“Jangan terlihat lemah saat kalian bernegosiasi” ucapku pada Adrius dan Brian sambil mengembalikan 3 koper berisi uang. “Te—terima kasih” ucap Adrius dan Brian kompak. Setelah mendapatkan flashdisk dan membantu Adrius, aku meninggalkan mereka lalu memacu motor sport dengan kecepatan sangat tinggi. Di sebuah terowongan di pinggiran kota, Vincent sudah menunggu dengan mobilnya. “Kenapa kau menyuruhku kesini?” tanya Vincent. “Bawa motor ini ke daerah di sekitar pegunungan yang tidak terdapat CCTV, jika perlu, simpan di sana selama beberapa hari” perintahku. “Setidaknya beri aku penjelasan” ucap Vincent dengan nada dingin. “Aku bertemu Adrius dan Brian saat menemui Edward, aku yakin mereka akan melacak keberadaan” jelasku. “Kenapa kau harus bersembunyi dari mereka?” tanya Vincent. “Setelah semuanya berakhir, dendamku telah terbalaskan, aku akan memberitahu mereka” ucapku. Kami bertukar tempat, Vincent mengendarai motorku dan aku mengendarai mobil yang dibawa Vincent. ** Adrius POV Aku dan Brian harus merelakan jatah liburku untuk menemui Edward, seorang makelar informasi dan ahli lobi. Semenjak Tuan Alex mengundurkan diri bekerja sama dengan kami, kami harus kerja ekstra untuk mengumpulkan informasi mengenai jaringan Odsen. Menurut informasi yang beredar, Edward adalah seorang mantan anggota Odsen, namun sekarang sudah menjadi pebisnis di bidang properti. Dia juga terkenal sering menjual informasi penting dan rahasia. Negosiasi kami sangat alot karena Edward seakan menarik ulur keputusannya untuk memberikan informasi mengenai Odsen pada kami atau tidak. “Kita temui saja dia secara langsung” ucap Brian. “Baiklah, aku akan meminta uang cash 20 juta dolar, untuk ditukar dengan informasi ini” ucapku. “Sial, mengapa kita jadi diperas seperti ini?” ucap Brian emosi. “Informasi ini sangat penting, dia juga mempertaruhkan nyawanya untuk ini” ucapku. “Apa kita bisa langsung menginterogasinya saja?” saran Brian. “Dia tidak akan pernah buka suara jika kita menginterogasinya, tidak ada gunanya kita menyiksanya, dia tidak akan membuka mulutnya hingga kita mengabulkan permintaannya” lirihku. “Orang orang Odsen memang sulit dihadapi” cibir Brian. “Ayo berangkat” ucapku saat seorang bawahan membawa 4 koper berisi uang cash senilai 20 juta dollar. Aku mengepalkan tanganku saat Edward menginginkan 40 juta dollar untuk informasi yang kami butuhkan, aku lihat Brian juga sudah terpancing emosi, namun kami tidak bisa bertindak ceroboh, jika kami lepas kendali bisa saja Edward malah berbalik arah membocorkan identitas kami kepada Odsen dan membongkar rencana kami untuk meruntuhkan jaringan Odsen. Saat kami berada dalam kekalutan, seorang wanita masuk ke dalam ruangan, sepertinya dia juga akan membeli informasi seperti kami. Wanita itu terlihat sangar dan sangat percaya diri, saat dia mengeluarkan pisau dan menancapkannya di sela sela jari Edward, aku yakin dia bukan wanita biasa. Mataku membulat sempurna, saat Edward menyebutkan nama Alcie, dan ternyata memang benar dia adalah Alcie, begitu banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan pada gadis itu, namun sayangnya waktu dan keadaanya tidak tepat. Alcie membantu kami mendapatkan informasi yang kami butuhkan dengan biaya lima juta dollar saja, dia memang sangat ahli dalam negosiasi. Saat kami mendapatkan apa yang kami inginkan, aku dan Brian berlari dengan tergesa gesa, kami berharap dapat bertemu dengan Alcie. “Brian, minta semua rekaman CCTV yang ada di sepanjang jalan ini” ucapku. “Baik” ucap Brian. “Adrius, jika dia Alcie, kemana dia selama ini? Mengapa dia tidak kembali pada kita?” tanya Brian sambil mengendarai mobil dengan kecepatan sangat tinggi. “Entahlah, kita harus menemukannya, sepertinya dia akan membalas dendam kepada Odsen” ucapku. Sesampainya di markas, aku dan Brian langsung mengecek CCTV. Kami melihat Alcie mengendarai sebuah motor sport. “Sial, motornya memakai plat palsu” ucap Brian. “Dia mengendarainya sampai ke daerah pegunungan yang tidak terdapat CCTV” lirihku. “Alcie pasti tahu kita akan melacaknya” ucap Brian sedih. “Adrius, coba kau telpon Jenny” pinta Brian. “Kau masih mencurigai Jenny adalah Alcie?” tanyaku. “Aku merasa janggal saat Alcie mengatakan dia membantu kita karena kita tampan” ucap Brian. “Benar juga, Alcie tidak mungkin mengatakan hal hal semacam itu” Aku menyetujui ucapan Brian. Aku mengambil ponselku untuk menghubungi Jenny, namun berapa kalipun aku mencobanya, tetap tidak diangkat. “Panggilannya tersambung, tapi Jenny tidak mengangkatnya” lirihku. “Apa Alcie adalah Jenny?” selidik Brian. “Coba kau telpon Stefany, apakah dia tahu Jenny sedang apa?” saranku. Brian segera mengambil ponselnya dan segera menghubungi Stefany. “Hallo Profesor, ku kira kau sedang sibuk?” terdengar suara ceria Stefany di seberang sana. “Urusanku sudah selesai, Stefany, apa kau bersama Jenny sekarang?” tanya Brian. “Kenapa malah menanyakan Jenny? Kau tidak merindukanku?” terdengar suara manja Stefany merajuk pada Brian. “Bukan begitu, Adirus berulang kali menelpon Jenny, tapi dia tidak mengangkatnya, sekarang dia sedang khawatir terjadi apa apa dengan Jenny” Brian beralasan. “Oh begitu, Jenny sedang menghancurkan dapurku saat ini” lirih Stefany. “Apa maksudmu?” tanya Brian. “Dia ingin mencoba resep membuat churros yang dilihatnya di youtube, dan sekarang dapurku sangat berantakan” kesal Stefany. Lalu Stefany mengubah panggilan suara menjadi panggilan video, dia mengarahkan kameranya ke dapurnya yang sudah seperti kapal pecah sekarang. Terlihat Jenny sedang sibuk dengan adonan dan penggorengan, wajahnya penuh dengan tepung. “Jenny, kekasihmu merindukanmu” teriak Stefany. Jenny melihat ke arah kamera dan melambaikan tangannya pada kami. “Profesor Adrius, bukankah kau sedang sibuk sekarang?” tanyanya. “Urusanku sudah selesai” jawabku. “Jika kau libur nanti, aku akan membuatkanmu churros buatanku” ucap Jenny. “Lakukan di dapurmu!” ucap Stefany sengit. “Tenang saja, akan aku bereskan dapurmu, dasar pelit” Jenny menjulurkan lidahnya ke arah Stefany. Aku dan Brian terkekeh melihat tingkah Jenny dan Stefany. “Kami harus melapor dulu, sudah dulu ya” pamitku. “Oke, hati hati” ucap Jenny dan Stefany kompak. “Apa imajinasiku terlalu tinggi?” ucap Brian setelah menutup panggilan video. “Imajinasi apa?” tanya Varro yang baru datang. “Bukanya kau sedang libur, kenapa kesini?” tanyaku. “Tiba tiba Gladis harus menggantikan jadwal temannya yang sedang sakit” ucap Varro sedih. “Kan kau bisa tidur di rumah” cibir Brian. “Tidak seru, lebih baik aku disini mengganggu kalian” kekeh Varro. “Kau ini” Brian menoyor kepala Varro. “Bagaimana tadi negosiasi dengan Edward?” tanya Varro. Brian menceritakan kejadian saat negosiasi, tak lupa dia juga menceritakan pertemuan dengan Alcie, hingga kami memastikan Jenny bukanlah Alcie. “Alcie masih hidup? Kenapa dia tidak menemui kita?” ucap Varro sedih. “Entahlah, kami sudah berusaha untuk melacaknya, namun dia hilang tanpa jejak” lirih Brian. “Jadi Jenny dan Alcie benar benar orang yang berbeda?” tanya Varro. “Ya, motor yang dikendarai oleh Alcie menghilang di sekitar pegunungan Alpen, jika Alcie adalah Jenny, dia tidak mungkin berada di rumah Stefany saat ini, jarak antara pegunungan Alpen dengan rumah Stefany sekitar 4 jam perjalanan menggunakan motor” jelas Brian. “Aku akan melapor pada Jenderal Kevin terlebih dahulu” ucapku.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
jalan cerita yang menarik😘👍🏻
24/04/2022
0buku ya bagus
24/07
0bagus banget lanjut lagi dong kak seasen 2 gitu😁
20/07/2025
0Lihat Semua