logo text

Benar-benar pergi

Afi memakan makanan yang tadi di belikan Rendra, nasi Padang dengan sayur daun singkong rebus serta daging sapi sangat menggugah selera makan Afi. Namun sayang tak ada sambal ijo seperti biasanya, pasti Rendra sengaja tak memberinya  atau di lupa memintanya."Ini tak mungkin, biasanya nasi Padang selalu plus sambal. Itu merupakan akal-akalan Rendra saja pastinya," gerutu Afi saat mencari keberadaan si sambal kesukaannya. Di mana pun ia makan, tak luput dari sambal. Apapun makananya, lauk enaknya pasti selalu sambel.
Afi menghabiskan semua tak tersisa, ia benar-benar lapar hari ini. Ternyata air mata membuat orang lapar juga, seharian tak ada asupan masuk ke dalam perutnya sehingga ia makan bak orang yang satu minggu tak makan. Beruntung makanan yang ia makan ini tak keluar lagi dari perutnya. Afi bingung, entah kenapa semua makanan yang Rendra belikan untuknya selalu terasa nikmat dan sedap untuk di habiskan.
Bel berbunyi, Afi bergegas akan membuka nya. Namun, Nissa sudah masuk karena pintunya memang belum Afi kunci. Takut ia tak dapat keluar atau masuk gara-gara lupa menanyakan pada Rendra tadi.
"Assalamualaikum, Nafisah," salam Nissa memeluk Afi dengan manja.
"Waalaikumsalam. Kamu malam banget ke sininya, boleh memang main malam-malam?" tanya Afi.
"Bolehlah, aku disuruh kakak malah. Dia nitipin ini buat kamu, katanya sepertinya  kamu lupa membawanya," beber Nissa menunjukan sekantong kresek susu dan cemilan sehat untuk Afi.
Afi mengajak Nissa duduk di sofa dan Afi membuatkan minuman untuknya.
"Nih, adanya lemon tea. Di kulkas semua isinya buah dan sayur. Tak ada kopi dan juga teh. Adanya lemon tea instan, nggak tau buatan dari mana,  itu yang tersisa semua sudah di dalam kulkas. Apa kamu mau jus buah? Nanti aku buatkan," tawar Afi.
"Nggak usah, ini saja. Kakakku emang gitu, dia bukan pecinta kopi atau teh biasa, dia lebih menyukai lemon tea sejak dulu. Entah ilham dari mana  yang membuat kakakku begitu sangat menyukai minuman yang satu ini," jelas Nissa sambil menyeruput minuman yang Afi hidangkan.
"Oh ya, Nis, coba kamu tanyakan pasword pintu masuk apartemen ini dong! Masa aku harus ingat-ingat kapan pertama kita ketemu, mana aku tahu. Kakakmu itu aneh, Nis!" seru Afi.
"Hari pertama ketemu? Wow, emejing bingit itu! Itu berarti pertemuan awal yang berkesan bagi kakakku. Awal bertemu saja ia jadikan pin, kabar baru nih!" ucap Nissa merogoh ponsel di sakunya.
"Hallo, assalamualaikum, Kak! Ini Afi nangis gara-gara lupa tanggal ketemuan awal kaka sama dia. Jadi dia menyerah dan minta dikasih tahu tanggalnya," ucap Nissa berusaha mengerjai dua orang aneh ini. Namun, telepon langsung terputus sepihak dari Rendra.
"Huh! Dasar kakak nggak ada akhlak, belum juga dijawab sudah dimatikan," sungutnya. Afi hanya tersenyum melihat kekonyolan Nissa pada kakaknya itu. 
Sebuah pesan masuk dalam ponsel Afi, Rendra mengirimkan pesan berisi enam digit angka yang sepertinya ini kode apartemen.
"Siapa?" tanya Nissa penasaran.
"Kakakmu, tapi kok tanggal pertama bertemu?" Afi mencoba mengingat-ingat tanggal itu dan sepertinya memang ia lupa karena sudah sangat lama.
"Kode-kode tuh," ucap Nissa menggoda Afi.
"Kode apa? Ini kode apartemen. Jangan mulai ah, aku nggak suka," pungkas Afi.
"Nggak suka kok senyum-senyum sendiri," sindir Nissa.
"Ya nggak papa dong, senyum kan ibadah paling ringan dan banyak pahalanya." Afi sangat malu, Nissa selalu saja menggodanya tentang segala hal yang berkaitan dengan kakaknya.
"Ya deh bu ustadzah. Ngomong-ngomong kamu mau minta tolong apa? Katanya kamu minta aku ke sini karena ada hal penting yang akan kamu bicarakan padaku?" tanya Nissa mengingat percakapannya di telepon dengan Afi tadi siang.
"Oh, ini! Aku minta tolong kamu temui Aldo, kasihkan kunci rumah ini padanya. Tadinya aku ingin memberikannya langsung atau menaruhnya di bawah alas kaki, tapi aku takut dia akan memaksaku agar jangan pergi.Jadi aku minta tolong banget, kamu mau ya … membantuku! Aku tak ingin dia selalu menggangguku, karena jika Aldo menemuiku maka Alin pun pasti akan berbuat nekat lagi. Aku tak ingin ada keributan yang disebabkan oleh aku," ucap Afi sendu.
"Ya udah sini, besok aku coba ke tempat ia bekerja saja. Kalau ke rumahnya, aku ogah! Nanti di serang nenek sihir," imbuh Nissa.
"Hahaha, kamu ini! Cantik gitu dibilang nenek sihir."
"Cantik rupanya kalau jelek hatinya, buat apa? Kecantikan wanita itu terlihat dari kepribadiannya," ucap Nissa tampak berwibawa.
"Aduh duh, terhura eike," jawab Afi. Nissa senang melihat Afi begitu pandai menutupi kesedihannya. Bahkan, ia masih memikirkan Alin yang sudah menyakitinya. Jika Afi itu dirinya, sudah pasti Alin sudah habis ia mutilasi.
"Sidang perceraiannya kapan, Fi?" tanya Nissa.
"Belum dikasih kabar sama pengacara kemarin. Kata Rendra sih, bisa dipercepat dua minggu. Kenapa?" 
"Pengen cepet-cepet!" kata Nissa antusias.
"Cepet-cepet ngapain?"
"Cepet-cepet jadikan kamu kakak iparku! Aku udah nggak sabar banget!" Afi melemparkan bantal sofa ke badan Nissa. Nissa selalu saja mengatakan hal yang sama berulang kali. Afi bahkan sama sekali tak kepikiran ke arah situ. Afi hanya sedang memikirkan anak yang ada dalam kandungannya ini agar bisa tumbuh dengan sehat dan kuat seperti dirinya.
Setelah berbincang panjang lebar dengan Nissa, akhirnya dia pamit untuk pulang. Mungkin besok Nissa akan ke alamat kantor Aldo yang telah Afi tunjukan untuk memberikan kunci rumahnya.
*****
Aldo sangat malas di rumah, ia memilih pergi ke kantor agak awal karena ia masih sangat terpukul dengan perpisahannya dengan Afi.
"Mau berangkat awal lagi, Yank?" tanya Alin yang sedang mengoleskan roti dan selai di sana. 
"Iya, aku sarapan di kantor sja ya. Aku terburu-buru," ucap Aldo mencium kening Alin.
Alin memandangi suaminya yang sudah pergi dengan mobilnya ke kantor. Alin melihat  Aldo aneh hari ini, tak biasanya di tak sarapan dirumah. Biasanya kalau pagi ia akan minta izin padanya untuk ke rumah Afi hanya untuk sekedar sarapan, tapi ini bahkan ia tak melirik sedikitpun masakan yang mbok Lasmi buatkan.
Aldo memasuki kantor lebih awal membuat para karyawan memandangnya, karena tak biasanya bosnya itu masuk sepagi ini.
Aldo kini telah berada di dalam ruangannya, ia memilih menidurkan badannya di sofa kantor dan memijat kepalanya yang pusing. Aldo masih sepenuhnya terpukul, atas perpisahannya dengan Afi. Ia sangat merindukannya hari ini dan Aldo berniat menghubunginya.
Nomor Afi tak dapat dihubungi membuat Aldo begitu frustasi dan meletakkan ponselnya di meja. Aldo tak habis pikir, istri penurutnya itu sudah tak lagi seperti dulu yang manis dan selalu tersenyum ketika berada di sampingnya.
Sebuah ketukan pintu membuat Aldo beranjak dari pembaringannya dan duduk.
"Masuk!" Seorang gadis masuk ke dalam ruangannya dengan senyum yang sangat dipaksakan.
"Maaf, Pak! Barusan Nona ini memaksakan masuk ke sini! ucap asisten Aldo. Aldo mengangguk dan membiarkan wanita ini masuk.
"Maaf Pak Aldo yang terhormat, kedatangan saya kemari bukan lain atas permintaan Mbak Afi, dia memintaku memberikan kunci rumahnya." Nissa Memberikan kunci itu dan Aldo tampak terkejut mendengar penuturan Nissa.
"Afi ke mana?" tanya Aldo sendu.
"Mbak Afi pergi dan hanya menitipkan ini dengan saya. Maaf kalau begitu, saya pamit!" Nissa berdiri dan hendak beranjak mendekati pintu. Namun, Aldo mencegahnya.
"Tunggu! Kasih tahu saya di mana Afi berada. Nomornya bahkan tak dapat aku hubungi, tolonglah beri tahu aku!" Aldo memohon pada Nissa agar ia memberitahu keberadaan Afi.
"Maaf, Pak! Saya benar-benar hanya dititipi kunci ini. Permisi, saya mau keluar!" Nissa dengan cepat meninggalkan Aldo yang tampak tercengang dengan pernyataan yang Nissa ucapkan.
Pikiran Aldo bertambah runyam, otaknya benar-benar sudah buntu. Sepertinya hari ini ia harus pulang ke rumah Afi untuk mengeceknya dengan pasti, apakah benar yang diucapkan wanita tadi padanya.
Aldo keluar dari ruangannya menuju rumah yang selama ini ia tempati bersama Afi. Ia mengemudikan mobilnya dengan cepat agar segera sampai di sana. Perasaan khawatir nya seakan menyelimuti seluruh akal pikirannya. 
Mobil telah sampai di depan rumah Afi, ia membuka kunci rumah ini dan melihat ke dalam. Rumah ini benar-benar terkunci, dan Aldo semakin merasa tak karuan.
Aldo berlari menuju kamar Afi, memanggil namanya berulang berharap sosok istrinya masih berada di tempatnya. Namun badannya luruh ke lantai saat tak menemukan Afi ada di setiap sudut ruangan ini. Aldo menangisi kembali kepergian Afi, ia tak sanggup lagi menahan kesedihan ini. Afi istri lembutnya, telah pergi meninggalkannya selamanya.
Aldo mendudukan badannya di tepi ranjang dan menangisi takdirnya sekarang. Berat rasanya kehilangan orang yang ia sayang, dan juga harus merelakannya pergi. Aldo melihat hadiah yang pernah ia kirim untuk Afi, barang itu sudah terbuka oleh Afi namun sayangnya Afi tak membawanya pergi. Sebenci itukah Afi padanya hingga dia tak membawa semua barang yang ia beri, termasuk cincin pernikahnnya.
Aldo membuka lemarinya, dan tampak baju Afi telah hilang dari tempatnya. 
"Setega itukah kamu sama aku, Fi!" tangis Aldo dalam batinnya.
Afi benar-benar pergi, ia telah jauh meninggalkannya dengan kesedihan yang ia sisakan untuknya ini. Aldo menangis di atas ranjang sampai ia tak merasa sudah meratapi kesedihannya terlalu dalam hingga ia tertidur setelahnya.
.

Komentar Buku (285)

  • avatar
    Ayu MaisaraSiti Rohayu

    terbaik sangat cerita ni,mulanya sedih akhirnya berakhir dengan kebahagiaan....sy sgt menghayati dan baca sampai habis

    03/02/2022

      4
  • avatar
    Sri Sunarti

    bagus banget

    23/04

      0
  • avatar
    Prasasti

    ❤❤ suka sm ceritanya

    23/03

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru