logo text

15. Icha Terpukul

"Saya mohon biarkan saya ke luar, Pak. Saya berubah pikiran. Silahkan Bapak pecat saya saja," pinta Icha. Wajahnya sudah basah oleh keringat dan air mata.
Ia menyesal, ia plin plan dalam membuat keputusan. Namun, ia terlambat. Gadis itu telah masuk ke dalam perangkap harimau.
***
Sementara itu di luar sana, tiga orang laki-laki berdiri di depan kamar 310. Dengan sekali gesek pintu terbuka.
Ketika mereka berhasil membuka pintu mereka tecengang. Kamar yang mereka datangi sungguh bagaikan kapal pecah. Semua benda terlempar. Sudah tak berada di tempatnya lagi.
Karena ketiga orang itu masuk dengan mengendap-endap, Pak Roy masih tak sadar bahwa di kamar yang ia pesan itu sudah ada orang lain selain dirinya dan Icha.
Posisi Pak Roy membelakangi pintu. Otomatis, ia tak tahu ada orang yang masuk ke dalam kamarnya.
Icha yang saat itu sudah terpojok dengan posisi terlentang melihat mereka masuk. Namun, Icha diberi kode oleh Brian agar tidak berteriak.
Icha lega, dalam hatinya ia bersyukur doanya dikabulkan. Brian datang menolongnya.
Brian mengeluarkan ponsel serta mengambil gambar Pak Roy dan Icha. Sebagai bukti jika sewaktu-waktu Pak Roy menuntutnya dan pihak hotel atas gangguan kenyaman. Rekaman itu ini akan menjadi bukti jika ia berusaha melakukan tindakan asusila pada pegawainya sendiri.
Begitu rekaman dirasa sudah cukup, Brian memberi aba-aba pada manager hotel agar bersuara.
"Ehem, selamat siang Pak. Maaf boleh kami minta waktunya?" tanya manager hotel.
Pak Roy yang saat itu sudah siap menerkam Icha terperanjat. Ia tak menyangka ada orang lain di dalam kamarnya. Wajahnya merah padam saat melihat Brian. Ia yakin itu semua adalah atas permintaan Brian untuk menyelamatkan Icha.
"Hei, kalian sedang apa di sini. Ini kamar sudah saya pesan. Kenapa mengganggu!" bentak Pak Roy, tak suka.
"Maaf, Pak. Tapi kami mendapat laporan bahwa Bapak akan melakukan tindakan pemerkosaan. Kami tidak mau hotel kami dituntut bekerja sama dengan Bapak," jelas manager hotel.
"Pemerkosaan apa! Saya dan dia suka sama suka, kok!" bentak Pak Roy tak mau kalah.
"Benar itu, Icha?" tanya Brian menoleh pada Icha yang meringkuk di pojok kamar.
Dengan pelan Icha menggeleng. Air matanya mengajak sungai. Tubuhnya bergetar karena takut.
"Maaf, Pak. Dilihat dari kondisi kamar dan korban. Apa yang Bapak lakukan tidak mungkin dilakukan atas dasar suka sama suka. Pasti ada unsur paksaan di sini. Saya sudah merekam semua keadaan di kamar ini. Icha akan jadi saksi jika diperlukan. Kami tak segan akan melaporkan Bapak atas tuduhan percobaan pemerkosaan jika Bapak tak mau bersikap kooperatif." Panjang lebar Brian menjelaskan posisi mereka. Ia tak mau berlama-lama karena khawatir dengan kondisi Icha.
Wajah Pak Roy yang tadinya sangar berubah menjadi pucat. Rupanya ia takut jika berurusan dengan polisi.
Ia kemudian mencari ponsel dan jasnya yang telah terlempar entah ke mana di kamar itu. Setelah ketemu, ia melenggang pergi tanpa sepatah katapun.
Brian langsung menghampiri Icha. Dibantu dengan pegawai hotel, ia memberikan Icha minum.
Perlahan Icha minum segelas air sampai habis. Air matanya masih terus turun dari kelopak mata indahnya. Melihat itu, hati Brian teriris. Dalam hatinya Brian bertanya. Apa yang membuat Icha sampai menuruti keinginan Pak Roy untuk datang ke hotel ini.
Brian penasaran. Namun, ia urung menanyakannya pada Icha. Gadis itu butuh ditenangkan saat ini.
"Kamu enggak apa-apa, Cha?" tanya Brian lembut.
Icha mengangguk. Ia menangis sesenggukan. Hati Brian hancur melihatnya seperti itu. Ingin ia memeluk. Namun, ia sadar ia tak berhak melakukannya.
Diusapnya puncak kepala Icha yang sedang menunduk dengan tangan dan lutut menutupi seluruh wajahnya.
Icha menangis semakin meraung. Ia takut sekali. Namun, ia sadar telah berbuat bodoh dengan bermaksud menukarkan harta sucinya demi bisa bekerja. Ia lupa bahwa Sang Maha Pemberi Rezeki tentu tak akan tinggal diam. Satu pintu tertutup seribu pintu terbuka lebar. Selama ia masih mau berusaha mendapatkan rezeki yang halal.
"Astagfirullah ...."
"Astagfirullah ...."
"Astagfirullah ...."
Lirih Icha terus beristighfar. Ia memohon ampun atas sempitnya hati dan pikirannya.
Brian memberikan kesempatan pada Icha untuk menenangkan diri. Ia sadar Icha sangat terpukul dengan kejadian barusan. Seorang gadis sepertinya pasti syok diperlakukan kasar oleh lelaki. Tak jarang, hal tersebut dapat membuat si gadis menjadi trauma terhadap lelaki. Brian tak mau Icha seperti itu.
"Mas, makasih sudah mau menolongku," ucap Icha lirih.
Icha sangat malu pada Brian. Ia tak berani menatap Brian. Wajahnya terus menunduk. Icha sadar apa yang dilakukannya sangat salah.
"Sudah kewajiban mas, Cha," jawab Brian.
"Aku yang salah, Mas. Aku yang mau dibujuk olehnya," jelas Icha. Air matanya kembali membasahi pipi.
"Ssst, sudah. Bukan salah Icha. Mas yakin ada alasan kuat Icha melakukan ini," ucap Brian menenangkan sang pujaan hati.
Icha bergeming. Ia larut dalam pikirannya. Perasaan bersalah, rasa takut, dan malu. Semuanya menjadi satu.
"Kita pulang sekarang, yuk. Pasti ibumu sudah cemas menunggu di rumah," ajak Brian lembut.
Icha mendongak.
Ibu ....
Ia lupa sang ibu pasti sangat khawatir. Kenapa ia sampai melupakannya. Padahal ia di sini takut karena ibunya tak bisa berobat.
Mengingat sang ibu Icha kembali tergugu. Brian kembali mengusap pucuk kepala Icha. Ia menahan diri agar tidak merengkuh tubuh gadis mungil itu dalam pelukannya.
***
Mobil berhenti di pelataran sebuah rumah sederhana. Di teras tengah duduk seorang wanita paruh baya.
Wanita itu adalah ibu kandung Icha. Hatinya was-was sejak tadi. Bertambah khawatir ketika sang putri belum juga sampai di rumah selepas Maghrib.
Begitu ia melihat sebuah mobil berhenti di depan rumahnya, ia langsung berdiri.
"Ya Allah kenapa, Nak."
"Ibu ... huhuhu. Maafin aku, Bu." Icha tergugu saat melihat ibunya.
Wanita itu langsung menghambur saat sang putri dipapah ke luar oleh seorang pria. Terlebih dengan kondisi sang putri yang begitu lemas. Hatinya makin mencelos.
"Kita bawa Icha masuk dulu ya, Bu," ucap Brian santun.
"Iya, Nak. Ayo masuk."
Mereka berdua memapah Icha masuk ke dalam rumah kemudian mendudukkan Icha di kursi tamu.
Icha masih menangis. Dipeluknya sang ibu sangat erat. Ibunya merasakan bahwa Icha sangat ketakutan. Diusapnya punggung putri semata wayangnya itu dengan lembut. Meski ia belum mengerti apa yang terjadi, membuat Icha tenang dan merasa aman adalah yang terpenting saat ini.
Brian menatap kedua wanita itu iba. Ada rasa ingin melindungi mereka seperti ia melindungi mamanya.
Sadar ditatap begitu dalam oleh orang yang mengantar anaknya, ibu Icha menoleh pada Brian. Wajahnya seperti tak asing. Sangat mirip dengan orang yang dikenalnya bertahun yang lalu.
"Terima kasih sudah mengantar anak saya. Maaf sebelumnya kalau boleh tahu namanya siapa ya, Nak?"
Bersambung

Komentar Buku (52)

  • avatar
    Syifaatul Fatihah

    sangat bagus ceritanya

    28/10

      0
  • avatar
    tedjo pramonofanny

    kenapa ceritanya tdk dilanjutin? sy tunggu jawaban guys

    24/10

      0
  • avatar
    BebenBeben

    Menarik

    07/05/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru