logo text

Bab 47 Keindahan di Desa Dunster

Stela menjepit bibir beberapa saat setelah mendengar cerita dari Vincent tentang mimpinya. Dia mengamati pria itu lamat-lamat.
“Ciri-ciri wanita itu gimana?” tanya Stela pelan nyaris tak terdengar oleh Vincent.
“Apa, Sayang?”
“Ciri-ciri wanita yang ada di mimpi kamu gimana?” ulang Stela lagi.
Vincent menggelengkan kepala. “Wajahnya buram, jadi saya nggak bisa melihat dengan jelas. Hanya saja dia memiliki rambut yang panjang.”
Stela menelan saliva mendengar jawaban suaminya.
Kirania? Mungkinkan mimpi yang dialami Vincent berhubungan dengan kematian Kirania? bisik Stela dalam hati.
“Pria yang mengenakan tuxedo itu gimana? Kamu lihat wajahnya?” tanya Stela lagi.
“Sama, buram. Saya nggak bisa lihat wajah orang itu dengan jelas. Dia hanya minta saya hentikan berita dan investigasi yang kami lakukan. Pria itu juga mengucapkan kalimat yang sama dengan malam sebelumnya,” jawab Vincent mengatakan yang sebenarnya.
“Maksudnya, kamu sebelum ini juga bermimpi dengan pria bertuxedo?”
Vincent melenggut, membenarkan perkataan Stela. “Baru kemarin malam.”
“Kenapa kamu nggak cerita sama aku?” ujar Stela cemas.
Vincent mengamati wajah istrinya yang tampak khawatir, lantas membelai lembut pipi chubby itu.
“Saya nggak mau bikin kamu khawatir seperti ini, Sayang. Lagian saya pikir itu hanyalah mimpi biasa.”
Stela mengeratkan pelukannya, tak peduli sekarang selimut telah membuat tubuh bagian atasnya tersingkap sehingga bisa merasakan kehangatan kulit Vincent tanpa pembatas.
“Tapi kamu harusnya cerita. Kali aja ada hubungannya dengan kejadian itu,” bisik Stela semakin mengeratkan pelukan.
“Sayang,” lirih Vincent.
“Kenapa?” Stela meregangkan pelukan dan memandang lagi wajah tampan yang ada di depan matanya.
“Kamu bikin saya mau lagi,” sahut pria itu mengerling ke bagian tubuh istrinya.
Sontak Stela menarik selimut dan menutupi lagi tubuhnya. Wajahnya mengerucut menunjukkan raut protes kepada sang Suami.
“Kamu ya. Orang lagi cemas, masih aja mesum,” protesnya.
“Ya habis kalau lihat kamu tanpa pakaian, ini jadi bangun,” ungkap Vincent melihat pangkal paha.
Stela tertawa pelan melihat tingkah suaminya. Dia mendekatkan kepala, lantas menyesap lagi bibir Vincent tanpa permisi. Meski di dalam hati mulai terbesit rasa cemburu, karena kemungkinan pria itu bisa ingat dengan Kirania, tapi yang ada di pikirannya saat ini hanyalah ingin menghabiskan waktu bersama dengannya, memadu kasih dan saling mencurahkan cinta satu sama lain.
***
Dunster, West Somerset
Perbedaan suhu udara terasa jelas ketika Stela dan Vincent turun dari kereta saat tiba di stasiun Taunton. Jika di London udara tidak terlalu dingin, berbeda dengan daerah Somerset yang lebih dingin sehingga membutuhkan mantel yang tebal untuk menghangatkan tubuh. Suami istri itu melanjutkan lagi perjalanan mereka dengan menggunakan taksi menuju desa Dunster.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, mereka akhirnya tiba di tempat tujuan. Keduanya menginap di hotel The Dunster Castle tak jauh dari Yarn Market, pasar tradisional masyarakat Dunster dulunya. Dari hotel itu mereka bisa berjalan kaki menuju Dunster Castle.
“Suasana perdesaannya terasa banget ya,” ujar Stela memandangi suaminya dengan mesra ketika keduanya berada di depan hotel, setelah turun dari taksi.
Vincent tersenyum lembut sambil mengusap puncak kepala Stela. “Udara juga lebih dingin dibandingkan London,” tanggapnya.
Stela mengangguk. “Banget. Padahal kita udah pakai mantel tebal juga.”
“Kamu sih mau ke sini pas musim dingin.” Vincent mencolek ujung hidung Stela.
“Lebih romantis aja sih ke luar negeri saat musim dingin.” Stela nyengir kuda membuat Vincent gemas.
“Eh, coba lihat deh kastilnya deket banget. Habis makan siang kita ke sana yuk!” ajak Stela ketika melihat sebuah kastil berdiri megah di tempat yang lebih tinggi dari hotel.
“Sure, Honey. Tapi istirahat dulu ya. Saya nggak mau kamu kelelahan nanti.”
“Siap, Bos,” sahut Stela.
Keduanya langsung memasuki hotel dan check in terlebih dahulu. Setelahnya, mereka memasuki kamar.
“Wah, ternyata nggak hanya bangunan hotelnya aja yang klasik, tapi perabotannya juga.” Stela berdecak kagum melihat lemari, sofa, meja rias, nakas dan tempat tidur yang terbuat dari kayu jati dengan desain klasik.
“Kamu benar, Sayang. Ternyata kamu nggak salah pilih tempat untuk honeymoon. Saya suka desa ini, bangunannya gaya lama semua tapi kokoh.”
Stela manggut-manggut setuju, lantas menghempaskan tubuh di kasur yang berukuran super king, setelah meletakkan koper di lemari. Pandangan matanya melihat ke arah langit-langit kamar berwarna putih.
“Sini dong,” ujar Stela sambil menepuk ruang kosong yang ada di sampingnya.
Setelah melepas mantel dan menggantungkannya, Vincent segera bergabung dengan sang Istri di ranjang. Keduanya saling memangkas jarak sebelum kedua bibir mereka bertemu. Udara dingin di luar membuat suami istri itu ingin menghangatkan tubuh masing-masing dengan cara erotis.
Seakan tidak pernah bosan, Stela dan Vincent kembali memadu kasih lagi padahal tadinya mau istirahat ya, tapi kok malah bercinta. Ck!
“Vin,” panggil Stela saat merebahkan kepala di dada bidang suaminya. Dia bisa mendengar detak jantung Vincent yang terpacu setelah bercinta tadi.
“Kenapa, Sayang?” sahut Vincent.
“Aku udah pikirkan nanti mau punya anak berapa,” ungkap Stela.
Siang hari Stela harus membuat pikiran Vincent rileks, karena tiga hari belakangan pria itu selalu terusik oleh mimpi yang sama dan seakan berlanjut. Jika pada malam pertama, Vincent bermimpi melihat seorang pria mengenakan tuxedo sedang memegang tongkat besi berlumuran darah, maka pada malam kedua dia memimpikan hal yang sama namun bedanya dia melihat seorang wanita bersimbah darah. Pada malam ketiga, mimpi yang sama datang lagi, bedanya wanita itu masih hidup dan meminta pertolongannya.
“Oya? Kamu mau punya anak berapa?” tanya Vincent sembari mengusap kening hingga puncak kepala istrinya.
Stela mengacungkan jari telunjuk dan tengah bersamaan. “Dua aja cukup ya?”
“As your wish, Honey. Sesuai dengan anjuran pemerintah juga, ‘kan?”
Wanita itu mengangguk. “Kalau bisa sih cewek dan cowok.”
“Bisa program nggak? Maksudnya agar bisa dapat satu perempuan dan satu laki-laki?”
Stela mendongakkan kepala, sehingga bisa melihat wajah tampan suaminya. “Kayaknya sih bisa. Nanti kita konsultasi ke dokter kandungan aja. Aku ‘kan nggak ahli di bidang Obstetrics.”
“Mau program kapan?” Nada suara Vincent terdengar semangat.
“Satu tahun aja kali ya? Sekarang puasin masa pacaran setelah menikah dulu. Kita ‘kan nggak pacaran, langsung nikah,” usul Stela.
“Oke. Setelah satu tahun, kita langsung program anak laki-laki dulu, bagaimana?”
“Deal.” Stela setuju.
Suami istri itu kemudian beristirahat sejenak. Setelah merasa tidak lagi lelah, mereka mencari restoran timur tengah yang ada di dekat hotel.
“Ke kastil sekarang?” kata Vincent setelah makan siang tandas.
“Boleh, yuk! Aku udah nggak sabaran pengin lihat kastil yang terkenal di sini. Trus lihat pemandangan laut dari ketinggian juga,” sahut Stela.
Pada siang hari, udara terasa sedikit hangat, tapi masih dingin menurut Stela. Maklum belum pernah berada di daerah dengan suhu udara minus. Dia semakin merapatkan mantel di tubuh dengan menaikkan syal hingga menutupi hidung.
“Dingin?” decit Vincent melihat hidung Stela mulai memerah.
Wanita itu menggeleng. “Udah nggak sih. Mendingan jalannya kita percepat ya, biar nggak dingin banget.”
Vincent tertawa lalu berdecak. “Kamu ini gigih sekali. Padahal udah kedinginan tuh,” ledeknya.
“Habis penasaran pengin lihat kastil.” Stela memasukkan tangan ke dalam saku mantel. Walau sudah mengenakan sarung tangan, tetap saja masih dingin.
Tiba di bukit tempat kastil berada, Stela dibuat terpana dengan kemegahan Dunster Castle. Dulunya bangunan itu milik keluarga Luttrell. Seiring berjalannya waktu, kastil tersebut diberikan kepada National Trust untuk dijadikan cagar budaya.
“Wah, bagus banget.” Stela menengadahkan sedikit kepala ke atas melihat puncak kastil.
Dia menggamit tangan suaminya agar mendekat saat berada di dekat pagar kastil.
“Indah banget ya pemandangannya,” seru Stela.
Di hadapan keduanya terdapat hamparan hijau membentang luas disambut dengan lautan. Biasanya pinggir pantai dihiasi dengan pasir, namun di Dunster sebagian dihiasi dengan rumput hijau. Tak heran jika wisatawan bisa melihat hewan seperti domba, kuda dan sapi berada di dekat pantai.
“Wow! Amazing, Sayang,” komentar Vincent setuju dengan perkataan istrinya.
“Sepertinya kita harus ke sini lagi musim panas nanti, Vin,” cetus Stela memutar tubuh menghadap suaminya.
Ketika sepenuhnya menghadap kepada Vincent, Stela melihat tiga orang pria mengenakan seragam hitam bergegas menghampiri mereka. Insting sebagai seorang psikiater membuatnya tahu ada yang tidak beres dengan ketiga orang tersebut, tampak jelas dari cara mereka berjalan.
“AWAS, VIN!!” teriak Stela sambil mendorong tubuh Vincent ke samping kiri sebelum salah satu dari pria itu menyerang suaminya.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan review dan follow akun ini sebelum melanjutkan. Tolong pastikan sudah menyalakan kelima bintang sebelum submit review ya, karena rating akan berkurang jika bintangnya juga berkurang. Hiks.
Follow IG @Leena_gie juga yaa ^^

Komentar Buku (391)

  • avatar
    Yuyun

    awal cerita agak sedikit bingun dari arah jalur ceritanya tapi makin terus aku baca eh makin seru keren

    27/08/2022

      0
  • avatar
    Nda Ning

    cerita dan tata bahasanya bagus jd suka bacanya

    19/10

      0
  • avatar
    SarahMae

    suka sekali dengan ceritanya..

    08/08/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru