Part 53

"Rey ... kamu keterlaluan tau nggak!" ucapku greget padanya. Masa iya minta foto yang diambil sama dua ABG lucknut tadi.
"Kenapa Sayang? Kamu jangan marah-marah dong, nggak enak di depan adik-adik ini," ujar Rey sok lembut.
"Iya, Mbak, jangan marah-marah terus, entar cowoknya diambil cewek lain baru tau rasa lho." Eh, ini kenapa si cewek ABG malah bilang gitu, padahal udah aku tolongin motret dia tadi.
"Bodo amat! Mau diambil cewek lain kek, mau diambil nyi roro kidul kek, aku nggak peduli." Tangan kusilangkan ke dada, ngambek.
"Eh, jangan gitu, Mbak, gini-gini cowoknya cakep lho, aku aja kalah," timpal si ABG cowok.
Mereka pada bersekongkol apa gimana sih, kok pada memihak ke Rey semua, aku lho tadi yang dimintai tolong buat motoin mereka, harusnya mereka memihakku.
"Udah ya, adik-adik, pacar kakak jangan kalian godain terus, entar dia malah tambah ngambek, kalau ngambek nanti malam kakak yang nggak dapat jatah." Rey bener-bener udah keterlaluan, masa ngomong gitu ke mereka.
"Jatah? Kakak sama Mbak kan masih pacaran, nggak boleh jatah-jatahan, apalagi anu-anuan, dosa Kak. Nikah dulu sono baru ehem-ehem. Kayak aku sama cowok aku nih, punya prinsip nggak macem-macem sebelum sah, iya kan, Sayang?" Si cewek ABG sok menasehati Rey. Aku nggak percaya mereka nggak macem-macem, orang dari tadi aja nempel terus kek perangko, mana panggilnya sayang-sayangan lagi, eh sok-sokan punya prinsip.
"Iya dong." Si cowok tersenyum bangga.
Rey terkekeh sambil geleng-geleng kepala. "Kakak sama pacar kakak pacarannya udah dapet label MUI, jadi halal-halal aja mau ngapa-ngapain. Kalian yang harusnya nikah dulu sana."
Sepasang ABG itu saling berpandangan, terkejut mungkin. "Oh, ternyata suami istri, kirain masih pacaran sama kayak kita. Ya udah deh Kak sama Mbak, kita permisi dulu ya, maaf kalau kita ganggu, monggo kalau dilanjutin ciumannya, tapi kita saranin jangan di sini, takut diliat jomblo, ntar ngiri lagi, kan repot."
"Oh ya, jangan lupa terus mesra sepanjang masa ya, kayak aku sama cewek aku ini, biar kalian cepet dapet dedek. Bye Kak ...." Mereka berjalan pergi.
Sialan tuh ABG, sok-sokan ngajarin kek udah berpengalaman aja. Aku yang tadi malem baru pengalaman juga nggak sok kek gitu, cuma inget aja. Eh.
"Dengerin apa kata mereka tadi, Key. Kita harus mesra biar bisa segera punya anak." Rey berjalan menghampiriku kembali.
"Dih, siapa juga yang mau punya anak sama kamu," sinisku.
"Kalau nggak sama aku, lantas sama siapa? Kamu kan istri aku, perempuan nggak boleh punya suami lebih dari satu," katanya setengah kesal.
"Terus kalau laki-laki boleh gitu punya istri lebih dari satu? Sorry ya, dari pada nerima kamu poligami, mendingan aku jadi janda." Emosi sedikit mempengaruhiku.
Rey memelukku dari samping, lalu mencubit pipiku. "Siapa juga yang mau poligami sih? Punya istri satu aja nggak habis-habis, apalagi yang gemesin kayak kamu ini." Di lanjut dia mengecup kilas bibirku.
Oh, kenapa Rey jadi manis begini sih, seluruh bagian tubuhku juga sepertinya mulai biasa dengan setiap sentuhan Rey.
Eh, nggak boleh! Aku nggak boleh luluh sama dia, nggak akan.
===================================
"Makan malam?"
"...."
"Bukannya urusan bisnis udah selesai tadi siang?"
"...."
"Nggak bisa, Hil, aku mau makan malam berdua sama istriku, apalagi ini malam terakhir kami di sini."
Dari yang kudengar dari percakapan Rey di telpon itu, aku bisa menyimpulkan kalau Rey sedang bicara sama Sahila. Itu pun tadi Sahila yang telpon duluan, bener-bener nggak punya malu ya telponin suami orang. Untung aku orangnya baik nggak bar-bar, kalau enggak, udah aku hempasin pelakor gagal itu ke laut, biar dimakan hiu sekalian.
"Tapi istriku maunya berdua saja, tolong kamu jangan ganggu ya."
Telpon Rey tutup setelah mengatakan itu, bisa aku tebak kalau di seberang sana Sahila pasti lagi mencak-mencak karena usahanya mengajak Rey malam ini gagal.
"Key, ayo kita keluar makan malam," ajak Rey saat aku sibuk mengoles tubuhku dengan body lotion di ranjang.
"Di mana?" tanyaku singkat tanpa mengalihkan pandangan ke arahnya. Mengoles lotion jelas lebih menarik dari pada liat muka orang mesum itu.
"Di restoran bawah." Rey ikutan duduk di ranjang. Dari ekor mataku, dapat kutangkap kalau Rey sedang memandangku. Seneng pasti bisa liat tubuh molekku yang cuma pakai gaun tanpa lengan. Entah kenapa aku jadi suka pakai pakaian terbuka begini kalau di kamar. Eh.
"Nggak ada tempat lain apa? Bukan gimana-gimana sih, aku males aja kalau mantan kamu ganggu lagi. Tapi kalau kamu mau dinner sama dia juga nggak papa, aku bisa makan malam sendiri," ucapku sok membiarkannya, padahal dalam hati aku nggak rela Rey seneng-seneng sama mantannya itu.
"Aku nggak akan membiarkan istriku makan malam sendiri hanya demi wanita lain," bisik Rey di depan telingaku. Tangannya telah menyentuh lembut lenganku.
"Oh ya? Tapi aku beneran ikhlas kok kalau kamu mau pergi sama Sahila. Bukannya ini malam terakhir di Bali? Jadi sebelum pulang ke Jakarta, mending kamu lanjutin tuh seneng-senengnya sama mantan kamu itu." Sekali lagi aku membiarkan Rey untuk pergi.
"Siapa yang senang-senang?" Rey melerai pelukan, sepertinya dia sedikit tersinggung dengan ucapanku barusan.
"Lho, kan katanya tadi siang kamu habis seneng-seneng sama Sahila, ya udah sana diterusin mumpung masih di Bali. Jangan khawatirin aku, aku mah bisa makan malam sendiri," kataku sedikit sok kuat.
"Tadi siang aku sama Sahila ngurusin bisnis, Key, bukan untuk senang-senang, dan itu pun nggak berdua kok, ada kakaknya dia juga."
Oh, jadi tadi siang Rey bohong, yang katanya habis seneng-seneng sama mantannya itu.
"Terserah deh mau ngapain, aku nggak peduli." Aku menaruh body lotion ke meja rias.
Tiba-tiba Rey kembali memelukku. "Key, kamu wangi."
Bisikannya membuatku merasakan sensasi aneh itu, seperti kemarin malam.
"Ya iyalah wangi, kan udah mandi pake lotion juga, emangnya kamu. Awas ih, lepasin!" Aku melepaskan tangan Rey yang melilit tubuhku.
"Bukan itu maksudku, Key." Dia kembali memelukku dari belakang, dan kini lebih erat dari yang tadi. Napasnya terasa di tengkukku yang mulai dia singgahi. "Kamu pasti tau, aku ingin."
"Rey, jangan mulai deh, aku bilang kan cuma kemarin aja, dan nggak akan pernah lagi. Udah ih, lepasin." Tubuhku memberontak, namun pelukan Rey belum terlepas.
"Aku nggak akan lepasin kamu."
"Rey, jangan ngaco deh. Ayo kita keluar, katanya mau makan malam," ujarku berusaha membujuk agar Rey tidak bertindak lebih jauh lagi, pasalnya tangan dia mulai ....
"Makan malamnya nanti aja, Sayang."
"Re--"
Dan semua itu terjadi lagi. Aku kembali ditenggelamkan Rey dalam lautan surga dunia. Makan malam yang seharusnya kami lakukan, berganti dengan berbagi peluh di atas ranjang.
To be continue

Komentar Buku (440)

  • avatar
    RosaAtd

    cerita nya bangus banget banyak pelajaran yg kita ambil.... orang yg kita benci tapi menjadi cinta...... aku tunggu kelanjutan ya kak....

    01/08/2022

      0
  • avatar
    HartiniHeni

    mks thor udah update panjang, boleh ga ada pov Rey nya, ingin tau aja alasan Rey pilih key waktu itu.

    23/12/2021

      2
  • avatar
    Ar RohmanRizki

    bagus

    13/02

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru