Part 25

Setelah di rasa cukup, aku mulai berbaring dan bersiap memejamkan mata. Baru saja terpejam, tiba-tiba terdengar suara gaduh di depan pintu. Refleks aku menatap Rey yang juga tengah menatapku.
Ada apa ya?
Karena suara semakin gaduh aja, mau tidak mau akhirnya aku. turun dari ranjang kemudian berjalan menuju pintu. Penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya. Rey juga mengikutiku.
Setelah sampai di depan pintu, segera aku meraih gagangnya lalu membukanya perlahan. Kebetulan tadi pintunya nggak aku kunci, karena sebenarnya aku was-was berduaan sama Rey di kamar sesempit ini tapi pintu terkunci. Maksudnya kalau nggak dikunci kan aku bisa langsung bisa melarikan diri jika Rey mulai berlaku hal yang nggak terduga. Misalnya nyekik aku gitu, kan aku perlu waspada.
Pintu pun terbuka, dan terpampang lah wajah kedua orang tuaku yang lagi sama-sama berdiri berdampingan sambil kepalanya menunduk ke arah pintu. Entah apa yang sedang mereka lakukan, sehingga setelah pintu terbuka dan menampilkan sosokku, wajah mereka berubah pias.
"Mama, papa, kalian lagi ngapain di depan pintu kamar, Key?" tanyaku heran. Wajah mereka pun tambah pucat aja.
Mereka tampak salah tingkah, dan saling menyenggol lengan satu sama lain. Dih, kek anak ABG aja deh.
"Eh? Eng--enggak ngapa-ngapain kok, Key," jawab papa sambil menggaruk kepalanya. Waduh, jangan-jangan sekarang papa ketularan mama yang punya kutu rambut lagi. "Iya kan, Ma?"
Mama menganggukkan kepala dengan cepat. "Iya, Key, kita nggak lagi ngapa-ngapain kok, hehe."
Melihat mama yang nyengir gitu aku auto memicingkan mata. Biasanya kalau mereka salah tingkah gini berarti ada sesuatu, dan tentu aku harus tahu dong. "Bener?"
"Ya iya lah, masa kamu nggak percaya sih, jadi anak kok curigaan sama orang tua, nggak baik tau." Loh, loh, kok sekarang jadi mama yang ngegas sih, harusnya kan aku.
"Ya kalau tingkah mama sama papa nggak mencurigakan gini, Key juga nggak akan curiga lah," timpalku. "Lagian ngapain coba malam-malam gini berisik di depan pintu kamarku, mana gayanya udah mau ngintip lagi."
"Loh, siapa yang mau ngintip sih," sinis mama.
"Ya pasti kalian mau ngintip lewat sela-sela lubang kunci kan?" tuduhku.
Mama sama papa auto berpandangan.
"Ternyata anak kita bisa menebak, Ma," lirih papa dan masih bisa kudengar.
"Nah, bener kan," ucapku sedikit kesal.
"Ih, papa kok malah bilang-bilang sih," gerutu mama."
Lagi papa menggaruk kepalanya. "Ya maap, Ma, namanya juga keceplosan. Lagian kata mama tadi kan pengen liat proses pembuatan cucu untuk kita."
What? Ini orang tua keknya otaknya perlu di refresh deh, biar nggak jadi virus buat anaknya yang masih polos buat aku.
"Hem, hem, hem ...." Aku menyilangkan kedua tangan ke dada. "Jadi bener kan?"
Mama menampilkan wajah tak enaknya, mungkin malu udah ketahuan sama anaknya yang paling cute ini, dan Alhamdulillah masih suci. "Eh, kamu jangan salah paham dulu, Key."
"Terus?" Aku menaikkan sebelah alisku, dan tangan masih kusilangkan ke dada. Eh, kok aku jadi ngikutin gayanya si manusia batu sih.
Mama dan papa tampak berpikir. Pasti mereka lagi mencari alasan lagi buat menyangkalku. Ooh, my parents, anakmu tidak mudah untuk kalian bohongi. Karena aku kan juga sering bohong. Eh.
"Ada apa ini? Kok pada kumpul-kumpul di depan pintu? Mama sama Papa belum tidur?" Si manusia batu mulai menunjukkan sikap sok ramahnya. Pintu yang tadinya aku buka sedikit, kini tambah terbuka lebar.
Melihat menantunya keluar, wajah mama langsung berubah semringah, sedangkan papa masih dengan wajah konyolnya. "Eh, ini Rey, Si Key lagi salah paham, dikiranya mama sama papa lagi ngintipin kalian. Padahal kan kita tadi lagi main kejar-kejaran, karena mama kesel sama papa, setelah mama berhasil nangkep papa, mama pukul papa, eh malah terperosok di depan pintu kamar kalian, kebetulan pas Key buka pintu, jadinya disangka lagi ngintip."
Wow, alasan yang amazing. Mama emang pandai bersilat lidah. Tapi sayang, kemampuannya itu nggak menurun ke aku. Makanya aku selalu kalah kalau berdebat.
Aku mau kembali membuka suara, tapi tertahan karena Rey tiba-tiba memelukku dari samping. Ini apaan coba? Di depan mama papa nggak perlu lah drama, cukup di depan keluarga dia aja.
"Sayang, kamu nggak boleh nuduh mama sama papa sembarangan dong, nggak sopan," ucap Rey lembut, tapi bikin muak ini kuping. "Lain kali jangan gitu lagi ya."
"Ooh ... so sweet ...," ucap Mama dengan gaya lebaynya. "Jadi inget waktu kita masih pengantin baru ya, Pa?"
"Iya, Ma, persis kita dulu." Papa menimpali.
"Tuh, Key, dengerin kata suami kamu tadi, jangan sembarangan nuduh orang tua." Kini mama beralih menceramahiku. Playing victim banget kan.
###
Suara tarhim sebelum adzan subuh, sayup-sayup terdengar di kupingku. Nggak biasanya kedengeran, biasanya adzan subuh udah lama aku baru bangun. Mungkin kali ini aku lagi ketempelan malaikat kali ya, sehingga bisa denger suara menyejukkan itu.
Pelan kubuka mata dan merasakan kalau tubuhku seperti dililit. Dan ternyata dengan kurang ajarnya si manusia batu lagi tidur sambil memelukku.
Kejadian seperti ini sama persis waktu aku mendapati diriku yang tidur di pelukan Rey, waktu di kamarnya kemarin. Bedanya kemarin aku kaget dan refleks menjerit, tapi kali ini tidak.
Sebenarnya sekarang juga kaget sih, tapi aku menahan diri buat nggak jerit-jerit. Takutnya kalau aku menjerit, mama papa bisa denger dan nyangka yang enggak-enggak. Entar dikira lagi ngapain, kan repot.
Aku segera menyingkirkan tangan kekar Rey yang melilit perutku, dan menghempaskannya kasar. Tak diduga, tubuhnya malah sekalian terjatuh dari ranjang, dan kepalanya membentur meja rias. Haha rasain, siapa suruh macem-macem. Eh, ternyata kuat juga ya tanganku nyingkirannya, sampai buat dia terjungkal, kupikir tadi nggak terlalu keras.
"Aduh ...." Tangan kanan Rey, dia gunakan untuk mengusap kepalanya bagian belakang, sedangkan tangan kirinya, dia usap-usapkan ke badan. "Kamu apa-apaan sih, Key, sepagi ini sudah bikin perkara."
"Lo eh kamu yang apa-apaan, bikin perkara sendiri nyalahin orang," gerutuku.
"Maksud kamu?" Ye, ini orang malah berlaga sok bego.
"Ya ngapain tidur di ranjang, siapa yang suruh? Apalagi main peluk-peluk segala, bukannya udah diingetin kemarin."
"Apa salahnya tidur sambil meluk istri sendiri, Key?" Ini orang bener-bener nggak ngerti apa pura-pura nggak ngerti sih, kesel jadinya.
"Pikir aja sendiri!" ketusku.
Aku kembali merebahkan badan, dan menyelimuti seluruh tubuhku. Takut-takut kalau dia mau berbuat yang iya-iya.
"Jangan tidur lagi, Key, itu udah adzan, ayo sholat dulu," ucap Rey.
Aku bergeming mengabaikannya. Sebenarnya sih tadi niatnya mau bangun terus wudhu, eh keburu bad mood karena mendapati kelakuannya yang kurang ajar itu.
Rey terdengar menghembuskan nafas beratnya, kemudian berucap, "ya sudah, aku mau ambil wudhu dulu."
Suara langkah kaki terdengar, tak lama kemudian giliran suara pintu terbuka. Ternyata dia beneran mau wudhu.
Karena di kamarku nggak ada kamar mandinya, otomatis kalau mau wudhu ya harus ke toilet deket dapur.
Setelah yakin kalau Rey udah keluar, aku menyibakkan selimut yang menutup tubuhku. Bingung mau ngapain, akhirnya aku memutuskan bermain ponsel.
Melihat begitu banyak chat menumpuk tak bisa membuatku untuk tertarik membacanya, apalagi membalasnya. Aku abaikan saja chat-chat itu.
Tiba-tiba sekilas ide muncul di otakku yang pas-pasan ini. Segera aku menutup aplikasi berwarna hijau sejuta umat, dan beralih membuka kontak.
Setelah kontak yang kucari ketemu, gegas aku menekan tombol hijau untuk menghubunginya. Semoga aja dia udah bangun.
"Halo, Kak," ucapku setelah panggilanku diangkat olehnya.
"...."
"Maaf Key ganggu sepagi ini."
"...."
"Eh? Itu, emm ... kakak ada acara nggak hari ini?"
"...."
"Kalau gitu nanti siang bisa ketemuan nggak, di kafe biasa tempat kita nongkrong?" Aku bertanya ragu.
"...."
To be continue

Komentar Buku (440)

  • avatar
    RosaAtd

    cerita nya bangus banget banyak pelajaran yg kita ambil.... orang yg kita benci tapi menjadi cinta...... aku tunggu kelanjutan ya kak....

    01/08/2022

      0
  • avatar
    HartiniHeni

    mks thor udah update panjang, boleh ga ada pov Rey nya, ingin tau aja alasan Rey pilih key waktu itu.

    23/12/2021

      2
  • avatar
    Ar RohmanRizki

    bagus

    13/02

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru