"Gila, Key, masa Bang Rey disuruh buat cereiin lo sih," ucap Difi setelah aku ceritakan semua yang terjadi tadi malam di rumah bunda. Aku menyesap jus melonku, kemudian mengangguk membenarkan ucapan Difi. "Gue serius, Dif, omanya Rey itu emang belum suka sama gue, masih musuhin gue. Jangankan gue yang baru nikah sama Rey kemarin, ayah mertua gue juga didesak buat cereiin bunda." "Gak waras tuh nenek tua. Terus-terus, Rey sama ayahnya nurutin permintaan gila itu gak?" Difi menatapku. "Ya nggaklah, mana mungkin ayah cerein bunda, gue bisa liat gimana cintanya beliau sama bunda, meskipun gue cuma menantunya," ujarku. "Dan Rey juga dengan tegas menolak itu. Rey juga belain gue mati-matian, nggak kek dulu yang diem aja waktu gue dihina." "Alasannya apa sih, Key, kok segitu nggak sukanya sama lo si omanya Rey itu? Terus masalahnya apa juga sampe nyuruh mertua lo cerai?" tanya Difi. "Alasannya cuma karena gue bukan berasal dari keluarga konglomerat kayak keluarga Rey, begitu juga bunda," jawabku jujur. "Cuma gara-gara itu?" Difi kembali bertanya, dan aku pun mengangguk. "Menurut gue, omanya bang Rey itu nggak tau terima kasih, udah untung lo bantuin keluarganya buat jadi pengantin pengganti calonnya bang Rey, coba kalo nggak ada lo atau lo nggak mau, udah pasti kan keluarganya menahan malu karena pernikahan Rey nggak jadi terlaksana." "Ya gitu deh, kalau orang yang cuma menilai dari segi materi." Aku menghela napas. "Tapi ya udahlah, selama Rey dan ke dua mertua gue baik sama gue, gue nggak bakal peduliin omongan oma, bukannya mau kurang ajar, tapi gue cuma bentengin hati gue biar nggak sakit hati kalau lagi-lagi dia menghina gue." "Lo yang sabar, Key, mungkin ini ujian rumah tangga lo. Nggak dikasih mertua julid, tapi ketemunya oma mertua julid." Difi menasehatiku. "Kalau gue nggak sabar, udah gue ajak duel tuh oma," kataku, kemudian aku dan Difi sama-sama tertawa. "Eh, Key, jalan yuk, kemana gitu, gue bosen nih." Ternyata Difi udah bosen, maklum udah dua jam lebih kami ngobrol ngalor ngidul nggak jelas. Hari ini kebetulan lagi free, nggak ada kuliah, jadi aku suruh Difi deh, buat main ke rumah nemenin aku yang sendirian karena mama lagi pergi. "Gimana kalau kita ke restonya Rey?" usulku. Difi langsung berbinar mendengar usulanku. "Ide bagus tuh. Tapi lo traktir kan? Soalnya gue lagi boke nih, kalau punya duit juga nggak mungkin mampu buat makan di restoran mewah milik bang Rey." Aku tertawa mendengar ocehan Difi. "Oke, tenang aja, gue pastiin kalau gue makan, lo juga makan." =================================== "Selamat siang, Nyonya Key ...." Seperti biasa, Alex menyapaku di depan pintu masuk resto, sembari membungkukan badannya. Apa si Alex ini tugasnya buat jadi penjemput tamu gini ya, soalnya kalau aku ke sini pasti Alex yang nyambut, nggak pernah gantian keknya sama karyawan yang lain. "Siang, Alex ...," kataku dengan riang disertai senyuman manis. "Widih, bening banget euy ...." Mata Difi berbinar melihat Alex. "Dia siapa tadi Key? Kenalin dong, Oh ya, kok gue baru liat ya, padahal waktu gue ke sini, nggak liat dia tuh," bisik Difi. Aku memberi isyarat pada Difi supaya diem. Malu juga karena Difi keliatan banget muji Alex. "Eh, Lex, Bang Rey ada di ruangannya?" tanyaku memastikan, karena siapa tau Rey lagi ke resto cabang. "Iya, Nyonya, Pak Rey ada di ruangannya," jawab Alex sembari menunduk. Aneh ya, ada cewek cakep begini di depannya, eh, malah lebih milih liatin lantai. "Oh, gitu." Aku mengangguk. "Eh, ya Lex, kenalin, ini Difi, temen aku, siapa tau kalian bisa berteman." Karena dari tadi lenganku terus disenggol Difi, maka dengan terpaksa aku mengenalkan Difi pada Alex. Siapa tau mereka jodoh, karena aku kasian sama Difi yang udah menjomlo lama. Nggak papalah aku ikhlasin Alex, toh sekarang aku udah jatuh cinta sama Rey. Difi tampak senang, aku mengenalkannya pada Alex. Dia mulai senyum-senyum sendiri. Alex mendongak, kemudian menatap Difi. Ia pun mengulurkan tangannya untuk bersalaman sama Difi. "Saya Alex, Mbak Difi," ucapnya sambil tersenyum. Dengan semangat yang membara, Difi langsung menerima uluran tangan Alex. "Gue Difi, Alex. Oh, ya, panggilnya jangan pake mbak dong, Difi aja, toh kayaknya kita seumuran deh." Senyum tak luput dari bibir Difi. Melihat sikap dan ucapan Difi, aku memutar bola mata, geli juga sama nih anak, tumbenan banget ganjen begini. "Oh, iya, Mbak, eh, Difi," ujar Alex sambil tersenyum canggung dan keliatan gugup. Tumben juga Alex begini, kalau sama aku biasa aja, apa jangan-jangan Alex naksir lagi sama Difi. Wah, project nih buatku deketin mereka. =================================== "Dif, lo langsung pilih meja duluan ya, gue mau nemuin Rey dulu di ruangannya," tuturku menyuruh Difi untuk memilih tempat duduk. "Hmm ... oke deh, tapi lo jangan lama-lama ya, gue udah laper soalnya." Elah, dasar perut karet, padahal di rumahku tadi abis makan roti sisir lima biji. "Iya. Eh, lo kalau haus, pesen minum aja dulu, bilang ke pelayan, kalau lo dateng sama gue." Difi hanya mengacungkan jempol tangannya menanggapi ucapanku. Sementara aku berlalu menuju ruangan Rey. Selain pengen ketemu sama dia, aku juga mau nganterin bekal lauk tumis kangkung makanan favoritnya. "Yuhuuu ... suamiku tercinta, istri cantikmu dateng nih," ucapku begitu membuka pintu ruangan Rey. Nahas, di situ ada perempuan cantik yang sedang duduk bersebelahan dengan Rey di sofa. Mereka sama-sama menatapku, bedanya Rey terlihat heran dan satunya tersenyum padaku. Duh, aku jadi malu dengan tingkah konyolku tadi. "Eh, ada bunda ternyata, kirain bang Rey sendirian," ucapku setengah malu. Bunda masih tersenyum. "Iya nih, Key, kebetulan bunda mampir ke sini. Ayo sini." Bunda mengajakku untuk duduk bertiga di sofa itu, dengan aku yang berada di tengah. Aku meletakkan paper bag berisi wadah makanan, lalu mengeluarkannya. "Ini, Bun, Key bawain bekal buat bang Rey, soalnya dia suka minta Key kirim tumis kangkung ke sini." "Bohong, Bun, aku nggak pernah nyuruh kok." Ya elah, pake mengelak segala nih pak suami, pengen dicium keknya, eh, astaghfirulloh, kok jadi mikir ke situ sih, kan lagi ada bunda. "Bunda percayanya sama Key," ujar bunda yang bikin aku merasa menang. Aku pun lantas menjulurkan lidah ke arah Rey, yang dibalasnya dengan tatapan tajam. ================================== "Ayo, Bang, dimakan dong, masa dari tadi cuma diliatin aja," bujukku setelah bunda pamit pulang. Hening. Kenapa sih nih orang, masa berubah jadi cuek dan nyebelin lagi. "Bang," panggilku seraya menggenggam tangannya, dan dia nggak menolak. "Masih marah ya sama aku? Kenapa sih? Kasih tau dong alasannya, biar aku bisa instrospeksi." Rey masih diam. Situasi seperti ini seketika membuatku jadi pening. Nih laki kok demen banget ngambek ya, rasanya kek aku lagi bujuk cewek yang lagi PMS deh. "Bang, kamu beneran cinta nggak sih sama aku? Kok dari tadi malem kamu diemin aku terus, apa salah aku sebenarnya? Apa kamu emang nggak pernah cinta ya sama aku, dan cuma boongan doang bilang cinta?" Nada suaraku mulai serak. "Kalau emang iya, kamu nggak cinta sama aku, sekarang juga kamu boleh kok, wujudin keinginan oma buat cereiin aku, hiks." Aku mulai terisak. "Sayang, kok kamu malah gitu sih?" Rey membawaku bersandar ke dadanya. "Sampai kapan pun aku nggak bakal cereiin kamu." "Terus gimana perasaan cinta kamu, Bang? Masih apa enggak, atau cuma pura-pura doang cinta sama aku?" Aku bertanya di sela-sela tangisanku. "Kamu masih raguin cintaku, hemm?" Rey melerai pelukan, dan menatapku secara intens. "Apa masih belum cukup juga pernyataanku waktu itu, sehingga kamu meragukan perasaanku?" "Habisnya kamu cuekin aku, dan kayak nggak nganggep aku. Aku kan jadi berpikir kalau kamu cuma mempermainkan aku, huhuhu." Tangan Rey mengusap pipiku yang udah banjir air mata, setelahnya ia mengucap bibirku sekilas, dan kembali membawaku ke dalam dekapannya. "Jangan nangis lagi, Istriku, karena aku sakit kalau lihat kamu menangis." Dia mengusap punggungku dan aku balas pelukannya. "Maaf, bukannya aku bermaksud untuk cuek sama kamu. Kamu juga nggak ada salah apa-apa kok sama aku. Aku mencintaimu, sungguh. Tolong jangan ragukan itu lagi." Oh, so sweet .... Ini suami Key, apa bukan sih, kok romantis. banget, tumben-tumbenan gini, tapi aku suka sih. Dalam pelukan Rey aku tersenyum menang. Akhirnya jurus air mata buayaku berhasil membuat suamiku kembali menyatakan cintanya. Sebagai seorang istri, aku pengen dong setiap hari si paksu nyatain cinta. Aku melepaskan pelukan lalu menatap Rey. "Ya udah deh, aku percaya. Eh, tapi kenapa kamu tadi malem tiba-tiba ngambek gitu?" Alis Rey terangkat sebelah, kemudian dia berdehem. "Aku cuma jaga jarak aja tadi malem, takutnya kelewat batas, kan kamu lagi mens. Terus kalau yang tadi sengaja diemin kamu, mau ngetes kamu dulu, sedih apa enggak kalau aku cuekin. Dan ternyata aku berhasil." Ya ampun ... ternyata aku dikerjain dari tadi. Okelah, sekor kita satu sama. To be continue
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (440)
RosaAtd
cerita nya bangus banget banyak pelajaran yg kita ambil.... orang yg kita benci tapi menjadi cinta...... aku tunggu kelanjutan ya kak....
01/08/2022
0
HartiniHeni
mks thor udah update panjang, boleh ga ada pov Rey nya, ingin tau aja alasan Rey pilih key waktu itu.
cerita nya bangus banget banyak pelajaran yg kita ambil.... orang yg kita benci tapi menjadi cinta...... aku tunggu kelanjutan ya kak....
01/08/2022
0mks thor udah update panjang, boleh ga ada pov Rey nya, ingin tau aja alasan Rey pilih key waktu itu.
23/12/2021
2bagus
13/02
0Lihat Semua