Zahra langsung memilihkan pakaian yang akan dikenakan Guntur. Dan memakaikannya, walaupun dengan hati yang sedikit jengkel. "Ih, seperti anak kecil saja. Memakai baju saja tak mau sendiri," gerutu Zahra di dalam hatinya, manakala sedang mengancingkan kemeja Guntur. Ya, meskipun ada perasaan sedikit malu ketika harus melihat tubuh Guntur yang bertelanjang dada dengan jarak yang begitu dekat. Namun tetap Zahra harus melakukannya. "Kamu ini kenapa? malu?" tanya Guntur dengan segurat senyuman di wajahnya. Dan itu membuat Zahra merasakan hawa panas yang menjalar di tubuhnya. "Aku tidak apa-apa," jawab Zahra yang berusaha menyembunyikan rasa malunya dengan menundukkan wajahnya, dan tetap fokus mengancingkan kemeja Guntur. "Aku ini suamimu, sudah setahun kita hidup bersama. Kenapa kamu harus bersikap seperti ini terus." Dengan lembutnya Guntur mengangkat dagu Zahra dengan kedua jarinya. Hingga wajah mereka begitu dekat. Hembusan-hembusan nafas Guntur pun begitu terasa di wajah Zahra. Namun dengan gerakan tangannya yang cepat, Zahra berusaha menyelesaikan tugasnya itu. Tak ingin terlalu berlama-lama saling bertatapan dengan dengan suaminya. Bisa-bisa Guntur membawanya naik ke atas tempat tidur saat itu juga. Kemudian Zahra langsung menjauh dari Guntur, dengan pura-pura merapikan tempat tidur. "Sayang, rapikan lagi bajuku ini! kenapa kamu ke sana?" Senyum nakal pun terbingkai di wajah Guntur, karena dia tahu Zahra sengaja menghindar darinya. "Aneh sudah tahu tubuh masing-masing pun tetap saja malu," batin Guntur gemas. Zahra menghentikan aktivitasnya dan melirik ke arah Guntur. "Kamu sendiri kan bisa, Mas." Memang terdengar biasa-biasa saja, namun terkesan sedikit menolak. Guntur menghembuskan nafasnya seraya menatap lekat ke arah Zahra. "Apakah kamu tidak lihat, tanganku terluka seperti ini? dan kamu harus bertanggung jawab, karena ini semua kesalahanmu," sahut Guntur seraya memperlihatkan tangannya yang di perban itu. "Dasar." Zahra mendengus kesal, dan mau tidak mau menurut saja. Kemudian Zahra beranjak dan segera merapikan kemeja Guntur. Padahal sebenarnya tanpa dirapikan pun, pakaian Guntur sudah rapi. Namun itu hanya akal-akalan Guntur semata, untuk berdekatan dengan Zahra saja. Guntur tersenyum di sudut bibirnya sambil menatap wajah Zahra. Ingin rasanya dia melumat bibir mungil istrinya itu, yang terlihat begitu menantang naluri kelakiannya. "Sudah Mas, ayo, kita berangkat saja!. Zein pasti sudah menunggu kita," ajak Zahra sambil menepuk dada bidang suaminya. Dan itu membuat Guntur geli. "Jangan menggodaku! jauhkan tanganmu dariku." Guntur segera menjauhkan tangan Zahra dari tubuhnya. "Siapa pula yang menggodamu? aku hanya mengajakmu saja." Zahra mencebikkan bibirnya dan itu membuat Guntur semakin gemas. Zahra langsung beranjak dan segera melangkah ke arah pintu. Namun Guntur mencekal pergelangan tangan Zahra dan membawanya dalam kungkungan kedua tangannya. "Sayang, ayolah sebentar saja!" bisik Guntur lembut. "Isshh, Mas ini ada-ada aja. Malu kalau kita kelamaan di sini. Zein pasti sudah bosan menunggu kita," ucap Zahra menggeliat dan langsung menghindar dari Guntur. "Ayo terus sebut nama dia." Guntur mendelikkan matanya kesal. Kenapa Zein lagi yang dipentingkan Zahra. Bukankah melayani suami itu lebih penting? batin Guntur terus meracau tak karuan. Dengan raut wajah yang masam dan cemberut akhirnya Guntur mengikuti kemauan Zahra. Segera berangkat ke acara makan malamnya dengan Zein. Di dalam mobil, Guntur tak banyak bicara. Dia masih menyimpan rasa kesalnya kepada Zahra. Hasratnya tak bisa terpenuhi, karena sang istri menolak ajakannya. Namun berbeda dengan Zahra yang terlihat senang, menikmati perjalanannya ini. Di depan sebuah rumah yang begitu megah dan luas, Guntur