Akhirnya Zahra tak mau ambil pusing dengan semua pemikirannya yang terus berputar-putar. Dia memutuskan untuk menemui Zein. Ya, tepatnya untuk menemui Guntur, karena di benaknya jika suaminya sekarang sedang bersama dengan Zein. Zahra keluar dari dalam gedung Global Group dan menuju restoran yang telah disebutkan Zein tersebut, yang diantar oleh sopir perusahaannya. "Pak Mun tunggulah disini! aku mau makan siang bersama suamiku dulu," ucap Zahra kepada laki-laki yang berusia kurang lebih 45 tahun itu. "Baiklah Nyonya saya tunggu di sini saja," sahut Pak Mun sambil menganggukkan kepalanya penuh hormat kepada Zahra. Kemudian Pak Mun turun dari dalam mobil dan membukakan pintu mobil untuk Zahra. Lalu masuk kembali ke dalam mobil, untuk menunggu nyonyanya makan siang. Zahra pun keluar dari dalam mobil dan melangkah menuju ke dalam restoran. Sesampainya Zahra mengedarkan pandangannya mencari sosok Guntur, yang menurut isi pesan Zein jika dia ada di sini. Namun sampai kedua bola matanya lelah pun melirik kesana kemari, sosok Guntur tak dapat dia temukan. Dan sialnya Zahra hanya menangkap sosok Zein saja dalam pandangannya. Zein hanya duduk seorang diri saja tanpa ada Guntur bersamanya. "Hai, Zahra sini!" Zein melambaikan tangannya pada Zahra, yang diikuti dengan senyum manisnya. Zahra tampak ragu untuk menemui Zein, karena dia tak melihat Guntur di sampingnya. Namun Zein terus-menerus memanggilnya. Dan akhirnya Zahra pun dengan sedikit terpaksa melangkahkan kakinya ke arah Zein. Mencoba menghilangkan segala prasangka buruknya. Zahra tersenyum kecil ke arah Zein. Kemudian duduk berseberangan dengannya, meskipun keraguan berkecamuk di dalam hatinya. "Kamu mau makan apa? nanti aku pesankan," tanya Zein dengan segurat senyuman yang membingkai di wajahnya. "Mana Guntur? aku tak melihatnya." Zahra tak menjawab pertanyaan Zein, malah menanyakan keberadaan Guntur. Zahra menatap lekat ke arah Zein, mencari kejujuran di kedua bola matanya. Sedangkan Zein sendiri sudah menyiapkan semua rencana tipu muslihatnya kepada Zahra. Sengaja memasang wajah sedih dan menyesal. "Maaf bukan aku bermaksud untuk membohongimu, tapi Guntur sudah pergi lagi. Entah dia mau kemana? sungguh aku tak tahu," ucap Zein lirih, seolah-olah dia sedang bersedih. Zahra menarik nafasnya, ada rasa sakit di hatinya manakala mendengar penuturan Zein tersebut. Tenggorokannya terasa pahit, hingga untuk bersuara pun seperti ada yang mencekatnya. "Kenapa Mas Guntur belum menghubungiku juga? sungguh tega membatalkan janjinya, tanpa dia memberitahuku terlebih dahulu," batin Zahra lemah. Sejenak Zahra terdiam, memandang kosong, seraya meremas ujung bajunya, menyalurkan semua rasa kesalnya kepada Guntur. Sedangkan Zein sejenak membiarkan Zahra larut dalam rasa kekesalannya kepada Guntur. Meyakini jika Zahra sudah masuk dalam perangkap tipu muslihatnya. Kemudian Zein memesan makanan untuk dirinya dan Zahra. Dan tak lama kemudian pesanan makanan pun datang. "Terima kasih," ucap Zein kepada pelayan restoran tersebut. Sedangkan Zahra masih terdiam, tak mengeluarkan suaranya. Dengan lembut dan penuh perhatian, Zein mendekatkan makanan dan minuman ke arah Zahra. Layaknya perhatian seorang suami kepada istrinya. "Zahra, ayo, makan dulu! aku tahu kamu pasti lapar. Jika kamu tak makan nanti kamu sakit. Ayolah makan!" ucap Guntur dengan sikapnya yang penuh perhatian. "Tidak, aku pulang saja. Mungkin Guntur sudah kembali ke kantor," ucap Zahra lemah. "Apakah kamu tidak kasihan kepadaku, yang sejak tadi menunggumu untuk makan. Ayolah, Zahra sebentar saja!" Guntur mengatupkan kedua tangannya, yang disertai dengan ekspresi wajahnya yang memelas. Hingga Zahra pun tak kuasa untuk menolaknya. "Baiklah tapi sebentar saja." Akhirnya Zahra pun mengalah, menerima ajakan Zein. Zein tersenyum puas, sudah berhasil membujuk Zahra. Ya, walaupun sebentar setidaknya dia bisa menikmati wajah Zahra dalam tatapannya. *** Di tempat yang berbeda Guntur dan Adnan saat ini sedang menemui kliennya di tempat biasa mereka mengadakan pertemuan. Begitu banyaknya yang mereka bahas tentang kemajuan perusahaan masing-masing, hingga tak terasa Guntur sudah menghabiskan waktu selama tiga jam lamanya. Sesudah di rasa semuanya mencapai kesepakatan. Barulah pertemuan itu berakhir. Guntur dan Adnan pun berencana kembali lagi ke perusahaannya. Guntur dan Adnan sudah berada di dalam mobil. Adnan duduk di depan yang mengemudinya. Sedangkan Guntur duduk di belakang. Saking sibuknya dengan segala urusan pekerjaannya, Guntur sampai lupa mengabari Zahra. Kemudian Guntur merokoh ponsel yang ada di saku celananya. Dan ternyata ponselnya mati, karena Guntur lupa mengisinya. "Bos, apakah kita akan kembali lagi ke kantor? atau kita langsung makan siang saja?" tanya Adnan yang menengok ke arah belakang. "Entahlah, Zahra pasti sedang menungguku. Sejak tadi aku belum mengabarinya. Ponselku mati." Guntur memijat keningnya. Terlihat dia sedang berpikir. "Ya, telepon saja! apa sih susahnya?" ucapnya santai. "Ponselku mati, dan aku belum mengabarinya. Coba tolong kamu hubungi Zahra! dia pasti mencemaskanku." Guntur beberapa kali menghela nafasnya dan menyandarkan kepalanya di ujung kursi. "Kamu itu pergi bertemu klien, bukan pergi ke luar angkasa. Kenapa juga Zahra harus mencemaskanmu?" Suara Adnan terdengar ketus dan kesal. "Apa kamu bilang? Zahra itu istriku, jadi dia pasti mencemaskanku, mengerti?" Guntur menepuk keras punggung Adnan. Kesal sahabatnya berbicara seperti itu. "Hahhh, terlalu percaya diri." Adnan malah sengaja memancing kekesalan Guntur. "Apa?" tanya Guntur geram. "Hehehe, tidak apa-apa," jawab Guntur berbohong. "Awas jika kamu berkata lagi. Akan kupotong gajimu bulan ini. Sekarang cepat hubungi Zahra pake ponselmu!" titah Guntur dengan kembali menepuk keras punggung Adnan. Hingga Adnan pun meringis kesakitan. "Dasar memaksa," batin Adnan kesal. "Baiklah," ucap Adnan seraya mengambil ponsel di dalam saku celananya. Namun sial ternyata ponsel Adnan pun mati, sama halnya dengan Guntur. "Aduh, bos maaf ponselku juga mati. Aku tadi lupa mengisinya, bagaimana ini?" imbuh Adnan, lalu menengok ke belakang sambil memperlihatkan ponselnya yang mati kepada Guntur. "Ahh, kenapa bisa seperti ini, sih?" Guntur menghembuskan nafas beratnya dan mengusap wajahnya dengan kasar. Sejenak tak ada yang bersuara. Terlihat semuanya sedang berpikir. "Baiklah kita sekarang makan siang saja. Lagipula aku sudah lapar. Zahra pasti akan mengerti." Akhirnya Guntur memutuskan untuk tidak langsung pulang ke Global Group. Namun akan mampir dulu ke restoran untuk makan siang. "Nah begitu dong, kan asyik," ucap Adnan bersemangat. Kemudian melajukan mobil menuju restoran yang diinginkan Guntur. Tak berapa lama, Guntur dan Adnan pun sudah tiba di restoran yang dituju. Namun baru saja Adnan memasukkan mobil dan memarkirkannya. Tiba-tiba matanya menangkap mobil perusahaan yang tadi dinaiki Zahra. "Bos, bukankah itu mobil perusahaan kita. Aku sangat hafal betul nomor plat mobilnya," ucap Adnan sambil menunjuk ke arah mobil yang dimaksud. Guntur pun mengikuti arah telunjuk Adnan. Dan memang betul yang ditunjuk Adnan itu adalah mobil perusahaannya. Guntur mengerutkan keningnya, menerka-nerka siapa yang memakai mobil perusahaannya itu? "Bos, bukankah mobil itu hanya diperuntukkan untuk bos dan nyonya Zahra saja. Lantas siapa yang memakai mobil itu? apa mungkin Nyonya Zahra?" Adnan pun menerka-nerka sama halnya dengan Guntur. "Entahlah ayo, kita lihat saja!" Guntur langsung membuka pintu mobil. Ingin segera memastikannya. Yang diikuti Adnan setelahnya. Kemudian Guntur dan Adnan pun melangkah ke arah mobil yang dimaksud. Adnan mengetuk kaca mobil, memastikan ada orang atau tidaknya di dalam mobil tersebut. Dan ternyata ada seseorang di dalamnya. Lalu kaca mobil pun terbuka, terlihat sopir Zahra mendongakkan wajahnya ke arah Adnan. "Eh, Pak Adnan, saya kira Nyonya Zahra," ucap si sopir di dalam mobil. "Nyonya Zahra?" Adnan mengerutkan keningnya. "Iya, Nyonya Zahra sedang menemui Pak Guntur di dalam sana," sahut si sopir yang tak menyadari jika Guntur ada di luar mobil bersama Adnan. "Oh, begitu. Baiklah saya akan masuk menemui Nyonya Zahra," ucap Adnan tak mau berlama-lama lagi ngobrol dengan si sopir tersebut. Adnan pun langsung membisikkan sesuatu ke telinga Guntur. Memberitahunya apa yang telah dia dengar dari si sopir. Guntur membelalakkan matanya, terkejut dengan apa yang dibisikkan Adnan kepadanya. "Apa? lalu dengan siapa Zahra di dalam sana?" Pikiran jelek pun bergerilya di otak Guntur. "Ayo, kita ke dalam saja!" ajak Adnan. Dengan langkah yang tergesa-gesa Guntur dan Adnan melangkah ke dalam restoran. Sedangkan di dalam sana Zahra dan Zein sedang makan. Tanpa mereka tahu, jika Guntur sedang berjalan masuk ke dalam restoran. Zahra makan tidak berselera, sehingga dia tidak memperhatikan makanan yang sedang dia makan. Pikirannya hanya tertuju kepada Guntur, terkesan dia makan sambil melamun. Sampai tak merasa ada makanan yang menempel di bibirnya. Dan tanpa Zahra duga sebelumnya, ternyata tangan Zein refleks begitu saja mengelap makanan yang ada di bibirnya dengan ibu jari Zein. "Maaf ada makanan yang menempel di bibirmu." Zein mencondongkan tubuhnya ke arah Zahra. Hingga tubuh Zahra dan Zein sangat berdekatan sekali. Zahra sontak saja terkejut, tak menyangka jika Zein akan seberani itu kepadanya. Dan seakan-akan tubuhnya terkunci untuk menjauh. Diam dengan tubuh yang bergetar. Bersamaan dengan itu Guntur pun tiba di dalam restoran dan menangkap pemandangan yang begitu menyakitkan matanya. Melihat dengan begitu mesranya, Zahra berdekatan dengan Zein. "Zahraa!" teriak Guntur dengan suaranya yang melengking tinggi. Hingga mengejutkan Zahra dan Zein saat itu. Dengan langkah yang penuh amarah, Guntur langsung mendekat ke arah Zahra dan menyeretnya menjauh dari Zein. Sedangkan Zahra sendiri tampak gelagapan dan takut, tak menyangka jika Guntur akan datang di saat adegan yang tak sengaja seperti itu. "Mas, ka-kamu ...," ucap Zahra gelagapan dengan raut wajah yang pucat pasi, saking terkejut dan takutnya, yang kini dia rasakan. "Kamu, kamu, apa hahhh? apa yang kamu lakukan dengannya? bermesraan? berpelukan? berciuman?" Guntur seperti orang kesetanan, mencengkram keras kedua bahu mungil Zahra. Terlihat kedua netra mata Guntur memerah dan berapi-api, saking marahnya dia kepada Zahra. "Mas, i-ini tidak seperti yang kamu lihat. A-aku hanya ...," belum saja Zahra menyelesaikan perkataannya, namun Guntur sudah memotongnya. Hingga dia tidak mempunyai kesempatan untuk menjelaskan semuanya yang terjadi pada dirinya. "Hanya apa? hanya makan berdua saja. Itu bukan yang ingin kamu jelaskan padaku?" Untuk yang kesekian kalinya Guntur berteriak. Hingga suaranya pun menggema di ruangan tersebut. Tanpa memperdulikan dengan keberadaan orang-orang yang ada di sekitarnya. Zahra tak bisa berkata apa-apa lagi, percuma Guntur tak akan memberikan kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Zahra sesenggukan menangis, sedangkan Guntur terus mencengkram keras kedua bahunya. Rasa cemburu dan amarahnya telah membutakan mata hati dan akal sehatnya. Hingga suara tangis Zahra pun tak bisa memadamkan api amarahnya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (195)
Ernaa RM
kisah cinta yang romantis walaupun ada duri di dalamnya
kisah cinta yang romantis walaupun ada duri di dalamnya
10/05/2022
0bagus banget
12/07
0Bagus
13/06
0Lihat Semua