Altair mengikuti ayahnya di belakang, usai dengan urusan negosiasi yang tidak penting Duke Leon tidak mengatakan apapun kepada Altair. Saat berjalan di dalam lorong mansion Duke Leon berbalik ke arah Altair,“Kemarikan tanganmu,” ujarnya sambil membalikkan badan dan menjulurkan tangan kanannya. Altair ragu untuk menyentuh tangan ayahnya namun, tidak mungkin Altair menolak uluran tangan itu yang sudah membantunya lolos dari masalah. Perlahan Altair menjulurkan tangan kirinya, Duke Leon saat itu yang melihat tangan kiri Altair sedang di balut perban menatap dengan tajam, akan tetapi Duke Leon tidak mengatakan apapun. Sebuah lingkaran portal berwarna putih menyelubungi mereka berdua, cahaya portal itu sangat bersinar terang dan mereka masuk sudah berada di dalam menara tinggi di mana ayah Altair bekerja. Setelah sampai ke tujuan Duke Leon melepaskan tangan Altair dia pergi menuju ke arah pintu untuk menguncinya. Ruangan yang terlihat sempit tiba-tiba membesar serta meluas. Altair merasa takjub seakan menara tersebut menyambut kedatangan mereka berdua di sana. Altair mengingat saat dirinya menyelinap masuk untuk mencuri cawan milik keluarganya tidak ada disana hanya sebuah tembok yang kokoh di depan meja kerja ayahnya terdapat sebuah lemari dengan buku-buku penting yang hanya bisa baca oleh Pengendali Mana Sihir sendiri, terlihat adanya lapisan Mana yang mustahil untuk ditembus. Bahkan Altair melihat sebuah laba-laba yang cukup besar ingin masuk dan menembus ke dalam lemari itu namun, dia terbakar gosong Altair mulai bergidik. Dengan tumpukan buku-buku dan kertas di atas meja terlihat berantakan. Duke Leon pergi menuju meja kerja dan menuangkan secangkir teh untuk Altair. Dengan sihirnya Duke Leon menggerakkan sebuah kursi yang berada di dekat jendela di mana dia melihat pertandingan Altair kemarin. Mengarahkan kursi tersebut agar Altair duduk di depan meja kerja. Setelah memberikan teh kepada Altair, Duke Leon menggunakan lagi sihirnya untuk membereskan barang-barang serta buku yang tadi berserakan. Menyusun rapi dan menyatukan mereka menjadi sebuah buku kecil. Satu buku kecil itu sekarang berada di samping meja dan menjadi bersih. Duke Leon duduk menghadap ke arah anaknya. Ketika ayahnya menatap Altair, dia gugup dan pandangan Duke Leon berharap agar Altair meminum teh yang sudah dia suguhkan tadi. Altair cemas dan khawatir karena bisa saja ayahnya dengan mudah membunuhnya dengan secangkir teh dalam gelas lalu mengatakan kepada orang-orang jika Altair mati karena bunuh diri karena terpuruk dan sudah melihatnya terikat seperti tawanan Vicount Igor. Altair menatap dengan cemas cangkir gelas di depan nya namun, melihat penuh harap, ekspresi ayahnya yang menunggunya untuk meminum teh yang disuguhkan membuat Altair merasa tidak nyaman. Altair mengambil cangkir itu dengan ragu disertai rasa takut meminum teh yang berada di tangannya. Rasanya yang manis membuat Altair tidak bisa menghentikan dirinya untuk terus menghabiskan teh tersebut, mungkin karena beberapa jam dirinya tidak diberikan air maupun makanan oleh Viscount Igor. Tersadar bahwa teh yang dia minum sudah habis dengan cepat Altair meletakkan cangkir ke atas meja dengan wajah pucat dan mengeluarkan keringat dingin. Duke Leon tertawa melihat ekspresi Altair. “Hai anakku, melihatmu seperti itu seakan aku akan membunuhmu dengan secangkir teh,” ujar Duke Leon terkekeh. Altair heran melihat sifat ayahnya yang berbeda, perlakuan dingin yang selalu dia tunjukkan di depannya sekarang seperti sosok ayah yang akrab dengan anaknya. “Sini kembalikan.” ujar Duke Leon sambil menjulurkan tangan ke depan. Altair bingung dengan permintaan ayahnya, apa yang harus dikembalikan kepadanya? Tiba-tiba tangan Altair bergerak sendiri ternyata Duke Leon sedang mengendalikan tubuhnya. Altair yang berusaha untuk menolak tidak bisa karena Duke Leon sekarang sedang mengendalikan dirinya. Ayahnya terlihat sangat santai dan menyukai permainannya. Cincin yang berada di jari telunjuk Altair tiba-tiba terlepas dengan sendirinya dan Altair tahu apa maksud dari kata mengembalikan terlebih ayahnya sudah tahu maksud dari kepergiannya serta rencana yang dituju. Cincin itu sudah berada di tangan Duke Leon dan Altair terlepas dari sihir pengendali ayahnya. Duke Leon merubah kembali wujud asli cincin itu dengan mudah. “Aku tidak tahu untuk apa kau menggunakan cawan ini,” ucap Duke Leon. “Tapi aku bangga denganmu,” imbuhnya lagi. Altair tidak habis pikir dengan apa yang dia alami sejak tadi bersama ayahnya. “Mungkin kau heran kenapa aku bersikap seperti ini sekarang,” ucap Duke Leon dengan wajah serius. “Ketahuilah anakku, jika kita terlalu menampakkan sisi kita kepada orang lain dimana mereka tidak bisa membuat kita menjadi diri sendiri lebih baik jangan perlihatkan,” “Kau diluar sana pasti sudah mendengar bagaimana rakyat Rhodes sangat membenci orang-orang yang berasal dari luar Rhodes,” ucap Duke Leon sambil berdiri dari tempat duduknya. Dia berjalan menuju jendela menara sihir miliknya. “Orang-orang kita (Rhodes) percaya adanya kedamaian yang bisa kita dapat di luar Rhodes juga namun, karena kebaikan kita inilah kita dikhianati dengan mudah,” “Aku bisa memaklumi sikapmu yang berusaha terlihat onar kepada semua orang karena kau benci dengan pandangan mereka terhadapmu. Aku hanya berharap kamu menjadi pribadi yang kuat, bisa menjalankan hidupmu sendiri sebagai penerus Pengendali Mana Sihir.” terang Duke Leon yang melihat lekat dari jauh wajah anaknya yang tampan. Altair tidak bisa berkata-kata, dia hanya merasa bahwa ucapan ayahnya bukan untuk dirinya tapi untuk Altair yang di sana namun, terlambat. Kenapa baru sekarang Duke Leon memperlihatkan kasih sayangnya kepadanya? Kenapa bukan saat Altair yang asli mendengarkan dan mendapatkan cinta itu? Kalau memang menyayangi Altair sebagai anaknya kenapa tidak dari awal dia melakukan hal seperti itu? Dimana sikap dinginnya itu sekarang? Altair yang sendirian saat itu pasti merasakan hal-hal yang menyedihkan dalam hidupnya. Padahal belum sampai satu hari mereka berjanji untuk menjalani hidup masing-masing dengan mencari kebahagian mereka sendiri dan sekarang mendengar omong kosong yang dilontarkan ayahnya, Duke Leon membuat Altair ingin tertawa dan mual. Altair tidak mengeluarkan satu kata apapun kepada ayahnya. Altair hanya berharap dan berdoa bahwa dirinya yang sekarang penuh dengan kebahagian bersama ibunya di dunia lain. Sekarang tinggal dirinya sendiri yang harus berjuang mempertahankan apa yang sudah ada sekarang. Melihat Altair tidak merespon ucapannya yang hanya terduduk lemas serta lesu membuat Duke Leon menyerah akibat perilaku dirinya sendiri yang tidak segera memberitahukan isi hatinya. Duke Leon merasa Altair membenci dirinya yang tidak terus terang menunjukkan kasih sayangnya kepada Altair. “Kau boleh kembali ke kamarmu,” ucap Duke Leon sambil melihat ke arah luar jendela. “Kau dihukum karena keluar dari kediaman serta membuat masalah dengan bangsawan lain sampai upacara kedewasaan berlangsung. Supaya tidak ada pembicaraan buruk yang lain,” Altair berdiri dengan pikiran yang masih kalut dengan langkah kaki yang seperti tidak bisa menerima ucapan apapun dari ayahnya. Padahal hanya sebuah ucapan kasih sayang orang tua kepada anaknya membuat Altair kesulitan menerima. “Untuk masalah cawan, biarkan ini menjadi rahasia kita berdua.” ucapnya lagi. Altair keluar dari ruangan kerja ayahnya meninggalkannya sendirian di menara yang sangat tinggi dan tua itu.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (173)
15Heranim
Suka banget sama ceritanya. Bikin emosiku gak karuan..Semangat! Mari mampir juga ke ceritaku ^^
16/01/2022
4
Ssraah
saya sangat menyukai cerita ini, mempunyai jalan cerita yang menarik dan tata bahasa yang rapi dan mudah dimengerti.
Suka banget sama ceritanya. Bikin emosiku gak karuan..Semangat! Mari mampir juga ke ceritaku ^^
16/01/2022
4saya sangat menyukai cerita ini, mempunyai jalan cerita yang menarik dan tata bahasa yang rapi dan mudah dimengerti.
21/12/2021
0sangat bagus dan menarik
27/11
0Lihat Semua