menghentikan mobilnya. Terlihat seorang pegawai security membukakan pintu gerbang rumah Zein dan mempersilahkannya masuk. Guntur dan Zahra pun turun dari dalam mobil. Dan di dalam hati, mereka tak henti-hentinya mengagumi kemewahan rumah Zein. Mungkin tepatnya bisa dikatakan seperti sebuah istana. Halaman yang berukuran sangat luas dan bangunan rumah yang mempunyai tiga tingkat. Membuat Zahra dan Guntur semakin terpukau. Dan jika saja orang berjalan dari ujung barat sampai ke ujung timur rumah Zein. Maka pasti akan kelelahan saking luasnya ukuran halaman dan rumah Zein tersebut. Baru saja Guntur dan Zahra melangkah. Terlihat Zein sudah menyambutnya di balik ambang pintu yang sedikit terbuka. "Hai, selamat datang di rumahku. Ayo, masuk, aku sudah mempersiapkan semuanya!" Dengan gayanya yang sok akrab, Zein merentangkan lebar kedua tangannya. Menyambut kedatangan Guntur dan Zahra. Zein langsung memeluk hangat Guntur dan berniat juga memeluk Zahra. Namun dengan cepat Guntur menghalanginya. Tak rela jika istrinya disentuh pria lain. "Oh, maaf." Zein menggerakkan kepalanya sebagai tanda maafnya. Namun pandangan matanya sekali-kali melirik ke arah Zahra. Dan itu membuat Guntur ingin mencongkel kedua mata Zein. "Tak apa." Dengan santainya Zahra berkata seperti itu. Lagi dan lagi Guntur merasa kesal dan geram. "Apa, tak apa? yang benar saja kamu berkata seperti itu kepada pria lain," batin Guntur kesal dan melirik sinis ke arah Zahra. "Ayo, masuklah jangan sungkan! anggap saja ini rumah kalian." Zein mempersilahkan Guntur dan Zahra segera masuk ke dalam rumah. Guntur dan Zahra pun mengikuti langkah kaki Zein dari belakang. Zahra tak henti-hentinya berdecak kagum, akan kemewahan isi rumah Guntur. Di dalam rumah sudah berjejer banyak pelayan. Menyambut kedatangan Guntur dan Zahra. Berbanding jauh dengan keadaan rumah Guntur, yang tingkat kemewahannya ada di bawah rumah Zein. "Kaya sekali Zein ini. Aku penasaran siapa wanita yang beruntung menjadi istrinya?" Entah kenapa tiba-tiba saja Zahra berpikiran seperti itu? Mengagumi kekayaan pria lain. Langkah kaki Guntur dan Zahra mengikuti langkah Zein yang ada di depan mereka. Membawanya ke sebuah ruangan makan, yang begitu fantastik kemewahannya. Hidangan makanan dan minuman berjejer memenuhi meja makan. Tampak seperti makanan hotel bintang lima saja. "Ayo, silahkan dicicipi hidangannya. Aku sengaja menyuruh semua pegawaiku memasak makanan istimewa dan spesial untuk kalian," ucap Zein seraya tersenyum kearah Guntur dan Zahra. "Terimakasih," sahut Guntur singkat. Kemudian Guntur dan Zahra pun duduk berdampingan. Sedangkan Zein duduk di hadapan mereka. Sehingga bisa leluasa mencuri-curi pandang ke arah Zahra. Zein pun yang lebih dulu mengawalinya. Makan dengan gaya dan sikap seorang bangsawan. Hingga Zahra pun sedikit terpukau dengan sikap seorang Zein tersebut. Dan tanpa Zahra sadari ternyata Guntur sedari tadi memperhatikan dirinya terus. "Ehem." Guntur sengaja berdehem, karena kesal kepada Zahra yang melihat Zein penuh dengan keterkaguman. Zahra terlonjak kaget dan langsung menengok ke arah Guntur, seraya tersenyum samar. Malu karena kepergok Guntur, jika dirinya sedang menatap Zein. "Ayo, makan! kenapa dibiarkan begitu saja!" titah Zein ramah. "Iya, baiklah," sahut Guntur dengan senyum yang terpaksa. Namun tangan tetap diam, tak bergerak. Zahra pun memulai aktivitas makannya. Dan terlihat Guntur menengoknya, seperti memberi sebuah isyarat kepadanya. "Ada apa, Mas? kenapa tak makan?" Sejenak Zahra menghentikan aktivitas makannya. "Suapi aku!" titah Guntur seraya mengangkat tangannya yang diperban. Seolah-olah menunjukkan dia tidak bisa makan menggunakan tangannya. Zahra menyipitkan kedua matanya dan menyengir. Tak percaya jika Guntur akan melakukan hal yang konyol untuk yang kesekian kalinya. Apalagi kekonyolan ini akan dilakukan dihadapan Zein. "Ayo, Sayang! tunggu apa lagi? cepat suapi aku!" Tanpa malu lagi, Guntur sengaja membuka mulutnya dan mendekatkan wajahnya ke arah Zahra. Seperti sengaja ingin memamerkan kemesraannya di hadapan Zein. "Malu, Mas," bisik Zahra di telinga Guntur. "Apakah kamu tidak lihat tanganku ini sedang sakit? kalau tidak kamu suapi, maka aku tak akan makan," bisik Guntur pula dengan nada penuh pengancaman. "Baiklah." Meskipun malu, akhirnya Zahra lebih memilih mengalah saja. Daripada melihat Guntur tidak makan, itu akan lebih memalukan lagi. Akhirnya Zahra menyuapi Guntur makan, bergantian dengan dirinya. Sedangkan Zein yang duduk berseberangan dengan mereka. Hanya bisa menyaksikan dan menonton adegan romantis yang ada di hadapannya itu. Entah kenapa hati Zein sedikit kesal melihat kemesraan Zahra dan Guntur tersebut. Apalagi ketika melihat Guntur mengelap bibir Zahra dengan ujung jarinya. Rasanya ada hawa panas yang bersarang di hatinya. Padahal tak ada yang salah jika Guntur dan Zahra bersikap romantis. Toh, mereka adalah sepasang suami istri. Sah-sah saja mereka melakukan itu. Hanya saja yang salah adalah kenapa hati Zein bisa cemburu seperti itu. Ah, jangan-jangan? Acara makan inti pun sudah selesai, hanya tinggal makan penutup saja. Terkesan lebih santai, karena diselingi dengan obrolan ke sana kemari. "Oh, iya sejak tadi aku tak melihat istrimu, dia kemana?" iseng Zahra menanyakan itu kepada Zein. Zein yang sedang mengunyah kue cake pun langsung terhenti. Raut wajahnya terlihat sendu dan muram. "Istriku sudah meninggal sejak dua tahun yang lalu?" jawab Zein dengan sebuah senyuman yang terlihat pahit. Zahra pun terkejut mendengarnya, tak menyangka pertanyaan isengnya itu ternyata membuat terusiknya hati Zein. "Oh, maaf aku tak bermaksud membuatmu bersedih. Sungguh aku tak tahu jika istrimu sudah meninggal. Maafkan aku," ucap Zahra penuh penyesalan. Berbeda dengan Guntur yang terlihat sedikit cemas akan status yang disandang Zein untuk sekarang ini. "Pantesan saja dia selalu melirik Zahra. Ternyata dia adalah seorang duda. Mulai sekarang aku harus lebih berhati-hati kepadanya. Jangan sampai dia dekat dengan Zahra." Entah kenapa pikiran Guntur mengarah ke hal yang negatif. Bisa saja pesona Zahra akan menarik perhatian sosok seorang Zein. Kurang lebih tiga jam lamanya Guntur dan Zahra berada di rumah Zein. Akhirnya mereka pun memutuskan untuk pulang saja, karena waktu malam pun sudah semakin larut. Ya, meskipun Zein selalu mencegah mereka berdua untuk pulang. Apa saja dia perlihatkan kepada Guntur dan Zahra hanya semata-mata untuk mengulur waktu saja. Yang tak lain pasti ada maksud tertentu dari Zein tersebut. Namun pada akhirnya Guntur dan Zahra pun bersikeras untuk pulang dan tak bisa dicegah lagi oleh Zein. Zein pun mengantarkan Guntur dan Zahra sampai di ambang pintu. Melihat sepasang suami istri itu masuk ke dalam mobil. Mobil Guntur dan Zahra pun melaju meninggalkan kediaman rumah Zein. *** Di sebuah kamar yang besar dan mewah terlihat sosok seorang laki-laki berwajah tampan dan bertubuh tegap itu sedang menatap foto seorang wanita cantik yang bermata teduh. "Sifa." Lelaki berwajah tampan itu menggumamkan nama tersebut dengan suara yang lirih. Terlihat wajahnya sendu dan sembab. Sangat jelas jika dia sudah menangis. Didekapnya foto wanita bermata teduh itu di dadanya. Yang hanya menyisakan kesedihan di dalam hatinya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (195)
Ernaa RM
kisah cinta yang romantis walaupun ada duri di dalamnya
kisah cinta yang romantis walaupun ada duri di dalamnya
10/05/2022
0bagus banget
12/07
0Bagus
13/06
0Lihat Semua