Haris melihat jam di tangannya, hari ini ia ada janji dengan Aldo untuk membahas tentang masalah di proyeknya. Tentu saja ia tahu, jika pasti Aldo akan mencarinya dan meminta bantuannya. Rendra memang cerdas, ia tepat sasaran membuat Aldo benar-benar terpuruk. "Ren, jadi ikut ke Mitra Cahaya Group? Katanya ingin berkenalan lebih lanjut dengan mantan suami kekasihmu itu?" ledek Haris pada Rendra. Hari ini Rendra memang sedang di Horison property, karena ia sedang membahas hal yang penting mengenai bisnisnya di luar negeri. "Apa perlu saya turun tangan untuk hal seremeh itu? Saya kira kamu lebih cerdas dari yang aku duga. Lakukan pekerjaanmu dengan apik, dan pastikan Aldo menyesal telah menyia nyiakan Afi, jangan seret aku ke dalam hal yang masih bisa kamu selesaikan sendiri tanpa bantuanku," paparnya. Haris menatap sahabatnya datar. "Yakin, akan kamu habiskan semuanya milik Aldo?" tanya Haris meyakinkan sahabatnya. "Jangan tunggu sampai aku yang ikut menanganinya. Jika iya, Dia bisa habis karena kemarahanku. Aldo harus tahu nanti kalau Afi yang ia tindas, akan duduk di kursi yang selama ini ia banggakan." Aldo menyeringai sambil membayangkan wajah polos Afi yang pasti akan menolak jika perusahaan Aldo, dia yang ambil alih. "Jika Afi menolak?" sela Haris tak yakin. "Akan ku pastikan, dia mau menuruti keinginanku. Dia wanita yang sangat penurut jika sudah bisa mendapatkan hatinya. Sekarang mungkin dia belum tahu, tapi suatu saat dia akan tahu jika aku ini candu baginya." "Yang Candu itu, kamu ke dia. Saya lihat, dia biasa saja sama kamu. Padahal kamu wajahnya sebelas dua belas sama aku, Tajir juga sampai uang pun tak berseri. Tapi tampaknya, dia seperti tak tertarik dengan apa yang kamu miliki," seloroh Haris. "Itulah keunikannya dari dulu. Sifat lemah lembutnya dan kedewasaannya membuat aku tak bisa menggeserkan posisi dirinya untuk wanita lain di hatiku. Afi berbeda, itu yang membuatku jatuh cinta sampai sekarang, dia bukan wanita mata duitan yang akan mudah di rayu dengan uang," jelas Rendra membayangkan sifat unik dari Afi. "Kalau begitu, nikahi saja!" "Mana bisa? Masa iddahnya masih lama, sampai dia melahirkan anaknya," tukasnya. "Kalau begitu, selamat menunggu sampai tua. Karena pasti dia akan kembali dengan Aldo." Rendra melemparkan penanya mengenai jidat Haris. "Aduh! Kamu ini, Ren! Gitu aja ngamuk! Aku bercanda ini, malah dibikin serius!" cicit Haris memegangi kepalanya yang tidak terlalu sakit tapi menjengkelkan. "Jika mulutmu itu tak bisa mendoakan hal baik untukku, lebih baik kamu diam. Atau kamu tak akan aku izinkan mengajak Nissa keluar rumah lagi!" gertak Rendra pada Haris. Haris hanya merenges tanpa dosa melihat kejengkelan Rendra mendengar ucapannya tentang Afi, wanita yang dicintai Rendra dari dulu. Rendra benar-benar tak habis pikir dengan Haris, ia selalu saja meledeknya yang terlihat gagal mendapatkan hati Afi. Rendra memang masih membuat jarak dengan Afi agar ia tak terlanjur khilaf padanya. Menunggu memang melelahkan, dan semoga saja jodoh masih berpihak padanya dengan Afi. Haris bergegas menuju kantor Aldo. Ia akan kembali melakukan apa yang Rendra inginkan. Ia merasa menjadi tangan kanan Rendra sungguh sangat menyenangkan. Terlebih di sini, ia juga mendapatkan keuntungan yang besar. Di samping ia dapat kesempatan mengembangkan bisnisnya, ia juga berharap bisa berjodoh dengan Nissa, adik dari Rendra. Haris sadar dia bukan orang baik, tapi setidaknya ia ingin memiliki istri yang baik dan sholehah. Seburuk apapun laki-laki pasti ia akan mengidam-idamkan pasangan yang lebih baik bukan? Begitulah Haris, kesalahannya mencintai Alin, membuat ia buta akan kebenaran. Setelah bersahabat dengan Rendra, ia menjadi tahu apa makna dari sebuah cinta yang sebenarnya. Haris hanya memikirkan, apakah nanti Nissa akan menerimanya jika ia bukanlah laki-laki yang baik? Haris sangat menyesal sudah berbuat zina pada Alin, dan itu memang pertama baginya. Tak ada wanita lain selain Alin yang pernah memadu kasih dengannya. Haris tipe yang setia, ia akan mencintai pasangannya sampai kapanpun. Namun, ia benci penghianatan. Sekali ia dilukai, pantang baginya kembali lagi. Mobil telah sampai di Mitra Cahaya Group, ia melangkahkan kaki menuju tempat Aldo bekerja. Ia berjalan sangat tegap seakan dirinya adalah orang tertampan di tempat ini. Ya, tempat ini sudah sering didatangi saat Aldo tengah mengurusi perusahaan lain milik almarhum Papi, Haris datang hanya untuk mengganggu Alin agar dia tak banyak berulah lagi. Sebenarnya ia malas jika harus berurusan dengan wanita itu, tapi mau bagaimana lagi, Alin hanya akan takut jika bertemu dengannya. Haris memakai perbuatan mereka dulu di hotel sebagai senjata mengancam Alin agar ia menurut. Yang Rendra katakan benar, wanita akan menurut jika sudah mendapatkan hatinya. Alin dulu sangat penurut, sebelum ia mencintai Aldo sahabatnya. Entah kapan awal mula mereka saling mencintai, yang jelas Haris salah sudah memberikan semuanya pada Alin sehingga ia begitu tamak sampai sekarang. Haris mengetuk pintu dan membuka nya, ia melihat Aldo yang tengah sibuk dengan Laptopnya melirik ke arahnya. "Hai, Bro! Sibuk banget kayaknya, lagi garap proyek baru kah?" tanya Haris basa basi. "Beginilah sekarang, aku harus bolak balik mengecek laporan keuangan yang sudah tak bisa lagi aku akali," jawabnya. Aldo menyudahi aktivitasnya dan mengajak Rendra berbicara serius. "Ris, kamu tahu sekarang perusahaanku sudah di ambang kehancuran. Karyawan sudah banyak yang mengundurkan diri karena tak mendapatkan gajinya, proyek pembangunan di lapangan berhenti, dan kini perusahaan Papi juga terkena dampaknya. Aku bingung harus berbicara apa padamu, tapi bolehkan saya meminta saran atau mungkin solusi buat menyelamatkan perusahaan yang aku bangun dengan susah payah ini?" papar Aldo. Haris diam sejenak memikirkan langkah apa yang harus ia tempuh. "Kamu mau dengarkan saya? Saya sarankan kamu menjual semua saham pada perusahaan lain agar salah satu perusahaan bisa terselamatkan. Dari perusahanmu dan punya Papimu, mana yang lebih buruk keuangannya?" tukas Haris mencoba mempengaruhi pikiran Aldo. "Perusahaan milikku ini, dan perusahaan Papi memang tak sebesar perusahaanku. Jadi aku masih bisa mengatur keuangan di sana. Tapi kalau di sini, entahlah," jawab Aldo tertunduk lesu. "Perusahaan Papimu kan banyak? Ada di Palembang juga kan? Kenapa kau tak tarik saja saham yang disana untuk membantu perusahaan di sini?" ucap Haris pura-pura tak tahu. Sebenarnya ia tahu jika Perusahaan Papi yang di Palembang sudah dikuasai istri pertama Papi Aldo. Tentu saja istri pertamanya itu sangat licik, karena ia berpura-pura lemah saat hendak masuk untuk bekerja di sana dan akhirnya membuat intrik agar Papi Cahyo lalai dan masuk dalam jebakannya serta memberikan semua yang ia minta. Termasuk surat perjanjian pengalihan saham dan perusahaan di Palembang. Haris aneh dengan keluarga Aldo ini, tak bisakah mereka setia dengan satu pasangannya saja? Jika satu saja sudah bahagia, kenapa memilih dua? Terlihat sangat rakus bukan? Dan sekarang lihatlah, bahkan ia menjadi korban kerakusan dirinya sendiri karena memilih memiliki dua istri. "Mantan Istri Papi mengambil semua hak milik Papi di perusahaan. Dia hanya memberikan perusahaan yang ada di Surabaya ini untuk Mami kelola. Namun, aku harus bagaimana? Melawan istri pertama pun rasanya sulit, surat kuasa dan juga berkas-berkas kepemilikan sudah beralih nama menjadi miliknya," pungkas Aldo mengingat kejadian malam di mana ia harus kehilangan perusahaan di Palembang. Haris mencoba mencerna setiap ucapan Aldo agar dia bisa kembali mengatur strategi agar dia bisa mengambil kedua perusahaan milik Aldo. "Alin bagaimana? Apa dia masih bisa mengelola salah satu bisnismu?" tanya Haris. "Dia justru memporak porandakan bisnisku, dan Alin yang sekarang tak bisa aku kontrol lagi. Ia sudah sulit aku nasehati karena tak terbiasa hidup seadanya," tuturnya pilu mengingat perlakuan Alin belakangan ini yang suka seenaknya sendiri. Tak pernah mendengar penuturannya dan sering pergi entah kemana. Mami sampai sedih memikirkan menantu kesayangan nya itu. "Soal materi mungkin aku tak bisa membantu, tapi jika kamu ingin menjual saham pada rekan ku. Aku akan mengaturkan jadwalnya, aku juga sama terpuruknya saat tahu kekasihku menikahi lelaki lain waktu itu. Perusahaanku hancur dan kini aku memilih membangun bisnis kecil di negeriku ini. Yah, yang penting bisa untuk menyambung hidup," papar Haris. Haris teringat saat ia terpuruk dulu ketika mendengar kabar pernikahan Alin, ia tinggalkan proyek di luar negeri dan pulang hanya untuk memastikan sendiri kebenaran tentang Alin. Saat ia tahu bahwa Alin benar menikahi sahabatnya, ia murka. Dan ia biarkan perusahaannya terbengkalai, beruntung Rendra datang lebih cepat untuk membantunya menyelamatkan perusahaan miliknya dan tak jadi miskin dan hancur. Aldo tampak berpikir keras dan akhirnya ia menyetujui saran Haris. "Yes! Berhasil," batin Haris. Sebenarnya, melakukan drama sungguh sangat mengasikkan. Tak ayal, Alin suka sekali melakukan sebuah drama di mana-mana. Si ratu drama itu pun nampak sedang memilih lelaki lain untuk ia dapatkan keuntungan darinya. Hari itu, ia melihat Alin bersama lelaki yang ia sangat kenal. Yaitu Anton. Anton teman satu kelas Alin yang dulu sering menyatakan cinta pada Alin saat kuliah. Haris bahkan pernah menghajar Anton karena sudah berani mendekati Alin waktu itu. Haris sangat alergi dan naik pitam jika ada berani mendekati kekasihnya, walau tak ada yang tahu jika Alin dan Haris berhubungan, tapi Haris tak segan-segan memberi peringatan pada semua orang yang berusaha memiliki Alin. Mengingat itu, Haris merasa bodoh sudah tertipu wajah polos Alin yang ternyata hanya ingin memanfaatkan uangnya saja. Selama ini apa yang Alin inginkan akan Haris penuhi, walaupun memintanya untuk bekerja di kantor Aldo waktu itu. Haris tidak berpikir, jika alasan Alin kerja di kantor Aldo hanya ingin selalu berada di dekat suami orang itu. Jika ia tahu dari awal, ia tak akan membiarkannya. Tapi Haris merasa beruntung kini ia sudah menyadari, bagaimana sifat asli Alin. Jika saja ia jadi menikahi Alin waktu itu, ia bisa saja bernasib sial seperti Aldo. Dicampakkan dan dibuang setelah tidak mempunyai apapun untuk diberikan. "Besok aku akan membawanya ke sini untuk pertemuan selanjutnya penandatanganan pengalihan sahammu. Kamu harus menyelamatkan salah satunya agar anak istrimu bisa makan dengan layak," sarana Haris pada Aldo. "Baiklah, terimakasih Haris. Kali ini aku akan coba setiap ucapanmu itu. Saranmu akan aku gunakan," sambung Aldo yakin. Setelah mendapatkan kabar baik untuk Rendra, Haris memilih ke rumah sakit tempat Nissa bekerja. Ia akan menjemputnya bekerja karena ia tak bisa membawa mobil sendiri setelah trauma yang dialaminya. Sekarang, mendekati Nissa adalah sesuatu yang sangat mengasikkan bagi Haris. Karena wajah manis Nissa dan tatapan polosnya, membuat jantung Haris sering maraton dibuatnya. *sahabat, jangan lupa ikuti ceritaku. Agar sama-sama kita bahagia🙈🙈🙈 ya kan😁😁😁 ...reader senang, Author pun senang👉🤗👈🙏🙏🙏
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (285)
Ayu MaisaraSiti Rohayu
terbaik sangat cerita ni,mulanya sedih akhirnya berakhir dengan kebahagiaan....sy sgt menghayati dan baca sampai habis
terbaik sangat cerita ni,mulanya sedih akhirnya berakhir dengan kebahagiaan....sy sgt menghayati dan baca sampai habis
03/02/2022
4bagus banget
23/04
0❤❤ suka sm ceritanya
23/03
0Lihat Semua