harus tega

"Mi, Aldo mau ngomong sebentar. Bisa?" Aldo menatap maminya agar mau berbicara di luar kamarnya. Ia tak mau Alin mendengar ucapannya.
Bu Cahyo mengangguk dan mengikuti langkah Aldo. Mereka memutuskan berbicara di ruang kerja Aldo.
"Mi, apa yang harus Aldo lakukan? Aldo nggak bisa seperti ini, Afi istri Aldo. Aldo merasa jadi suami yang berdosa jika tak berlaku adil kepada nya. Tolong bujuk Afi agar tak marah lagi. Aldo ingin menemuinya, Mi. Bahkan sekarang aku sama sekali tak konsen bekerja akibat memikirkan semua masalah ini. Ada yang aneh pada diri Aldo, seperti ada yang terjadi pada Afi." ucap Aldo sendu.
"Halah! Itu hanya perasaanmu saja. Kan Mami sudah bilang, tinggalin Afi saja agar kamu bisa bahagia sama Alin." Bu Cahyo tampak tak suka akan permintaan anaknya ini.
"Mi, tolong kali ini lakukan sesuatu untukku. Mami ingin masalah ini berlarut-larut? Mami ingin hidup anakmu ini di hantui rasa berdosa karena mengacuhkan Afi yang masih menjadi istriku? Jika nanti Tuhan bertanya pertanggung jawaban atas semua ini, Mami mau jamin anakmu ini akan lolos dari sebuah karma?
Mi, Afi juga manusia. Dia pasti punya hati. Setidaknya jika Mami menginginkan perpisahan, kita semua harus bertemu dan berbicara baik-baik. "
Bu Cahyo diam sejenak berpikir dan mencerna kata-kata Aldo. Sepertinya ia pun tak mau disalahkan atas semua ini. Ia juga merasa Iba anaknya tak bersemangat setelah kejadian ini.
"Kamu mau Mami telponkan ke nomor Afi?" Bu Cahyo memutuskan menawarkan ide yang minim resiko. Jika Ia menemui Afi, bisa jatuh harga dirinya nanti.
"Makasih, Mi. Mami tahu Afi menolak panggilan teleponku?"
"Tentu, wanita biasanya begitu kalau marah. Pasti nggak bakalan mau ngomong," ucap Bu Cahyo karena ia sering seperti itu jika marah pada suaminya.
"Tapi kamu harus janji, setelah ini kamu jangan lagi berurusan dengannya. Kamu harus tegas mengambil keputusan. Mami nggak mau kamu jadi lelaki plin plan." Bu Cahyo memberi ultimatum keras pada Aldo agar ia tak lupa jika ia harus menyelesaikan semua ini sekarang juga.
Aldo mengangguk dan tersenyum pada Maminya. Bu Cahyo mengambil gawainya dan menekan tombol dial ke nomor Afi. Setelah menunggu lama akhirnya tersambung dan Aldo langsung menerima telepon yang diberikan Maminya.
"Hallo, Assalamualaikum." Aldo sangat semangat ingin berbicara dengan Afi.
"Wa'alaikum salam." Tampak suara laki-laki terdengar di telinga Aldo.
"Bukankah ini nomor istriku? Di mana dia? Dan kenapa kamu yang mengangkat telponku?" Seketika Aldo berbicara keras karena ia tampak emosi karena bukanlah Afi yang angkat melainkan seorang pria.
"Kamu laki-laki? Pertanyaanmu banyak sekali, mana yang harus aku jawab dulu?" Rendra tampak santai menanggapi ucapan Aldo.
"Jawab saja! Jangan banyak ngomong," jawab Aldo sinis.
"Kamu suaminya? Suami macam apa yang meninggalkan istrinya seorang diri di rumah sakit? Benar-benar pecundang!" Sambungan telepon ditutup sepihak oleh Rendra membuat Aldo lemas . Ia penasaran dengan apa yang diucapkan lelaki itu tentang Afi.
"Kenapa mukamu begitu? Afi selingkuh?" tanya Bu Cahyo yang sepertinya mendengar suara laki-laki dari nomor yang ia panggil tadi.
"Mih, Afi di rumah sakit. Tapi …." Aldo memilih tak melanjutkan omongannya dan segera beranjak dari sana lalu keluar dengan mobil menuju rumah sakit.
Aldo melajukan mobilnya dengan cepat menuju rumah sakit. Walau dia belum tahu di mana Afi dirawat, dia akan tetap mencarinya.
Aldo menanyakan nama Afi di setiap rumah sakit. Sudah lima rumah sakit besar ia kunjungi tapi belum juga menemukan Afi di sana.
Aldo berhenti di rumah sakit besar yang ada depannya dengan harapan yang besar mengingat tempat ini adalah rumah sakit terakhir yang ada di kotanya.
Aldo melangkah dengan cepat menuju ruang informasi dan menanyakan keberadaan Afi. Tak bisa dibayangkan lagi bagaimana raut wajahnya, ia tampak seperti orang yang kehilangan akal mendengar Afi masuk rumah sakit.
"Permisi, Mbak! Apa ada pasien yang dirawat di sini bernama Nafisha Alya Sucipto?" tanya Aldo panik.
"Sebentar, Pak saya cek dulu."
"Pasien atas nama Bu Nafisha ada di ruangan VIP nomor tiga. Silahkan bapak lurus saja dari sini lalu naik lift ke lantai dua pak." ucap pegawai rumah sakit ramah.
"Baik, Mbak, terimakasih."
Tanpa menunggu lama Aldo langsung bergegas menuju kamar yang ditunjukkan tadi. Ia bahkan sedikit berlari agar cepat sampai ke sana.
Kini Aldo telah sampai di depan ruangan tempat Afi dirawat. Jantungnya sudah berdetak kencang tak beraturan. Ia membuka daun pintu dan melihat Afi sedang terbaring lemah dengan mata terpejam.
Aldo berlari memeluk Afi dan menciumi kedua pipinya. Ia sangat merindukan istrinya ini. Hampir satu minggu ia tak bertemu dengannya membuat ia sangat merindukannya. Bahkan ia tak sadar jika ada sepasang mata yang melihat adegan mesranya dari jauh.
Afi membuka matanya pelan dan kaget saat Aldo ada di depannya dengan mata berkaca-kaca.
"Fi! Kamu kenapa nggak bilang kalau kamu sakit? Mas hampir kehilangan akal mengetahui jika kamu masuk rumah sakit. Mas rindu! Jangan buat mas khawatir Afi, Mas sayang sama kamu. Mana yang sakit, Fi?" Aldo terlihat sangat khawatir.
Afi tak menanggapi ucapan Aldo. Ia tak ingin banyak bicara kepada suaminya karena ia sudah lelah dengan drama yang dibuatnya. Bahkan ia tak sadar jika Aldo suaminya sudah mentalaknya kemarin.
"Fi, ngomong sama Mas! Jangan diam saja. Bilang sesuatu, apa yang harus Mas lakukan agar kamu memaafkanku," ucap Aldo dengan menciumi tangan Afi.
"Hubungan kita selesai sejak Mas mengucapkan talak padaku. Sekarang Mas sudah tidak berhak lagi atas diriku dan tolong jauhi aku. Aku tak ingin istri dan Mami marah lagi padaku atas hal yang tidak aku lakukan." Air mata Afi sudah menumpuk di pelupuk matanya. Namun ia tahan, karena ia tak ingin terlihat lemah di mata Aldo.
"Talak? Kapan Mas bicara talak padamu?" Aldo menyangkal tuduhan Afi yang ia sendiri merasa tak pernah melakukannya.
Afi meraih ponsel di samping bantalnya dan menunjukan bukti pesan yang dikirim dari nomornya.
Aldo tercengang bukan kepalang. Siapa orang yang sudah mengirim pesan itu pada Afi? Ia merasa tak pernah mengirimnya.
"Sudahlah, Mas. Jangan menemui aku lagi. Kau suruh aku mengalah kan? Aku melakukannya untukmu. Jika pun itu bukan pesan yang kau kirim, aku tetap akan mengajukan perceraian untukmu. Diantara kita harus ada yang mengalah agar tidak ada lagi yang tersakiti. "
Afi membuang muka menghindari tatapan mata Aldo yang menyedihkan. Sebenarnya ia tak tega melihatnya terluka, tapi bagaimana lagi. Ia merasa sudah tak sanggup menjalani masalah rumah tangga bersama Alin dan mertua nya.
"Fi, tolong jangan seperti ini! Mas sayang sama kamu. Mas nggak mau kita berpisah, maafkan Mas yang belum bisa Adil pada kalian. Fi! Mas mohon pertimbangkan lagi keputusanmu."
Aldo tergugu di ranjang Afi sambil menangis bak anak kecil yang merengek karena kehilangan mainannya. Afi pun sama tak tega nya dengan Aldo. Tapi salah satu di antara mereka harus mengalah agar tak ada lagi yang harus tersakiti.

Komentar Buku (285)

  • avatar
    Ayu MaisaraSiti Rohayu

    terbaik sangat cerita ni,mulanya sedih akhirnya berakhir dengan kebahagiaan....sy sgt menghayati dan baca sampai habis

    03/02/2022

      4
  • avatar
    Sri Sunarti

    bagus banget

    23/04

      0
  • avatar
    Prasasti

    ❤❤ suka sm ceritanya

    23/03

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru