Beranda/The Thread of Destiny/
Bab 16 sixteen
Happy Reading!!!
Don't forget vote and comment!!!
***
Memiliki perasaan ingin dicintai oleh siapapun itu tidak salah. Tetapi jangan pernah merubahnya menjadi suatu obsesi, karena itu hanya akan menjadi bumerang untuk diri sendiri. Apalagi jika hanya menginginkan untuk bisa dianggap ada di dalam keluarga. Siapa yang tak ingin disayangi? Semua orang menginginkan itu! Begitupun Azalea. Gadis itu tidak meminta banyak. Ia hanya ingin di anggap ada oleh kakak laki-lakinya dan ayahnya yang seharusnya berperan sebagai cinta pertama seorang putri.
Tetapi benar! Jika kehidupan tidak selamanya mengikuti keinginan diri. Takdir lah yang menentukan, seperti layaknya benang panjang tanpa ujung. Takdir terus menerus melilit ketika digerakkan sang pemilik, tergantung pada yang punya ingin membuat hal yang indah atau membuatnya berantakan hingga kusut.
Seperti Altheda, ia mengetahui takdirnya tidak akan indah jika bersama dengan orang-orang yang masih memiliki ikatan keluarga dengannya karena orang tuanya yang telah tiada, jadi dia lebih memilih pergi dan bahagia di Singapura. Sayangnya takdir Altheda ditubuh lamanya harus terhenti hanya sebatas usia dini.
Takdir itulah yang ingin Azalea perbaiki. Selama ini jiwa Azalea yang asli tidak bisa bahagia dengan keluarga dari ayahnya, kakak, kakek, nenek, bahkan keluarga paman dari pihak ayahnya pun tidak senang melihatnya. Lalu, apa salahnya jika ia berpaling ke keluarga ibunya yang jauh lebih sempurna dan menerimanya dengan baik. Tidak ada berang sekalipun Azalea berpikir untuk menyentuh kehidupan lama Azalea asli. Pertunangan yang mengikatnya hanya menunggu waktu untuk dilepaskan, setelah itu ia akan membiarkan Lucian dan Alita bahagia tanpa menggangu mereka.
Tetapi kenapa? Kenapa mereka harus terus mengganggu hidupnya? Padahal Azalea sudah bersusah payah menghindar dan acuh pada mereka. Apa sesulit itu meluruskan benang takdirnya yang telah berantakan.
"Argh ... ANJINGGG!" teriak Azalea keras di rooftop sekolah untuk melepaskan frustasi dan emosi di hatinya sedari tadi.
"BANGSAT! SETAN! SIALAN! GUE MAU BALIK KE TEMPAT ASAL GUE! GUE JIJIK HARUS BERURUSAN DENGAN ORANG-ORANG BODOH SEPERTI MEREKA! ARGH XANDER tolong bantu gue please. tolong gue, sekali lagi tolong ...," Azalea kembali menggemakan kata-katanya dengan berteriak. Tetapi teriakan itu berganti menjadi ucapan lirih di akhir kalimat.
Tubuh Azalea luruh, ia terduduk bersimpuh di lantai rooftop dengan air mata yang berlinang. Ia lelah, ia lemah--lemah karena harus berbagi perasaan dengan Azalea yang asli. Perasaan yang membelenggu kebebasan Azalea untuk mengambil tindakan lebih jauh lagi. Azalea terjebak di dalam tubuh seorang gadis egois yang mana ingin mengendalikan raga yang telah terlepas dari jiwanya.
Azalea terus menangis dengan keras. Ia terisak, sungguh rasanya sesak--sangat sesak. Andai perasaan asli Azalea telah menghilang sepenuhnya, ia tidak akan susah untuk terbebas dari orang-orang bodoh seperti mereka.
Azalea menatap tangan seseorang yang terulur tepat dihadapannya. Dengan mata yang berkaca-kaca, ia mendongak untuk melihat siapakah yang mengulurkan tangan untuk membantunya. Akankah itu Xander seperti yang ia harapkan. Namun sepertinya ingin hanya sebatas ingin. Tangan putih yang terulur itu milik orang lain.
"Bangun!" titahnya dengan suara datar. "Lo terlalu berisik dari tadi, gue sampe budek dengernya," imbuhnya.
Azalea mengulurkan tangannya ke depan. Menerima niat baik laki-laki yang masih memberikan simpati padanya meskipun hampir semua orang menjauhinya.
"Terimakasih ... Dom," ucap Azalea setelah berdiri dihadapan Dominic dengan tegap.
Dominic yang mendengar ucapan terimakasih dari seorang Azalea hanya tersenyum tipis. Dengan pelan ia mengangkat tangannya ke atas dan menyentuh pelan surai hitam Azalea. "Sama-sama. Gue gak pernah tahu kalo seorang Azalea akan mengucapkan kalimat berupa ucapan terimakasih. Tapi gue suka itu."
Azalea yang tidak pernah mendapatkan perlakuan selembut ini dari orang asing membeku. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Selama dua kehidupannya, satu-satunya orang yang dengan ikhlas tanpa pamrih menyentuhnya lembut, hanya Xander seorang. Dan sahabatnya Alva tentu saja. Melihat Dominic yang telah berbalik untuk meninggalkannya, dengan cepat Azalea berucap, "Lo yang ketiga."
"Haa... ."
"Iya, lo orang yang ketiga mendapatkan kalimat itu dari gue setelah dia dan sahabat gue," jelas Azalea dengan gugup.
Jantungnya berdetak dengan cepat. Entah mengapa Azalea merasa gugup karena telah mengatakan hal tidak penting seperti itu. Telinga dan pipinya memerah seketika karena menahan malu. "Ahh ... Sudahlah lupakan. Tapi sekali lagi, terimakasih."
Dominic terkekeh geli melihat tingkah Azalea yang malu-malu secara tiba-tiba. Sudah dua kali ia memperhatikan Azalea secara seksama, ketika di kantin di mana ia membalas lirikan gadis itu sendiri dan di arena balap ketika diperkenalkan cewek temennya--Aren. Tetapi entah mengapa ia baru sadar jika Azalea itu menggemaskan.
"Mau ikut duduk di situ?" Dominic menunjuk tiga jejeran kursi panjang yang terletak di samping kiri pintu rooftop. Mata Azalea mengikuti arah tunjuk Dominic dengan cepat. Di sana terlihat dua orang telah melambaikan tangannya pada Azalea, ia siapa lagi jika bukan antek-antek Dominic--Theodore dan Alboza.
"Hai, Lea!" sapa mereka dengan sedikit berteriak.
Azalea meringis pelan. Sungguh ini sangat memalukan. Bagaimana mungkin ia tidak menyadari kehadiran tiga orang ini sedari tadi, bahkan dengan bodohnya ia menangis dan merutuki nasibnya.
"Ha-hai," sapa Lea gugup dengan pipi yang semakin memerah karena malu.
"Ka-kalian ngapain di sini?" tanya Azalea terbata.
"Hehe bolos lah cantik. Apalagi?" jawab Theo dengan cengengesan.
Azalea hanya menatap Dominic dengan malu ketika tangannya ditarik pelan untuk mendekat ke arah Theo dan Boza. Dominic juga menyuruhnya duduk dan merilekskan diri karena habis menangis.
"Ngomong-ngomong lo ngapain nangis di sini? Lo pasti lupa yah kalo rooftop ini khusus anak YS," selidik Boza sembari meminum soda ditangannya.
"Khusus YS?" beo Azalea kaget.
Lo bodoh Altheda. Bagaimana lo bisa lupa kalo ini markas YS padahal sudah di bilang berkali-kali sama Aren. Lo bodoh Ela, bodoh! rutuk Azalea dalam hati.
"A-anu itu gu-gue, gue lupa," cicit Azalea dengan kepala tertunduk dan tangannya yang saling bertaut di atas roknya karena gugup.
"Tuh kan The! Gue bener, neng Lea pasti lupa. Aduhh neng Lea gak apa-apa kok. Gak usah gugup, lagipula neng Lea gemesin deh kalo malu-malu gitu, sini dekat a'a Bo," rayu Boza dengan cengiran kuda khasnya dan gerakan ingin memeluk.
Boza menggeser tubuhnya mendekat pada Azalea, tetapi belum juga sempat bersentuhan dengan Azalea Dominic telah menarik Azalea untuk lebih dekat dengannya. Dan Theo mendaratkan pukulan ringan di kepala Boza.
"Playboy ulung. Ini bukan zona untuk pesonamu nak, maafkan bapak mu yang tampan ini. Tapi sepertinya neng Lea hanya akan menjadi milik bos. Ia kan, bos?" ucap Theodore asal meminta persetujuan dari Dominic.
Tentu saja ucapan Theodore itu segera dihadiahi tendangan maut di tulang kering betisnya oleh Dominic. Dengan tatapan tajam yang menusuk, Dominic sekali lagi menginjak kaki kiri Theodore.
"Arghh," erang Theodore kesakitan.
"Haha ... Mampus lo! Haha rasain. Enak, kan?" ejek Alboza dengan tawa yang kencang.
"Sialan lo!" gerutu Theodore kesal sembari menahan sakit. Karena tidak berani membalaskan rasa sakitnya pada Dominic, jadilah Alboza yang dipukuli Theo dengan sekuat hati. "Mampus! Ni rasain, rasain pukulan gue."
"Lo astaga ...! Neng Lea bantuin a'a neng. Theodore sudah gila!" pekik Alboza berlarian kesana kemari dengan Theodore yang terus mengejar.
"Boza! Mau kemana lo! Sini, gue belum selesai."
"Sudahlah, jangan hiraukan ucapan dan tingkah gila mereka. Bay the way lo gak masuk kelas? Mau bolos juga?"
"Iya. Gue capek, lagipula tanpa gue masuk pun, gue udah pinter dari sononya." Azalea tersenyum bangga dengan tatapan lurus ke depan. "Ngomong-ngomong itu muka lo kenapa biru-biru gitu? Habis dipukuli siapa lo?"
"Kakak lo--Vincent!" jawab Dominic santai.
"Oh, Vin- haa apa?" teriak Azalea kaget. "Lo berkelahi sama Vincent? Lo gak berniat balas dendam sama gue kan? Enggak kan, Dom?" cecar Azalea dengan raut wajah kaget bercampur takut. Benar-benar hari yang buruk! Sudah kena tampar satu kali, dan sekarang bertemu dengan musuh sang kakak. Sungguh Azalea ingin menenggelamkan dirinya sendiri di danau saja sekarang.
Matilah gue.
"Enggak. Masalah gue sama abang lo, ngapain gue balas sama lo. Gue bukan banci kayak mereka yang tega nyakitin cewek dengan tangan sendiri." Azalea menarik nafas lega setelah mendengar ucapan Dominic.
"Terimakasih lagi untuk itu."
Gue harap, gue orang terakhir yang mendengar kata itu dari lo, Lea.
Tanpa mereka sadari ada seseorang yang tengah mematung di balik pintu rooftop mendengarkan segala perkataan mereka.
Dengan tangan yang terkepal, dan menunjukkan buku-buku jari yang memutih. Orang itu berbalik dan meninggalkan Azalea dan anak-anak YS yang masih bercanda gurau.
***Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (83)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
good
12/02/2025
0Good
28/12/2024
0cerita nya sangat bagus..kesian sama si gadis nasibnya masih tak beruntung walau dh brpindah raga
19/10/2024
0Lihat Semua