melihat suaminya, West dan Leona bergantian.
“Apa pernikahan kalian sah? Leona masih belum resmi bercerai dengan Mark,” cicit Emilia cemas.
Tuan Parker tertawa renyah. “Secara hukum tidak, tapi mereka sudah resmi menjadi suami istri di bawah tangan. Sejauh ini tidak masalah.”
Emilia mengangguk paham. Gurat khawatir sirna di wajah tua miliknya, berganti senyum haru karena hari yang dinantikan akhirnya tiba. West, sang menantu idaman, telah menjadi suami dari putri bungsunya.
“Lalu bagaimana rencanamu ke depan, Le?” Emilia mengajukan pertanyaan beberapa saat kemudian.
Leona menoleh ke arah West yang sudah duduk di sampingnya. Senyum penuh keyakinan tergambar jelas di parasnya.
“Aku akan membantu suamiku agar bisa mendapatkan hartanya lagi, Mom. Tatiana akan bekerja dengan semaksimal mungkin,” sahutnya yakin tanpa ragu.
Tekadnya sudah bulat, Leona akan berperan maksimal sebagai Tatiana. Langkah pertama yang akan ia tempuh adalah menyingkirkan Sherly dari sisi Mark. Dengan begitu, ia bisa lebih leluasa mengambil lagi harga suaminya dan membalas perselingkuhan yang pernah dilakukan oleh suami pertamanya.
Bersambung....Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (249)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
bagusssss,, kisah yg menarik dan banyak pelajaran yg bs diambil,, selalu suka dgn novel karya Leena_gie,,, lg nunggu novel just on bed,, kapan rilisnya,,,?
26/03/2022
2amazing world 🤩🤩🤩🤩
25/03/2022
3alur cerita di awal seperti salah satu cerita Drakor, tapi setelah mengikuti alur ceritanya asli keeerrreeennn bgt. apalagi dengan besarnya cinta west 🥰🥰 bikin bapeerrr...👍👍
20/01/2022
5Lihat Semua