logo text

Bab 37 Aku mencintainya sejak pertama kali bertemu

“Aku hanya mencoba realistis” Jawabku malas.
Dalam hati Gerrald tahu, Jenny memiliki posisi penting dihati Adrius jauh diatas Veronika, namun dia hanya menyimpan rahasia ini untuk dirinya saja. Tidak mungkin dia membeberkan kisah cinta Adrius dengan Alcie saat ini.
“Lihat mereka, Profesor yang sangat tampan bersanding dengan seorang dokter yang cantik. Sangat cocok sekali” Ucapku lemah.
“Jadi kau akan menyerah Jenny?” Goda Varro.
“Tahun depan aku akan mendaftar di fakultas kedokteran” Ucapku menggebu-gebu.
“Aku yakin saat aku seusianya, aku bisa menjadi dokter yang lebih sukses dari wanita itu” Kepercayaan diriku kembali membuncah.
“Bagaimana bisa kau masuk fakultas kedokteran, IP mu semester kemarin saja hanya 3” Cibir Stefany.
“Demi tuhan, jika suatu saat kau menjadi dokter, aku tidak akan pernah berobat padamu” Ucap Varro ngeri.
Aku melempar roti coklat yang tadi kupesan, Varro dengan lihai mengelak dari lemparanku. Kami menghabiskan makan siang kami sambil mengobrol, saling tertawa dan sesekali mengeluarkan sumpah serapah.
“Apa kalian tidak sadar, sedari tadi kalian tidak memanggil kami dengan sebutan kakak” Protes Varro.
“Kami jauh lebih tua dari pada kalian” Kekeh Gerrald.
“Kau adalah pacar temanku dan kau adalah teman dari pacar temanku, diluar kelas kita setara” Aku beralasan.
“Alasan macam apa itu” Varro tidak terima.
“Kau sangat gila hormat” Ledekku.
Stefany terbahak melihat pertengkaran kami, sedangkan Anastasia dan Gerrald hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Di sebelah meja kami, Adrius menatap kami dengan ekor matanya. Brian menyadari arah tatapan Adrius.
“Menyenangkan sekali menjadi muda” Kekeh Brian.
“Hey kau masih 28 tahun” Lirih Adrius.
Veronika memasang wajah masam, dia sibuk mencari perhatian Adrius, namun pandangan Adrius tetap mengarah pada Jenny. Suasana di meja ini sangat berbeda dengan meja sebelah. Jika Diibaratkan di meja ini seperti musim dingin sedangkan di meja sebelah seperti musim semi yang hangat.
“Aku merasa senang melihat Gerrald dan Varro tertawa lepas seperti itu, mereka terlihat seperti remaja normal lainnya” Ucap Adrius.
“Bagaimana denganmu pak tua? Kapan kau akan tertawa lepas lagi?” Brian menatap Adrius.
“Kita hanya berbeda satu tahun kalau kau lupa” Adrius mendelik tidak suka.
“Bolehkah aku menjadi alasanmu tertawa Adrius?” Veronika menggenggam tangan Adrius.
Adrius melepaskan tangannya dengan cepat dan hanya menjawabnya dengan senyuman singkat.
Brian pura-pura tidak melihat adegan itu. Dia menyesal tidak mengikuti ajakan Gerrald untuk makan bersama Jenny dan teman-temannya.
*
Gosip Profesor Adrius menjalin hubungan dengan dokter cantik sudah menyebar dengan cepat, sebagian besar mahasiswi di kampus mengalami patah hati berjamaah. Sekeras apapun Aku mengejar Profesor Adrius namun tidak membuahkan hasil hingga saat ini, sehingga masih memberikan harapan untuk para mahasiswi untuk mencari perhatian dari Profesor Adrius. Sebenarnya mereka ciut dengan tatapan dingin Profesor Adrius dan hanya aku yang pantang menyerah setelah berulang kali diberikan tatapan dingin oleh Profesor tampan itu.
Namun kali ini wanita cantik berjas putih itu berhasil mendekati Profesor Adrius tanpa penolakan dari lelaki tampan itu. Mereka sering terlihat bersama di sekitar kampus, saat makan siang, saat jam kosong ataupun saat pulang kerja. Profesor Adrius terlihat nyaman berbincang dengan dokter cantik itu.
“Aku lihat mereka semakin dekat saja” Ucap Anastasia melihat Adrius makan siang bersama Veronika.
“Rubah betina itu selalu menempeli Profesor Adrius, dia membuatku muak” Keluh Varro.
“Aku juga sering menempeli Profesor Adrius, apa aku juga membuatmu muak?” Selidikku.
“Kau pengecualian” Kekeh Varro.
“Tumben sekali kalian akur” Kekeh Stefany.
“Sepertinya Profesor Adrius tidak keberatan didekati oleh dokter Veronika” Ucapku
“Dia hanya berbasa basi, Veronika adalah keponakan dari atasan kami” Hibur Gerrald.
“Rubah betina itu selalu menganggap kami pengganggu, sepertinya dia memiliki obsesi untuk menguasai Profesor Adrius sepenuhnya” Varro mengungkapkan ketidaksukaannya.
“Aku setuju” Profesor Brian tiba-tiba datang entah dari mana.
“Profesor, kau mengagetkanku” Ucapku.
“Aku juga merasa jengah diperlakukan seperti pengganggu” kekeh Profesor Brian.
“Sepertinya Profesor Adrius lebih memilih wanita daripada persahabatannya” Sindirku.
“Jadi kau akan menyerah Jenny?” Goda Profesor Brian.
“Tentu saja tidak, aku akan mengajak Profesor Adrius makan malam dengan alasan perayaan Anastasia dan Gerrald berpacaran” Ucapku.
“Boleh saja” Gerrald menyetujui.
"Apa Profesor Adrius sudah tahu kalian berpacaran?" tanya Varro.
"Profesor Adrius tidak buta" ucapku kesal.
Gerrald terkekeh mendengar ucapanku yang sinis, dia sadar saat wisata alam kemarin, Gerrald selalu menunjukan rasa cintanya yang besar untuk Anastasia. Orang buta pun pasti tahu kalau mereka sedang berpacaran.
“Kalian tidak usah datang, biarkan aku makan malam berdua dengan Profesor Adrius” Tambahku.
Profesor Brian mengacungkan jempol padaku.
“Selama dikampus aku tidak bisa menemui Profesor Adrius, dia selalu bersama pawangnya” Kesalku sambil membanting sendok yang kupakai.
“Aku mendukungmu Jenny” Varro menyemangatiku dengan mengepalkan tangannya.
“Kau tahukan aku selalu dipihakmu” Gerrald menepuk bahuku.
“Aku dan Anastasia sudah pasti mendukung apapun keputusan Jenny, tapi Aku heran mengapa kalian sangat kompak menjodohkan Jenny dengan Profesor Adrius?” Tanya Stefany penasaran.
“Aku ingin melihat Profesor Adrius tertawa bahagia” Lirih Gerrald.
“Aku yakin kau bisa menjadi alasan kebahagiaan Adrius” Brian tersenyum padaku.
“Apa ekspektasi kalian tidak terlalu tinggi?” Ucapku lemah.
“Profesor Adrius selalu menatap Jenny dengan tatapan dingin dan kalian percaya Jenny akan menjadi alasan tawa kebahagiaan Profesor Adrius?” Stefany mengungkapkan ketidak percayaannya.
“Tidak ada yang bisa menebak hati manusia, Tuhan yang membolak balikan hati manusia” Anastasia menghiburku.
“Betul, isi hati Adrius siapa yang tahu?” Brian menyetujui perkataan Anastasia.
*
Profesor Adrius tidak membalas pesan ajakanku untuk makan malam bersama, Aku putuskan untuk menghampiri Profesor Adrius yang baru saja keluar dari ruangannya.
“Profesor, mengapa kau tidak membalas pesanku?”
Adrius mengecek ponselnya.
“Maaf aku tidak bisa, aku sudah memiliki janji. Selamat bersenang senang” Ucapnya datar.
“Apa benar kau ada janji malam ini?” Selidikku.
“Adrius, apakah kita bisa pergi sekarang?” Suara Veronika datang entah dari mana.
Kulihat dia keluar dari ruangan porfesor Adrius, tersenyum sinis padaku dan menggandeng lengan Adrius. oh Tuhan, apakah ini yang dinamakan patah hati. Hatiku sangat sakit melihat kepergian Adrius dan Veronika. Aku membuka ponselku menelpon Stefany
Jenny : Stefany, apakah kau bisa menemaniku malam ini?
Stefany : Bukankah kau akan mengajak dengan Profesor Adrius makan malam?
Jenny : Profesor Adrius makan malam dengan rubah licik itu
Stefany : Baiklah, aku akan mengajak Anastasia
Kami bertemu di restoran yang telah kupesan sebelumnya untuk makan malam dengan Profesor Adrius. Setelah kami makan malam aku mengajak Stefany dan Anastasia untuk berkaraoke. Aku ingin berteriak teriak untuk melepaskan kekesalanku.
Aku menyanyikan banyak lagu sedih sampai lagu dengan beat cepat. Untung saja suaraku masih bisa dinikmati oleh telinga, Sehingga Anastasia dan Stefany masih betah menemaniku.
“Seberapa dalam sebenarnya perasaanmu untuk Profesor Adrius?” Tanya Anastasia.
“Aku mencintainya sejak pertama kali bertemu” jawabku.
“Klise sekali!” Cibir Stefany.
“Entahlah, aku merasa telah mencintainya dalam waktu yang lama” Aku mengungkapkan perasaanku.
Anastasia menggenggam kedua tanganku dengan erat.

Komentar Buku (304)

  • avatar
    Nurul Aqilah

    jalan cerita yang menarik😘👍🏻

    24/04/2022

      0
  • avatar
    LewansornaDavid

    buku ya bagus

    24/07

      0
  • avatar
    tiahTar

    bagus banget lanjut lagi dong kak seasen 2 gitu😁

    20/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru