Saat ini usia kandungan Sena sudah empat bulan. Keluarga Aditama sudah mempersiapkan pengajian untuk kandungan Sena. Dalam ajaran Islam, periode ini merupakan ungkapan syukur pihak keluarga kepada Sang Pencipta karena telah meniupkan ruh kepada janin di usia kehamilan empat bulan. Adapun tujuan diadakannya syukuran empat bulanan adalah sebagai rasa syukur atas amanah besar dan berharga yang diberikan Allah kepada pasangan suami istri, juga sebagai pendidikan sebelum lahir bagi janin agar menjadi anak yang shaleh atau shalehah. Keluarga Aditama mengundang Ibu-ibu pengajian dan anak yatim piatu untuk membacakan beberapa surat Al Quran. Sena berada di dekat Gavin yang ikut membacakan surat Al Quran. Perasaan haru saat ini yang tengah Sena rasakan, kehadiran si kecil sangat berdampak pada dirinya dan juga keluarganya. Janin yang di kandungnya mampu membuat senyum bahagia terus muncul di keluarga Aditama. Belum lagi keinginan si bayi yang meminta sesuatu yang aneh membuat anggota keluarganya juga kelimpungan untuk memenuhi keinginan si jabang bayi. Acara pengajian tersebut berlangsung dengan khitmat dan khusyuk. Setelah acara selesai, mereka mempersilahkan tamu untuk menikmati hidangan yang sudah di siapkan. Sebagai bentuk terimakasih mereka memberikan bingkisan pada Ibu pengajian yang berisikan hijab dan makanan. Sedangkan untuk anak yatim piatu mereka memberikan bingkisan yang di dalamnya terdapat makanan, uang dan baju. Keluarga Aditama juga melakukan syukuran dengan memberikan bingkisan kepada semua karyawan yang ada di kantor dan toko kue GaChi. Setelah acara pengajian usai, keluarga Aditama terlihat berkumpul untuk istirahat. Mereka berbincang ringan mengenai berbagai hal. Dering suara telefon milik Gavin menghentikan sejenak perbincangan mereka, Gavin segera mengambil ponsel di sakunya lalu melihat nama yang tertera di layar ponsel lalu mengangkatnya. “Hallo Za,” “Hallo Vin, gue cuma mau ngingetin kalo besok lusa persidangan Bagas. Lu jangan lupa bicara sama Sena dan Sena harus bisa dating,” ucap Reza di seberang telefon. “Thanks Za, iya ntar gue bilang sama Sena,” jawab Gavin. Gavin menutup telefonnya lalu melihat Sena yang masih mengobrol dengan keluarganya, dengan sedikit kekhawatiran pada Sena, Gavin memanggilnya dengan lembut. “Sena,” “Iya Mas,” sahut Sena. “Besok lusa adalah jadwal sidang Bagas, kamu kuat kan untuk menghadiri sidang itu?” tanya Gavin. Mendengar suaminya menyebut nama Bagas, Sena masih merasa trauma dan ada sedikit sesak di dadanya. Namun ia harus kuat untuk menghadapi masalah itu, ia ingin Bagas bisa di jerat hukuman yang setimpal atas apa yang ia perbuat padanya. Bagas tidak hanya membahayakan dirinya namun juga janin yang di kandungnya, dan untuk kali ini Sena sangat marah padanya. Dengan sedikit terpaksa akhirnya Sena menjawab pertanyaan Gavin. “Insyaallah aku kuat Mas,” jawab Sena dengan wajah sendu. “Nanti Mama sama Papa akan ikut menemani kamu Sena,” sahut Pak Arka yang ikut mendengarkan perbincangan mereka. “Aku juga mau ikut Ka. Aku mau liat wajah orang yang sudah culik Kakak,” sahut Chika antusias. Gavin merasa lega Sena mau menghadiri persidangan tersebut, Dan keluarganya yang sangat menyayangi Sena sampai mereka menyepatkan diri untuk menemani dan memberi support untuk Sena. Namun ia juga khawatir jika Sena masih trauma dengan kejadian yang sangat kejam menimpa dirinya. Persidangan akan segera di mulai, Sena saat ini sudah di temani oleh suaminya dan keluarganya sedang menunggu di luar ruangan untuk menanti arahan kapan ia akan memasuki sidang. Ia merasa sangat gugup dengan tangan yang sedikit gemetar dan keringat dingin yang membasuhi keningnya. Ia merasa takut karena harus mengingat kejadian saat hari itu. Wajah bringas Bagas yang ingin membunuhnya selalu membayang di otaknya. Gavin yang melihat ada ketakutan pada Sena mencoba menenangkannya. “Sena, tenang ya. Ada kami yang ada untukmu, percayalah semuanya akan baik-baik saja,” ucap Gavin sambil memegang tangan Sena lembut. “Mas apakah nanti Bagas akan ikut sidang?” tanyannya khawatir. “Iya,” jawab Gavin singkat. “Apakah aku kuat Mas jika nanti harus bertemu dengan Bagas lagi,” ujar Sena dengan menundukkan pandangannya. “Kamu pasti kuat. Karena kamu adalah wanita yang kuat,” ucap Gavin menenangkan. “Semakin kamu lancar memberikan penjelasan, sidang juga akan cepat selesai. Keluarkan unek unek kamu dengan jelas saat persidangan nanti,” tambah Gavin. Ucapan Gavin memang benar, semakin ia kompeten dalam penjelasan saat sidang semuanya juga akan cepat usai. Dan yang di inginkan Sena juga seperti itu, ia tidak mau lagi harus berurusan dengan Bagas. Hampir beberapa menit Sena dan keluarganya menunggu, akhirnya petugas mempersilahkan mereka masuk karena sidang sudah di mulai. Untuk mengurangi rasa takutnya, Sena berjalan sambil memegang tangan Gavin erat dan keluarganya mengikutinya dari belakang lalu memisahkan diri duduk di bagian pengunjung.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Best! Jalan cerita mudah faham.
27/06/2022
0menarik lanjut lagi cerita nya
11/01
0ya sangat bagus
18/11
0Lihat Semua