Beranda/A TAMPLATED LIFE/
Bab 22 SUARA LEMBUT PERTAMAMU ITU, AKU SUKA
“aku pergi duluan, arasia, luka kakakku belum di obati, aku hanya membuat lukanya tak terpapar banyak debu” seru arasia dengan langkah cukup panjang menjauhi kedua mahluk itu yang saling terpaku. “oo.. iyaa.. baiklah” jawab arasia dengan terbatah-batah.
Find merasa tak enak setelah kepergian sang adik, ia merasa seakan-akan sang adik memberikan ultimatum padanya untuk tetap bersikap baik pada gadis yang ada di sampingnya kini. Find segera membuka perbannya “di..disini...” ujarnya gugup sembari membuka perban usang yang kemudian memperlihatkan rona daging merah yang terbuka cukup lebar.
Arasia mendekati tubuh find, membuka kantungnya kemudian mengeluarkan krim salep obat luka dari dalam kantung tersebut. Arasia tak banyak bicara, ia hanya mendekati tubuh find kemudian mengoleskan krim tersebut tepat di luka pemuda itu. “apa.. kau masih marah padaku “ cetus find meretakkan suasana dingin mereka berdua. Arasia tak menjawab, sedari tadi arasia berusaha menahan nafasnya agar jantungnya tak berdegup kencang, jika begitu pastilah ia akan mengeluarkan aura panas kembali.
Perasaan arasia tak menentu, di satu sisi ia senang menyentuh kulit kasar find yang sangat jarang mandi itu, jangan tanya bagiamana baunya, pastilah sangat aneh tentu bau khas tubuh laki-laki. Walau begitu arasia tak tergangu, aneh memang, rasanya bau find seperti parfum khusus yang menenang kan baginya “kau.. benar-benar marah ya” guman find lagi yang merasa jika arasia benar-benar marah padanya.
“tidak, kau.. hanya jarang mandi” ujar arasia membuat find merasa malu.. “ah, benarkah.. hahahahha” find gugup mencoba menciumi tubuhnya “apa aku sebau itu” ujar find yang merasakan aroma tak sedap di hidungnya. Arasia tersenyum mendengar ucapan find yang sangat menarik baginya. “apa kau terluka, maksudku apa aku melukaimu.. tidak tidak. Kau apa kau terkena pedang atau.. ah begitu “ cetus find lagi gugup tak tau harus mengatakan apa, kali ini suara find terdengar lembut dan hangat walau sedikit mengelitik. Arasia menghentikan aktivitasnya sesaat kemudian matanya dan mata find beradu pandang untuk beberapa waktu.
Pandangan itu bak taman bunga semerbak yang menebarkan wewangian membuat suasana hati bahagia. Tubuh mereka mematung, sorot mata yang sulit di jelaskan hampir-hampir find menyentuh wajah arasia jika tidak di sadarkan debu yang menderup kencang terbawa angin.
Wusssss....
Mereka berdua bergeming, memalingkan pandangan masing-masing, arasia segera menutup krim salepnya dan mempercepat pemasangan perban di tubuh find, sedangkan find memalingkan wajahnya beralih melihat padang pasir yang penuh debu halus. “sudah selesai” ujar arasia yang bangkit dari temat duduknya, find yang melihat arasia juga ikut bangkit seraya memastikan kembali apakah perbannya terpasang dengan benar.
Arasia uring-uringan, ia ingin pergi tapi tak kunjung beranjak membuat ia seperti membolak balikkan tubuhnya tanpa berjalan ”aku pergi” akhirnya keluar juga di mulutnya kata-kata yang sedikit tak nyaman baginya. Find menganguk kemudian ikut berjalan membelakangi arasia. Mereka beranjak dari tempat tersebut mengambil dua arah yang berlawanan
KERAJAAN GROVER
Gerbang timur kerajaan grover terlihat dari pandangan mapilion, nuen mengatakan jika mereka harus meninggalkan pasukan dabbat di lembah sebelum tengah malam jika ingin melewati kerajaan itu kemudian menyebrang kepulau seberang yang tak jauh dari istana kerajaan grover.
“Nuen kau yakin kita bisa masuk, ah maksudku aku bisa masuk “ ujar mapilion pada nuen yang tengah berbincang pada kedua anak yang mereka temua di jalanan. “kau mungkin akan menakuti penduduk sekitar, jadi lebih baik pakai jubah penutup” ujar nuen memberikan pengertian pada mapi. Mapi menganguk mengerti isyarat nuen yang merupakan bekas penduduk kerajaan grover.
Mereka berberlima berjalan di depan di iringi pasukan hitam yang berjumlah sekitar 20 orang di belakangnya, kini mereka memasuki kota raja. Sesaat setelah sampai mapilion merasa ada yang aneh dengan kota itu, walau ramai dengan penduduk kota itu seperti mati, sama seperti kota yang lainnya tak jauh berbeda tetapi entah mengapa penduduk sekitar seolah-oleh beraktivitas dengan kota yang cukup subur.
“apa yang mereka lakukan ?” ujar mapi pada nuen, “mereka telah masuk dalam ilusi, aku juga akan masuk jika sudah sampai di batas kerajaan” balas nuen. “tunggu, maksudmu kau juga akan seperti mereka saat berada di kerumunan itu” mapi berkata seraya menunjuk kearah kerumunan yang terlihat seperti pasar. Nuen mengangguk“jika kita melewati pasar, kau harus pura pura jika mereka menawarkan barang yang bagus, jangan membuat mereka marah, mereka hanya tak sadar jika kehidupan yang mereka jalani hanyalah ilusi” ujar nuen lagi. “bagaimana dengan mu jail ?” tanya mapilion, “aku bukan penduduk grover, jadi aku tidak ikut perpengaruh “ jawab jail “dahwi juga tidak terpengaruh saat memasuki kota raja” ujar rudeus menyauti pertanyaan mapilion.
“dulu, ketika dahwi masuk kepasar untuk pertama kalinya, dahwi mengatakan kepada penduduk grover yang sebenarnya ia lihat, tetapi penduduk grover tak percaya, kecuali aku dan paman nuen” cetus rudeus lagi.
“apakah itu alasan dahwi di cari selama ini” tanya mapi
“iya, dahwi memiliki bakat khusus, ia tidak terpengaruh pada kekuatan ilusi tuan mamon, mungkin dahwi adalah satu-satunya orang yang tak terpengaruh akan kekuatan itu” seru rudeus.
Mapilion menganguk angukkan kepalanya, kini langkah mereka semakin pendek menuju kearah kerumunan, ada perasaan tak enak di batin mapilion. Para penduduk sudah terlihat dengan jelas di matanya, mereka tersenyum bahagia, mereka bercanda dan saling melempar pujian satu sama lain. Alangkah terkejutnya para penduduk jika mereka tau yang sebenarnya terjadi.
Nuen menghentikan langkahnya sebentar sebelum memasuki gerbang istana “tuan mapi, jika saya terlihat kosong dan tak terkendali mohon pukul saja saya agar kesadaran saya kembali” pintanya pada mapilion.
“mohon jaga tuan putri dahwi dan pangeran rudeus” ujar nuen pada jail. “paman berhentilah memangilku pangeran, aku sudah bukan lagi pangeran bahkan aku juga sempat lupa akan namaku yang asli” protes rudeus pada nuen yang di sambut senyuman manis dan angukkan nuen.
Nuen mengambil nafas panjang kemudian ia hembuskannya perlahan, kegiatan ini ia lakukan beberapa kali sebelum ia melanjutkan perjalanan mereka. Sesampainya di gerbang istana situasi ramai mulai mereka rasakan, “pangeran nuen, lama tidak bertemu “ seru seorang laki-laki yang sedang menjajahkan ikan segar dalam pandangan nuen. Akan tetapi sangat berbeda jauh dari pandangan jail, mapilion dan dahwi, mereka dapat melihat dengan jelas, jika laki-laki itu hanya menjual tumpukan sampah laut yang menggunung, mapilion mencoba memejamkan matanya saat ia melihat dagangan penduduk di sebelah pak tua yang menyapa nuen, penduduk itu menjual beberapa potong tubuh manusia yang masih menyisakan jari – jari yang masih lengkap.
Pedagang di sebelah pak tua itu kemudian menyapa nuen yang kini sudah berlalu dari tempat yang pertama “tuan nuen, anda sangat tampan hari ini, apa anda ingin membeli daging sapi segar”.. nuen nampak tertarik “wah, lama sekali aku tidak memakan danging sapi “ ujarnya yang tentu saja sudah dalam mode ilusi mamon. Buru-buru dahwi mengelengkan kepalanya memberitahu nuen untuk tak membeli daging tersebut.
“maaf bu, kami baru saja kembali, kami harus segera menghadap raja jadi mungkin setelah itu kami akan kembali membeli danging segarmu” ujar dahwi tenang. “tentu saja cantik” ibu rentah itu tersenyum ramah.
Dahwi menarik paksa tangan nuen untuk segera menjauhi tempat itu walau neun nampak benar-benar ingin membeli dagangan sang ibu tadi. Setelah melewati beberapa pedangan yang terlihat ramah bahkan sangat ramah tiba-tiba langkah rudeus terhenti “ibu...” rudeus berguman kearah patung besar tanpa kepala yang kini tepajang di alun alun pasar. Dahwi yang menyadari jika rudeus juga sudah masuk kedalam pengaruh mamon mencoba menahan rudeus dengan mengengam erat tangan sang kakak. “lepaskan aku dahwi, ibu sedang menunggu, kita harus kesana segera” dahwi mengelangkan kepalanya, tapi nampaknya tangan dahwi tak cukup kuat menahan pergolakkan rudeus.
Anak laki-laki itu menghamburkan diri berlarian menuju patung tersebut kemudian memeluk patung itu dengan erat. Dahwi memalingkan wajahnya bak orang dewasa dahwi menahan tangisnya kemudian menjumpai rudeus yang tengah bahagia bertemu dangan sang ibu. Tiba-tiba nuen bersujud pada patung tersebut “lapor yang mulia, kami telah kembali” jail dan mapi saling menatap heran sedangkan dahwi sesungutan menahan tangisnya. Walau berat, dahwi kemudian seoalah olah terpengaruh agar tak menarik perhatian orang sekitar. “paman, ayo beri sapa ibuku “ ujar rudeus yang sontak membuat kedua mahluk tersebut mengangah aneh “ikuti saja paman” bisik dahwi lagi. Jail dan mapi menoleh penduduk sekitar yang sudah mulai merasa aneh.
Dengan ragu jail dan mapilion memberikan salam kepada patung tersebut seoalah-olah patung itu adalah orang penting. Sementara dahwi bergerak seakan-akan memeluk ibunya sendiri walau ia sadar patung itu sama sekali bukan ibunya bahkan mirip saja tidak.
“ibu, aku harus segera bertemu raja, jadi ibu kami tinggal sebentar ya” ujar dahwi pada patung itu membuat rudeus juga menanggukkan kepalanya “dada ibu.. tunggu aku di istana” ujarnya pada patung tersebut.
Mapilion nampak mengelengkan kepalanya menyadari betapa menyedihkannya kehidupan manusia-manusia yang tinggal di kerajaan grover. Tidak ada rumah yang nampak bagus di sekitar kerajaan grover yang ada hanyalah bangunan tua yang sudah setengah hancur dengan manusia-manusia usang dengan tubuh dekil dan kurus. Bagaimana mereka bisa bertahan sejauh ini, merupakan sebuah anugrah tersendiri jika melihat keseluruhan kota yang mereka tinggali bak tong sampah penuh kotoran dan limbah rumah tangga.
Sesaat kemudian, mereka akhirnya lolos juga dari kerumunan yang benar-benar menyita waktu. Tangan jail nampak gemetar menahan sebuah bata besar di dalam wadah plastik bekas yang terlihat kotor lagi menjijikan. Benda itu adalah pemberian pedangan yang tak dapat mereka tolok pedangan itu mengatakan jika bata itu merupakan makanan khas daerah grover yang mereka namai martabak. tentu saja itu adalah kebohongan yang nyata untuk jail. Buru-buru jail berniat membuang benda tersebut setelah keluar dari kerumunan “tunggu paman, biarkan saja dulu benda itu di tanganmu. Mereka akan mengangapmu tak sopan jika kau membuang bata itu” ujar dahwi yang kini bak orang dewasa dengan sifat pengertiannya.
Walau di katakan begitu, jail nampak tak suka, diam diam jail membuang bungkusan yang hampir memuntahkan isi perutnya tersebut kedalam selokan yang penuh dengan kotoran dan jentik jentik. Buru buru jail pergi dari sana sembari menutup rapat hidungnya..
Sesaat kemudian, suara ramai nampak berkerumun mendekati mereka..Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (384)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
it's so amazing
30/03
0seru banget dan menarik sekali ceritanya
17/02
0seruuu
21/09/2025
0Lihat Semua