Begitulah hati yang sakit. Tak kan mudah untuk menerima takdir yang sudah disuratkan Ilahi. Takdir yang tidak sesuai dengan harapan dan yang dicita-citakan. Rasa kesakitan akan semakin menggerogoti hati yang semakin lama akan semakin membusuk. Jika ... tidak bisa melawan dan mengobatinya dengan keimanan. Begitulah yang sekarang dihadapi Mbak Syifa. Hingga pikirannya berjalan diluar nalar. Memporakporandakan ilmu yang didapat dengan tidak mudah. Menukarnya dengan keegoisan. Padahal, aku juga dalam posisi yang sama. Harus melalui jalanan yang bukan rencana dan harapan. Menerimanya memanglah tidak mudah. Apalagi melepas seuatu yang sangat diinginkan dengan ikhlas itu sangatlah susah. Aku juga merasakan hal yang sama, pernah di posisi yang sama. Mungkin, aku lebih beruntung saja karena dikelilingi orang dan keluarga yang lebih berakal sehat dan iman yang tebal. Hingga kini aku bisa menebar senyum dengan lebih leluasa. Karena hati tak rumit lagi. Melupakan semua kejadian pahit memang lebih banyak faedahnya daripada memeliharanya seperti hama. Berbeda dengan Mbak Syifa dan keluarganya di seberang sana. Seraut wajah prustasi dan penuh amarah masih mendominasi meskipun dipaksakan senyum. Rumah Ummah dan Kiyai kini terasa sesak karena dijejali orang-orang terundang untuk musyawarah. Selain keluargaku, keluarga Mbak Syifa, juga ada pihak dari pondok dan aparat RT dan RW untuk memediasi. Ternyata, sudah sejauh ini masalah yang timbul. Dan, mereka mengira akulah yang menyebabkan masalah itu muncul. "Karena Mas Fatah selalu menyebut nama Olan setiap malam," ucap Mbak Syifa saat ditanya alasan dia mendatangiku. Wajahnya penuh dengan amarah dan kedengkian. Sehingga kecantikannya hilang begitu saja. "Aku kecewa, Mas Fatah sering mengacuhkanku, dia lebih sering bercengkrama dengan ponselnya ... aku tau, dia pasti menghubungi wanita itu, mereka pantas dirajam." "Astaghfirulloh ... aku sudah menjelaskan sampai lelah," timpal Ustadz Fatah. Mereka malah saling menyalahkan, seperti anak kecil saja. "Sudah dulu ... kita simak secara runtut ... tolong pihak yang tidak saya tanya untuk diam saja, jangan melakukan pembelaan terlebih dahulu," tegas Pak RW menengahi. "Agar permasalahan cepat terselesaikan." Kami semua menganggukan kepala. Dari pertama tiba, memang kami tidak banyak bicara, biarkan waktu yang membuktikannya saja. "Baiklah, pertama saya mohon Nak Syifa untuk menjelaskan kronologis masalah ini dari awal. Ceritakan saja dengan gamblang, agar mudah difamai kami semua," pinta Pak RW pada Mbak Syifa. "Pak RW, saya sakit hati ... saya didzolimi semua orang di sini, terlebih suami saya sendiri. Setelah pulang dari rumah wanita itu, suami saya tak pernah memperlakukan saya sebagai istri. Saya dianggap orang lain baginya, bahkan ... saya belum menerima nafkah batin ... suami yang sudah menghalalkan saya bahkan belum pernah menyentuh kulit ini ...." Mbak Syifa terisak, membuat kami semua tercengang dengan pernyataannya. Dan membuat Ustadz Fatah semakin membenamkan kepalanya. "Astagfirulloh ... kamu ...," tunjuk Kiyai pada sang putera kebanggan. Sepertinya beliau merasakan sesak dan malu bercampur menjadi satu karena kelakuan anaknya. "Tapi, seharusnya Mbak Syifa tidak su'udzon pada Olan dan Ustadz Fatah," Ustadz Umar menimpali. "Atau memang sebenarnya Mas Fatah ada hubungan dengan Neng Olan?" tanya Pak RW. "Tidak, Pak. Kami tak pernah berkomunikasi ...," jelas Ustadz Fatah. "Jangan bawa-bawa Olan, dia tidak bersalah, disini jelas-jelas saya yang bersalah, sampai saat ini masih belum bisa menerima ketentuan Alloh," lanjut Ustadz Fatah dengan suara parau dan terbata-bata tanpa menatap kami. "Kamu sudah kurang ajar membiarkan puteriku, dia bukan patung," sergah Ayahnya Mbak Syifa dengan berapi-api. "Maafkan saya, Abah ... saya sudah lalai." "Jadi, bagaimana sekarang?" tanya Pak RW. "Sepertinya memang bukan karena Mas Fatah ada hubungan dengan Olan. Sebaiknya tanya mereka berdua," timpal Pak RT yang diangguki semua orang. "Saya mau Mas Fatah berjanji untuk menjadi suami saya sepenuhnya dan ... lupakan wanita lain," ucap Mbak Syifa saat Kiyai bertanya. "Saya ingin Syifa dan keluarga meminta maaf pada Olan dan keluarga karena telah menuduh tanpa bukti," timpal Ustadz Fatah yang membuat Mbak Syifa mendongakan kepalanya. "Tapi ... dia sudah merebutmu dariku," "Olan tidak merebut Aa dari Teh Syifa," ujar Farah. Gadis itu tiba-tiba berani bersuara. "Kamu berani sekali," Mbak Syifa. "Karena memang Olan tidak bersalah, bukankah Mbak Syifa melalaikan janjo dengan Aa? Tapi sekarang malah menagih janji itu, Olan datang saat Mbak Syifa tidak ada kabar, dan bukan Olan yang masuk ke kehidupan Aa, tapi sebaliknya," jelas Farah yang membelaku di depan kaka iparnya itu. "Kalian semua menyalahkan dan memojokanku, padahal aku yang didzolimi," tukas Mbak Syifa geram. "Astahgfirulloh ... kami semua tidak memojokanmu, kami hanya ingin keadaan kembali seperti semula, kembali menjalin silaturahmi tanpa saling curiga." Penjelasan Farah semakin membuat Mbak Syifa marah. "Sudahlah, kita lanjutkan musyawarah ini agar segera temu titik terang," sela Pak Kiyai yang melihat kekisruhan anak bungsu dan menantunya. Saudara ipar yang nampak tak akur itu kembali fokus. Sementara pikiranku menerawang pada ketiga adik perempuan Bang Malik yang sangat akur denganku. Harusnya aku mensyukuri hubungan tak terduga ini dari awal. Musyawarah terus berjalan alot. Entah sebenarnya siapa yang mulanya bersalah hingga menyebabkan semua pihak merasa terdzolimi. Tentu akupun jelas merasakan. Terlebih, aku adalah pihak ketiga yang terseret pada kasus rumah tangga orang. Mau tidak mau aku memang harus berada diposisi antara suami istri sirri itu. Karena dari awal aku sudah berada dalam posisi orang ketiga meskipun sebenarnya bukan karena ada unsur kesengajaan. Meskipun aku berusaha menghindar dan beralasan tak tahu masalahnya dari awal. Aku tetap akan dibawa ke tengah pusaran kekisruhan hubungan Ustadz Fatah dan Mbak Syifa. Jika saja aku tak pernah ada di antara cerita mereka. Mereka memang nampak seperti pasangan yang menjadi contoh dan idaman. Keduanya memiliki fisik yang menarik ditambah dengan latar belakang keluarga yang berasal dari kalangan bukan orang biasa. Terlebih juga keduanya merupakan orang berilmu yang didapatnya di tempat elit dan ternama. Sedangkan aku? "Alhamdulillah ... keputusan dari musyawarah ini, memang Neng Olan tidak terlibat hubungan keluarga putra Kiyai, tidak ada bukti juga semua saksi membantah kedekatan Mas Fatah dan Neng Olan ... mudah-mudahan kedepannya hubungan silaturahmi kita tetap berjalan harmonis ... silahkan, ada yang mau menyampaikan tambahan?" Pak RW mengedarkan pandangan pada semua orang yang dijawab dengan kata 'cukup'. Sementara kulihat, Utadz Fatah mengangkat wajahnya dan mengajukan diri untuk menyampaikan seuatu. "Silahkan, Mas." "Alhamdulillah ... saya berterima kasih pada semua pihak yang sudah membantu memediasi, kepada keluarga Bang Malik, saya mohon maaf karena sudah menyeret istri pada masalah keluarga saya, juga saya memohon maaf karena masih bermain perasaan pada istri Abang ...." Bang Malik menganggukan kepala meskipun tanpa senyum. "Dan untuk semuanya, mohon menjadi saksi ... Syifa, hari ini saya Fatah Abdurrahman menalak Syifa Nurjannah binti Hasim Bilal, hari ini kita tidak ada hubungan suami istri lagi." . . . . . . nah lho.... lanjut gak?????
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
seru....
26/07/2025
0bagus loh
03/07/2025
1kenapa akhirnya sadd ending🥹
20/05/2025
0Lihat Semua