logo text

Bab 16 Kenyataan Pahit

Sudah dua hari semenjak kejadian pertemuan itu, aku dan mas Sem tak bertemu. Kami hanya berhubungan via telpon. Kami butuh waktu masing – masing. Kami tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi. Hari ini ibu sudah mau keluar kamar. Selama dua hari ibu mengurung diri dikamar. Tidak melakukan aktifitas apapun. Makanan yang aku letakan didepan kamarpun tidak disentuhnya. Aku tak mau membahas masalah itu dulu, aku takut ibu mengurung diri dikamar lagi.
“ Ibu, ibu makan dulu ya. ana sudah masak makanan kesukaan ibu”
Ibu masih terdiam. Aku memeluk ibu sambil menangis.
“Ibu, tolong bicaralah, ana minta maaf kalau ana salah bu”
Ibu hanya meneteskan air mata. Tuhan bagaimana ini, batinku
Siang ini aku harus mengumpulkan berkas skripsiku. Aku juga harus mengumpulkan proposal pengajuan beasiswaku keLondon. Aku memang belum membicarakan ini dengan Sem. Belum ada waktu yang tepat. Aku meninggalkan ibu sendiri. mungkin ibu butuh waktu berfikir. Aku mengirim pesan kepada mas Sem
“ Mas, aku ijin kekampus dulu ya.”
“ Dengan siapa, aku antar ya”
“tidak usah mas, aku hanya sebentar”
“ ya sudah, nanti kita bertemu. Aku jemput”
“ iya mas”
***
Sem mendengar sesuatu dibalik pintu halaman belakang.
Perdebatan ditelpon membuat Sem penasaran. Ia mendekat tapi tidak mau ayahnya sampai tahu.
“ Kamu dimana, aku harus bicara langsung”
“kita bicara dulu” sambung ayah
“aku datang kerumahmu, masih seperti dulu kan”
Ayah mematikan telponnya dan bergegas mengendarai mobilnya. Aku mengikuti ayahku, aku penasaran kemana ayahku pergi terburu – buru begitu.
Jalur yang dilalui tidak asing bagiku, benar ini arah rumah Briana. Ayah berhenti tepat didepan rumah Briana. Ayah langsung berlari masuk kerumah Briana. “ Untu apa ayah kesana,”batinku.
Aku ikut memarkirkan mobil jauh dari rumah Ana, aku masuk pelan – pelan kehalaman rumah Ana, aku berhenti dibalik pintu. Aku mendengar perdebatan mereka. Deg
“Jika aku tahu kekasih Briana adalah anakmu, aku dari awal tidak akan setuju Dewo”
“ aku juga baru tau Cynta. Tapi apakah kamu tega mengorbankan kebahagian mereka karena masa lalu kita” ucap ayahku
“ masa lalu katamu, rasanya baru kemari dewo. Rasa sakitnya masih terasa. Perselingkuhan istrimu dan suamiku. Aku memohon didepan istrimu untuk menjauhi suamiku, tapi apa hah!!”
Ayah masih saja terdiam
“ bukankah kamu ingat kejadian kecelakaan yang mengakibatkan ana anakku hampir mati. Istrimu hampir membunuh anak tak bersalah itu. Dia sengaja menculik anakku untuk mengancam suamiku agar tetap mau bersamanya, dia bertengkar dengan suamiku dimobil sehingga terjadi kecelakaan itu. Gara – gara dia Ana koma selama 2 bulan. Setelah bangun dari komapun Ana masih harus mengalami depresi karena menyaksikan kematian ayahnya didepan matanya. Butuh 1 tahun membangkitkan keterpurukuannya.Dia melupakan semua kejadian buruk itu. Memori itu tiba – tiba hilang. Aku bersyukur ana kehilangan ingatan tentang kejadian kelam itu. Jika sampai dia menikah dengan Sem dan dia mendapatkan Kembali ingatanya. Jaminan apa yang akan kita dapat Dewo!. Apakah kebahagian yang akan mereka dapat.”
“ Ibu dari laki – laki yang dia cintai adalah Wanita yang merenggut ayahnya, merenggut kebagiaan keluarganya dulu. Aku harus bagaimana wo!!” Ibu ana menjerit sejadi -jadinya
Ayah memeluk ibu Briana. Hatiku hancur mendengar ini semua. Bagaimana ini bisa terjadi. Kenapa harus takdir buruk yang hancurkan cintaku. Baru pertama aku jatuh cinta, pertama aku merasakan kebahagiaan dengan Wanita yang aku cintai, tapi takdir berkata lain. Aku merjalan mendekati ayah.
“ Yah, apa benar apa yang aku dengar?”
Ayah menatapku kaget. Aku terduduk dihadapan ibunda Briana dan ayah, aku memmohon.
“ Tolong jelaskan kepadaku yah. Apa semua ini benar” air mataku mengalir
“ semua itu benar nak,semua benar. “ ayah memelukku
Aku berteriak frustasi.
“ apa yang harus aku lakukan yah, aku sangat mencintai Ana”
“ Jauhi dia Sem, itu jalan satu – satunya. Jangan buat dia mengingat kejadian buruk itu lagi, ibu takut ana akan seperti dulu lagi” ucap ibunda Briana
***
Sudah 2 jam aku menunggu mas Sem menjemputku. Aku coba telpon dan mengirim pesan namun belum ada jawaban. Tidak biasanya mas Sem telat. Aku akhirnya terpaksa pulang sendiri, sudah terlalu malam menunggu dikampus. Sesampainya dirumah, ibu sudah menyiapkan makan malam. Aku senang melihat ibu Kembali seperti semula.
“ baru pulang na?”
“ iya bu, “
“ibu sudah ga apa – apa?”
“ ga apa- apa sayang. Ayo makan dulu”
Aku duduk dan menyantap makan malamku dengan ibu. Aku tidak akan membahas kejadian beberapa hari yang lalu. Aku akan menunggu ibu cerita sendiri.
Selesai makan, aku Kembali kekamar. Aku mengecek handphoneku, tak ada notifikasi balasan dari mas Sem. Aku mulai khawatir.

Komentar Buku (92)

  • avatar
    Nurul Huda

    menarik

    11/09/2025

      0
  • avatar
    Afifah LiyaniGevina

    ceritanya menarik bgttttt

    25/07/2025

      0
  • avatar
    yuliasihtika

    asikkk juga isi ceritanya

    11/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru