“Apa kau juga tahu bahwa bahwa Rhys sudah menyukaiku sejak dulu?” Luigi berguling dari sisiku menuju tepi ranjang dan duduk di sana. “Jika kukatakan, apa kau akan percaya padaku?” Dia malah balik bertanya, membuatku bingung. Dengan susah payah, aku mencoba mengangkat tubuh dan membenahi pakaianku yang acak-acakkan, lalu duduk di tempat aku berbaring. “Sudahlah. Lupakan. Ayo, kita pulang, Lui.” Saatnya merapikan diri. Rambut dan pakaian tidak boleh berantakan. Aku tidak ingin terlihat berbuat tak senonoh dengan Luigi. Tidak akan kubiarkan orang-orang memandangku aneh dengan tatapan menghina. Saat terhuyung ketika berdiri, aku tahu Luigi menangkap tubuhku. Kepalaku masih saja pusing seakan ada banyak benda di sekitarku bergerak, dan aku berputar hampir melayang. “Tidurlah lagi. Kau tidak mungkin kembali dalam kondisi seperti ini.” “Tolong ponselku, Lui.” Tidak peduli pada apa perkataannya yang tertangkap di telinga, aku menunjuk tas di atas meja. “Ponselmu mati.” “Apa sekarang kau berhak memeriksa isi tasku?” Aku marah, mendorongnya menjauh dariku. “Pergi! Aku mohon pergilah, Lui.” Luigi memeluk erat diriku, lalu mengangkat tubuh ini tanpa izin, meski kupukul tetap saja itu pukulan selemah angin. Tidak akan ada artinya. Luigi sudah bergerak menjauhi ranjang, dan aku meronta berteriak lemah meminta diturunkan. Tapi gerak Luigi tidak berubah, dia hanya menarik cepat tasku di atas meja, berjalan ke arah pintu. Cara menggendong fireman's carry-nya membuatku tidak dapat melihat apa yang terjadi di depan. Ibarat karung beras yang diletakkan di salah satu pundak, aku semakin merasa lemahnya diriku saat ini. Aku tidak mendengar ada pergerakan langkah kaki. Luigi berhenti, dua tangan tiba-tiba menarik pinggangku menjauh darinya. Aku menoleh melewati bahuku dan setengah yakin dengan apa yang kulihat. “Rhys,” lirihku sembari memeluknya erat ketika dia mendekapku dalam gendongan posisi depan. Aku mencium aroma Rhys, grapefruit pepper dan hampir menangis karena lega. Ternyata, aku tidak salah mengira. Tidak ada percakapan apapun yang kudengar di antara mereka dan kesadaranku memaksa berhenti melihat wajah tampan keduanya yang tertuju padaku. Salah satu tanganku terkulai dengan cepat, lebih dulu, sebelum kedua mataku yang akhirnya benar-benar menyusul untuk merebut setengah kesadaranku. ***** Rhys berulang kali memastikanku di kamar berpintu merah tua dengan cara membuka pakaianku. Kupikir itu hanya alasannya untuk mencoba merendahkanku. Tapi ternyata dia hanya cemas berlebih, mengira Adiknya mungkin memperkosaku, walau sebenarnya itu memang hampir terjadi. Tapi aku tidak bisa mengatakan apapun selain mendiamkan hal itu. “Berhenti Rhys, aku malu jika kau terus melakukan ini padaku,” kataku, hampir kehilangan suaraku saat bicara. Tanganku mencegahnya untuk tidak meneliti tubuhku seperti mencari bukti. Dan tentu saja tidak ada. Luigi tidak sebodoh itu. Dia tahu seperti apa Rhys, jadi hanya sebuah ciuman yang dia tuntut dariku, tanpa ada jejak atau tanda di sekujur tubuhku yang memungkinkan Rhys memiliki alasan untuk membuat perhitungan pada si bungsu. “Dia memberimu obat tidur. Aku hanya tidak ingin kau mengalami luka fisik atau hal lainnya. Tidakkah kau sadar? Sejak dulu pandangannya begitu berhasrat padamu? Dimana letak kewaspadaanmu, ZeeZee?” Rhys bicara tanpa jeda, kupikir secepat kilat dia bisa berubah menjadi sangat cerewet yang tadinya pendiam dan tidak peduli. “Aku tidak pernah diminta untuk waspada pada orang-orang tertentu di keluarga kita. Justru aku merasa kalian semua berbahaya.” Memijat kepalaku, perasaan sedikit mual menghampiri. Rhys mengenakan pakaianku kembali dengan sangat hati-hati. Kulit dari telapak tangannya yang kasar, terasa menyenangkan di tubuhku. Dia terus menatapku dengan pandangan bingung. “Luigi tidak akan mengganggumu lagi. Meski begitu tetaplah berhati-hati.” Rhys mengecup keningku. Ada kehangatan yang menjalari tubuhku. Ciumannya memang tidak pernah bisa ditandingi. “Kau mau kemana?” Tanganku menarik ujung kemeja Rhys. Dia sudah bersiap turun dari ranjang. “Sebentar, akan kuambilkan makanan untukmu.” Membelai wajahku sekilas, dia sudah berdiri dalam sekejap. “Minta pelayanmu itu yang membawakannya kemari. Kau tetaplah di sini, jangan tinggalkan aku.” “Dia sedang pergi. Aku benar-benar tidak akan lama.” Rhys membujuk. Mendengar jawabannya, dengan sigap aku melompat turun dari ranjang. Memeluk erat Rhys tanpa ingin melepasnya. Aku sudah baik-baik saja, tapi entah kenapa, begitu cemas dan takut pada sesuatu yang tidak bisa kujelaskan. “Aku sudah baik-baik saja. Ayo makan bersama. Bawa aku ikut denganmu.” Rhys langsung menggendongku tanpa menjawab. Kami menyusuri lorong rumah yang sepi. Aku tidak sadar bahwa ini sudah sore, oh, senja yang mulai tampak dari jendela besar di sepanjang lorong rumah Rhys, benar-benar memukau dengan warna orange keemasan juga gradasi ungu violet yang unik. “Apa kita makan di samping rumah saja?” Rhys ikut memandang ke arahku menatap. “Ya, aku ingin disuapi saat makan.” Dengan manja, aku berbisik di telinganya. Setelah mendaratkan bibirnya di banyak tempat pada tubuhku, Rhys mulai menyiapkan peralatan makan karena ternyata hidangannya sudah tersedia banyak di atas meja. Menyiapkan semuanya bersama sambil sesekali mencuri kesempatan untuk saling mencium satu sama lain, aku mendadak lupa bahwa mungkin ada banyak hal buruk yang bisa saja kembali terjadi dalam hidupku ke depan karena hubungan tak biasa keluarga Oxley, ikut mempengaruhi ikatan antara aku dan Rhys. ***** Eri terlihat berlari menyeberangi jalan menuju ke arahku, seperti gadis kecil dengan rambut ekor kudanya yang sering kucibir. Setelah memelukku dengan erat, dia menyerahkan hasil dari laboratorium kepadaku dengan wajah serius. “Aku dan Mark sungguh tidak melakukan apapun pada hasil tes-nya,” ungkap Eri, begitu polos terdengar di telingaku. Menepuk keningnya pelan, aku tertawa. “Tidak ada yang menuduhmu di sini.” “Syukurlah. Aku mengira wanita sepertimu hanya pintar mencurigai orang lain. Tidak peduli pada siapapun itu.” Eri menghembuskan napasnya, dan terlihat lega sembari tersenyum. Terkadang, Eri tampak bodoh hanya karena kecemasannya yang berlebihan. Tapi kupikir itu wajar dan normal. Dia hidup di lingkungan yang baik, maksudku, meski hidupnya tidak mudah, dia dikelilingi oleh orang-orang yang normal dan baik. “Kau tidak akan melihat hasilnya sekarang?” Tampak penasaran dengan kening mengernyit, Eri memandang amplop yang kupegang. “Nanti saja. Sekarang ayo makan es krim atau sesuatu yang dingin.” Aku menarik lengannya, berjalan bersama di sepanjang jalan setapak sebuah taman. “Seperti katamu, wanita bernama Audrey Mika itu mendatangiku.” Langkahku terhenti, kutatap Eri dengan keseriusan di wajahku. “Dia mengancammu?” “Oh, tidak, tidak. Bukan seperti itu.” Eri cepat-cepat melambaikan kedua tangannya di depanku. “Lalu?” Menoleh ke kiri dan kanan, Eri menarikku ke sebuah tempat bagian taman yang terdiri dari kumpulan bebatuan. Kami duduk di sana tanpa pikir panjang. “Wanita itu bicara panjang lebar padaku. Tapi bukan sesuatu seperti mengancam, lebih mirip sebuah curahan hati.” Eri melunak. Kupikir benar, bahwa dia mungkin, terhasut cerita Adik dari mendiang mantan kekasih Rhys. Yah, aku tidak bisa menyalahkan Eri. Setiap orang punya kisah hidup yang bisa saja menjadikan orang lain sebagai antagonis dalam hidupnya. Seperti dia yang mungkin menganggapku atau Rhys sebagai tokoh jahat dalam kehidupannya. Bersambung.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
harusssss nontonnnn
15/10
0bagussss
17/07/2025
0bagus bangettt
21/04/2025
0Lihat Semua