Drap... dap... langkah kaki seorang anak laki-laki berusia kurang dari 10 tahun berlarian di antara gedung demi gedung berantakan yang hampir lebur. Hosh... hosh....hosh... nafasnya terasa berat kala ia berlarian dibawah langit orange bercat biru tua sedikit gelap. Kakinya yang jenjang terus berlari demi menyelamatkan hidupnya. Matanya terus mengarah kebelakang sembari mengecap dengan bibir pucatnya. Scane kembali pada lagash dan find. Bruk !.. “agh... pak tua ini kapan ia terbangun” find meletakkan tubuh kapten maurice keatas semen permanen bekas dinding rumah warga. Matanya mawas mengitari seluruh daerah yang sudah berubah rata. Kakinya lekas berjalan mengelilingi tubuh raksasa yang tergeletak di atas aula. “ ah, sudah berakhir kah ?” gumannya saat melewati raksasa besar yang menyedihkan. “cek cek cek.. uh ya ampun..” tangan nyepil di antara lubang hidungnya menepis bau busuk yang di selubungi lalat mayit yang mencari makanan. Kretak ... kretak... Langkah pelannya membunyikan beberapa komponen bangunan yang rapu tertimpa satu sama lain. “kemana anak itu “ gumannya mecari cari keberadaan lagash yang ia susul beberapa waktu lalu. “agh, apa aku harus mencari cangkul untuk mengubur raksasa ini” gumannya lagi saat matanya beradu pandang dengan mata terbelalak sang raksasa. Bau anyir di sertai busuk bekas pembuangan pencernaan manusia terasa lengkap menemani langkah find. Setelah beberapa menit ia berkecibaku pada bau yang menyengat itu ia baru tersadar “kenapa tidak ada satupun mayat manusia di sini ?” kening find membentuk garis-garis kecil di antara alisnya. Dalam sebuah pertempuan sudah pasti ada mayat yang tergeletak apalagi jika ia mengingat yang di katakan lagash dalam wujud lain itu benar adanya, pastilah saat ini ia jumpai satu atau dua mayat yang bergelimpangan di antara reruntuhan. Kretak.. kretak.... (suara dari dalam ruangan bawah tanah) “astaga..” dalam keadaan tegang dan bingung, suara kretak dari arah dalam sukses mengejutkan find. “lagash....” ujarnya sembari berjalan pelan menuju pintu masuk ruangan bawah tanah. Seorang laki-laki dengan wajah termangu sedang menatap dinding berselaput menerawang dengan urat urat merah bergerak seakan akan bernafas bergelantungan di atas dahan pohon. “apa kau menemukan seseorang ?” ujar laki-laki itu. “Huuuu....” find merasa lega setelah mendengar kalimat yang di ucapkan laki-laki yang ternyata adalah lagash yang ia kenal. “tidak, tidak ada kehidupan di luar “ ujarnya dengan mata yang tertuju pada selaput merah yang berdenyut. “apa ini ?” “Entah lah” Mata find berpindah pada satu tumpukan selaput yang mengeluarkan darah segar terkoyak “aku membuka satu, tidak ada apapun di dalam kecuali darah” ujar lagash. “mereka seperti hidup" lanjut lagash. Find menganguk seraya memegangi pingangnya dengan sebelah tangan. “aku sudah berkeliling tempat ini, tapi tidak ada yang aku temui kecuali ini. “kemana para penduduk ?” ujar lagash. “jika mereka tewas pasti ada mayat kan ?” lanjut lagash. Find mengelangkan kepalanya, “rasanya seperti melihat perut wanita hamil” find bergerak mendekati selaput hendak mecoba memegangnya “jangan di sentuh” ujar lagash sembari menunjukkan sapu tangannya yang melepuh kebawah “tanganmu bisa meleleh”. Find mengurungkan niatnya. "oh, ngomong-ngomong kau terlihat lebih tenang” ujar find pada lagash yang sudah mulai berbicara dengan dingin. “dan entah kenapa rasanya, aku memiliki harapan setelah melihat benda ini” lanjutnya. “seperti kau melihat sebuah generasi yang akan datangkan” ujar lagash. Find mengangguk membenarkan opini lagash terhadap diri mereka. “Sensasi ini terasa aneh, tapi aku juga merasakan hal di luar akal manusia” ujar find yang mencoba mengelilingi selaput-selaput bergelantungan sembari tangannya bergerak menghitung jumlah mereka.
“50... 51... 52... 53.. 54... lima puluh lima” guman find sedikit terdengar di telinga lagash. Tiba-tiba mata lagash seakan bercahaya mengingat sesuatu. “find, kau ingat yang dilakukan kakek morin sebelum dia meninggal di dekat pohon beringin ini “ kalimat itu menurunkan jari find menegok kearah cabang pohon yang patah beberapa waktu lalu. “dan pohon ini kembali berdiri setelah kejadian naas pertempuaran kita melawan ras tago blue” ujarnya nenanggapi. “saat aku sadar, geria mengatakan jika kalian tidak menemukan sisa tubuh kakek morin di bawah tumpukan semen kan “. Find menganguk “benar, kami...~” mulut find ternganga dengan mata terbelalak “, ya ampun jangan jangan ...” Mata lagash membulat menatap find penuh harap. Plak !, “ya ampun, apa yang kau fikirkan, kau fikir mereka akan hidup dan terserap pohon ini, jangan membuat ku tertawa lagash” ujar find yang sengaja memukul kepala lagash dengan berengke pedangnya cukup keras. “ck, kau !” balas lagash dengan tatapan tajam “tubuh kakek morin sudah cukup tua, wajar bila langsung hancur bak debu saat tertimpa reruntuhan yang berat” ujar find lagi. “ya, kau benar, hanya aku kadang sedikit berharap hahahaha” tawa lagash. “cek cek cek, kau terlihat menakutkan” balas find yang kembali meneruskan aktivitasnya mengelilingi pohon beringin yang tumbuh subur menjulang ke atas. “eh, apa ini ?” find menunjuk kearah lubang seukuran tubuh manusia di antara lendir-lendir di pangkal akar paling besar. Lagash segera mengarahkan penglihatannya langsung menuju tempat yang di tunjuk find. “apa ini, seperti sumur kecil ?” lagash segera membuka lebih lebar mencoba menyeka anak akar yang semeraut. Wuuussss... “ eweeekkk... ya ampun.. bau-nya...” Bau busuk yang teramat berhembus terbawa angin semilir keluar dari lubung berukuran sedang setelah lagash berhasil membersihkan sedikit akar yang menghalangi. “astagaa” hal serupa pula di alami find yang langsung menjauh setelah hidungnya mendeteksi bau yang sangat tidak sedap. “aaaaaaaaaaa” dari arah luar terdengar teriakan histeris yang begitu kencang hingga terdengar sampai kedalam ruang dalam tanah. “ada orang...!” find langsung bergegas menaiki tangga keatas menuju sumber suara di ikuti lagash dari belakang. Suara itu begitu nyaring terdengar lagi... “aaaaaaa, menjauh !!” mendengar teriakan itu lagash dan find mempercepat lari mereka. sesampainya di sana, nampak seorang anak kecil sedang menyudukan tubuhnya di antara cela pecahan reruntuhan dinding rumah warga. “ada apa ?” tanya find, Anak itu tidak menjawab. Ia hanya menatap tajam kearah laki-laki yang memiliki tandak di kedua sisi kepalanya. Mata find langsung menoleh mengenali laki-laki itu, “apa yang kau lakukan ! mapilion !” ujarnya sembari memblokade sang anak dengan tubuhnya. “aku tidak melakukan apapun. Aku datang kesini karna dia berteriak, saat melihatku, dia malah masuk kedalam reruntuhan” ujar mapi. Tentu saja tampang sangar milik mapilion sangat menakutkan di mata anak-anak, wajar rasanya bila pemuda itu mendapat tindakkan ketakutan langsung dari anak kecil. Find menarik nafas panjang setelah mengetahui kebenarannya “kalian sudah sampai” ujarnya pada mapilion. “ya, sebentar lagi yang lain akan sampai” ujarnya yang memalingkan wajanhya kebelakang agar sang anak tidak terlalu ketakutan. Sementara lagash berhenti melangkah saat find menjumpai anak itu, ia terdiam di tempat saat melihat mapilion berbicara pada find. Ia membalikkan tubuhnya kembali menuruni anak tangga menuju pohon yang masih menarik perhatiannya. Akan tetapi, langkah lagash terhenti.” bagaimana di sini ada anak kecil ?” gumannya dalam hati sembari kembali melirik keatas. Kemudian ia melanjutkan kembali apa yang telah dia niatkan. “Tidak apa, ayo keluar” ujar find pada sang anak yang masih terlihat shok, anak itu tidak menjawab, matanya yang lebar berwarna biru menatap find dengan tatapan ketakutan. “em, siapa namamu” find kembali mencoba menenangkan sang anak dengan menjulurkan tangannya. Sang anak nampak tidak bergeming, saat find menjulurkan tanggannya sang anak malah mundur masuk lebih dalam celah yang sempit itu. “ohh, jangan terlalu masuk kedalam, nanti kepala mu tertimpa semen itu dan byuurrrr...” find mencoba memperagakan adegan kepala meletus saat tertimpa benda berat. mata anak itu memerah setelah mendengar penuturan find, bukannya menenangkan, ucapan find barusan menambah rasa takut sang anak hingga ia kembali mundur kebelakang.. “hei, sudah ku bilang jangan masuk lebih dalam” ujarnya sembari berdiri “aisss, !” keluhnya memegangi rambut bagian belakangnya. “ya ampun !, biar aku yang menangani” ujar geria yang tiba-tiba muncul di belakang find. “uh, syukurlah kau sudah datang, aku bingung bagaimana menangani anak kecil” balas find. Geria melangkah perlahan mendekati reruntuhan kemudian menundukkan pandangannya melempar senyum kearah anak laki-laki itu. sang anak terlihat cukup nyaman membalas senyum geria dan terlihat hendak bergerak keluar. Geria berdiri setelah mengamati sang anak, ia menyipitkan matanya melihat sekeliling. btaaasss.... “aaaaaaa” Bruukk !! “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa hiks hiks” Suara histeris tangis histeris sang anak pecah saat dirinya mendapati pedang geria yang hampir-hampir memotong ubun-ubunnya. “apa yang kau lakukan !” ujar arasia yang langsung menerkam sang anak. Semua mata terkejut melihat apa yang di lakukan geria, sampai – sampai adrian menjatuhkan dirinya ketanah. “aku hanya menyelesaikan masalahnya, aku juga tidak pandai bersikap untuk anak kecil” ujar geria dingin. “astaga, anak ini “ guman find. “Ngomong-ngomong, dimana lagash ?” tanya geria pada semuanya. “di dalam ruang bawah tanah” balas find. Geria segera meluncur menuju laki-laki yang telah ia kenal 3 tahun belakangan ini. Geria menuruni anak tangga perlaha, di lihatnya lagash yang berdiri tegap dengan tangan kanan yang berada di dagunya tanda ia sedang memikirkan sesuatu. Ia memastikan perlahan apakah itu benar-benar lagash atau orang lain. Setelah pandangannya memastikan bahwa laki-laki itu benar yang ia maksud, pandangannya kini beralih pada benda yang di lihat lagash. “apa itu” ujarnya sedikit keras membuyarkan lamunan lagash. “geria, kau sudah sampai” ujarnya di sambut anggukan sang gadis berpakaian serba hitam itu. “aku sudah mendengar jika penduduk desa hilang” gumannya lagi. “iya” balas lagash. “kau hanya mengatakan iya ?” guman geria perlahan hampir tidak terdengar untuk telinganya sendiri. “kau mengatakan apa barusan ?” respon lagash. Mata geria terbelalak, pipinya terasa panas, padangannya tidak dapat ia fokuskan. “aku barusan mengatakan _kau hanya mengatakan iya”. Jawabnya tegas di wajahnya yang terlihat gugup. Senyum tipis di pipi lagash menyeruat. “kau... terlalu jujur untuk itu”.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
it's so amazing
30/03
0seru banget dan menarik sekali ceritanya
17/02
0seruuu
21/09/2025
0Lihat Semua