Bab 10

Aku menelan ludah merasakan aura permusuhan yang begitu kuat antara Titan dan Charisma. Kami berlima telah duduk di meja makan sekitar lima menit yang lalu, menunggu makanan yang dipesan dalam diam. Sungguh menyiksa keadaan ini, apa sih yang sebenarnya terjadi tadi? Aku bahkan tidak merasa melakukan sesuatu yang salah.
Kulihat Bily sedang berusaha menarik perhatian Liona dengan menceritakan sesuatu yang mengesankan, entah itu apa karena suaranya khusus diatur untuk percakapan dua orang saja, tidak lebih. Charisma sibuk dengan handphone dan buku menu yang diperhatikannya sesekali, sikap sok angkuhnya kini membuatku sebal. Aku menoleh ke samping, mendapati Titan yang memandangku tajam. “Ada apa?” aku tidak kalah memandangnya tajam.
Aku tiba-tiba berdiri, tidak tahan dengan sikap diam mereka. Bunyi kursi yang bergeser membuat mereka melihatku.
“Maaf, aku tidak bisa makan dalam suasana seperti ini.” ucapku, serius.
Raut wajah Bily seperti ingin mencegahku, tapi Charisma malah berucap santai. “Ya, maafkan aku tidak bisa menjamu kalian dengan baik. Mungkin lain kali.” Charisma menatapku, mengizinkanku meninggalkan mereka.
Aku mengangguk, tidak menyia-nyiakan kesempatan. “Terima kasih sebelumnya telah mengajak kami.” Kemudian aku menoleh sebal pada Titan yang masih duduk. “Kau mau ikut pulang tidak?”
“Tentu saja.” Titan berdiri, tampak senang mendengar inisiatifku.
“Ide yang sangat bagus, Ara.”
Aku mendengus kesal, belum pernah kulihat Titan se-menyebalkan ini.
***
Charisma kembali ke sikapnya yang lama. Dingin, angkuh, dan sangat arogan. Ia sempat memarahi pelayan yang terlambat mengantar makanan mereka. Bily dan Liona hanya pura-pura tidak tahu dengan perubahan sikap Charisma. Mood-nya hari itu benar-benar buruk.
Di kantor ia segera mengerjakan tugasnya hingga tuntas hampir tengah malam. Ia tidak mengerti dengan gejolak perasaannya, ia bahkan belum pernah merasakan perasaan segila ini sebelumnya.
Dan benar, efek insomnia selalu datang tanpa pemberitahuan lebih dahulu. Charisma terjaga di tempat tidurnya, tidak berusaha untuk tidur dan malah mengingat-ingat kejadian kecil yang terjadi sepanjang hari.
Senyum ceria Ara, mata bulatnya yang jenaka, dan tingkahnya yang kadang memalukan membuat Charisma tersenyum. Tapi pelukan itu… ya, ia memeluk erat tubuh Ara dan menyukai aromanya. Ia mengangkat tangan kanannya ke udara, senang sekaligus gusar melihat ekspresi seseorang bernama Titan yang tidak terima.
Charisma menghela nafas, seharusnya tidak seperti ini. Ia menyesal telah bertindak bodoh di mobil, ketika Ara duduk di sebelahnya dengan tenang, diam-diam Charisma memasukan secarik kertas berisi nomor handphone-nya ke dalam tas selempang lusuh Ara. Entah apa yang ada dipikirannya kala itu.
Aku pernah melakukan hal yang sama sebelumnya. Ketika di penghujung tahun kami sekeluarga bertandang ke rumah keluarga Amalia. Aku yang beranjak dua puluh dua tahun dan sedang tergila-gila dengan gadis bernama Sarah Amalia mencoba mendekatinya se-natural mungkin.
Tapi ia bukan gadis anggun yang kupikirkan selama ini, ia jarang tersenyum dan suka marah-marah padaku. Di usianya yang masih tujuh belas tahun kupikir ia akan cepat tua dan keriput bila penyakit suka marahnya tak kunjung sembuh. Tapi aku tetap suka. Ia punya aura yang membuatku terus mendekat dan memaksanya untuk terus bersamaku.
Maka ketika ia tertidur di kamarnya, aku dengan keberanian tak masuk akal menyelinap masuk dan memberikan secarik kertas berisi nomer handphone-ku di genggamannya, berharap ia terbangun keesokan pagi dan langsung menelepon ku yang harus kembali ke Seoul bersama keluarga.
Namun…. Keesokan pagi dering handphone yang kunantikan sepanjang malam tak kunjung berdering. Begitu pula keesokannya lagi dan seterusnya. Aku terus menunggu dan tersiksa. Membuatku tersadar betapa besar cintaku padanya.

Haruskah kejadian itu terulang kembali? Tidak. Cukup untuk Sarah, tidak untuk gadis lain, pikir Charisma setelah tersadar dari lamunannya. Lagipula untuk saat ini ia hanya menyukai gaya Ara yang natural, tidak lebih, dan tidak boleh lebih dari itu. Charisma bertekad untuk mengakhiri perkenalannya sampai di sini, ia tidak boleh melibatkan hati terlalu jauh lagi.
Charisma melirik jam bundar besar yang bertengger di dinding kamarnya, sudah larut malam. Berdasarkan penghitungan jam, sepertinya Ara tidak berniat meneleponnya. Mungkin gadis itu terlalu sibuk bermain dengan saudara angkatnya Titan dan lupa membuka isi tasnya.
Pada saat pikiran negatif Charisma bermunculan, handphone di atas mejanya bergetar keras. Membuatnya terpaku selama beberapa saat.
“Halo?” Charisma berusaha mengeluarkan suara sebiasa mungkin. Nomor yang tertera di layar handphone-nya tak dikenal, membuatnya semakin gugup.
“Charisma? Ha…ha… ternyata benar ini kau! Kukira Titan mengerjaiku dengan memasukan nomor handphone yang bertuliskan namamu ke dalam tasku. Apa kamu yang melakukannya?” suara Ara disebrang tampak ceria, tidak ada kekesalan terhadap Charis yang berubah sikap siang tadi.
“Kau… tidak tidur?” Charisma berusaha kembali bersuara, masih sangat terkejut.
“Ini baru bangun tidur. Sudah jam dua pagi, aku harus bekerja. Tadi pas membongkar tasku ada kertas terlipat yang ternyata isinya nomor teleponmu. Karena ada bonus pulsa aku iseng menelepon, dan ternyata benar.”
Charisma spontan bangun dan duduk di tepi tempat tidurnya. “Jam dua pagi kau sudah bangun!?” aku saja belum tidur!
“Pekerjaan apa yang mulai jam dua pagi?”
Ara tertawa kecil, ada rasa ingin menjahili teman barunya. “Kasih tau nggak ya? Mau tahu banget, apa mau tahu aja nih?”
“Mau tahu banget! Cepat katakan?” nada suara Charisma terdengar gusar.
“Setiap pagi aku membantu mengupas bawang dan membersihkan sayur-sayuran di hotel dekat tempat tinggalku. Mereka membutuhkan pasokan sayuran bersih setiap pagi untuk sarapan para tamunya. Satisfied?”
“Kasihan sekali hidupmu…”
“Ya, hidup memang keras. Kau harus tahu itu.”
“Lalu berapa lama kau bekerja setiap hari? Beritahuku gajimu, diberikan setiap hari, setiap minggu atau setiap bulan?” entah kenapa Charisma terdengar protektif, ada dorongan untuk membantu Ara.
“Aduh… pertanyaanmu membuat kepalaku pusing. Aku bekerja dari jam dua sampai jam enam pagi, gajiku pokoknya cukup untuk tambahan uang kuliah. Sudah ya, aku meneleponmu bukan untuk diinterogasi.”
“Tunggu sebentar!” seru Charisma, mencegah Ara menutup handphonenya.
“Apa kau tidak ingin tahu kenapa aku memberikan nomerku?”

“Kenapa? Cepat katakan!” kali ini Ara yang terdengar tidak sabar.
Charisma tersenyum, membuat jeda sejenak. “Aku ingin memberikanmu sebuah penawaran.”
“Hah?”
Charisma tertawa kecil mendengar suara Ara yang tidak mengerti. “Kapan punya waktu luang? Biar kujelaskan saat kita bertemu.”
“Aku sibuk setiap hari.” Ucap Ara, tegas.
“Oh ya sudah, berarti penawaranku tidak jadi. Sayang sekali.” Kini giliran Charisma yang ingin menjahili Ara. Ia pura-pura ingin menutup telepon dan menunggu suara Ara menyerah.
“Aku bisa besok sepulang kuliah, bagaimana?”
“Baik, aku akan menjemputmu.”
“Ya sudah.” Percakapan selesai, tapi mereka berdua sama-sama enggan menutup telepon. Masih ingin mendengar suara satu sama lain.
“Hm… oh ya, satu lagi. Jangan bawa Titan ya!” ucap Charisma setelah lama terdiam, berpikir keras dan akhirnya mengingat pesan yang paling penting.
“Kenapa?”
“Karena aku tidak mau ditatap seperti orang yang membunuh manusia dan tidak berhak berada di muka bumi.” Ucapnya, mengingat kejadian kemarin siang.
“Ha…ha… separah itu kah? Padahal jarang loh Titan tidak ramah. Ia selalu ramah pada setiap orang.”
“Mungkin menurutnya aku bukan orang.”
“Ya, ha…ha…mungkin Charisma itu alien.”
Charisma tersenyum lebar, ia telah melupakan kegundahan berjam-jam yang lalu dengan sangat cepat. “Kalau aku sebenarnya Edward Cullen bagaimana?”
“Ha…ha…” Ara tertawa keras, lalu terdiam. “Edward Cullen itu apa?”
“Sudahlah tidak usah dipikirkan, nanti sepulang kuliah aku akan menjemputmu, oke? Sekarang berikan waktu aku tidur dulu ya.”
“Kau belum tidur dari tadi?!”
“Ya, itu karena…”
“Tut….tut…”
Ara memutuskan hubungan teleponnya dengan Charisma. Ingin sekali laki-laki itu menelepon balik, tapi mengurungkan niatnya menyadari ia sama sekali belum tidur. Ada perasaan bahagia yang muncul. Sepertinya, tekadnya telah berubah.
***

Komentar Buku (82)

  • avatar
    SriEdy

    baca ini menjadi aku ada uang

    07/07

      0
  • avatar
    Inayah

    bagus

    19/03/2025

      0
  • avatar
    Aliflammim

    seru ceritanya thanks

    14/03/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru