logo text

BAB 20 ~ Tinggal bersama

“Ada apa?” tanya Vyna.
“Ini untuk kamu saja,” kata Adam sambil memberikan syal yang mereka perebutkan tadi.
“Tidak perlu, itu kan milik anda. Biar saya cari yang lain nanti,” tolak Vyna dengan halus.
“Terimalah, aku tidak begitu memerlukannya,” kata Adam tidak mau menyerah.
“Baiklah, saya ganti uang saja ya,” ujar Vyna sambil membuka tasnya.
“Tidak tidak, ambil saja aku yang membelikan ini untukmu.”
“Anda yakin?” tanya Vyna tidak percaya.
“Iya tentu saja, ambil lah,” kata Adam lagi.
“Baik, saya terima. Terima kasih banyak ya, kalau begitu saya permisi duluan,” ujar Vyna sambil melangkah pergi.
“Tunggu, aku Adam. Namamu siapa?” tanya Adam menghentikan langkah Vyna dan mengulurkan tangannya.
“Saya Vyna,” jawab Vyna sambil menjabat tangan Adam.
“Vyna… Ehm, maukah kamu temani aku minum kopi di kafe itu?” tawar Adam sambil menunjuk sebuah kafé di ujung taman.
“Maaf, tapi saya…”
“Kumohon, anggap saja sebagai bayaran untuk syal itu. Bagaimana?”
“Baiklah, tali sebentar saja ya,” jawab Vyna menyetujui.
“Oke,” sahut Adam.
Mereka pun berjalan bersama ke sebuah kafe yang ada di ujung taman.
“Terima kasih ya, atas syal nya ini. Dan soal semalam juga, terima kasih anda sudah memberi saya kesempatan untuk berfoto bersama,” kata Vyna membuka pembicaraan di antara mereka.
“Vyna, kita bicara biasa saja tidak perlu pakai saya anda. Cukup aku kamu, lagi pula kamu terlihat sedikit lebih muda dariku kan jadi panggil aku Adam saja ya.”
“Ehm… baiklah Adam,” kata Vyna sedikit kaku.
“Tidak perlu berterima kasih, aku senang melakukannya denganmu. Jadi sejak kapan kamu menjadi fansku?” goda Adam dengan terkekeh pelan.
“Hah fans? Maaf, tapi bukan aku yang ngefans denganmu,” jawab Vyna.
“Jadi kamu nggak ngefans sama aku? Lalu untuk apa kamu meminta foto bersamaku?” tanya Adam penasaran.
“Iya, jadi ada sahabatku yang sedang hamil dia sangat mengidolakan kamu. Karena ada suatu hal dia tidak bisa datang kesini, jadilah aku dia minta untuk menggantikannya meminta foto bersama dengan kamu,” kata Vyna menjelaskan.
“Yah, kukira kamu yang suka denganku. Hehe…,” Adam terkekeh sambik menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Vyna dan Adam terlibat obrolan yang sangat seru meski mereka baru bertemu, mereka membicarakan banyak hal mulai dari musik, film, dan lainnya. Baru Adam tahu bahwa Vyna adalah seorang pemain film pendatang baru, pantas saja Adam tidak terlalu mengenalinya. Namun setelah pembicaraan mereka ini, Adam berniat untuk menonton film Vyna nanti.
Tidak terasa waktu hampir dua jam telah mereka lalui dengan pembicaraan yang seru hingga mereka tidak menyadari di luar sana sedang turun hujan. Vyna yang tidak membawa mobil terpaksa menyetujui tawaran Adam untuk di antar pulang.
“Terima kasih ya Vyn untuk hari ini, hampir tidak pernah aku bisa menghabiskan waktuku selain dengan kedua saudaraku. Tapi dengan kamu aku merasa bisa menceritakan segala hal karena kamu bisa buat aku nyaman meski dalam waktu yang singkat. Aku senang bisa melewati hari ini denganmu,” ujar Adam tulus.
Mendengar ucapan Adam yang tulus itu membuat Vyna tersipu dan memberikan kehangatan tersendiri di hatinya. Setelah berpamitan untuk pulang, Adam segera membawa mobilnya pergi dari halaman rumah Vyna.
Saat akan membuka pintu rumahnya, Vyna terkejut karena pintunya tidak dikunci. Karena seingatnya sebelum pergi ia sudah mengunci pintunya. Dengan perasaan sedikit cemas, ia memberanikan diri untuk masuk dan memastikan siapa yang sudah masuk ke dalam rumahnya.
“Sweety… kamu sudah pulang?” tanya Vyna tak menyangka suaminya sudah pulang, karena dari tadi pagi suaminya itu tidak memberinya kabar dan juga tidak bisa dihubungi.
“Hay sweety, maaf ya aku tidak memberi kamu kabar,” kata Franc sambil memeluk Vyna.
“Kamu kemana saja seharian ini tidak bisa dihubungi, dan tiba tiba sekarang sudah ada disini?” tanya Vyna penasaran.
Belum sempat Franc menjelaskan, Elleanor baru saja keluar dari kamar tamu. Vyna pun terkejut melihat ada wanita lain yang pulang bersama dengan suaminya.
“Sweety, kenalkan ini Elleanor temanku dari Bravo,” kata Franc memperkenalkan Elleanor kepada Vyna.
“Teman?” tanya Vyna masih tidak mengerti.
“Iya, dia temanku. Dia baru saja diusir oleh suaminya, padahal dia sedang mengandung tapi suaminya tidak mau mengakui anak mereka. Dia tidak punya tempat tinggal dan dia juga tidak punya siapa siapa lagi, jadi… aku minta ijin kamu untuk membolehkan dia tinggal disini bersama kita untuk sementara waktu, boleh kan?” tanya Franc hati hati.
Vyna tidak tahu harus menjawab apa, ia masuk ke kamarnya lalu menutup pintunya. Ia tidak mengerti apa yang ia rasakan sekarang, haruskah ia percaya pada suaminya dan menerima wanita itu untuk tinggal bersama mereka? Atau meminta suaminya membawa wanita itu ke tempat lain saja? Entah lah, saat ini Vyna sedang tidak bisa berpikir dengan jernih.
Kemudian Franc menyusul Vyna masuk ke kamar. Ia pun menghampiri Vyna yang sedang berdiri sambil melamun di depan balkon kamar mereka.
Franc memeluk Vyna dari belakang sambil menyandarkan dagunya di bahu Vyna, “Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Franc.
Vyna hanya diam menghela nafas berat kemudian menggeleng pelan.
“Apa kamu tidak merindukan suamimu ini?” tanya Franc lagi sambil memiringkan kepalanya untuk melihat wajah Vyna.
“Aku lelah, aku mau istirahat,” kata Vyna sambil melepaskan diri dari Franc.
Franc mencoba memahami perasaan istrinya, akhirnya ia memilih keluar untuk memberi Vyna waktu berpikir.
Sebagai seorang istri tentu saja ia tidak ingin ada wanita lain yang tinggal bersama mereka, apalagi orang itu tidak dikenalnya sama sekali. Ingin rasanya mengatakan pada suaminya jika ia merasa sangat keberatan dengan hadirnya Elleanor di rumah mereka. Namun suaminya terlalu naif dan baik hati hingga ia mempersilahkan wanita asing untuk tinggal bersama dengan mereka.
Pikiran pikiran buruk mulai terlintas di kepala Vyna, apa benar wanita itu hanyalah orang yang tidak di kenal oleh suaminya lalu ditolong dan diajak kemari? Atau wanita itu memiliki hubungan khusus dengan suaminya? Bisa saja wanita itu orang yang jahat?
Namun dia juga merasa kasihan karena wanita itu diusir oleh suaminya dalam keadaan sedang mengandung. Vyna mencoba menghapus semua kemungkinan terburuk yang terlintas dikepalanya hingga akhirnya ia tertidur pulas karena kelelahan.

Komentar Buku (105)

  • avatar
    TampubolonChristina

    ok punya ceritanya

    11/08

      0
  • avatar
    SeptianiEva

    Good good

    07/05

      0
  • avatar
    hasimRijwan

    nice

    31/08/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru