Beranda/Mencari Pembunuh Ibu/
31. Cerita Kinar
Cerita Kinar
"Nduk, Nadia?" panggil Bude Narti.
"Jangan sedih, ibumu sangat menyayangimu. Kamu tahu, Lastri sudah mengorbankan segalanya agar kamu bisa hidup," jelas Bude.
Aku yang semula tertunduk sedih sambil mengusap air mata dengan ujung baju, langsung mendongak memandang Bude Narti.
Bude mengangguk sambil tersenyum. Seakan tahu, aku penasaran dengan ucapannya.
Tanpa kuminta, Bude Narti melanjutkan ceritanya.
"Dahulu Lastri bercerita pada Bude. Ayahnya tiba-tiba terkena serangan jantung begitu mengetahui kehamilannya. Sedangkan ibunya sudah lebih dahulu meninggal. Selepas ayahnya meninggal, Lastri hidup dengan neneknya. Namun, masyarakat mengetahui kehamilannya dan mengusirnya dari kampung."
"Karena neneknya sudah tua, Lastri memutuskan untuk pergi seorang diri. Dengan bayi diperutnya, Lastri ke sana kemari pindah kontrakan. Sampai ketika kandungannya sudah berusia delapan bulan, beberapa orang suruhan ayahmu mengejarnya. Namun, ia berhasil lolos. Lastri kemudian dipertemukan dengan Bude."
"Kenapa ayahku menyuruh orang mengejar ibu, Bude?" tanyaku heran.
"Kata ibumu, ayahmu menyuruhnya untuk menggugurkan kamu. Namun, ibumu tak mau dan lebih memilih melarikan diri. Namun, seiring waktu pelariannya diketahui oleh ayahmu."
"Ya Allah, ayahku tega sekali, Bude. Bude tahu siapa ayahku? Aku tak pernah melihatnya, bahkan fotonya pun aku tak pernah tahu. Ibu selalu marah jika aku bertanya tentangnya," ujarku.
Aku tak menyangka, ternyata hidupku setragis ini. Lahir dari perbuatan zina. Tak diakui ayah. Bahkan ibuku pun dibunuh.
"Selama ini, kamu dendam kepada siapa?" tanya Bude.
Aku tertegun mendengar pertanyaan Bude.
"Suryo, Bude."
"Siapa dia?" tanya Bude lagi.
"Kata Bik Marni dia yang membunuh ibuku, tapi ...,"
"Tapi apa?" desak Bude.
"Tapi aku tak yakin apakah Bik Marni berbicara jujur tentang pembunuhan itu. Atau hanya akal-akalan saja," ucapku.
"Bude mau tanya, kamu diberitahu tidak alasan kenapa ibumu dibunuh?" tanya Bude.
Aku menggeleng.
"Dan kami gak pernah bertanya?" Bude meninggikan suaranya. Dahinya berkerut.
Aku menggeleng lagi.
"Ya Allah, Nduk. Kalau kamu salah orang bagaimana? Kalau kamu dimanfaatkan sama Marni bagaimana?" cecar Bude.
Benar juga kata Bude. Kenapa selama ini aku tak berpikir sampai ke sana?
Apa masalahnya sampai Suryo membunuh ibuku. Kenapa juga tak aku tanyakan pada Bik Marni.
Salah. Aku telah salah langkah. Aku ceroboh. Bagaimana jika yang membunuh bukan Suryo. Dan aku hanya dimanfaatkan oleh Bik Marni?
Tapi untuk apa?
Kenapa Bik Marni repot-repot menggunakan aku untuk balas dendam. Sedang ia sama sekali seperti tak ada masalah dengan Suryo.
Ah, rasanya pelik sekali masalah ini.
"Assalamualaikum." Terdengar salam dari luar.
"Waalaikumsalam," jawab aku dan Bude bersamaan.
Dari suaranya aku dapat menebak. Itu suara Kinar. Ternyata ia datang satu jam lebih cepat dari dugaanku.
"Lho lagi pada ngapain? Ngerumpiin aku, ya?" tanya Kinar centil.
Bude Narti langsung melempar bantal ke arahnya.
"Pede," cetus Bude.
Aku hanya tertawa melihat tingkah mereka berdua. Benar-benar seperti Tom and Jerry.
"Bude, ponakan datang, tuh dikasih makan atau apa. Ini malah dilempar bantal. Kalau kue bantal sih aku mau. Laper, nih." Kinar mengusap-usap perutnya.
"Nanti. Kamu boleh makan kalau sudah cerita sama kami." Bude menarik tangan Kinar kemudian didudukkan di ranjangku.
"Ihhh, Bude cerita apa? Tumben banget Bude mau dengar ceritaku," ucap Kinar.
"Itu, katamu tadi ketemu cowoknya Nadia di rumah Marni," ucap Bude lugas.
Kinar yang terkejut karena Bude menyebut cowokku dan Bik Marni melihat ke arahku.
"Iya, Nar. Ceritakan saja," ujarku.
"Lah, kamu cerita sama Bude juga, Ci?" tanya Kinar kaget.
"Wahhh, ini sih bakal bocor ke mana-mana," lanjutnya.
Plak!
Lengan Kinar di pukul Bude Narti. Aku ikut meringis saat Kinar mengusap-usap lengannya yang sakit.
"Kamu, tuh ponakan gak sopan sama Bude. Sudah, cerita saja. Gak usah banyak omong," ujar Bude.
"Iya, deh, iya," ucap Kinar pasrah.
"Jadi gimana?" tanya Bude tak sabar.
"Hmm. Bude gak sabar banget. Jadi gini ceritanya. Kami, kan, nginep di rumah Bu Marni. Terus waktu kami sedang makan malam ada tamu ke rumah Bu Marni. Nah, aku yang sudah selesai makan ke dapur mau cuci piringku. Eh, ternyata ada Bu Marni sedang menyiapkan teh. Waktu aku lihat tangannya yang gemetaran saat ngangkat baki aku nawarin bantuan."
Kinar menjeda ceritanya sejenak memandang ke arahku dan Bude yang serius mendengarkan.
"Terus-terus," ucap Bude Narti.
"Terus aku bawa, deh baki isi teh itu. Pas aku lihat ternyata di ruang tamu itu ada cowok ganteng. Wajahnya gak asing. Aku ingat-ingat, perasaan pernah lihat. Dan ternyata memang aku lihatnya di ponsel Suci. Aku sempat lupa namanya. Tapi, waktu Bu Marni manggil namanya 'Arfan'. Aku jadi ingat namanya sama dengan nama cowokmu itu, Ci."
"Arfan mau ngapain di sana, Nar?" tanyaku penasaran.
Kinar mengangkat bahu.
"Tapi, yang kudengar ia sempat menyebut Nadia." Kinar setengah berbisik saat mengucapkan Nadia.
"Gak usah bisik-bisik. Bude lebih tahu semuanya dari kami, Nar," ucap Bude Narti.
Kinar menatapku heran. Aku hanya mengangguk, mengiyakan.
"Nanti aku cerita," ucapku lada Kinar.
"Terus gimana itu? Katamu ada temenku yang keceplosan bilang mengenal Suci," ujar Bude.
"Oia, Bagus. Haduh anak itu emang niatnya cari muka. Untung aku pelet terus supaya gak bisa cerita banyak-banyak tentangmu," ujar Kinar geram.
"Cari muka bagaimana?" tanyaku.
"Iya, si Bagus itu, tanya-tanya ke Bu Marni selain ngorek informasi tentang Nadia ia juga cari kesempatan supaya bisa dekat sama Bu Marni. Taulah gimana dia. Pengen tenar kali," jelas Kinar.
"Terus bagaimana?" desak Bude tak sabar.
"Bik Marni tahu aku ada di sini, Nar?" tanyaku.
"Hmm. Aku gak yakin, sih kalau Bagus cerita waktu gak ada aku. Tapi, setelah Arfan datang, Bu Marni jarang menemani kami. Ia hanya melepas kami saat mau pulang," ucap Kinar.
"Ohhh, syukurlah. Tapi, kira-kira Arfan bilang apa, ya?" tanyaku.
"Entah aku gak tahu," jawab Kinar.
"Sudah, gak ada yang ditanyakan lagi?" tanya Kinar.
"Bude mau nanya lagi gak?" tanyanya pada Bude Narti.
Aku dan Bude sama-sama tercenung. Apa yang dilakukan Arfan sampai Bik Marni tak fokus bahkan ketika ada tamu di rumahnya.
***
Aku masih penasaran apa yang dilakukan Arfan. Aku menimang ponsel dalam genggaman. Rasanya ingin sekali segera menghubungi Arfan dan menanyakan hal ini.
Aku aktifkan kartu baru khusus untuk menghubungi Arfan.
Ketika ponsel dinyalakan.
Ting!
Ting!
Berderet pesan masuk ke dalam ponselku. Semuanya dari Arfan. Karena nomer kartu ini memang hanya Arfan yang tahu.
Puluhan pesan kubaca. Lebih ke ungkapan rasa rindunya padaku. Ia mendesak ingin segera bertemu denganku.
Aku tak segera membalas. Satu persatu kubaca semua pesan.
Sampai pesan terkahir membuatku tercengang.
[Nad, kamu tahu, ibu angkatmu itu ternyata wanita simpanan ayahku]
Aku tahu itu sejak lama. Dan itu yang membuatku kehilangan kepercayaan pada Bik Marni. Tapi bagaimana Arfan bisa mengetahuinya?
BersambungUnduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (57)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
baguss
30/06/2025
0baguss bangettt kakk
24/04/2025
0novel sangat bagus
01/04/2025
0Lihat Semua