Cakram angin itu berputar searah jarum jam dengan dua pola hijau kekuningan seperti menjadi satu bagian di atas telapak tangan mapilion, giginya menyeringai putih kekuningan di tambah wajah dingin tersulut menghubungkan kedua tanduknya. “aku, tidak bisa merubah sesuatu yang telah terjadi. Walau begitu, akan ku katakan bahwa aku tidak akan perna tunduk pada mahluk itu walau seditikpun !, tidak akan perna !!” teriak mapi di ikuti aliran urat-uratnya yang membentuk di leher akibat tekanan yang di kerahkan mapilion. Anak ingatannya perlahan menjumpainya kala ia harus keluar dari parakan tingkat 2 meninggalkan keluarga satu-satunya saat itu, kemudian gembaran begaimana ia menyaksikan dokunia hancur separuh akibat serangan iblis yang membunuh setengah penduduk parikan. Gambaran terus begantian mengarah pada situasi kala ia berhadapan dangan mahluk menjijikan yang membuat sahabatnya harus merasakan kesakitan yang luar biasa. “hiiaaattttt........” mapilion begerak melaju dengan kecepatan kencang menghantam tubuh raksasa hitam itu dalam satu pukulan telak di kepalanya yang merupakan tempat terserapnya penguna jurus. Membuat sebagian besar kepala raksasa itu berhamburan di udara menjadi percikan debu kasar. Mapilion nampak belum juga puas dengan perbuatannya, ia mengulangi kegiatannya membentuk kembali pola cakram di telapak tangan sembari berlarian menghindari gerakan tangan tak beraturan sang raksasa yang sudah hilang keseimbangan. Mapilion menatap tajam, kemudian menghantamkan cakram hijau itu kembali menuju dada raksasa golem itu dengan keras hingga raksasa itu tersungkur ambruk ketanah. dengan cekatan sebelum raksasa itu dapat bangun mapilion langsung menugaskan tangan kirinya meluncurkan belati yang mirip anak panah melesat menghujani tubuh raksasa golem itu bak air hujan jatuh kebumi. Raksasa itu mengerang, perlahan tubuhnya terlihat mengeras seperti adukan semen cor yang mengeraskan pasir yang di gunakan manusia dahulu membangunkan rumah dan gedung-gedung mereka. “kurang aja.... siapa kau...” suara melengking dari mulut raksasa yang perlahan membeku di mulai dari ujung jari kaki dan tangannya yang merentang menyatuh di tanah. Mapilion menyeringai, ia memutarkan tubuhnya membuat hembusan angin deras mengelilingi tubuh raksasa itu membentuk dinding besar dari tanah kering yang membentuk debu kasar, debu-debu itu menyatuh menjadi dinding melingkar seluruh bagian tubuh raksasa golem hingga tak dapat terlihat lagi karena tertutup dinding silinder secera keseluruhan. Setelahnya, terbentuklah sebuah bangunan kokoh tanpa lubang sedikitpun berdiri di hadapan mapilion dan pasukannya “entahlah.. aku juga tidak tau siapa aku” gumannya seraya menyaksikan proses pengerasan gundukan besar yang kini sudah tidak bersuara. Pasukan hitam yang di pimpin nuen terperanjat kagum, ada pula yang merasa ketakutan akan kekuatan besar yang di miliki pemimpin mereka. Mata jail dan nuen terbelalak tak dapat berkata apapun, seluruh area itu bersih. Tidak ada satupun sosok dabbat yang tergeletak di tanah ataupun mahluk parikan seperti mereka yang tertusuk pedang pasukan hitam. Semua yang terserap dalam tubuh raksasa golem tidak dapat keluar, mereka terjebak di dalam entah sudah mati atau masih bernyawa. Mapilion menepuk tangannya menepis membersikan serpihan debu yang menempel di kedua telapak tangannya, ia kemudian berkecak pingang kearah nuen dan jail “selesai “ ujarnya dengan senyum terlihat begitu enteng bagi mahluk mengerikan seperti mapilion. Bulu kuduk rudeus berdiri, ia memeluk adiknya lekang seakan tak akan melepaskan sehelai rambutpun dari pelukannya. Matanya terbelalak kedepan setelah menyasikan dengan mata kepalanya sendiri bagaiama mapilion menghabisi musuhnya sekaligus tanpa mendapatkan perlawanan berarti. “dia itu lebih mengerikan dari pada iblis itu sendiri” guman nuen kepada jail setelah apa yang mereka lihat. Jail menganguk menyetujui kalimat yang keluar dari mulut nuen. Sementara jauh di belakang barisan mahluk yang cukup banyak jumlahnya dengan tameng di tangan mereka nampak tenang tak bergeming seakan-akan hidup tanpa merasakan emosi sedikitpun seperti yang di rasakan pasukan hitam rasakan. Bahkan untuk dabbat yang menjadi pasukan mapilion meringkuk ketakutan saat mereka melihat apa yang di lakukan mapilion. Mapilion menatap kearah barisan pasukan dengan seragam lengkap itu, di tatapnya perlahan, ada yang aneh menurutnya, ia mengerenyitkan dahinya. Mereka seperti boneka yang di kendalikan entah oleh siapa di suatu tempat. Pandangannya kini beralih pada sosok laki-laki yang cukup berumur sekitar 30-40 tahun dengan tubuh tegap di atas kudanya sama seperti yang lain. Pandangan laki-laki itu juga kosong tak bergeming. Di pandangnya lagi laki-laki itu, ia merasa mengenali wajah cakap walau dengan garis helem yang nampak menutupi beberapa bagian wajahnya. Belum puas mapilion melihat, laki-laki itu mengangkat pedangnya mengerakkan kudanya membelakangi mapilion kemudian berlalu di ikuti oleh yang lainnya meninggalkan mapilion beserta seluruh pasukannya. Serasa tak percaya “kakak...”gumannya perlahan sembali melangkah ingin mengejar rombongan itu dari belakang. “tuan, biarkan mereka pergi, prioritas utama kita adalah putri dahwi” ujar nuen yang sukses mengentikan langkah mapilion. Mapi kemudian menatap lekang pasukkan dabbatnya yang ketakutan mengelilingi rudeus dan dahwi yang sedang merunduk di bawah batuan besar. Setelahnya pandangannya kembali mengarah pada pasukan bertameng yang kini sudah cukup jauh dari jangkaunnya. “dia marulion kan ?” ujar mapi pada jail yang berada di samping nuen dengan sikap dermawan layaknya orang besar. “aku tidak melihat dengan jelas” balas jail sembari menundukkan pandangannya. “itu tidak mungkin, yang mulia raja sudah tewas kala perang antar manusia beberapa puluh tahun yang lalu “ balas nuen. Mapilion menganguk angukkan kepalanya mencoba memberikan pengertian pada dirinya sendiri bahwa laki-laki yang ia lihat barusan bukanlah kakaknya. “benar, kakak sudah pergi puluhan tahun lalu, bahkan aku belum sempat berterimakasih padanya” ujar mapilion yang nampak kecewa. Dalam hatinya sangat berharap pada apa yang ia lihat barusan merupakan benar sang kakak yang begitu ia hormati masih hidup. Selama bertahun-tahun setelah melewati maut kala serangan satan dkk pada dokunia. Ia berhasil masuk kedua manusia dengan giat berlatih, bahkan ia menaklukan raja dabbat sesaat setelah ia sampai hingga pada akhirnya dabbat-dabbat itu tunduk padanya. Pasukan besar yang ia siapkan untuk membalaskan dendam pada raja iblis benar-benar tercipta tinggal menunggu waktu membesarkan pasukan itu. Bukan hal yang mudah bagi mapilion yang hidup dengan dua tanduk dalam wujudnya sekarang sudah bukan lagi parikan kaum maguya yang ia banggakan dahulu. Kini 80% tubuhnya adalah manusia. Menurut jail, kaum jin pertama yang di jumpai mapilion. mengatakan jika ia telah tewas saat bertarung melawan luniar kala itu. kini ia terbangun dengan tubuh manusia dengan dua tanduk di kepalanya. Hal ini, menurutnya akibat dari pedang luniar yang tidak dapat di keluarkan dari kepalanya. Mapilion mengerakkan matanya, memberi isyarat pada nuen agar memberikan perintah pada pasukan hitam segera melaju ketempat yang akan mereka tujuh. Sementara jail bergegas menuju kedua anak yang tertunduk takut di bawah belahan batu menaikan dua bocah itu keatas kudanya agar perjalanan mereka dapat segera di lakukan. Mapilion memberikan isyarat pada pasukan dabbat untuk kembali bersiap mengarungi padang pasir panjang yang segera akan mereka hadapi.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
it's so amazing
30/03
0seru banget dan menarik sekali ceritanya
17/02
0seruuu
21/09/2025
0Lihat Semua