Melihat tempat yang akan digunakan untuk menginap terasa nyaman, Altair turun dari atas kuda disusul dengan Adir yang juga ikut turun dari sana lalu menuntun kuda dan mengikat kuda di sebelah pohon. “Apa kau pernah tidur di alam bebas?” tanya Altair meledek Adir sambil membereskan dan merapikan tempat untuk mereka tidur. “Tentu saja!” ucap Adir dengan nada kesal yang tiba-tiba berteriak. Altair hanya tersenyum melihat Adir yang bertingkah aneh dari awal mereka berangkat dari ibu kota dalam benaknya, Altair sangat senang dengan sifat Adir yang sangat mudah diajak bekerja sama. Altair berjalan di sekitar tempat untuk mereka beristirahat untuk mencari kayu bakar sekaligus melihat sekitar berjaga-jaga. “Tidak usah marah,” jawab Altair sambil mengambil batang dan ranting kayu yang kering. “Aku menanyakan hal itu karena kau adalah calon Saintess, bisa-bisa aku dituntut oleh keluargamu karena telah membiarkan seorang calon yang agung tidur di hutan yang dipenuhi dengan serangga,” imbuh Altair berdiri dan menatap Adir dengan wajah serius. Adir merasa malu karena pikiran negatifnya mengira Altair mengejeknya tadi, ternyata Altair memikirkan kenyamanan mereka berdua di sana dan juga di dalam benak Altair dia tidak ingin terlibat masalah dengan keluarga Pengendali Mana lainnya untuk mengusir rasa canggung dalam benak Adir, Adir pergi menuju hilir sungai berharap ada ikan yang bisa ditangkap untuk makan malam mereka berdua.
Adir berdiri di tepi sungai melentangkan kedua tangannya seperti seseorang yang hendak menyanyikan lagu seriosa, mengucapkan beberapa mantra lalu muncullah sebuah lingkran sihir di bawah kaki Adir. Lingkaran sihir itu setengah berada di atas air dan setengah berada di tepian sepanjang aliran sungai muncul gemericik air yang cukup besar di ikuti cahaya berada di lingkaran sihir. Matahari senja dan cahaya putih yang keluar dari lingkaran sihir sangat indah ditambah dengan gemericik air yang memunculkan warna pelangi di sekitar Adir. Altair yang baru saja mengumpulkan batang kayu kering untuk membuat api unggun baru saja tiba penasaran dengan apa yang sebenarnya yang akan Adir lakukan Altair melihatnya dari jauh sambil meletakkan kayu-kayu itu. “Mungkin dia sedang berlatih,” ucap Altair sendiri sambil menyusun dan menumpuk kayu-kayu untuk di bakar. Setelah tertata rapi Altair mengeluarkan api untuk memantik membakar kayu, hanya dengan menjentikkan jari muncul api yang berwarna biru keluar dari sela-sela jarinya. Membakar kayu dan memberi batas berupa batu di sekitar agar tidak merambat luas setelah api unggun tersebut menyala Altair berjalan mendekati Adir untuk melihatnya lebih dekat terlihat keringat dingin mengalir di wajah Adir. “Apa dia jarang berlatih menggunakan Mana miliknya?” tanya Altair dalam hati. “Sampai mengeluarkan keringat seperti itu di wajahnya,” imbuhnya lagi. Di tubuh Adir terselimuti Mana milik keluarga Voor’t membuat Altair khawatir terhadap Adir gemericik air di hilir sungai menyatu membentuk pusaran, tidak menunggu waktu yang lama pusaran itu mengeluarkan gelembung air dan memunculkan peri air. Peri air yang melayang mendekati Adir dan wajah Adir yang terlihat sangat kelelahan membuat Altair merasa iba. “Apa yang kau lakukan?” tanya Altair yang sudah berada didekat Adir. Adir terkejut dengan kedatangan Altair yang tiba-tiba muncul sudah berada di samping Altair yang melihat wujud kecil yang baru saja muncul dari dalam air akhirnya mengerti. “Kau memanggil peri air,” ucap Altair sambil melihat ke arah peri tersebut. Semua badannya berwarna biru muda dan transparan dengan bentuk tubuh wanita cantik dengan bola mata merah membuat Altair terkesima dengan sayap yang juga transparan, setiap kali dia mengepakkan kedua sayapnya akan muncul tetesan air dan jatuh ke bawah. “Cantik sekali,” ujar Altair yang mentapa peri air dengan sangat dekat. “Mereka (peri) adalah makhluk yang susah untuk di ajak bekerja sama,” ucap Adir diikuti dengan helaan napas. “Benarkah?” sambung Altair dengan penasaran. “Kemarin di upacara kedewasaanku, ayah dengan mudah mengendalikan mereka semua untuk melakukan tugas dan pekerjaan manusia,” imbuh Altair lagi memastikan. Adir hanya tersenyum kecut ternyata Altair tidak mengetahui kekuatan yang dimiliki keluarga Onder de selama ini menurut pandangan Adir. “Apa yang akan kau lakukan dengan peri ini?” tanya Altair dengan penuh penasaran. “Aku meminta bantuannya untuk menangkapkan ikan di air,” jawab Adir dengan senang karena sudah bisa mengalahkan Altair dan menunjukkan kemampuan hebatnya. “Kenapa tidak di pancing atau di tombak saja?” tanya Altair. Adir yang mendengarkan penuturan Altair tidak bisa berkata-kata, seolah dirinya tidak mampu untuk menangkap seekor ikan kecil dan berakhir meminta bantuan kepada peri air namun, Adir yang tidak ingin kalah akhirnya bersih keras untuk bersikukuh dengan argumennya sendiri. Altair pergi meninggalkan Adir dan peri air di sana dengan polos, menggulung celana kain serta lengan baju lalu pergi meletakkan barang-barangnya di atas kuda untuk diamankan dia bergerak menuju tepi sungai saat air menyentuh kulit kaki terasa sejuk Altair berjalan hingga hampir mendekati tengah sungai Adir masih sibuk dengan urusannya berbicara dengan peri. “Bisakah kamu membantuku untuk menangkap beberapa ikan di sini?” tanya Adir dengan penuh harap. Peri air hanya menggelengkan kepala dan mengalihkan kepalanya ke arah lain, melihat ke arah Altair. Peri itu menunjuk tangan ke arah Altair. “Ada apa dengannya?” tanya Adir dengan rasa penasaran. “Apa kau menyuruhku untuk menangkap ikan seperti yang dia lakukan?” tanya Adir sambil melihat ke arah Altair. Peri itu hanya menganggukkan kepalanya. “Ayolah bantu aku, aku ingin terlihat bisa berguna dengan kekuatanku sebagai calon penerus Saintess.” ucap Adir dengan memelas. Peri air tetap berdiri seperti awal tidak goyah sedikitpun tetap menunjukkan jari tangannya ke arah Altair. Altair sedang menangkap ikan dengan sebuah kayu dengan ujung yang runcing fokus menatap ke dalam air untuk menangkap ikan di sungai dengan cermat dan teliti Altair mulai mencari ikan yang besar untuk makan malam mereka, air sungai yang jernih sehingga terlihat bebatuan sungai dengan jelas. Di sebelah sisi kanan muncul seekor ikan yang cukup besar dengan tenang Altair berjalan tanpa mengeluarkan suara dan gelombang air, mendekati ikan tersebut perlahan sembari menahan napas Altair bersiap untuk menancapkan ujung kayu yang runcing untuk mengenai ikan tersebut. Menggenggam erat kayu dan melayangkan hantaman keras ke arah ikan tersebut, percikan air melayang di udara Altair berhasil menangkap seekor ikan besar dengan kayu. Kayu menancap di badan ikan, dengan senang Altair menunjukkannya kepada Adir. Adir yang melihat apa yang dilakukan Altair ikut mengeluarkan ekspresi senang melihat sebuah ikan yang bergeliat di ujung kayu membuat Adir minder. Adir menghela napas. “Ayolah paling tidak aku ingin menangkap ikan yang banyak untuk makan malam nanti,” ucap Adir dengan memelas kepada peri air. Sekali lagi peri air tidak bergeming dan tetap menunjukkan tangannya mengarahkan ke arah Altair. Adir mulai merasa kesal akhirnya menyerah dia pergi meninggalkan peri air dan lingkaran sihir juga sudah menghilang saat Adir berjalan menuju Altair.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (173)
15Heranim
Suka banget sama ceritanya. Bikin emosiku gak karuan..Semangat! Mari mampir juga ke ceritaku ^^
16/01/2022
4
Ssraah
saya sangat menyukai cerita ini, mempunyai jalan cerita yang menarik dan tata bahasa yang rapi dan mudah dimengerti.
Suka banget sama ceritanya. Bikin emosiku gak karuan..Semangat! Mari mampir juga ke ceritaku ^^
16/01/2022
4saya sangat menyukai cerita ini, mempunyai jalan cerita yang menarik dan tata bahasa yang rapi dan mudah dimengerti.
21/12/2021
0sangat bagus dan menarik
27/11
0Lihat Semua