logo text

Bab 24 TAK TEPAT SASARAN

Nuen memicingkan matanya menatap legam mapilion yang tengah mengumpulkan beberapa energi kedalam tubuhnya. Nuen melepaskan jubah hitamnya perlahan memperlihatkan baju berornamen kecoklatan membentuk lukisan yang cukup mewah, di dadanya terdapat beberapa pulau kecil dengan aksara kuno bertuliskan “BATIK”.
Nuen mengambil ancang-ancang, ia mengeretakkan bahunya maju mundur kemudian di susul gerekan kepalanya bak menari-nari hendak menyambut sesuatu. “ tuan, suatu kehormatan untuk kaum ku bisa memperlihatkan karyaku pada anda” ujar nuen lekas.
Mapilion mengangkat sebelah alisnya, heran dan penuh rasa penasaran memenuhi sisi kepada “ mari kita lihat sebagus apa karya mu “ balas mapi tegas. Nuen tersenyum ia kemudian mengangkat tangannya kesamping seakan-akan menungu sesuatu. Jail mulai khawatir, ia melongok mengintip suasana di luar yang cukup ramai lalu lalang penduduk setempat “dahwi, bisakah kau lebih dekat pada mereka berdua “ ujar jail. “kenapa, bagaimana bila dahwi terluka paman” raut cemberut mulai muncul di bibir tipis gadis itu. ia mengira jika jail pasti bermaksud membuat dirinya sebagai tameng untuk meredam pertarungan kedua mahluk tersebut.
“sstt, paman jamin tidak ada yang akan terjadi pada dahwi” guman jail perlahan sembari berjongkok memandang wajah dahwi yang penuh dengan kecurigaan. “benar yaa” ujar dahwi lagi memastikan sang laki-laki berpakaian serba hitam itu tidak berbohong padanya. Jail menganggukkan kepalanya “tentu saja, paman akan membuat tempat ini tidak terdeteksi” ujar jail lagi memperkuat idenya agar sang gadis mampu. “baiklah,” walau masih sedikit ragu, dahwi akhirnya mau menuruti pinta jail. Laki-laki itu melihat perlahan langkah kaki dahwi, setelah gadis itu cukup jauh darinya, jail kemudian memegangi pintu tempat awal mereka masuk, kemudian ia mengeluarkan beberapa serbuk dari sakunya lalu meniupnya kearah pintu tersebut.
Dahwi menengok heran, sekilas memang tidak terjadi apapun pada tempat itu, pintu rumah kosong tersebut masih sama. Suara penduduk yang lalu lalang masih terdengar dari dalam sedangkan nuen dan mapilion masih juga memperlihatkan kearoganan masing-masing. Dahwi mengerenyitkan dahinya “apa yang paman itu lakukan” sembari mengerucutkan bibirnya bak buah tomat yang bulat dan montok membentuk di wajahnya.
Saat dahwi sedang asik mengamati jail, tiba-tiba dari arah samping dahwi yang sangat dekat dengannya melesat sebuah bongkahan kayu besar yang berhasil membuat mulut dahwi mengangga” wow” bongkahan kayu itu melesat dengan kecepatan tinggi melaju manghantam dinding bagunan tua itu dengan keras hingga menimbulkan suara bising yang sangat mengejutkan bagi dahwi, jail dan rudeus.
Dahwi segera menutup telinganya sesaat sebelum benturan besar itu terjadi. “wow” mulutnya kembali terbuka saat ia melihat bongkahan kayu melenturkan dinding bak bertemu dengan dinding karet yang lentur. Dahwi kemudian bangkit mencoba mendongakkan tubuhnya melihat penduduk sekitar dari jendela. Alangkah terkejutnya dahwi saat ia melihat kerumunan itu bahkan tidak ada yang menoleh kearah gedung tua mereka. Dahwi menutup mulutnya tercengang.”kereen” ujarnya lagi sembari memberikan jempol jari kanannya pada jail.
Jail tersenyum puas kala mendapat pujuan langsung dari putri kerajaan grover tersebut. Sementara mapilion nampak bersiap-siap menyambut beberapa serangan yang sudah hampir meluncur mengenai wajahnya. Dari tangannya telah keluar tombak uv space yang selalu setia menemaninya.
Tiba-tiba suasana menjadi sedikit cangung, ada yang aneh dengan pergerakan bongkahan kayu yang di pantulkan dinding karet tadi.
Bruk ..
Cretak..
Blas...
“eh ?” jail pertama beraksi matanya melotot bak biji terong bulat yang masih setengah matang
“kenapa ?” seru rudeus terkaget akan apa yang terjadi dalam pandanganya
“eh ?” dahwi yang terlihat membelakkan matanya
“eh ? mapilion yang seakan tak percaya.
Mereka semua berujar hampir secara bersamaan menghadapi nuen yang kini jauh dari perkiraan mereka. Mereka berempat seakan tak percaya akan apa yang mereka lihat barusan, sebuah bongkahan kayu bulat berdiameter cukup besar merubuhkan tubuh nuen dalam sekali hantaman. Mulut mapilion mengangga lebar, ia berusaha melihat sekeliling memastikan semua orang yang ada di dalam ruangan menyaksikan apa yang ia saksikan. “barusan itu apa “ jail mendekati tubuh mapilion yang nampak bingung dengan pandangan tak terduga.
“ko.. kok bisa ?” ujar jail setengah mematung. Mereka berempat berdiam diri tak bereaksi cukup lama. Hingga beberapa detik kemudian nuen membuka matanya langsung mendapatkan kesadaran penuh kemudian ia bergerak menyingkirkan bongkahan kayu yang masih menempel di tubuhnya.
“paman nuen ?” seru dahwi yang sedikit menyudut sedikit gugup.
Nuen belum beraksi, tubuhnya terasa berat, kepalanya terasa beputar-putar walau ia hanya dalam posisi duduk saja. Nuen mengelengkan kepalanya, membelalakkan matanya memastikan bahwa dirinya baik baik saja.
“apa sudah sadar?” bisik dahwi yang perlahan mendekati jail dengan gaya patungnya. Jail mengelengkan kepalanya, bukan hanya dahwi yang merasa bingung, jail pun sama bingungnya di satu sisi ia merasa bangga, tentu saja jail lebih senior ketimbang semua orang yang ada di ruangan itu, jadi sudah kewajibannya untuk melindungi rekannya dari amukan warga sekitar. Di sisi lain ia masih bertanya-tanya apakah yang terbangun saat ini nuen yang ia kenal atau nuen dengan pengaruh ilusi mamon.
Tiba-tiba rona wajah mapi berubah total, wajahnya yang cukup menyeramkan menjadi lebih dari sekedar menyeramkan “eiiii.. kenapa bangun huh “ bentaknya pada nuen yang seakan tak tau apapun yang terjadi.” Tuan mapi, ada ada “ saut pemuda 25 tahun itu.
“kenapa kau bangun.......” pekik mapi lagi kali ini sangat dekat dengan telinga kiri nuen membuat nuen reflek menutupi daun telinganya dengan bahu. Sorot mata nuen benar-benar bingung, ia menoleh pada jail lalu di balas tatapan acuh jail yang berpaling darinya. Begitupun dahwi, saat nuen melihatnya lekas dahwi malah menghindari kontak mata dengannya. Hanya rudeus yang mengelengkan kepalanya dengan tatapan sama bingungnya saat nuen melihat kearahnya.
“aiiiss... kenapaa.... “ mapi kembali berteriak.. “kenapa... aku kalah dari balok kayu.. huh... padahal aku kan sudah menyiapkan energiku untuk menghajarmu !!, malah dia..(menunjuk kepada balok kayu yang tak berdosa) yang menang ah.. sialan” wajah frustasi mapi terlihat jelas kesal bukan main. Bukan pada nuen yang terbangun tetapi pada sebongkah kayu yang mencuri startnya menghantam tengkuk nuen lebih dulu.
jail ingin sekali berpura-pura tak melihat, tak mendengar. Tetapi apalah daya, tingkah mapilion tak dapat di tolak determinanya, ia kemudian tertawa terbahak-bahak melihat pemimpin dabbat terbesar di dunia di kalahkan oleh sebongkah kayu tanpa perlawanan.
Begitu pun dahwi, terlihat segitu sulit menahan tawanya, hingga akhirnya meledak juga menjadi suara nyaring memenuhi seisi ruangan.. “hahahahahhahaaa” tawa tersebut bersautan dengan tawa jail yang merasakan hal yang sama.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata menatap lekas menuju kearah mereka sedari tadi tanpa ada yang curiga. Laki-laki itu mengambil secarik kulit dabbat lalu menuliskan beberapa simbol di dalamnya, kemudian ia memangil burung elang penyampai pesan, laki-laki itu membalutkan kulit itu di pergelangan kaki sang burung.

Komentar Buku (384)

  • avatar
    Shiroooooo

    it's so amazing

    30/03

      0
  • avatar
    SaputraRahmad

    seru banget dan menarik sekali ceritanya

    17/02

      0
  • avatar
    Nurul Huda

    seruuu

    21/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru