Beranda/Mencari Pembunuh Ibu/
22. Rindu
Rindu
"Lantas apakah aku harus menyerah pada Bagus, Ci?" tanya Kinar.
"Tergantung," jawabku.
"Tergantung?" tanya Kinar tak paham.
"Iya, sudah sejauh apa kamu berusaha. Dan, untuk apa kamu berusaha. Hanya demi Bagus atau untuk menjadikanmu lebih baik," jawabku.
"Kok, aku gak paham, ya, Ci, hahahaha." Aku menepuk dahi. Kinar ... Kinar ... panjang lebar aku jelaskan tetap saja dia tak paham.
"Hmm ... begini lho, Nar. Selama ini pernah gak kamu tunjukkan rasa suka kamu ke Bagus. Semacam kode, gitu?" tanyaku.
Dahi Kinar mengerenyit. Sejurus kemudian ia mengangguk.
"Sering, sih. Tapi Bagus cuek aja, tuh," ucap Kinar lirih.
"Nah, berarti Bagus memang gak tertarik sama kamu. Kalau boleh saran, nih, ya. Kamu gak usah terang-terangan nunjukin rasa suka ke Bagus. Jual mahal istilahnya," saranku.
"Ih, mau jual mahal gimana? Bagusnya juga gak pernah ngejar aku," cetus Kinar.
"Maka dari itu, Bagus gak suka tipe yang mengejar dia," jawabku.
"Ah, mumet, Ci. Muter-muter gini jadinya," keluh Kinar.
"Maksud aku. Kamu fokus sama dirimu, bikin kamu jadi hebat di mata Bagus. Ah, bukan di mata semua orang. Nanti, bukan hanya Bagus lelaki lain yang lebih baik dari Bagus juga akan memilihmu jadi pendamping," terangku pada Kinar.
"Jadi aku harus ikhlasin Bagus, nih?" tanya Kinar.
"Ya begitu lebih baik, biar kamu bisa fokus. Lagian kamu tuh nyadar gak, sih? Kamu tuh cantik, baik, pinter nari. Bisa dapetin yang lebih dari Bagus, tau," ucapku.
Kulihat wajah Kinar merona. Sejurus kemudian bahuku dijadikan sasaran empuk untuk cubitan mautnya.
"Awwww! Sakit tau!" rutukku.
"Hehehehe, habis kamu mujinya gak tanggung-tanggung, Ci," ucap Kinar.
Sedang asyik-asyiknya kami mengobrol. Bude Narti datang.
"Nar, kamu mau nginep di sini?" tanya Bude.
"Iya, Bude. Aku mau bantuin urus Suci," jawab Kinar.
"Yaudah, besok Bude mau ada perlu. Nanti Bude urut kaki Suci dulu. Terus kamu yang nyiapkan sarapan, ya," tutur Bude.
"Iya, Bude. Tenang aja, serahkan sama Kinar," ucap Kinar sambil menepuk dada.
"Awas, lho nanti Suci jangan dikasih makanan gosong."
"Yah, Bude jangan buka kartu, dong. Aku kan malu sama Suci," protes Kinar.
"Lah, emang iya, kok," ucap Bude sambil lalu.
Kinar hanya merengut mendengarnya. Aku mencolek Kinar. Saat melihat wajahku ia meringis tertawa.
"Eh, iya. Kamu ada janji sama aku. Sekarang ceritain itu cowok yang kamu suka," tagih Kinar.
"Eh, iya gimana?" Aku pura-pura lupa.
"Mulai, deh," sungut Kinar.
"Hahahaha, iya, deh."
Akupun mulai bercerita tentang Arfan. Awal mula kami bertemu. Kedekatan kami. Serta bagaimana pribadi seorang Arfan. Ah, mendadak aku sangat rindu pada lelaki bermata sendu itu.
"Terus sekarang kalian gak pernah kontekan lagi?" tanya Kinar.
"Ya, lebih tepatnya aku yang menutus hubungan, sih. Aku ganti nomer ponsel," ucapku.
"Yah, sayang banget. Padahal kalian kelihatannya cocok. Dari ceritamu aku sudah menduga Arfan itu ganteng dan baik banget pastinya," ucap Kinar sok tau.
"Ih, sok tau banget," selorohku.
"Coba, aku mau lihat, ada fotonya?" tanya Kinar penasaran.
"Ada, sih. Tapi, gak ah. Nanti kamu naksir lagi," godaku.
"Enggak, lah. Tenang aja, aku setia kawan, kok," ucap Kinar.
"Iya, deh. Iya ...."
Aku mengambil ponsel kemudian membuka galeri foto. Di sana banyak foto Arfan dan aku sedang bersama. Setiap selesai pentas, kami selalu menyempatkan diri untuk berfoto.
Kinar membuka satu persatu foto dalam galeri ponselku.
"Pantas kamu gak mau sama Bagus. Yang ini lebih mantep, hahahah," ucapnya sambil matanya terus melihat foto-foto di ponselku.
"Ci, kami ternyata udah nari ke mana-mana, ya. Aku salut, kamu bisa ninggalin itu semua demi ketenangan. Tapi ...."
"Tapi apa?" tanyaku penasaran.
"Kalau jadi kamu, aku sayang bakal ninggalin itu semua. Eh, tapi enggak tahu juga, sih," ucap Kinar.
"Aku mau menata hidupku kembali, Nar. Aku takut jika dikelilingi orang yang gak tulus. Beruntung aku di sini ketemu sama kamu dan Bude Narti. Yah, meski beliau galak tapi aku bisa merasakan ketulusan hatinya," jelasku.
Kinar mengangguk paham.
"Eh, ngomong-ngomong kamu kangen ga sama si Arfan ini?" tanya Kinar.
Aku terdiam cukup lama. Memang benar aku sangat rindu padanya. Namun, aku masih belum bisa percaya padanya.
"Mulai deh kebiasaan ngelamun lagi," cetus Kinar.
"Hmm gimana, ya. Kangen, sih," jawabku lirih.
"Yaudah telepon!" seru Kinar.
Ah, Kinar andai kamu tahu kalau Arfan adalah anak dari orang yang membuat kuingin membalas dendam.
"Nanti, aja," ucapku sambil menggeleng.
"Aku ngantuk, Nar. Besok ngobrol lagi, ya," ucapku pada Kinar.
"Oke, deh. Maaf, ya jadi ngingetin kamu sama dia," sesal Kinar.
"Enggak apa-apa, Nar," ucapku sambil tersenyum.
Kinar kemudian pergi ke kamarnya untuk beristirahat. Sementara aku, masih memikirkan Arfan.
Sedang apa dia?
Bagaimana kabarnya sekarang?
Aku mengusap ponsel yang masih dalam genggaman. Memandangi wajah tampan Arfan. Ingin rasanya memencet nomernya yang masih tersimpan di ponselku.
Namun, aku masih ragu. Aku takut jika tindakanku malah membahayakan aku dan dirinya.
Tapi, rindu ini sudah tak terbendung. Selama aku mengenal Arfan ia sangat baik padaku. Rasa khawatir dikhianati olehnya sebenarnya hanya ketakutan ku saja.
Bukankah ia sendiri yang mengajak aku bekerjasama dengannya untuk membalas dendam pada ayahnya?
Lantas, kenapa kini aku ragu padanya. Aku merasa bersalah telah mencurigai Arfan karena alasan tak berdasar, terlebih bukan Arfan yang membuat aku menjadi tak percayaan pada orang lain.
Aku harus menghubunginya dan meminta maaf padanya.
Kuusap layar ponsel menutup aplikasi galeri yang berisi foto Arfan. Kemudian membuka aplikasi berwarna hijau dengan gambar gagang telepon di tengahnya.
Kubuka daftar kontak. Kemudian mengklik nama Arfan.
[Hai Arfan. Aku rindu]
Ah, tidak masa begitu pesannya. Aku menghapus kembali pesan yang telah kuketik.
Lama aku berkutat dengan keyboard ponsel dengan huruf-huruf di atasnya.
Dengan kursor yang terus berkedip di kotak berwarna putih. Berkali-kali aku mengetik dan menghapus kembali.
Aku memejamkan mata. Masih ragu untuk menghubunginya. Aku tak yakin apakah ia masih menunggu.
Bagaimana kalau ia marah?
Aku bahkan menghilang tanpa kabar. Seperti menganggapnya tak ada. Seperti ia tak berarti apa-apa untuk hidupku.
Bagaimana jika ia tak mau berbicara denganku lagi?
Tapi ... bagaimana jika ia pun rindu padaku?
Aku bimbang. Aku tak sadar telah habis satu jam untuk mengetik dan menghapus pesan untuk Arfan.
Aku membulatkan tekad kemudian mengetuk kembali.
[Hai Arfan, apa Kabar? Ini aku Nadia]
Send. Aku selesai mengirim pesan pada Arfan. Hatiku berdebar. Namun, aku diliputi kelegaan luar biasa.
Tak berapa lama kemudian, ponselku berbunyi. Nama Arfan meminta untuk melakukan panggilan video.
"Angkat ga, ya? Hm ...." Aku menimbang ponsel sambil memikirkan apa yang akan aku lakukan.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (57)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
baguss
30/06/2025
0baguss bangettt kakk
24/04/2025
0novel sangat bagus
01/04/2025
0Lihat Semua