cemas

"Aldo!" Teriak Mami Cahyo dari luar rumah Afi. Aldo tak sadar jika ia telah menghabiskan waktu yang lama di kamar Afi. Kesedihannya yang tak berbalas membuatnya enggan untuk pulang. Ia ingin tidur seharian di kamar milik Afi dan dirinya, mengenang malam-malam indah bersama.
Aldo tak menghiraukan teriakan Maminya karena ia sedang larut dalam kesedihannya. 
"Aldo! Mami cariin ternyata kamu di sini, Alin cemas mencarimu. Kenapa nomormu tidak aktif?"
"Mi, biarkan Aldo di sini ya! Aldo sangat terpukul dengan kepergian Afi. Dia sudah pergi, Mi!" Aldo tergugu di atas bantal yang ia letakan di tengah pangkuannya.
"Kamu jadi laki-laki cengeng banget, Aldo. Bukankah bagus Afi sudah pergi? Jadi kamu bisa fokus sama kesehatan Alin dan anakmu!" Mami Cahyo berbicara seperti itu karena ia merasa geram dengan anak laki-lakinya yang terlihat sangat bodoh hanya karena wanita bernama Afi itu.
"Mi, jangan paksa Aldo lagi, cukup Mami membuat Afi sengsara. Jangan Aldo! Aldo hanya ingin tinggal di rumah ini sementara, apakah Mami membenci rumah ini juga? Rumah ini bahkan sekarang menjadi milik Aldo sepenuhnya. Aldo merasa jadi suami yang jahat karena Mami," ucap Aldo sendu.
"Kamu keterlaluan Aldo! Kenapa kamu menyalahkan Mami karena semua ini? Rumah ini kamu yang beli, dan semua yang ada di sini kamu beli dengan uangmu sendiri. Jadi Mami hanya mempertahankan apa yang sudah kamu miliki agar tak diambil wanita mandul itu," teriak Mami.
"Cukup, Mi! Jangan lagi hina Afi yang sudah tidak ada di sini. Mami sekarang senang kan? Afi sudah pergi, dan tak ada lagi yang dapat Mami maki-maki. Tolong, izinkan Aldo tinggal disini!" pinta Aldo Maminya.
"Baiklah, tapi Alin akan aku suruh tinggal di rumah ini juga. Biar ada yang ngurus kamu, kamu nggak bisa perlakukan Alin seperti itu. Dia tak terbiasa tidur tanpa kamu, nanti biar Mami yang bilang sama Alin."
"Baiklah, Mih!" Aldo menghembuskan napasnya berat mendengar keputusan Mami yang meminta Alin juga tinggal di sini. Hati Aldo belum setegar itu untuk menolak Alin, bagaimanapun dia butuh sosok Aldo untuk berada di sampingnya.
Mami Cahyo melangkah keluar rumah Afi menuju rumah Alin. Mami Cahyo tak akan membiarkan menantunya itu bersedih jika tahu Aldo sedang menangisi kepergian Afi. Paling tidak, Alin bisa membuat Aldo sedikit tenang.
Hati ibu mana yang tak sedih jika anaknya terluka. Namun, ia harus membuat pelajaran yang amat menyakitkan agar pikiran Aldo terbuka. Alin adalah menantu pilihannya, dan ia tak mau cucunya nanti lahir tanpa kasih sayang yang lengkap dari ayahnya. Jika Aldo tetap bersama Afi, maka waktu Aldo akan banyak terbagi untuk hal yang tak penting. Seperti mengurus Afi yang mandul itu.
Jika Mami Cahyo harus memilih, ia pasti akan meminta Alin yang jelas-jelas baik dan sempurna dari pada Afi yang selama ini hanya jadi beban Aldo. Jika nanti anak Alin lahir, ia akan mempunyai banyak waktu untuk bermain dengan cucunya sedangkan Alin bisa kembali bekerja dengan Aldo. Jadi Aldo tak akan terlihat berjuang sendiri dan begitu lelah mencari uang untuk kebutuhan hidupnya  sampai tak punya waktu seperti sekarang ini.
Alin telah sampai di rumah Afi, ia menidurkan badannya di ranjang yang selama ini sering membuat ia menunggu. Alin memeluk Aldo yang tengah terlelap tidur dan membisikan kata cinta padanya, berharap suaminya akan terbangkitkan gairahnya. Aldo sengaja tidak membuka matanya padahal ia tahu jika Alin ada di samping nya, ia memilih tetap terpejam karena malam ini ia tak ingin diganggu oleh siapapun termasuk Alin.
Alin yang merasa suaminya itu sudah sangat lelap tidur, akhirnya mengeratkan pelukannya dan ikut tidur di ranjang milik Afi. Ranjang perjuangan seorang Aldo dan Afi saat menginginkan buah hati, ranjang yang sering membuat Alin cemburu jika suaminya tak kunjung pulang. Dengan bangganya, Alin tidur dengan nyenyak di tempat ini.
Aldo menggeliatkan badannya dan melihat Alin yang sepertinya telah terlelap. Aldo bangkit dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Ia ingin melakukan ibadah malam yang bisa menentramkan jiwanya, ia sadar selama ini ia sudah sangat jauh melupakan-Nya sehingga ia diberi ujian seberat ini. 
Air wudhu yang merasuk ke dalam kulitnya mampu sedikit menenangkan jiwanya. Ia gelar sajadah dan melakukan ritual shalatnya dengan khusuk. Ada sedikit rasa yang menyelinap masuk ke relung hatinya, yaitu perasaan menyesal tentang apa yang selama ini diperbuatnya. Kehilangan Afi akan menjadi momen terburuk dalam hidupnya, ia akan berusaha menjadikan ini sebagai  pelajaran bahwa keadilan dan ketegasan suami akan menjadi nilai pokok dalam berpoligami. Aldo tak ingin lagi melakukan kesalahan dengan menyakiti wanita yang ia cintai, karena kehilangan setelah kepergian itu sangatlah menyakitkan.
Setelah shalat ia melangkahkan kaki menuju dapur, seharian di kamar Afi membuat perutnya lapar karena tak ada asupan yang masuk. Aldo mencoba membuka meja dan tampak kosong tak ada isinya. Biasanya Afi selalu menyediakan makanan di sini, ia tak pernah lupa memasak karena takut jika tiba-tiba dirinya datang. Lagi-lagi memori tentang Afi kembali ia ingat, sepertinya bayangan Afi tak mungkin hilang jika dia berada di sini.
Aldo mencoba membuka kulkas hanya ada telor dan sayuran di sana. Aldo akan mencoba membuat mie rebus saja yang praktis dan cepat. Cacing di perutnya sudah sangat menunggu untuk meminta jatahnya.
Aldo mencari mi instan di lemari dapur, satu persatu ia buka laci untuk mencarinya. Namun, Aldo melihat ada banyak merk susu ibu hamil di sana. 
Mungkinkah Alin yang membawanya ke sini tadi? Aldo mengambil salah satu susu yang telah terbuka di sana. Aldo mengingat-ingat waktu itu Alin pernah memintanya membelikan salah satu merk susu hamil, tapi sepertinya bukan merk seperti ini. Aldo mencoba menepis pikirannya sendiri, mungkinkah ini milik Afi? Tapi apakah ia  sedang hamil juga? 
Sebuah tepukan di pundaknya membuat Aldo kaget dan membalikkan badannya.
"Yank, kamu lagi apa malam-malam begini?" Ali melirik ke arah benda yang sedang dipegang Aldo.
"Aku melihat susu ini di rak dapur, mungkinkah ini milik Afi? Apakah di sudah_"
"Itu milikku, aku sengaja membawanya dari rumah."
"Masa? Kok kamu bawa banyak banget? Berbagai merek juga, bukankah kau tidak menyukai merek ini?" tunjuk Aldo pada dus yang sedang dipegangnya.
"Justru itu, aku membawa banyak. Soalnya nanti kalau aku pas lagi disini pengen minum susu aku tinggal bikin dan tidak usah repot-repot lagi membelinya. Kan, Stoknya sudah banyak."
Alin mencoba mengelabui Aldo, karena jika ia tahu susu itu bukan miliknya pasti Aldo akan memikirkan jika Afi hamil anaknya kemudian mencari Afi untuk memastikan kebenarannya dan meninggalkannya jika tahu Afi tengah hamil.
Alin berpikir keras, mungkinkah Afi juga tengah hamil? Ia akan mencari tahu semua ini. Jika ia hamil anak Aldo, ia akan mencoba untuk menghindarkannya dari suaminya ini karena posisi anak Afi jauh lebih berbahaya dari anak yang dia kandung.
"Kamu mau bikin apa? Sini biar aku bikinin," tawar Alin lembut. Ia akan sedikit bermain manja dengan Aldo agar ia melupakan tentang susu itu dan beralih padanya.
"Aku lapar, dan tadinya mau bikin mie instan. Aku cari di kulkas tak ada, di lemari juga nggak ada."
"Kalau begitu, kita makan di luar saja. Kebetulan aku juga laper, Yank!" Aldo diam sejenak dan melihat ke arah Alin .
"Baiklah, ayo!"
Alin beranjak dari sana ke kamar untuk berganti pakaian. Alin sangat senang karena ia dapat makan di luar bersama Aldo. Biasanya setiap hari Aldo selalu pergi ke rumah Afi untuk makan jika ia lapar, sekarang ia sudah tak lagi harus berbagi apapun dengan wanita itu karena Afi sudah benar-benar pergi dan tak mungkin kembali. 
Aldo mengemudikan mobilnya pelan untuk mencari kedai yang masih buka di malam hari. Aldo akhirnya menemukan sebuah restoran yang masih buka di samping sebuah apartemen mewah. Aldo harus mencari tempat makan  sejauh ini karena Alin pasti tidak akan mau jika makan di warung emperan di pinggir jalan, sangat berbeda sekali dengan Afi. Bahkan Afi lebih menyukai makanan di penjual pinggir jalan daripada makan di sebuah restoran mewah.
Aldo dan Alin masuk ke dalam restoran dan mencari tempat duduk. Seorang pelayan restoran memberikan menu pilihan dan kedua pasangan ini memilih seafood sebagai menu makan malamnya.
"Hai, Bro!"
Alin yang mendengar suara yang sangat ia kenal terlihat kaget. "Kenapa ia bisa bertemu dengannya disini?" batinnya. Alin seketika merubah raut wajahnya menjadi pucat tatkala Haris mendekati dan menjabat tangan Aldo.
"Wah, pasangan romantis dan harmonis sedang dinner rupanya! Saya boleh gabung?" Haris sengaja ingin melihat wajah kepanikan Alin tatkala melihat dirinya yang begitu akrab dengan Aldo.
"Tentu, kita hanya makan malam biasa. Kamu sengaja ke sini atau ada janji sama pujaan hati?" tanya Aldo.
"Saya sendirian saja, pujaan hati saya sedang berbahagia dengan pasangannya. Dia menghianatiku, jadi kubiarkan dia menikmati masa indahnya dahulu, sebelum aku rusuhi kehidupannya," ucap Haris melirik Alin. Alin yang melihat senyum lain dari Haris memilih membuang muka ke arah lain.
"Tak baik mengganggu pasangan orang, Ris. Kayak nggak ada wanita lain saja! Wajahmu kan sebelas dua belas sama aku. Nggak mungkin susah cari pengganti," ujar Aldo. Aldo tak tahu jika ucapan Haris hanya bermaksud untuk menyinggung Alin yang selama ini sudah menghianatinya.
"Sayangnya, aku lelaki setia. Tidak sepertimu! Aku akan menunggunya sampai dia bosan dengan pasangannya itu." Haris berucap penuh semangat di depan Alin dan Aldo, membuat Aldo geleng kepala dan tersenyum datar pada sahabatnya itu.
Pesanan telah datang dan kedatangan Haris membuat nafsu makan Alin hilang seketika. 
"Kamu tak pesan makanan, Ris?" tanya Aldo yang melihat haris hanya memesan minuman saja.
"Aku sudah kenyang duluan melihat kalian berdua makan. Apalagi istri cantikmu ini, kamu tak ingin mengenalkannya padaku, Al?" Alin yang sedang minum jusnya tersedak mendengar kata-kata Haris barusan.
"Oh iya, kenalkan, dia Alin. Istriku!" ucap Aldo mengenalkan Alin. Haris menyodorkan tangannya hendak berjabat dengan Alin tapi Alin hanya membalasnya dengan senyum yang terlihat dipaksakan.
Haris menarik kembali tangannya karena Alin sepertinya sudah tak nyaman dengan kedatangan dirinya.
"Sepertinya istrimu Afi kalau nggak salah, kenapa jadi Alin?" Haris pura-pura lupa jika Alin adalah istri kedua Aldo.
"Afi sudah bukan istrinya," timpal Alin. Aldo tampak menghela nafas ketika mendengar nama Afi.
"Baiklah, sepertinya  kehadiran saya mengganggu kalian. Aku mau pergi saja, next time kita ngobrol lagi. Al, jaga istri cantikmu ini. Biasanya wanita cantik banyak yang ngelirik," sindir Haris melirik Alin.
"Tentu saja, kamu baik-baik di jalan. Jangan keluyuran seperti biasa," tutur Aldo yang paham dengan kebiasaan temannya ini.
"Bujang mah bebas! Mau punya satu atau dua gebetan tak masalah. Kalau kamu yang begitu, baru deh. Masalah buatnya." Haris berkata sambil melihat ke arah Alin. Aldo tersenyum mendengar penuturan Haris yang terdengar seperti menyindirnya.
Alin menatap kepergian Haris dengan nanar. Niat hati ingin dinner yang mengasyikkan dengan Aldo, akhirnya berubah menjadi makan malam yang menegangkan. Kedatangan Haris membuatnya cemas, jika ia tak sengaja membongkar hubungan lamanya dengan Haris bisa-bisa hubungannya dengan Aldo berantakan. Alin harus bisa menutup ini semua rapat-rapat agar hidupnya bisa tenang dengan Aldo.

Komentar Buku (285)

  • avatar
    Ayu MaisaraSiti Rohayu

    terbaik sangat cerita ni,mulanya sedih akhirnya berakhir dengan kebahagiaan....sy sgt menghayati dan baca sampai habis

    03/02/2022

      4
  • avatar
    Sri Sunarti

    bagus banget

    23/04

      0
  • avatar
    Prasasti

    ❤❤ suka sm ceritanya

    23/03

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru