logo text

Bab 46 TTOD:Forty-six

Perasaan cinta itu buta. Tidak pernah bisa melihat di mana ia akan berlabuh. Tidak bisa memilih pada siapa hati tertuju. Rumit! Sangat sulit untuk bisa dipahami dengan akal sehat. Begitupun tentang kisah cinta Altheda dan Alexandre.
Takdir sangat senang mempermainkannya. Hatinya, perasaannya, bahkan kehidupannya. Selama ini Azalea pikir meskipun jiwanya masih berada di dalam kehidupan, tetapi raganya telah berpulang ke tempat seharusnya dengan tenang. Namun kenyataanya, sebuah fakta kembali menampar Azalea.
Azalea pergi dari kediaman keluarga Corner dengan cepat. Mengendarai mobil sendiri, meninggalkan James yang panik karena melihat Azalea mengemudi dengan sangat kebut.
Tujuannya sekarang adalah mansion tunangannya---Alexandre. Ucapan-ucapan yang dikatakan Arya di kediaman Corner selalu terngiang-ngiang di dalam otaknya.
***
"Sesuatu yang tidak pernah diragukan dari kekasih hebat seorang Alexandre. Kau selalu bisa membuat orang terkagum-kagum, Ela. Tidak heran jika Alex terus menyimpan ragamu di kamarnya meskipun dua tahun telah berlalu!"  Arya berkata dengan suara lantang. Membuat Azalea menghentikan langkahnya di tempat.
"...?"  Azalea terdiam. Dia tidak ingin berbalik untuk bertanya, tetapi sekelibat rasa penasaran hadir di benaknya.
"Kamu tidak ingin tahu kebenarannya?" tanya Arya dengan congkak.
"Kebenaran apa yang Paman maksud?" Azalea membalikkan tubuhnya. Menatap Arya dengan pandangan datar, dan satu alis yang terangkat. Kedua tangannya terlipat di dada.
"Paman? Ayolah Ela, kamu itu berada di raga putriku. Panggil aku dengan panggilan Papa seperti sebelum-sebelumnya. Aku menyukai itu!"
"Saya akan mempertimbangkannya. Sekarang katakan, apa maksudmu? Jangan bertele-tele, karena saya tidak menyukai itu!"
"Yah, Altheda Estrella. Calon menantu yang dipilihkan oleh Tuan Arthur untuk cucu kesayangannya yang terlahir dengan haram. Kekasih dari putra Tuan Arthur yang disembunyikan. Menarik!" Arya menyunggingkan senyum lebarnya. Berjalan perlahan mendekati Azalea hingga jarak yang mengikis mereka tidak lebih dari selebar telapak tangan.
"Mau tahu fakta lainnya selain ragamu yang diawetkan dan di buat layaknya sebuah manekin tidur. Alex adalah orang yang memerintahkan seseorang untuk menembak ke arah Tuan Artur kala itu!" jelas Arya dengan raut wajah puas.
Azalea terdiam. Benarkah demikian? Benarkah bahwa Xander adalah penyebab kematiannya? Tapi kenapa?  Apa yang ingin pria itu lakukan dengan membunuh Tuan Arthur. Apa memang tujuannya adalah dirinya? Buktinya setelah kematiannya, Tuan Arthur masih bernafas lega 'kan.
"Seberapa banyak yang Paman tahu tentang itu?" tanya Azalea dengan suara yang berat.
"Aku tahu segalanya, Ela. Alex adalah sahabatku? Apa menurutmu dia akan menyembunyikan sesuatu dariku? Tidak! Dia menceritakan segala faktanya setelah kematian ragamu!"
"Katakan. Kenapa dia ingin membunuhku?" tanya Azalea dengan nafas yang memburu. Sebisa mungkin ia menahan dirinya agar bisa berdiri dengan tegak. Membisikkan kata bahwa semuanya tidak benar dengan berulang kali.
"Well, kamu benar-benar cerdas. Alex memutuskan untuk membunuhmu karena dia sudah kehilangan akal untuk bersatu denganmu. Tuan Arthur tidak merestui hubungan kalian-"
"Saya tahu itu."
"Jangan potong dulu Ela! Aku belum selesai!" Arya memutar matanya malas karena ucapannya di potong begitu saja oleh Azalea.
"Hubungan kalian tidak direstui oleh Tuan Arthur, karena dia menginginkan kamu menjadi pasangan cucu kesayangannya. Alex sudah melakukan berbagai cara untuk mendapatkan kamu. Bahkan dia telah memintamu untuk pergi lari dengannya ke negara Tuvalu untuk melanjutkan hidup kalian dengan damai di sana. Tapi kamu menolaknya!"
"Hari itu Tuan Arthur berniat meminangmu untuk cucunya--Xavier. Di saat itulah dia memutuskan untuk lebih baik membunuhmu dari pada membiarkanmu bersama pria lain. Dia terobsesi pada dirimu yang dulu, Ela. Dan ... Mengenai kematian Arenza. Alex juga ikut andil untuk itu,"
Azalea seketika menegang. Ia menatap mata Arya lekat untuk mencari setitik kebohongan di sana. Namun sekuat apapun Azalea mencari, tidak ada raut kebohongan di sana.
"Tapi kenapa? Bagaimana bisa?" tanya Azalea dengan nafas tercekat, dan badan yang perlahan luruh ke lantai.
"Karena Arenza adalah wanita yang selama ini Xavier lindungi. Alex hanya ingin melihat pria itu hancur sepertinya yang hancur karena kehilanganmu dua tahun lalu!"
"Apa tujuan Papa?" Azalea mendongakkan wajahnya. Menatap mata Arya dengan tatapan nanar, dan air mata yang telah menggenang di kelopak matanya.
"Karena kamu telah berada di raga putriku. Aku tidak ingin Alex melakukan hal yang sama, pada raga putriku, Ela. Aku tahu Alex lebih daripada yang kau tahu." Arya ikut duduk di hadapan Azalea dengan pelan. Mengelus surai hitam itu sayang, lalu mengecupnya sesekali.
"Putuskan pertunangan kalian Ela. Maaf karena baru menghentikannya sekarang, karena kamu juga baru jujur pada Papa!" ucap Arya dengan sayang. Namun ia tidak mendapatkan jawaban dari Azalea. Suara tangis sesegukan dari putrinya itu juga tidak terdengar lagi.
"Lea?!" Arya mencoba membalikkan tubuh Azalea. Betapa terkejutnya Arya ketika melihat Azalea yang telah pingsan di pelukannya.
"Azalea! Hei ... Bangun, Nak. Astaga, BIBI!" Teriak Arya panik. Tidak berselang lama bibi datang dengan sedikit tergopoh-gopoh.  "Tolong bawakan teh hangat untuk Lea ke kamarnya!" titah Arya sembari mengangkat tubuh Azalea ala bridal style. Raut wajahnya benar-benar panik sekarang. Arya bahkan tidak menyangka jika Azalea akan jatuh pingsan karena mendengar seluruh kebenaran yang selama ini Alex sembunyikan.
Bibi yang diberikan perintah mengangguk, kemudian berlalu dengan cepat menuju dapur. Sedangkan semua orang ikut menjadi panik ketika melihat Arya telah membawa Azalea ke kamar lamanya di kediaman Corner.
"Lea!" gumam Winston ikut panik. Ia segera berlari menyusul Arya untuk menuju kamar Azalea di lantai dua. Diiringi oleh Vincent dan Lucian yang memasang wajah tak kalah paniknya.
Suasana sendu yang diiringi tangis penyesalan sebelumnya telah berganti menjadi kepanikan. Padahal dulu ketika Azalea asli masih hidup, jangankan untuk panik. Menunjukkan rasa iba saja mereka tidak pernah.
Selalu tatapan datar yang memaksanya untuk belajar menjadi kuat sendiri. Membuatnya harus bergantung pada diri sendiri, dan membuat dirinya dapat membela diri dengan sendirinya.
"Paman, apa yang terjadi sama Lea?" tanya Vincent dengan nada bergetar.
"Kalian kenapa mengikuti saya?" Bukannya menjawab, Arya malah membalas pertanyaan yang Vincent ucapkan dengan pertanyaan lain.
"Kami hanya ingin melihat keadaannya? Dan ingin tahu apa yang terjadi? Kenapa Lea sampai terjatuh pingsan ketika berbicara berdua sama Om, sebenarnya apa yang kalian bicarakan?" cecar Lucian tanpa tahu malu. Membuat Arya mendengus dan menatap wajah-wajah menyedihkan mereka satu persatu.
"Kalian harus tahu tempat kalian. Raga ini telah berganti menjadi milik orang lain yang menganggap diriku seorang sebagai keluarga dan orang terdekatnya. Jadi, seharusnya kalian tidak perlu repot-repot untuk membuat kalian terdengar peduli pada, Lea. Jauhi dia!" tekan Arya dengan congkak dan tatapan mengejek.
Winston hanya tertunduk lesu mendengar ucapan Arya. Benarkah ia sudah tidak memiliki kesempatan lagi untuk berbaikan dengan putrinya, putri yang pernah ia besarkan dengan limpahan kasih sayang ketika dia masih bayi.
Sedangkan Vincent mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Entah mengapa ucapan Arya barusan berhasil membuatnya tertohok hingga ke relung hati yang paling dalam.
"Azalea kalian telah tiada, yang ini hanya akan menjadi Azalea untukku. Silahkan menikmati bagaimana rasanya dibenci olehnya, seperti kalian menikmati kebencian Azalea padaku dahulu."
Semua ini karena anak sialan itu!
***
Happy Reading!!!

Komentar Buku (83)

  • avatar
    Jus Tine

    good

    12/02/2025

      0
  • avatar
    NasiNisa

    Good

    28/12/2024

      0
  • avatar
    Farah Aida Ramli

    cerita nya sangat bagus..kesian sama si gadis nasibnya masih tak beruntung walau dh brpindah raga

    19/10/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru