Bab 8 Kecelakaan

Hari demi hari terus berganti, tak terasa acara pernikahan antara Sena dan Gavin kian dekat. Gavin dan Sena saat ini sedang mengikuti tahapan akhir serangkaian pemeriksaan dan tes dalam mengajukan syarat pernikahan yaitu Menghadap Panglima Divisi Infanteri 2 Kostrad untuk menerima pengarahan dan mendapatkan ijin menikah. Tak terbayangkan oleh Sena jika persyaratan menikah dengan Abdi Negara cukup ribet namun Sena menikmatinya. Sena terlihat menawan memakai baju persitnya dengan rambut yang di sanggul membuat Gavin mencuri pandangan calon istrinya.
Berbagai tes mereka lalui, acara selanjutnya mereka akan datang kebutik untuk fitting baju pernikahan mereka, namun karena Gavin masih ada kerjaan, Sena ditemani Chika datang ke butik. Kini Sena dan Chika berada di butik langganan calon mertuanya untuk melakukan fitting untuk acara ijab dan resepsi. Gaun yang dipakai Sena untuk acara resepsi berwarna cream dengan balutan broklat menutupi lengannya, gaun itu sangat pas pada tubuh Sena yang ramping. Awalnya Bu Dila memesan gaun untuk Sena tanpa lengan namun Gavin menolak gaun itu sampai akhirnya Sena ingin jika gaunnya dijadikan seperti calon Ratu Inggris Kate Middleton.
Setelah melakukan fitting baju selesai, Sena dan Chika mereka berjalan santai ditrotoar jalan untuk membeli ice cream disekitar butik, cuaca yang panas membuat mereka ingin makan yang dingin-dingin. Terlihat Kota Jakarta sangat padat dengan kendaraan lalu lalang. Sena dan Chika yang asik mengobrol tidak menyadari ada sepeda motor yang melaju dengan kencang menuju arah mereka.
“Kak Sena awass,” teriak Chika sambil menyeret tangan Sena agar terhindar dari motor itu.
Beruntung mereka tidak tertabrak motor yang melaju ke arah mereka. Sena terjatuh dengan posisi tangan menyangga badannya sedangkan Chika terjatuh dengan kaki yang di tertimpa oleh badan Sena. Mereka tidak mengalami luka parah dan untungnya Chika bisa menyelamatkan Sena tepat waktu, jika telat beberapa detik saja mungkin Sena sudah tertabrak.

“Kakak gpp?” tanya Chika khawatir.
“Gpp kok dek, untung tadi kamu bantu kakak. Makasih yaa,” ucap Sena dengan sedikit menahan sakit karena tangannya terdapat luka akibat menahan badannya.
“Tapi tangan Kakak berdarah,” Chika melihat darah yang mengalir pada tangan Sena yang membuatnya sedikit geli.
“Gpp dek, gak parah kok. Diobati palingan nanti udah kering,” senyum Sena agar Chika tidak khawatir.
Akhirnya mereka memutuskan langsung kembali ke mobil untuk pulang karena perasaan keduanya tidak enak. Sampai dirumah Aditama, Chika berlari mengambil obat untuk mengobati luka pada Sena. Gavin yang urusannya di kantor telah selesai, memilih pulang untuk istirahat. Ketika ia sampai di rumah dan menuju kamar untuk membersihkan diri tak sengaja melihat seorang wanita sedang duduk di halaman belakang dengan memegang tangan yang mengeluarkan darah segar. Belum sampai Gavin menghampiri wanita itu, Chika menabrak tubuh Gavin karena tergesa-gesa.
“Kak ini aku bawain obatnya,” Chika duduk di sebelah Sena lalu membuka kotak P3K untuk mencari cairan anti septik.
Gavin yang mengetahui wanita itu adalah Sena, dengan langkah lebar ia berjalan dan segera mengambil obat itu di tangan Chika lalu duduk sejajar di hadapan Sena untuk mengobati tangannya.
“Kenapa bisa luka begini Sena?” ucap Gavin dengan muka datar.
“Tadi ada motor jalan kearah kita Kak, terus aku reflek seret tangan Kak Sena biar bisa menjauh. Tapi malah jatuh terus tangan Kak Sena kena aspal, jadi berdarah,” Chika menjelaskan kronologi kejadian yang menimpa mereka.
Tak ada jawaban dari Gavin, dia hanya mengangguk dan masih mengobati luka Sena dengan telaten. Ia membersihkan terlebih dahulu darah di area luka dan memberikan anti septik lalu dilanjutkan dengan memberikan obat merah.
Selesai mengobati Sena, Gavin berdiri dan menatap kedua wanita di hadapannya,“Lain kali hati-hati, ingat jalan bukan hanya kalian yang pakai.” Ucap Gavin dengan muka datar lantas pergi meninggalkan mereka.
Acara makan malam kali ini Sena ikut bergabung dengan keluarga Aditama, Sena yang berniat pulang sore tadi terus dicegah oleh Chika agar menemaninya dirumah karena merasa bosan. Chika yang memang anaknya cerewet akhirnya menceritakan kejadian siang tadi yang menimpa mereka.
“Aduh Mamah lupa, memang seharusnya Sena dipingit dulu. Pasangan yang mau nikah itu cobaannya banyak, salah satu yang tadi. Mulai besok Sena dirumah aja ya gak boleh kemana-mana sampai hari H, dan gak boleh ketemu sama Gavin dulu,” ucap Bu Dila yang tampak khawatir.
“Ah tidak apa-apa Bu, lagi pula pekerjaan di toko masih banyak,” tolah Sena dengan halus.
“Tidak usah dipikirkan soal itu Sena, kamu nurut saja biar nanti saya yang urus!” perintah Bu Dila.
Tidak ada bantahan dari Sena, yang dia lakukan hanya menurut dan mungkin keputusan yang Bu Dila bilang memang untuk kebaikannya. Seusai cara makan malam, Sena pamit pulang karena waktu sudah malam. Tadinya Sena akan di antar supir pribadi keluarga Aditama namun dengan cepat Gavin bersedia untuk mengantarkannya. Kini mereka berada dalam satu mobil yang seperti biasa hanya hening, tidak ada pembicaraan di antara mereka. Mobil yang di kendarai Gavin saat ini menepi di sebuah supermarket tak jauh dari rumah Sena.
“Mas mau belanja?” tanya Sena.
“Tidak, tapi kamu yang belanja,” jawab Gavin lalu membuka pintu mobil.
Tak paham maksud Gavin, akhirnya Sena mengikuti Gavin keluar mobil.
“Mas mau belanja?” tanya Sena lagi.
“Tidak, kamu ikuti saya saja,” jawab Gavin lalu berjalan meninggalkan Sena yang masih mematung.
Gavin mengambil stroller untuk menaruh barang belanja mereka. Tanpa banyak bicara Gavin mengambil makanan ringan, berbagai buah, telur, macam sayur dan vitamin. Saat Gavin merasa apa yang di beli cukup, ia menayakan pada Sena yang sedari tadi hanya mengikutinya.”Kamu mau beli apa?”
“Aku tidak beli apa-apa Mas,” jawab Sena.
“Itu belanjaan Bu Dila ya? banyak banget Mas,” tanya Sena pada Gavin.
“Bukan Sena, iya sudah kita bayar dulu,”
Gavin mendorong stoller dan di ikuti Sena di sampingnya menuju kasir, mereka lalu melakukan pembayaran di kasir dan mengantarkan Sena. Sesampai di rumah Sena, Gavin membuka pintu mobil lalu membuka bagasi mengambil belanjaan mereka tadi di supermarket.
“Ini belanjaan kamu, di situ sudah ada persediaan kebutuhan untuk kamu selama di pingit. Ada juga vitamin, jangan lupa di minum untuk menjaga badan kamu supaya fit.” Ucap Gavin yang menyerahkan belajaan pada Sena.
“Kenapa buat aku Mas, aku tidak belanja tadi,”
“Memang ini untuk kamu, terima saja untuk persediaan agar kamu tidak perlu keluar rumah. Saya pamit, jangan lupa di minum vitaminnya,” Gavin meninggalkan Sena yang masih menatapnya kebingung menuju mobilnya.
“Terimakasih,” teriak Sena sebelum mobil Gavin meninggalkan rumah.
Melihat Gavin meninggalkannya, Sena masuk rumah lalu merapikan belajaan yang Gavin berikan.”Banyak juga belanjaannya,” lirih Sena sambil menaruh beberapa sayuran ke dalam kulkas.
Saat Sena merapikan belanjaan yang lain, ia melihat ada vitamin yang mengingatkannya pada Gavin saat pria itu menyuruhkan untuk minum. Senyuman terlihat pada bibir Sena, kata sederhana Gavin mampu membuat perasaannya menghangat.
Setelah Sena selesai merapikan barang belanjaannya, segera ia menuju kamar mandi untuk mandi karena Sena merasa badannya terasa sangat lengket. Tak lupa Sena mengunci pintu dahulu, selesai mandi Sena melanjutkan sholat isya lalu membaringkan badannya dikasur empuknya karena merasa badannya terasa lelah sehabis aktifitas hari ini. Dering suara hp mengharuskan Sena bangun untuk mengambil gawainya yang masih didalam tas, saat Sena membuka hpnya terlihat satu pesan yang dikirimkan oleh nomor tidak dikenalnya.
“Beruntungnya kamu masih bisa selamat, lain hari akan aku pastikan dirimu celaka Sena!”
Begitulah isi dari pesan itu, Sena tau siapa yang mengirimkan nomor itu. Semenjak dirinya akan menikah dengan Gavin, peneror yang mengaku Bagas itu sering kali mengirimkan pesan mengancam dirinya. Walaupun sudah berulang kali Sena mengganti nomor atau memblokir pengirim pesan itu tetapi tetap saja peneror itu mengetahui nomor hp nya yang baru. Peneror itu selalu mengirimkan pesan padanya agar membatalkan pernikahannya supaya Sena selamat. Membuka pesan itu membuatnya merasa gelisah dan takut. Dia takut karena Bagas orang yang nekat.

Komentar Buku (792)

  • avatar
    AsmadiNoor Athirah

    Best! Jalan cerita mudah faham.

    27/06/2022

      0
  • avatar
    Annaznissa

    menarik lanjut lagi cerita nya

    11/01

      0
  • avatar
    AuliaSerli

    ya sangat bagus

    18/11

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru