Bab 15

'Akhir-akhir ini banyak masalah yang kita hadapi,
Begitu berat hingga kita merasa Dunia ini tidaklah adil.
Tapi ingatlah satu hal,
Akan ada indahnya pelangi di setiap hujan deras yang mengerikan.'
Hari ini Liona tampak sedih mendapati ibunya tengah mengurung diri di kamar kakaknya, Sarah. Sudah seminggu ini ibunya kembali bersedih setelah berhenti dari terapi pemulihan jiwa. Liona tahu ibunya begitu menyanyangi Sarah dan masih belum merelakan kepergian anaknya.
Namun, sikap ibunya yang seakan dunia telah runtuh memberikan kepedihan tersendiri bagi dirinya dan ayah. Ayahnya berpura-pura menyibukkan diri dengan urusan kantor, sedangkan dirinya? Tidak bisa berbuat banyak selain berharap ibunya dapat melihat dirinya yang juga butuh sosok seorang ibu.
“Ini sudah tiga tahun berlalu, ma.” Liona mendekati ibunya yang tengah duduk muram di tepi kamar tidur Sarah. Liona duduk di sebelah ibunya, memandang perhatian.
“Kak Sarah pasti sudah tenang di sana.” Liona memberanikan diri memegang bahu ibunya yang mulai bergetar menahan tangis. Boneka beruang kecil milik Sarah dipeluknya erat-erat.
“Liona yakin, Kak Sarah tidak ingin mama selalu bersedih seperti ini. Berhentilah menatap masa lalu, ma. Ayo kita bangun kembali keluarga yang hangat seperti dulu. Masih ada aku dan papa, ma. Kami masih sangat membutuhkanmu.” Liona mempererat pegangan bahu dan memeluk ibunya. Ia merasa sangat sedih ibunya bisa terpuruk selama ini.
“Mama merindukannya, nak. Mama…kasihan sekali Sarah.” Ibu Liona menghapus airmata dari punggung tangannya, berusaha tegar walau tidak bisa. Liona melepas pelukannya dan membantu menghapus air mata ibunya.
Tidak ada yang berubah dari kamar Sarah. Tempat tidur, perlengkapan kamar dan buku-buku SMA-nya masih pada posisi sebelum ditinggalkan penghuninya. Hanya saja, tidak ada bau Sarah dan parfum kesukaannya lagi yang selalu mengelilingi ruangan ini. Begitu sepi dan hampa.
Selepas Ibu Liona pergi menemui dokter pribadinya. Liona menyempatkan diri memperhatikan seisi kamar Sarah. Meraba novel-novel kesukaan Sarah yang masih tergeletak di meja belajar. Membuka laci meja dan menemukan banyak accecories rambut di dalamnya. Liona tersenyum sedih, dalam hati juga sangat merindukan kakaknya. Namun ketika ia membuka laci ke dua, ada kotak kecil beludru berwarna biru terang, Liona ingat kotak ini.
Kak Sarah, pinjem kunciran dong! Punya Liona hilang semua.” Liona masuk ke kamar kakaknya, mendekati Sarah yang sedang asik membaca novel di sebelah meja belajar.
“Di laci meja, ambil sendiri.” Sarah tidak mengalihkan matanya, ia tetap serius membaca novel yang baru ia beli.
“Kak Sarah ya, udah mau lulus juga, bukannya belajar malah baca novel.” Gerutu Liona sambil sibuk memilih kunciran.
“Hush, diem aja deh anak kecil.”
“Kakak, ini apa?” Liona ternyata iseng membuka semua laci di meja dan menemukan kotak kecil yang menarik perhatiannya.
“Jangan dibuka!” dengan gerakan cepat Sarah mengambil kotak kecil itu dari tangan Liona.
“Isinya apa kak? Cincin ya?” Liona penasaran sekali ingin membuka kotak kecil yang digenggam erat kakaknya.
“Bukan urusanmu, keluar sana!” Sarah mendorong Liona pelan, mencoba mengeluarkan gadis penasaran itu dari kamarnya.
“Wah, jangan-jangan pemberian dari calon tunangan kakak itu ya?”
“Tentu saja bukan dia!!” kini Sarah berkilat marah, sama sekali tidak suka. “Benda ini adalah harapan, sekaligus alasan kenapa kakak membenci Charisma.”
Teringat akan masa lalu yang singkat, membuat Liona bergegas membuka kotak kecil itu. Dan tidak menemukan apapun di dalamnya.
Kosong.
Liona menggigit ujung bibirnya, kecewa karena mungkin ia tidak akan bisa melihat benda yang begitu dijaga kakaknya seumur hidup.
***
“Pergi sana, jangan ganggu!”
Aku berlari kecil di belakang Titan yang berjalan dengan wajah gusar. Ia tentu saja masih marah padaku. Sudah lebih dari satu bulan berlalu dan Titan masih tidak mau bicara denganku, ia juga jarang berada di rumah dan suka berkeliaran seperti saat ini.
Ya, memang semua salahku. Ketika ditanya Titan kemana saja aku pergi, aku memilih diam atau mengalihkan pembicaraan. Aku bahkan tidak bercerita tentang kakak baruku Charisma padanya, aku takut Titan akan semakin marah. Lihat saja, tanpa tahu pun ia sudah begitu marah bagaimana bisa kucerita.
“Bisa ngerti bahasa manusia nggak sih?!” Titan membalikkan badan, menatapku tajam dan garang. Aku tetap mendekatinya dengan wajah selugu mungkin. Kali ini kuputuskan untuk seharian menempel padanya, tidak peduli ia suka atau tidak. Hari ini aku harus mengembalikan senyum cerianya kembali.
“Aku ingin damai.” Ucapku saat langkahku sejajar dengannya.
Titan melotot dan berbisik keras padaku. “Kalau mau berdamai, cepatlah berbalik pulang. Aku sedang menyelidiki masalah dan sikapmu ini malah menghambat rencanaku tahu!”
“Memang kau sedang merencanakan apa?”
Mulutku langsung dibekap Titan. ia mendorongku ke sudut tembok rumah dengan wajah panik bercampur kesal. “Kau hampir membuat misiku gagal.” Titan memperhatikan ke segala arah, lalu merasa keadaan aman ia melepaskan tangannya dari mulutku. Aku masih shock tingkat dewa.
“Ada apa?” tanyaku pelan, merasa ada yang tidak beres dari diri sahabatku satu ini. “Janji bersikap profesional dan tidak ceroboh?”
Aku berdiri tegap dan mengagguk pasti.

“Lihat mobil hitam arah jam tiga, jangan mencurigakan.” Ia memerintahku untuk melihat sekilas dengan wajah biasa. Kuturuti, kulihat ada seseorang bertubuh tegap keluar dari mobil hitam itu dan terlihat mencari-cari.
Mataku beralih pada Titan, bingung. “Ia seperti sedang mencari seseorang.”
Titan memegang kedua bahuku, masih menyudutkanku di tembok rumah warga. “Akhir-akhir ini mobil hitam itu selalu ada di dekat rumah kita dan orang berwajah menyeramkan tadi percaya atau tidak, ia selalu mengikutiku.” Ucapnya pelan dan dengan ekspresi sangat serius.
“Sekarang, berbaliklah pulang atau berjalan mengikuti aturanku?” “Aku ingin membantumu.”
Titan menghela nafas berat, waktu kami bicara sepertinya harus dipercepat. “Kita berjalan seperti biasa ke resto terdekat, di sana aku akan memberitahumu apa yang seharusnya kita lakukan. Ingat, jangan mencurigakan.”
Aku mengangguk cepat. Titan langsung menarik tanganku dan membawaku pergi dari persembunyian kami. Aku tidak sempat menengok ke belakang untuk memastikan orang tersebut tidak melihat kami. Aku berjalan cepat, agak sulit mengimbangi langkah Titan dan sempat beberapakali tersandung. Memalukan. Aku mengutuk diriku yang payah dalam berakting.
Sebenarnya ada apa sih?!
“Apa kau punya uang untuk makan di resto ini?” bisikku tajam, setelah kami menempati tempat duduk di sudut ruangan.
Titan menengok ke kiri dan kanan, memperhatikan situasi. “Berada di resto bukan berarti kita harus makan, Ara.” Ada penekanan dalam kalimat Titan. Ya, aku tahu. Aku akan memberhentikan pemikiran tentang makanan mulai sekarang.
“Baik, sekarang ceritalah.”
Titan mencondongkan tubuhnya ke depan, aku tegang merasakan atmosfer keseriusannya. “Minggu kemarin aku menyempatkan diri berkunjung ke rumah sakit jiwa, dan baru dikabarkan ibuku telah meninggal sebulan yang lalu.”

Komentar Buku (82)

  • avatar
    SriEdy

    baca ini menjadi aku ada uang

    07/07

      0
  • avatar
    Inayah

    bagus

    19/03/2025

      0
  • avatar
    Aliflammim

    seru ceritanya thanks

    14/03/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru