logo text

Bab 23 Memulai dari Awal

Kening Leona mengernyit mendengar pernyataan yang dilontarkan West barusan. Bingung, itulah yang mampu menggambarkan isi hatinya sekarang.
“Apa maksudmu?” tanya Leona mengubah posisi duduk, sehingga kakinya menyentuh pinggir bawah atap berbentuk kubah itu.
West menelan ludah ketika baru sadar dengan apa yang dikatakannya. Rupanya dansa, langit bertabur bintang, kisah cinta Zeus dan Callisto, ditambah dengan ciuman membuat pria itu tak dapat lagi membendung perasaan yang selama ini tersimpan.
“Aku mencintaimu, Leona,” ucap West tak bisa lagi mengelak.
“Bukan itu maksudku. Tapi kalimat terakhir.” Leona mengamati wajah West secara detail. “Sejak kapan kau jatuh cinta kepadaku?”
Pikiran Leona mulai ke mana-mana. Ada begitu banyak dugaan yang ada di pikiran sekarang. Apa mungkin perkiraannya benar?
West menegakkan lagi tubuhnya. Dia kembali mengalihkan paras kepada Leona.
“Aku sudah ja—”
Kalimat yang diucapkan West terpaksa berhenti ketika ponsel Leona yang dititipkan di sakunya berdering. Sebuah panggilan masuk dari Nyonya Parker.
“Ibumu menelepon,” ujar West menyerahkan handphone kepada Leona.
Wanita itu mendesah karena percakapan mereka harus berhenti. Dia menadahkan tangan malas, selaras dengan tatapannya.
“Halo, Mom,” sahut Leona lesu.
“Kau ada di mana, Le? Semua orang mencarimu,” balas Nyonya Parker di seberang sana.
“Aku sedang di atap dengan West.”
Terdengar tawa penuh arti. “Sudah kuduga. Turun segera ke bawah, kami menunggumu di sini.”
Leona melirik kepada West yang tampak memikirkan sesuatu. Dia harus bersabar menunggu waktu yang tepat untuk mengajukan lagi pertanyaan tadi.
“Kita turun sekarang,” ajaknya mengerling ke bawah.
“Okay.”
West turun terlebih dahulu, kemudian menyambut kehadiran Leona. Beruntung otot tangannya mampu menampung tubuh berisi wanita itu, jika tidak pasti sudah encok. Haha!
Mereka berjalan menuju tangga beriringan dalam diam. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Tiga langkah mencapai pintu masuk ballroom, West menarik tangan Leona sehingga langkahnya berhenti.
“Aku akan menjawab semua pertanyaanmu setelah tiba di rumah kayu lagi,” kata West tak ingin Leona salah paham.
“Sudah seharusnya begitu,” tanggap Leona melihat ke bibir West, memastikan tidak ada bekas lipstik di sana.
“Aku akan menunggu.” Leona tersenyum sambil mengedipkan mata.
West mengamati lagi paras Leona. Tidak ada kemarahan di sana.
“Kau tidak keberatan dengan apa yang terjadi di atap?” desis West memastikan.
Leona menggelengkan kepala. “Itu juga kemauanku.”
Pria itu tersenyum lebar seraya menggaruk kepala tak gatal. Ada semacam kelegaan di hatinya ketika hubungan dengan Leona telah maju satu tahap.
“Tapi bukan berarti kita menjalin hubungan khusus,” bisik Leona, “pelan-pelan. Aku ingin kita mulai lagi perlahan.”
West mengangguk cepat, lalu meraih jemari Leona. Sebuah kecupan diberikan di punggung tangannya. “Sure, My Lady.”
Leona berdecak kemudian menggerakkan kepala ke arah ballroom. “Sebaiknya kita masuk sekarang.”
Begitu memasuki ruangan, seluruh tamu yang hadir tampak bersiap menikmati jamuan makan malam. Acara dansa ternyata telah usai. Keluarga Parker tampak berkumpul di meja yang berukuran besar.
“Nah itu mereka,” seru Tuan Parker ketika melihat putrinya dan West tiba.
“Dari mana saja kalian?” Louisa mengajukan pertanyaan dengan kerlingan mata usil.
“Ke mana lagi, Lou. Sudah pasti menyendiri agar bisa bermesraan,” timpal Lily menggoda adiknya.
Leona dan West mengambil tempat duduk bersebelahan, tanpa menanggapi perkataan kedua wanita tersebut.
“Jadi kapan kalian punya anak?” Valery menyela dengan tatapan sinis kepada Leona.
Sontak wanita bermata abu-abu itu terusik dengan pertanyaan Valery. Dia kembali teringat dengan fakta bahwa Mark sudah memiliki anak. Besar kemungkinan dirinya yang tidak bisa memberi keturunan.
West menggenggam tangan Leona yang mengepal di atas kedua paha. Dia mengusap lembut punggung tangan, agar bisa menenangkannya.
“Kami masih belum terlalu memikirkan anak, Valery.” West angkat bicara. “Aku hanya ingin menikmati saat-saat bersama Leona, tanpa dipusingkan dengan kehadiran anak.”
Pria itu melirik kepada sepasang anak kecil yang saling berebutan makanan dengan tersenyum singkat.
Leona menoleh dengan tatapan kaget mendengar jawaban West. Sesaat kemudian dia menahan tawa, karena tahu maksud perkataan pria itu.
“Apa yang kalian lakukan? Sekarang bukan saatnya berebut makanan! Kalian bisa mengambilnya masing-masing!” tegur Valery kepada kedua buah hatinya. Wanita itu meraih tangan kedua anaknya, lalu memukulnya keras. “Awas kalau kalian ulangi lagi!”
“Memiliki anak harus memiliki kesabaran yang ekstra. Bukan begitu, Valery?” West tersenyum penuh kemenangan saat mengangkat gelas berisi anggur putih.
Valery menahan geram sambil mendengkus kesal. Niat menampar Leona, malah dirinya yang tertampar.
“Thank you,” desis Leona pelan hanya terdengar oleh West.
Suasana menjadi hening ketika jamuan makan malam tersedia. Mereka semua makan dengan tenang tanpa ada yang berbicara sedikitpun. Ah, ternyata ada yang tidak bisa menikmati makan malam dengan nikmat, yaitu Valery. Wanita itu disibukkan dengan mengatur kedua anaknya yang masih berebutan makanan.
“Apa benar kalian tidak tinggal di sini sampai Cloe menikah?” Paman Leona mengajukan pertanyaan.
“West … Ehmmm … suamiku tidak bisa meninggalkan perusahaannya berlama-lama. Kami harus kembali lagi besok,” papar Leona memberikan alasan.
“Padahal aku ingin Aunty hadir di acara pernikahanku,” cicit Cloe keberatan.
“I am sorry, Dear,” ucap Leona meminta maaf.
Dia merasa bersalah karena tidak bisa berada di sana sampai pernikahan dilaksanakan. Wanita itu harus kembali ke rumah kayu agar bisa mengikuti lagi program menurunkan berat badan. Waktu sidang semakin dekat, artinya berat badan Leona sudah harus mencapai angka ideal sebelum sidang dilaksanakan.
“Paling tidak tantemu sudah hadir di serangkaian acara, Cloe,” komentar Louisa menenangkan gadis itu.
“Tapi janji akan sering ke sini, jika ada waktu,” pinta Cloe.
“Pasti, Sayang. Kau juga bisa datang ke sana menemuiku.”
Valery bertepuk semangat. “Artinya aku juga diajak.”
“Kau pengecualian, Valery,” sungut Leona enggan jika sepupunya itu datang ke Earth Ville.
Bisa bahaya juga jika wanita itu ke sana. Dia akan mengetahui kalau West bukan suaminya. Valery akan menertawakan hidup Leona yang malang, karena telah diselingkuhi oleh suami aslinya.
Lihatlah dari cara Valery memandang Leona sekarang. Dia merasa menang, karena masih memiliki tubuh yang bagus meski telah melahirkan dua orang anak.
“Bisa kita bicara sebentar, West?” Nyonya Parker melihat West dengan sebelah alis naik ke atas.
“Sure,” sahut West.
Pria itu mendekatkan kepala, lalu berbisik di telinga Leona. “Aku bicara sebentar dengan ibumu.”
Leona mengangguk singkat.
West menghadiahi kecupan di pinggir pipi Leona. Aksinya itu memancing jiwa usil Louisa dan Lily yang kembali meronta. Mereka tak bisa menahan diri untuk tidak menggoda sang Adik.
Pria berambut cokelat itu mengikuti Nyonya Parker yang terus melangkah menuju pintu keluar. Keduanya berhenti setelah menjauh dari ballroom.
Emilia Parker meraih kedua tangan West seraya menarik napas berat. Matanya tampak berkaca-kaca, sebelum isak tangis terdengar.
“Aku sungguh tidak tahu bagaimana cara berterima kasih kepadamu, West,” lirih wanita paruh baya itu.
West menariknya ke dalam pelukan, lalu mengusap lembut punggung yang dipenuhi lemak tersebut.
“Kau begitu baik kepada putriku.” Emilia tersedu mengingat nasib putrinya yang malang.
“Sudah kewajibanku, Nyonya.”
Emilia melonggarkan pelukan, kemudian menatap mata biru West satu per satu. Kepalanya menggeleng pelan.
“Seharusnya kau tidak perlu menunggunya selama itu.” Dada Emilia terasa sesak. “Tiga belas tahun bukan waktu yang singkat, West.”
Pria itu menundukkan kepala dalam. Helaan napas berat terdengar dari hidung West. “Setidaknya penantian panjangku tidak sia-sia, Nyonya.”
Kening Emilia berkerut bingung.
West tersenyum lega. “Leona memberikan kesempatan, agar kami bisa lebih mengenal satu sama lain. Dia ingin kami memulainya secara bertahap.”
Raut wajah Emilia Parker langsung berubah. Secercah senyum tergambar di parasnya yang menua. “Benarkah?”
“Mungkin sudah waktunya Leona tahu bahwa akulah pria yang ditolaknya dulu dan dia juga wanita yang kucintai selama belasan tahun,” tutur West kembali tersenyum lebar.
Bersambung....
NB: Karena Sabtu dan Minggu libur, jadi hari ini aku publish langsung dua bab ya. Sampai jumpa hari Senin. ^^
Jangan lupa follow akun aku agar dapat pemberitahuan update novel. ^^

Komentar Buku (249)

  • avatar
    leynselly

    bagusssss,, kisah yg menarik dan banyak pelajaran yg bs diambil,, selalu suka dgn novel karya Leena_gie,,, lg nunggu novel just on bed,, kapan rilisnya,,,?

    26/03/2022

      2
  • avatar
    BalqisSiti

    amazing world 🤩🤩🤩🤩

    25/03/2022

      3
  • avatar
    saputraIndri

    alur cerita di awal seperti salah satu cerita Drakor, tapi setelah mengikuti alur ceritanya asli keeerrreeennn bgt. apalagi dengan besarnya cinta west 🥰🥰 bikin bapeerrr...👍👍

    20/01/2022

      5
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru