Beranda/To Make You Feel My Love/
20. In The Field
"Ini kampung apa namanya, Om?"
Udara dingin membuat Dean merapatkan jacket yang membungkus badan. Di sampingnya, Papanya Syean berjalan dengan parang di tangan.
"Galogandang. Desa yang tenang dan nyaman. Udara sejuk, pemandangannya indah. Kamu bakalan betah berlama-lama di kampung ini." Sesekali parang diayunkan menebas beberapa ranting yang menghalangi jalan.
Setelah selesai sarapan pagi, Dean diajak mengunjungi sebuah kebun milik Mami-nya Syean. Awalnya Dean mau mengajak Syean sekalian, tetapi dilarang sama ayahnya. Katanya, ada pembicaraan rahasia yang harus dia diskusikan dengan Dean.
Mendengar itu, Dean merasa berdebar-debar. Apalagi ketika mereka mulai keluar dari rumah, ayah-nya Syean terlihat serius. Wajahnya mengelam dan dingin. Dean jadi bertanya-tanya, kenapa aura yang dipancarkan ayah-nya Syean mendadak terasa tidak nyaman.
Walau demikian, Dean mencoba membesarkan hati dan menganggap semuanya baik-baik saja. Dia sangat menikmati bagaimana ketika sampai di sebuah lereng bukit, matanya terpesona melihat keindahan yang ditampilkan alam. Sawah luas membentang, dengan tumbuhan padi yang menguning bagaikan lautan emas yang bercahaya ditimpa cahaya matahari pagi.
"Indah sekali, Om?" Tidak lupa mengucapkan kalimat syukur kepada Allah atas pemandangan yang luar biasa ini. Dari saku celana, Dean mengeluarkan hape dan menjepret beberapa foto pemandangan tersebut.
Ayah-nya Syean hanya tersenyum tipis. Gerak langkahnya semakin cepat, seolah-olah berburu dengan waktu. Jalanan sedikit mendaki dengan beberapa ilalang yang menutupi jalan. Ketika sampai di sebuah tikungan, di mana dari sana, ada semacam jurang kecil. Di bawah jurang, terlihat beberapa batu cadas yang jika kita terjatuh, wassalam. Hanya maut yang menanti.
Dean menahan nafas. Perasaannya semakin tidak enak. Dari tadi, ayah-nya Syean tidak berbicara sepatah kata pun. Seolah-olah dia sedang memikirkan sesuatu yang berat.
"Hati-hati!" Dean terkejut, ketika kakinya hampir saja tergelincir. Dengan sigap dia memegang akar pohon di lempeng bukit. Ayah Syean mengulurkan tangan, membantu Dean menyisiri jalanan yang memang lumayan terjal.
"Jauh juga, ya, Om?" Dean bertanya sambil berusaha mencari makna yang tersembunyi di balik mata lelaki separuh baya tersebut.
"Tidak, sebentar lagi kita sampai." jawabnya sambil melepaskan pegangan tangan Dean. Setelah melewati jurang tersebut, akhirnya mereka sampai di sebuah kebun yang ditanami Cengkeh, Kulit Manis, Pala dan beberapa pohon Durian yang sedang berbuah.
"Amboy ... ada durian, Om?" Dean langsung histeris. Dia akui, durian adalah buah kesukaannya.
"Tsss ...!" Kesenangan Dean ditanggapi dengan wajah tegang oleh ayah-nya Syean, "Jangan berisik! Coba kamu lihat ke arah sana?"
Lelaki tua tersebut bersembunyi di balik sebuah pohon Cengkeh, mengintip aktifitas beberapa remaja lelaki yang terlihat asyik melempari buah durian dengan batu.
"Ya ampun, Om! Maling-kah itu?"
"Bukan, penyanyi dangdut!" Ayah-nya Syean memutar bola mata, "Kamu tunggu di sini, lihat, apa yang akan Om lakukan sama begundal-begundal kurang ajar itu!"
Ayah-nya Syean membuka kaos oblong yang dia kenakan. Menampakkan kekekaran tubuhnya. Dengan memasang wajah bengis, parang di tangan, mulutnya melecutkan kemarahan.
"Woy ..., anak-anak setan!" Tubuhnya yang besar seolah-olah melayang, mengejutkan anak-anak tersebut. Semuanya kocar-kacir menyelamatkan diri, "Berani-beraninya kalian mencuri durianku! Tidak tahu-kah kalian kalau aku, Datuak Rajo Angek Garang, sangat membenci para pencuri!"
Remaja lelaki yang berjumlah lima orang itu dihadang oleh Dean. Wajah mereka pucat pasi. Takut.
"Mau ke mana, kalian?" Dean merentangkan tangan, mewanti-wanti anak-anak tersebut tidak kabur dari hukuman. Ayah-nya Syean yang ternyata bergelar Datuak Rajo Angek Garang, menjewer satu-satu telinga anak tersebut, menyuruh mereka jongkok di depan pondok yang berada tidak jauh dari batang durian.
Kelima anak tersebut menundukkan kepala takut. Mereka sangat tahu sekali dengan Datuak Rajo Angek Garang, orang yang sangat disegani dan kaya raya di kampung kecil ini.
"Siapa yang menyuruh kalian mencuri di sini?" Suara Datuak menggelegar, membuat kelima anak itu serempak saling mengeratkan pelukan. Ada yang menangis ternyata.
"Ampun, Datuak! Ampun! Kami ngaku salah ... kami jangan dipukul ... ampun, Datuak!" Anak yang menangis sujud-sujud di kaki Datuak Rajo Angek Garang. Celananya sudah basah karena kencing. Berbahaya sekali kalau sudah membuat Datuak Rajo Angek Garang berang.
"Aku tidak akan memukul kalian. Jika aku melihat kalian mencuri lagi, aku tidak segan-segan memotong kaki dan tangan kalian! Aku paling benci sama orang yang suka mencuri! Kalian paham?"
"Paham, Datuak!" Kelima anak itu sepakat menjawab dan mengangguk.
"Aku hapal wajah kalian dan tahu siapa ayah dan ibu kalian. Jika, kalian tidak berubah, maka aku akan buat perhitungan dengan orang tua kalian! Sekarang, minggat dari sini! Dan jangan pernah menginjakkan kaki lagi di kebunku ini! Pergi!"
Tanpa dikomando, kelima anak itu berlari tunggang-langgang. Dean hendak tertawa namun mengurungkan niatnya. Ayah-nya Syean benar-benar marah ternyata. Wajahnya masih menunjukkan kekesalan.
Tidak habis akal, Dean menurunkan tas gendong yang dia bawa. Mengeluarkan sebotol air mineral.
"Minum dulu, Om?"
Datuak Rajo Angek Garang menerima botol plastik tersebut, membuka penutupnya dan menyesapnya pelan. Kakinya beranjak menuju lesehan pondok. Duduk dengan nyaman sambil berselonjor.
"Dean, sini duduk!" ujarnya sambil berusaha tersenyum. Dean dengan cepat duduk di samping calon mertuanya itu, "Maaf, ya? Om agak sedikit emosi. Jujur, kalau kesalahan didiamkan atau dibiarkan, akan membuat rusak masa depan anak-anak itu. Pencurian selalu dimulai dari hal kecil, lalu terbiasa melakukan kejahatan serupa yang lebih besar. Mau jadi apa bangsa ini, kalau dari kecil sudah terbiasa mencuri? Om betulkan, Dean?"
Dean menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Terungkap sudah kenapa ayah-nya Syean terlihat kesal sedari keluar rumah tadi. Rupanya, dia mendapat pesan, kalau beberapa hari ini, kebunnya dijarah orang.
"Kamu suka durian, Dean?"
Mendengar pertanyaan itu, Dean semangat mengangguk. Jakunnya langsung berdisko ria. Datuak Rajo Angek Garang tertawa lepas, lalu dari kantong celananya, dia mengeluarkan sebuah kunci dan melemparkannya ke Dean.
"Kunci apa ini, Om? Kunci wasiat?"
"Bukan!" Datuak Rajo Angek Garang mendengus, "Buka saja gembok pintu pondok ini. Coba temukan sesuatu di dalam. Siapa tahu kamu suka?"
Dean berdiri dan segera membuka kunci gembok. Begitu pintu terbuka, santernya bau durian langsung membuat adrenalin di tubuh Dean meningkat. Di sudut pondok, terlihat ada sekitar 20 durian yang teronggok manja.
"Ya Tuhan, nikmat mana lagi yang kamu dusta-kan, Dean?" Tanpa ba bi bu, dia segera menenteng tiga buah durian keluar dan meletakkan di depan Datuak Rajo Angek Garang, "Om, saya mau makan ini, ya? Please, Om? Saya ... bisa gila kalau tidak makan durian ini!"
"Lebay! Buka saja sendiri! Emang itu semuanya untuk kamu, kok!" Datuak Rajo Angek Garang mengambil parang yang dia selipkan di dinding, menyerahkan ke Dean.
"Saya terharu, Om! Durian sebanyak itu beneran untuk saya?"
"Ho'oh! Kemarin pas Syean nelpon, ngasih tahu kalau disuruh sediakan durian. Karena katanya, calon suaminya itu Hantu Durian!"
"Wahh, Syean sampai segitunya. Pasti Ibu yang ngasih tahu kesukaan saya ini. Benar-benar calon isteri idaman!"
Dean meraih satu buah durian dan mulai mencecarnya dengan parang. Bagai mengeluarkan jurus golok terbang, dalam hitungan menit buah durian itu hancur jadi serpihan kecil-kecil.
Datuak Rajo Angek Garang melongo terkejut, "Ap ... apa yang kamu lakukan?"
"Lah, kan mau makan durian Om. Gini kan cara mengeluarkan isinya?"
Lelaki tua itu menepuk jidatnya, "Kamu beneran tidak tahu cara mengupas durian atau pura-pura tidak tahu?"
Dean tersipu malu, "Sejujurnya, saya terbiasa menerima durian yang siap santap, Om. Ketika Ibu beliin untuk saya, duriannya tinggal saya makan. Ga' ngerti deh gimana cara mengeluarkan buahnya dari cangkang yang dipenuhi onak duri ini!"
Untuk ke sekian kalinya mata Datuak Rajo Angek Garang menggelinding, kembali dia menepuk jidat.
"Siniin goloknya. Onde mande, gimana sih, masa' mengupas durian saja tidak bisa!" Datuak Rajo Angek Garang mengambil satu buah durian, dan dengan hati-hati dia mengupas buah tersebut. Mata Dean berbinar cerah melihat isi durian yang menguning cantik. Bagaikan paha ayam yang menggoda iman untuk menyantapnya sekejap mata.
"Om, saya tidak bisa tunggu lama!" Dean menahan tangan calon mertuanya itu dari mengupas durian. Dean mengambil satu sisi bagian yang berisi daging durian yang lezatos maknyoss.
"Jangan lupa baca bismillah, Dean!" Datuak Rajo Angek Garang berteriak stres. Buah durian yang hampir masuk ke dalam mulut Dean, tertahan sejenak. Dia tersenyum malu, lalu,
"Bismillahirrahmanirrahim, semoga durian Ayah Mertua membawa berkah dan semakin sayang sama menantu! Aamiin!"
"Aamiin! Loh, malah Om amin-kan! Ada-ada saja, hahaha!"
Dean tidak menggubris kata-kata ayah-nya Syean. Tanpa malu lagi, dia melahap habis ketiga buah durian tersebut. Bersendawa keras dan tertawa terbahak-bahak kesudahannya.
"Kenapa kamu menangis?" Datuak Rajo Angek Garang bertanya heran. Dean memencongkan bibir, "Ini bukan menangis, Om. Tertawa," desis Dean sambil membersihakn sisa-sisa durian di bibirnya.
"Oalah, kirain kamu menangis! Karena tetiba saja matamu berair. Terharu-kah?"
"Banget Om. Sudah lama saya tidak makan durian, sejak almarhum ayah tiada. Akh, makasih banyak, ya, Om? Sungguh, saya tidak akan lupa kenangan ini. Kita wefie dulu, yuk, Om?"
Belum sempat orang tua itu menjawab, Dean sudah merapat ke sampingnya, mengangkat kamera henpon, dan,
"Cheeze ...."
Ceklek.
Keduanya memeriksa hasil foto.
"Bagaikan ayah dan anak. Dua-duanya gagah dan tampan! Tega ya, ninggalin gue sendirian di rumah, dan ente berdua enak-enakan makan durian di sini! Aku kesal, aku benci, aku bete, aku bete sama kamu ... Aku bete ... bete ... bete ... Ihhh kesel!"
Dean dan Datuak Rajo Angek Garang melengak kaget, memastikan kalau yang berdiri di belakang mereka saat ini adalah,
"Syean?"Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (38)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
mantap
15/04/2025
0bagus banget sihh
09/04/2025
0cerita novela sangat bagus☺️
18/03/2025
0Lihat Semua