logo text

Bab 31 Kontrak Membawa Petaka

Stela menggenggam erat kedua daun tangannya yang saling bertautan di atas paha. Dia mencoba mencerna perkataan dari Widya.
“Kalau gitu gampang, kamu bisa menikah dengan Vincent.” Kalimat itu berputar di memory-nya berulang-ulang.
Widya masih mengamati reaksi dari Stela. Wanita paruh baya itu membiarkannya berpikir beberapa saat. Tahu bahwa Stela pasti shock dengan perkataannya.
“Kenapa harus menikah? Saya hanya ingin membawa Pak Vincent liburan ke London saja, Bu.” Stela bersuara setelah diam beberapa menit.
Widya tersenyum penuh kelembutan. Dia masih memandang wajah Stela yang menunduk.
“Dengar, Stela. Kamu harus mengawasi Vincent selama 24 jam. Tidak mungkin kalian tidur terpisah karena kondisi Vincent yang butuh seseorang untuk mengingatkan di mana ia berada nanti.” Widya menarik napas panjang sebelum melanjutkan perkataannya.
“Kamu tidak mau tidur dengan yang bukan mahram, bukan?” tanya Widya masih mengamati Stela.
Perlahan kepala gadis itu mengangguk.
“Solusi satu-satunya adalah menikah. Kamu harus menikah dengan Vincent,” tegas Widya.
Gila! Gue nikah sama pasien sendiri? What? Are you kidding at me? batin Stela.
Hampir satu tahun bekerja di sini, tak pernah sekalipun ia menduga kalimat itu keluar dari bibir Widya. Tidak mungkin baginya menikahi pria yang notabene adalah pasiennya. Selain itu Vincent akan melupakan kenangan yang dilalui selama sehari setelah bangun dari tidur.
Nggak mungkin gue nikah sama Vincent, batinnya lagi.
“Tapi Bu. Saya—”
“Yes or no. Pilih salah satu di antara dua itu! Di kontrak yang telah kamu tanda tangani tertera jelas, akan melakukan permintaan keluarga Oliver. Saya minta kamu menikah dengan Vincent.” Widya berbicara lugas seperti biasanya dengan mata menegang.
“Pernikahan bukan untuk main-main, Bu. Bagi saya menikah sekali seumur hidup. Saya juga nggak ingin nikah kontrak. Agama melarangnya, Bu.”
Terdengar helaan napas singkat dari Widya. Dia melihat Stela dengan tatapan lebih lunak dari tadi.
“Saya meminta kamu menikah dengan Vincent juga bukan untuk main-main, Dokter Stela. Hanya kamu yang bisa saya percayakan untuk menjaga Vincent. Selama hampir satu tahun ini, kamu telah melakukan hal yang luar biasa.”
Widya masih melihat ke arah Stela. Gadis itu menundukkan pandangan karena merasa seakan ibunya yang telah tiada, kini sedang menatapnya lekat.
Wanita paruh baya itu berdiri, lalu mendekati Stela. Dia menepuk bahu psikiater muda itu.
“Saya beri kamu waktu tiga hari. Pikirkan ini baik-baik,” pungkasnya sebelum pergi dari ruang kerjanya.
Stela memejamkan mata agar air mata tidak keluar. Kelemahannya adalah air mata mudah keluar saat menahan amarah. Kontrak bernilai milyaran rupiah, ternyata membawa petaka dalam hidupnya. Tak hanya beralih profesi menjadi sekretaris gadungan, Stela juga harus menikah dengan seorang penderita Anterograde Amnesia.
Terdengar tarikan dan embusan napas dari sela bibirnya. Dia ingin memberontak tapi tak berdaya. Diam menjadi satu-satunya pilihan. Stela mengusap keras wajahnya.
Setelah menenangkan diri beberapa saat, dia keluar dari ruang kerja Widya. Tangga yang biasa dilewatinya terasa begitu tinggi dan terjal, sehingga butuh waktu lama untuk sampai di atas. Langkah kakinya berhenti tepat di depan pintu kamar Vincent.
“Gue harus gimana? Masa iya nikah sama Vincent?” Stela menggaruk-garuk kepalanya, kemudian berjalan menuju kamar sambil menghentakkan kaki.
Tak bisa terbayangkan bagaimana reaksi ayah dan kakaknya jika tahu hal ini. Begitu tiba di kamar, dia meraih ponsel dan menghubungi Santi. Hanya gadis itu yang bisa diajak curhat untuk saat ini. Tidak mungkin juga curhat hal seperti ini dengan Candra dan Garry.
Begitu tahu Santi sekarang sedang nongki syantik di Plaza Semanggi, Stela memutuskan untuk menyusul ke sana. Dia pergi begitu saja tanpa berpamitan kepada Vincent dan Candra. Kecuali kepada ....
“Bi,” panggil Stela begitu melihat Bi Ipah berdiri di dekat pintu rumah.
“Ya, Mbak?” sahut Bi Ipah membalikkan tubuh.
“Saya ke luar sebentar mau ketemu sama teman. Nanti kalau ada yang cari tolong bilang gitu aja ya?” pinta Stela.
“Oke, Mbak. Hati-hati ya. Jangan pulang larut malam. Ndak baik anak gadis pulang kemaleman,” nasihat Bi Ipah sebelum Stela meninggalkannya.
Stela hanya tersenyum samar sambil menganggukkan kepala, lantas melanjutkan langkah menuju pagar. Dia berdiri di depan pagar beberapa saat, menunggu ojek online yang dipesan.
Netra cokelatnya memandang sendu rumah mewah yang ada di dalam pagar itu. Helaan napas berat terdengar dari hidungnya.
“Apa batalin aja ya ke London? Masa iya cuma gara-gara mau ajak Vincent ke London, gue harus nikah sama dia?” gumam Stela sambil menghentakkan kaki dan menggelengkan kepala. Dia mengembuskan napas keras ke atas, sehingga poni terangkat sebagian.
Tak lama kemudian ojek online yang dipesan telah tiba. Motor bergerak menuju Plaza Semanggi tempat Stela dan Santi bertemu.
Setelah menempuh sepuluh menit perjalanan, Stela akhirnya tiba di kawasan Semanggi. Dia bergegas melangkah menuju food court di sana. Santi ternyata sudah menunggunya di depan salah satu gerai makanan.
“Hei, teman-teman lo mana?” sapa Stela saat melihat Santi hanya sendirian.
“Udah pada balik,” sahut Santi mengamati wajah Stela, “kamu kenapa, Stela?”
Ketika berada di luar lingkungan rumah sakit, Santi memanggil Stela dengan nama tanpa embel-embel dokter.
Stela mengangkat kedua tangan ke atas, lalu menggaruk pinggir kepala dengan wajah berkerut. Dia memilih duduk terlebih dahulu untuk menenangkan pikiran.
“Pesan makanan dulu ya. Gue laper,” ujar Stela sambil mencari stan makanan yang menarik perhatiannya.
“Lo mau makan apa, San? Biar gue traktir.”
“Serius?”
“Iya. Gue ‘kan belum pernah traktir lo sejak kerja sama Vincent.”
“Cie, udah sebut nama aja nih,” goda Santi tersenyum usil.
“Udah. Entar gue ceritain deh. Yuk cari menu yang enak.” Stela menarik tangan Santi.
Mereka berhenti di depan stan makanan yang menjual beragam olahan nasi goreng. Stela memesan nasi goreng seafood dan es lemon tea. Kepalanya yang panas harus diademkan dulu dengan minuman dingin.
Santi juga melakukan hal yang sama, memesan makanan yang menarik perhatiannya. Setelahnya kedua gadis itu beranjak ke tempat mereka duduk tadi.
“Sekarang cerita deh. Muka kamu kusut banget tuh,” kata Santi menunjuk wajah Stela.
Kepala Stela terkulai sehingga rambut menutupi wajah. “Nyokap Vincent suruh gue nikah sama anaknya.”
“What? Seriously?” Santi bertepuk tangan girang, sehingga membuat Stela menegakkan kepala dan melihatnya dengan kening berkerut.
“Lo kok senang gitu, kayak dapat jackpot?!”
“Kamu yang dapat jackpot, Stela! Udah terima aja. Kapan lagi dapat suami ganteng dan tajir kayak gitu. Ya ampun. Lo beruntung banget sih?!” Mata Santi tampak berbinar serasi dengan air mukanya.
“Beruntung apanya? Dia itu pasien gue, San. Nggak mungkin gue nikahi pasien sendiri. Bisa snewen gue,” keluh Stela.
Santi menarik napas panjang, lalu memandangi lekat sahabatnya itu.
“Sekarang aku tanya sama kamu. Apa nggak ada hal positif yang kamu lihat dari Pak Vincent?”
“Banyak sih yang positif.”
“Contohnya?” pancing Santi.
“Gue akui dia emang ganteng,” jawab Stela tersenyum, “baik juga walau kadang nyebelin. Tapi lebih banyak baiknya sih.”
“Trus?”
“Dia jatuh cinta sama gue, San,” ungkap Stela membuat Santi semakin semringah.
Stela menceritakan semuanya kepada Santi, termasuk dengan ciuman mereka hingga bagaimana usahanya untuk membuat Vincent lupa dengan perasaannya kepada gadis itu.
Santi geleng-geleng kepala, kemudian mendengkus. “Udah. Nikah aja sih. Apa salahnya?”
“Dia pasien gue, San.”
“Emang kalau pasien kamu gimana? Nggak berhak untuk kamu cintai gitu?” Terdengar desahan dari bibir Santi.
“Stela dengar. Kesempatan seperti ini nggak akan datang untuk kedua kali. Kalau kamu nolak sekarang, apa bisa jamin dapat suami baik kayak Pak Vincent?”
Stela menggelengkan kepala.
“Saranku. Nggak ada salahnya kamu nikah sama dia. Kali aja dengan kasih sayang dari kamu, dia bisa sembuh, ‘kan? Who knows!”
“Tapi San—”
“Jawab jujur. Apa kamu nggak tertarik sedikitpun kepada Pak Vincent? Nggak cinta?”
Pertanyaan Santi membuat Stela diam seribu bahasa.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan review dan follow akun ini sebelum melanjutkan. Tolong pastikan sudah menyalakan kelima bintang sebelum submit review ya, karena rating akan berkurang jika bintangnya juga berkurang. Hiks.
Follow IG @Leena_gie juga yaa ^^

Komentar Buku (391)

  • avatar
    Yuyun

    awal cerita agak sedikit bingun dari arah jalur ceritanya tapi makin terus aku baca eh makin seru keren

    27/08/2022

      0
  • avatar
    Nda Ning

    cerita dan tata bahasanya bagus jd suka bacanya

    19/10

      0
  • avatar
    SarahMae

    suka sekali dengan ceritanya..

    08/08/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru