Pov-Grayen. Dengan diriku masuk Universitas Sain Teresa, bearti aku juga harus siap akan resiko yang ku dapati. Sesuai informasi yang ia dengar dari berbagai orang disekitar sini kalau universitas Sain Teresa itu sekolah yang berkualitas tinggi. Sekolah Atasan. Kalau disini semua murid harus belajar hingga berhasil, tidak ada namanya tidak naik kelas. Dengan perasaan yang belum pasti, antara siap dan ragu. Tapi dirinya sudah masuk ke Sma sini, siap atau tidak harus siap. Aku juga bingung kenapa perasaan seperti ini tiba-tiba saja muncul, bukankah aku harusnya senang? Diriku sudah berada di ambang pagar Teresa, pintu pembukaan untuk siswa siswi masuk. Dengan keadaan yang masih diatas sepeda dan kaki kiri ku, aku gunakan untuk menyangganya. "Hei pemuda cool! Ternyata kau memang benar masuk sini, ya. Aku tidak menyangka." suara yang berasal dari satpam. Aku menoleh padanya lalu tersenyum hangat. "Sebaiknya kau cepat masuk, bel masuk sebentar lagi akan berbunyi. Aku hanya mengingatkan jika hukuman disini berbeda pada umumnya." lanjutnya. "Hukuman seperti apa itu? Apakah seperti berlari mengelilingi lapangan?" aku mulai bertanya. "Disini hukumannya bukan bermain/ mengambil fisik dan energi. Aku saja yang bekerja disini saja sempat kasihan kepada mereka, karna hukuman disini itu seperti dipermalukan." ucap satpam, wajah nya langsung berubah. Menjadi raut wajah kasihan. Aku tertegun mendengar penjelasannya, ini yang dikatakan sekolah teratas? Memberi hukuman dengan permaluan. "Maksudnya dihina?" "Bisa dikatakan juga begitu, jadi sebesar atau sekuat apapun fisikmu itu tidak dapat berlaku disini." Lag-lagi aku tersenyum kepadanya, "Thanks sudah memberi informasi sepenting ini, aku sangat berterima kasih." Aku langsung mulai melajukan kendaraanku, berupa sepeda. Tapi sebelum berjalan lebih jauh untuk meninggalkan satpam itu, aku teringat akan sesuatu. Sesuatu yang bisa dikatakan, Janji. Aku merogoh saku di dalam jinsku, lalu kuangkat sesuatu didalamnya. Alat cukur. Aku tertawa geli, lalu melemparnya cepat ke arah satpamnya. Dan ditangkap dengan sempurna. Setelah satpam itu menangkapnya, ia sempat terheran. Tapi dikemudian detik ia kembali teringat maksud dari alat cukur itu. "Sebuah hadiah kecil untuk merayakan kemasukan dirku disini nanti, dengan menyimpan foto kau." "Jika kau mau memfoto bersama diriku, harusnya kau harus bilang. Biar aku bisa mencukur janggutku." Jadi dirinya memberi ini, untuk membuktikan perkataan yang dulu katakan. Gowesan sepedaku mulai melambat, bukan karena akan dihadang orang. Tapi karena diriku ingin melihat apa yang siswa siswi sini lakukan. Ada yang tengah beromantisan bersama pasangannya seperti menyuapi satu sama lain, romantis yang aku maksud bukan seperti yang kamu pikirkan. Beromantis dengan melakukan hal-hal yang vulgar. Syukurlah, tidak ada yang melakukan itu. Bahkan dihalaman sekolah ini ada yang sedang latihan untuk mengumpulkan tugas dan kegiatan lainnya, halaman disini sangat luas ditambah dengan lapangan disebelahnya. Jadi terlihat dari depan sangat luas!. Mungkin mataku terlalu fokus mengamati, hingga tidak sadar aku menabrak seseorang. Bruk.. Spontan aku menoleh ke arah sumber, Oh My Good! Aku menabrak seseorang! Cepat-cepat aku menaruh sepedaku asal dan membantu orang itu berdiri. Orang yang tadi kutabrak berjenis kelamin laki-laki sama seperti aku, hingga tumpuan buku ditangannya terjatuh. Dan berserakan. Setelah buku semua rapi, "Maaf, Aku tidak sengaja tadi. Aku terlalu fokus melihat disekitar. Sekali lagi Maaf." Pemuda itu tersenyum hangat, lalu berujar. "Tidak apa. Siapa namamu?" "Grayen." Pemuda itu berguman pelan. "Nama yang bagus, aku Mikko. Anak kelas 6B, jurusan Ipa." Terkejut bukan main, aku teringat sesuatu hal. Aku juga masuk dikelas yang dimaksud tadi, kelas 6B. Kemarin aku diberitahu oleh wali kelasku. "Kau anak 6B, ipa?" Mikko mengangguk heran, tapi didetik kemudian dia langsung membelalakkan mata. "Kau anak baru?" "Iya. Aku anak baru." "Pantas, tadi sampai menabrakku gara-gara baru pertama kali disini." Mikko tertawa kecil, lalu dia mengulurkan tangannya. "Ayo, kuantar ke kelas. Kita harus duduk bersama!, aku dikelas itu tidak memiliki pasangan duduk. Murid nya ganjil, terpaksa aku harus duduk sendirian dalam satu setengah tahun ini." Grayen mebalas uluran tangannya. Mulai berjalan mengikuti arah Mikko. ——————— Happy Next Chapter.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (56)
EfrianIrjon
cerita ini sangat menarik dan baik
dengan cara berbicara antara satu dan yang lain
intonasi yang sangat jelas baik dan
komunikasi yang sangat baik
saya tertarik dengan cerita yang anda buat
dan rekan yang lain
disatu sisi saya kira cerita ini tidak menarik ternyata malah sebaliknya cerita ini adik
tidak singkat padat jelas dan memiliki sifat yang lembut dan berkualitas dan memiliki kreteria masing masing dari semua pemain yg ada dicerita
sayang sangat puas dengan cerita ini
terimakasih..
cerita ini sangat menarik dan baik dengan cara berbicara antara satu dan yang lain intonasi yang sangat jelas baik dan komunikasi yang sangat baik saya tertarik dengan cerita yang anda buat dan rekan yang lain disatu sisi saya kira cerita ini tidak menarik ternyata malah sebaliknya cerita ini adik tidak singkat padat jelas dan memiliki sifat yang lembut dan berkualitas dan memiliki kreteria masing masing dari semua pemain yg ada dicerita sayang sangat puas dengan cerita ini terimakasih..
18/02/2022
9Wow I love this story😍
28d
0bagus
25/08/2025
0Lihat Semua