logo text

Bab 63 Terus Marah

Kini mata sendu Zahra berubah menyala. Pandangannya tajam mengarah ke punggung Guntur. Tak terima dengan apa yang ditudingkan Guntur kepadanya. Memberanikan sekuat tenaga, berbicara, ya walaupun Guntur pasti tak akan mempercayainya. Terserah, Zahra tetap akan berkata.
"Mas, aku tak pernah sama sekali membuka rahasia pernikahanmu dengan Luna kepada Zein. Sama saja itu membuka aib pernikahanku juga. Dan bukankah kamu sendiri yang tega membohongiku? membatalkan janji makan siang denganku," ucap Zahra berapi-api, dengan deru nafasnya yang terengah-engah.
Langkah Guntur pun terhenti, memutar kembali tubuhnya.
"Apa maksudmu aku membatalkan janji makan siang denganmu?" Tatapannya tajam mengarah kepada Zahra.
Zahra bangkit dan beranjak, mendekati Guntur. Membalas tatapan suaminya.
"Iya bukankah kamu sendiri yang menyuruh Zein mengirimiku pesan, jika kalian ada di restoran itu. Makanya aku datang ke sina. Tapi kamu yang tega Mas, membatalkan janjimu sendiri, meninggalkan Zein sendirian di sana. Hingga aku harus berjumpa dengannya," terang Zahra dengan nada suara yang menyolot. Dan posisi mereka pun kini berhadapan dengan jarak yang sangat dekat sekali. Hingga Zahra maupun Guntur sama-sama tahu jika orang yang ada dihadapan mereka tengah dilanda api amarah.
"Apa maksudmu aku membatalkan janji makan siang denganmu? dan apa maksudmu aku ada di restoran itu dengan Zein?" Guntur mengerutkan keningnya.
"Mas, apa ucapanku kurang jelas. Sudah jelas-jelas kamu yang membohongiku, dan kenapa pula aku yang disalahkan?" jawab Zahra terus menyolot.
"Hahhh, yang benar saja aku membohongimu. Seharian aku bersama Adnan bertemu dengan klienku, bukan bertemu dengan lelaki sialan itu. Dan harusnya kamu itu pintar, mana mungkin aku mau membatalkan janji makan siangku denganmu dan membiarkan bajingan itu berduaan denganmu." Guntur menunjuk kasar dada Zahra.
Sejenak Zahra tertegun mendengarkan penuturan suaminya itu. Jadi apakah  pesan itu hanyalah akal-akalan Zein semata? pikiran itu terus berkecamuk di otak Zahra.
"Tapi, Mas, dia sungguh berkata seperti itu. Dan aku ada buktinya jika dia mengirimiku pesan." Untung saja Zahra teringat dengan pesan tersebut. Kemudian dia mengambil ponsel di dalam saku celananya. Dan memperlihatkannya kepada Guntur.
"Bacalah, Mas, kalau kamu tak percaya," seru Zahra serius.
Guntur langsung mengambil ponsel Zahra dan membacanya. Dan memang betul isi pesan tersebut sesuai dengan apa yang dikatakan Zahra tadi.
Sejenak Guntur tak berkata, diam larut dalam pemikirannya. Ada sedikit rasa percaya kepada Zahra. Namun lagi dan lagi pemandangan Zein yang sedang mengelap bibir Zahra terus berkelebatan di benak Guntur. Dan itu membangkitkan kembali rasa cemburunya yang kini kian meningkat.
"Tapi kenapa kamu tak pulang saja, ketika sudah tahu aku tidak ada di sana? dan kenapa terus berduaan dengannya? bahkan kamu membiarkan bibirmu disentuh bajingan itu, hahhh?" Dengan kasar Guntur mengelap bibir Zahra, karena dia merasa jijik dan muak sudah melihat bibir istrinya disentuh pria lain.
Zahra memejamkan kedua matanya dan berkali-kali mengusap dada. Menarik nafas dalam-dalam agar sebisa mungkin dia bersikap tenang, tak terpancing dengan perkataan Guntur yang selalu menyudutkannya.
"Mas, sudah berapa kali aku katakan, itu tak seperti yang kamu lihat. Itu hanya secara kebetulan saja. Mas, tolong percayalah padaku! jangan percaya dengan ucapan Zein," ucap Zahra memelas sambil mengatupkan kedua tangannya, berharap Guntur akan mengerti.
Namun Guntur yang mendengar Zahra menyebut kembali nama Zein, rasanya otaknya mendidih, mengingat Zein yang telah berani menyentuh bibir istrinya.
"Tapi dia telah menyentuh bibirmu Zahraaaaa! dan kamu diam saja, hahhh?" teriak Guntur sambil mengguncangkan kedua bahu Zahra. Guntur tetap dengan asumsinya. Adegan itu tetap melekat dalam ingatannya.
Sedangkan Zahra sudah kehabisan kata-kata lagi. Tak akan bisa meruntuhkan pemikiran Guntur yang selalu menyudutkan dirinya terus-menerus. Zahra terisak dan menundukkan wajahnya, tak berani menatap mata Guntur yang menyala. Merasakan guncangan tubuhnya dari kedua tangan kekar Guntur.
"Ahhh, Zahraaa!" Lagi dan lagi Guntur berteriak. Menghempaskan tangannya dari bahu Zahra.
Guntur memutar kembali tubuhnya, melangkah cepat ke arah kamarnya. Dan membanting keras daun pintu. Hingga Zahra pun sontak memejamkan kedua matanya.
Zahra berdiri mematung dan tak bergeming yang diikuti dengan isak tangisnya yang terus-menerus. Hingga keadaannya terlihat begitu menyedihkan dan kacau.
Si mbok pun yang sebenarnya sejak tadi menyaksikan pertengkaran kedua majikannya itu lewat sebuah lemari besar yang menghalangi tubuhnya, langsung menyerbu mendekat ke arah Zahra, khawatir takut terjadi apa-apa dengan Nyonyanya itu.
"Nyonya tidak apa-apa?" Si mbok memberanikan diri memegang pergelangan tangan Zahra, karena si pemilik tubuh itu diam tak bergeming.
Suara si mbok membangunkan Zahra dari kesedihannya. Menatap Sendu wajah si mbok. Lalu memeluknya erat. Menangis sesenggukan, menumpahkan segala kesedihan di hatinya. Dan semakin lama tangis Zahra pun pecah di bahu si mbok, mengguncangkan tubuh perempuan yang sudah tak muda lagi.
"Yang sabar Nyonya, semua pasti ada jalan keluarnya. Mungkin sekarang Tuan sedang kalut, jadi biarkan saja dulu Tuan menenangkan pikirannya. Sebentar lagi dia akan pasti baik lagi, percaya sama si mbok," ucap si mbok lirih seraya mengusap lembut rambut Zahra. Memberikan rasa tenang kepadanya.
"Tapi mbok sampai kapan dia akan terus-terusan marah," sahut Zahra sambil terisak.
"Jangan berprasangka buruk, itu akan membuat hati Nyonya semakin sedih saja. Sekarang lebih baik Nyonya istirahat saja dulu, agar pikiran Nyonya pun tenang," ucap si mbok bijak. Layaknya perkataan seorang ibu kepada anaknya.
Lalu si mbok pun memapah tubuh Zahra yang terlihat lemah itu melangkah ke arah kamar. Namun bukan kamar yang ditempati Guntur yang ditujunya, melainkan kamar yang ada di lantai dua. Sengaja untuk sementara waktu Zahra ingin tidur terpisah dulu dengan Guntur menenangkan hati masing-masing.
Waktu pun semakin bergulir, hingga sampai tiba waktu malam. Namun dari sekian waktu yang bergulir, baik Zahra maupun Guntur tak sama sekali menampakkan diri keluar dari dalam kamar, sama-sama diam di dalam kamarnya masing-masing. Bahkan untuk makan dan minum pun si mbok yang mengantar ke kamarnya masing-masing.
Di dalam kamarnya Guntur tak bisa memejamkan kedua matanya. Hingga sampai larut malam pun kedua matanya masih segar, belum ada tanda-tanda mengantuk. Pikirannya selalu terarah kepada Zahra. Sedang apa dia? apakah sudah tidur? ah, jika saja dia sedang tidak marah kepadanya, mungkin saja Guntur sudah menghambur memeluk tubuh Zahra. Menghirup aroma wangi tubuh istrinya itu yang selalu menjadi candu dirinya. Namun rasa marah dan egonya masih bertengger di dalam hatinya.
Guntur hanya bisa berguling ke kanan dan ke kiri merasakan rasa sepinya, karena tak terbiasa tidur bertemankan sendiri.
Sedangkan di dalam kamarnya pun Zahra tidak jauh beda dengan Guntur. Tidak bisa memejamkan kedua matanya. Rasa sepi pun kian menjalar di dalam dirinya.
Zahra cenderung menangis dan melamun. Pikirannya lebih terfokus pada hal-hal yang jelek mengenai pernikahannya. Takut sikap Guntur yang dingin dan kasar akan kembali lagi seperti dulu. Takut pernikahannya yang mulai membaik akan sirna lagi.
"Mas Guntur," lirih Zahra sambil terisak. Meringkuk di balik selimutnya. Menunggu dan menunggu kapan rasa kantuk itu akan datang. Namun sialnya bukan rasa kantuk yang datang, namun wajah Guntur yang aselalu menari-nari di kedua kelopak matanya.
Di luar kamar tampak si mbok sedang mondar-mandir. Terlihat dari guratan wajahnya jika dia sedang khawatir. Sejak tadi kedua majikannya belum juga tampak keluar kamar. Bahkan majikan perempuannya kerap terdengar terus menangis di dalam kamarnya. Hingga semakin menimbulkan rasa khawatir yang meninggi di hati si mbok.
"Aduh, apa yang harus aku lakukan Tuan dan Nyonya terus-terusan di dalam kamar? Nyonya Zahra menangis terus, bagaimana ini?" Sambil mondar-mandir si mbok menggigit jari telunjuknya. Tampak dia sedang berpikir keras.
Namun tiba-tiba wajah si mbok tampak sumringah, seperti dia sudah menemukan jalan keluarnya.
"Ah, iya aku baru ingat Nyonya Siska dan Tuan Bambang, pasti mereka bisa membuat akur kembali Tuan Guntur dan Nyonya Zahra." Si mbok menggerakkan jari telunjuknya, menandakan dia yakin idenya itu akan berhasil.
Kemudian dengan cepat si mbok langsung berlari ke kamarnya. Berniat menghubungi Bambang dan Siska. Meskipun usianya sudah lanjut, namun kelihaiannya dalam menggunakan ponsel jangan ditanya lagi. Tua-tua tapi gaul, itulah julukan untuk si mbok.
"Mbok ada apa? malam-malam begini meneleponku?" Ternyata panggilan pun langsung terhubung. Dan terdengar suara Siska di seberang sana.
"Ma-maaf Nyonya malam-malam begini mengganggu. Anu Nyonya Zahra dan Tuan Guntur ....?" Si mbok tampak ragu untuk mengatakannya.
"Ada apa dengan Guntur dan Zahra, mbok? ayo, cepat katakan!" Terdengar suara Siska sangat khawatir.
"Anu Nyonya Zahra dan Tuan Guntur bertengkar. Mereka sudah tidur terpisah dan sejak tadi siang tidak keluar dari dalam kamar. Apalagi Nyonya Zahra terus menangis. Saya sangat khawatir, Nyonya." Si mbok melaporkan keadaan dua majikannya itu kepada Siska.
"Apaa?" Suara Siska di seberang sana terdengar meninggi dan penuh dengan keterkejutan.
"Baiklah mbok, terima kasih atas kabarnya." Panggilan pun langsung terputus. Tak terdengar lagi suara Siska.
Akhirnya si mbok bisa bernafas lega. Berharap Siska bisa membantu menyelesaikan permasalahan kedua majikannya itu, yakni Guntur dan Zahra.
           ***
Guntur yang tengah duduk bersandar di ujung tempat tidur, sambil melamunkan pertengkarannya dengan Zahra, tiba-tiba harus dikagetkan dengan suara dering ponselnya yang berada di sampingnya. Dengan rasa malas, Guntur mengambil ponselnya dan ternyata ibunya yang meneleponnya.
"Ada apa ibu meneleponku?" gumam Guntur sambil mengerutkan keningnya. Lalu menggeser layar ponselnya itu.
"Hallo, Bu," sapa Guntur lemah.
"Guntur kamu kenapa bertengkar dengan Zahra?" Suara Siska di seberang sana langsung memberondong Guntur dengan pertanyaan intinya.
Guntur sejenak terdiam dan menjauhkan ponsel dari telinganya, karena saking kerasnya suara ibunya. Namun beberapa saat kemudian Guntur kembali berucap dengan ibunya.
"Apakah Zahra yang memberitahu ibu?" Guntur malah balik bertanya seperti itu.
"Bukan, si mbok yang memberitahu ibu jika kamu sedang bertengkar dengan Zahra. Coba ceritakan yang sebenarnya terjadi kepada ibu!"
Guntur menarik nafas panjang, lalu mulai menceritakan kejadian tadi siang yang sudah terjadi antara dirinya dan Zahra. Penuh panjang lebar dan tak terlewat satu pun dari mulut Guntur. Sampai isi pesan dari Zein pun tak lupa dia sampaikan kepada ibunya.
"Begitulah Bu, bagaimana kejadian yang sebenarnya yang telah terjadi padaku dan Zahra." Guntur mengakhiri ceritanya.
"Jadi begitu ceritanya. Baiklah besok ibu telepon lagi. Sekarang tenangkan dulu hati dan pikiranmu! ingat jangan coba-coba memarahi Zahra lagi! biar nanti ibu yang akan bicara dengannya." Panggilan pun terputus. Sudah menjadi kebiasaan Siska, jika mematikan telepon secara sepihak.
Guntur menghembuskan nafas beratnya, ada rasa malu hinggap di dalam hatinya. Lagi dan lagi kedua orang tuanya harus turun tangan membereskan permasalahan kehidupan pernikahannya lagi.

Komentar Buku (195)

  • avatar
    Ernaa RM

    kisah cinta yang romantis walaupun ada duri di dalamnya

    10/05/2022

      0
  • avatar
    Apriliana

    bagus banget

    12/07

      0
  • avatar
    Julita Mangun jaya

    Bagus

    13/06

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru