logo text

Bab 54 Sarapan yang Tersiksa

Pukul empat sore aku diizinkan pulang setelah tak ada keluhan yang memberatkan. Akhirnya aku akan menghirup aroma kamar yang sangat kurindukan. Padahal hanya beberapa jam saja kutinggalkan. Sudah seperti berpuluh tahun tak pulang ke rumah saja.
Namun sayang, Ayah yang menyetir mobil malah melajukan mobil dengan melewati rumahku begitu saja. Sudah pasti, aku akan diculik ke rumahnya. Dijadikan tawanan untuk putranya yang menyebalkan.
Untung saja laki-laki menyebalkan itu tidak menampakkan batang hidungnya. Kalau saja ada disini tentu aku akan kabur dari penyekapan ini.
"Kalian kalo mau nyulik anak gadis orang bilang dulu." tukasku dengan wajah ditekuk dan diremas-remas lanjut dipelintir.
"Kalo bilang dulu namanya izin sekolah." sangkal Ayah.
"Bang Malik gak ada di rumah kok." Bunda ikut menimpali. Seakan menegaskan bahwa aku tidak perlu khawatir akan bertemu dengan anaknya.
"Iya, Ol. Abang kasian pontang-panting nyari bukti, seharusnya kamu bisa sedikit saja membuka hati. Sekarang kan sudah jelas kalo Sinta bukan hamil anak Abang." bujuk Ayah sambil membukakan pintu mobil karena ternyata mobil sudah berhenti di depan rumah Bunda dari tadi.
"Coba sekarang Ayah diposisi aku, Bunda tiduran sama cowok lain gak pake baju, di kamar hotel pula. Emang Ayah masih mau senyum-senyum?" ketusku sambil mendelik.
Mata Ayah melotot saat aku mengatakan demikian. "Ya Ayah bikin babak belur mereka." tegas Ayah.
"Nah, itu Ayah tau."
***
Sentuhan tangan seseorang yang hangat membelai pipiku dengan mesra, sehingga aku cepat-cepat menoleh padanya. Laki-laki yang tinggi menjulang itu berdiri di samping ranjang tempatku berbaring.
Tanpa menunggu lama, laki-laki berparas wajah tanpa senyum itu memulai aksinya ... dengan lembut.
Entah kekuatan apa yang dimilikinya, sehingga begitu saja tubuh ini pasrah tanpa perlawanan sedikitpun. Padahal, jelas hatiku sedang tak baik-baik saja. Kecewa, sakit hati, dan amarah melebur menjadi satu rasa.
Tanpa kusadari, tubuh tegapnya sudah menindihku. Tangannya bergerilya ke setiap tempat-tempat sensitifku. Akupun membiarkan aksinya yang semakin lama semakin liar dan menggebu.
Semakin lama, lenguhan yang kutahan akhirnya terlepas tak terkendali. Bahkan, teriakan kecilku semakin membahana ketika pergumulan panas yang akhirnya terjadi juga.
Rasa seperti ini entah kenapa berbeda dari pengalaman sebelumnya. Penuh peluh dan desah. Bahkan mulutku meracau tak bisa diam. Sesekali melepaskan suara kenikmatan yang memuncak. Hari ini, meskipun aku membencinya, Bang Malik sungguh luar biasa.
Aku bahkan tak kuat menahan telapak kaki yang terus memanas ketika ... aaah ... ouwhh ....
"Olan ... Olan ... bangun ... Olan ... kamu kesurupan? Ayaaah ... Olan kesurupan!" Bunda berteriak. Membuatku kaget luar biasa. Kenapa Bunda bisa masuk kamar saat aku dan Bang Malik lagi ....
"Astaghfirulloh ... Ayaaah cepet sini!"
Ayah tiba di kamar dengan nafas ngos-ngosan. Takut dia melihatku tanpa pakaian, aku akhirnya menarik selimut sampai leher.
"Olan, kamu gak apa-apa?" tanya Bunda, kemudian Ayah mendekati Bunda.
Ah, mereka ... aku lagi seneng-seneng malah digangguin. Aku mencari laki-laki yang baru saja membuat aku berteriak manjah. Tapi, dia sudah tidak ada rupanya. Mungkinkah dia pergi begitu saja saat Bunda menyerbu kamar tanpa izin?
"Kamu kenapa sih uh ah uh ah dari tadi? Teriak-teriak lagi, sampai kedengeran ke luar kamar," jelas Bunda.
"Bunda denger aku teriak?" Astoge, ya ampun malu ini muka.
"Kamu kesurupan apa mimpi?" tanya Ayah.
"Apa? Mimpi? Bun, apa ... Bang Malik ... pulang? " tanyaku ragu-ragu.
"Belum ... kayaknya besok," jawab Bunda.
"Hadeeeh ... katanya ngambek tapi ditanyain juga ... dasar perempuan. Makanya, Ayah gak suka jadi perempuan, hatinya sulit ditebak."
Bunda bilang Bang Malik belum pulang, tapi barusan kita lagi anuan ... jangan-jangan ....
"Bun, kayaknya aku mimpi deh."
"Ya sukur deh kalo mimpi, takutnya kamu kesurupan, Bunda kan jadi takut."
"Iya, mimpi ini ono kayaknya, Bun. Haha ...," ucap Ayah sambil berlalu keluar.
Omaylord ... mimpi ternyata. Padahal nikmatnya terasa nyata. Aku kena prank kalau seperti ini. Padahal sudah sekuat tenaga mengeluarkan suara seksi. Capenya juga udah kerasa beneran.
Bunda juga sih, ngapain juga pake dibangunin segala iiih. Seketika ku raba seluruh badan, pakaian masih lengkap kukenakan.
Beneran, tadi mimpi anuan. Aaah.
***
"Bun, kok sepi?" tanyaku pada Bunda yang sedang mengkreasikan nasi sisa kemarin di atas wajan.
"Teh Memey udah pulang dijemput suaminya tadi subuh," jawab Bunda tanpa menoleh ke arahku.
"Umi kesini gak?"
"Nanti katanya nyuci dulu." Lagi-lagi Bunda menjawab tanpa membalikan badan.
"Jadi, kita cuman bertiga nih di rumah?" Bunda hanya mengangguk sebagai jawaban. Sepertinya memang lagi fokus ke nasi yang lagi dibumbuin, dikecapin, terus dicobain.
"Gak ada orang lain kan, Bun?" Bunda juga menggunakan kode gerakan kepala saat kubertanya lagi. Kali ini jawabannya gelengan cepat.
Huuuffhh. Bunda lagi irit ongkos. Eh, irit bicara.
Melihat mode jutek Bunda yang bisa saja akan membuat situasi memanas, lebih baik aku segera capcus keluar dari arena dapur.
"Ambilin piring," perintah Bunda saat baru saja kaki akan kulangkahkan.
"Iya, Bun."
Nasi goreng spesial sudah kuletakkan di atas meja makan. Namun, setelah kuteliti kembali ternyata jumlah piringnya ada lima. Mungkin buat Umi, tapi yang satunya buat siapa?
Ah, sudahlah mungkin cadangan kalau-kalau ada yang kurang kenyang. Lantas akupun melanjutkan mengisi gelas dengan teh hangat.
Setelah selesai, aku tak melewatkan mengupas aneka buah. Rasanya, sarapan tak kan lengkap tanpa yang segar-segar. Apalagi perutku yang merasa lebih nyaman memakan buah dan sayur mentah atau direbus.
Aku cepat-cepat duduk di kursi yang biasa kutempati. Bunda dan Ayah pun seger mengambil alis posisi masing-masing.
"Umi lama."
"Nanti siang, kan masih nyuci sama beres-beres," tukas Bunda masih mode jutek.
"Lha ini sarapannya banyak buat siapa dong?"
"Abang," jawab Ayah. Seketika rasa laparku menguap.
Rasa mual malah datang tak diundang. Agar kodisiku nyaman, aku segera berdiri dan mengambil piring kecil untuk menyimpan buah-buahan yang akan kumakan nanti di kamar. Sarapan di kamar rasanya akan lebih baik tanpa harus melihat penyebab luka.
"Duduk," perintah Bunda masih mode ketus.
Akupun kembali duduk dan menahan mual dengan memakan sepotong buah naga dengan tangan gemetaran. Mertuaku kok jadi galak gini ya?
Tak lama ucapan salam dari arah ruang tamu terdengar. Dan aku tahu pemilik suara itu. Sebenarnya aku ingin segera berlalu, tapi mata Bunda selalu tajam mengawasi. Seperti tatapan ibu tiri yang kejam.
"Ayo, sarapan bersama dulu," ajak Ayah pada seseorang yang ikut masuk ke dalam rumah. Mungkin laki-laki itu teman Bang Malik.
"Terimakasih, Yah. Apa kabar, Bun?" tanya si laki-laki yang nampak akrab dengan Ayah dan Bunda.
Bang Malik memilih duduk disampingku. Namun, sebelum duduk dia mencoba mencium pucuk kepalaku. Aku mencoba menghindar namun kalah cepat dengan gerakan sedikit memaksa dari Bang Malik.
"Sayang, kenalkan ... teman Abang dari Sukabumi, Ghofar."
.
.
.
.
.
.
siapa aja nih yang masih minta lanjut????? yuks jan lupa tips dan do'anya ya ....

Komentar Buku (56)

  • avatar
    Siti Aisyah Yasser

    seru....

    26/07/2025

      0
  • avatar
    HartatiNoviana

    bagus loh

    03/07/2025

      1
  • avatar
    Nava Nurniza

    kenapa akhirnya sadd ending🥹

    20/05/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru