logo text

Bab 26 EPILOG -- NORMAL

Haloooo. Hore, kita sudah berada di penghujung acara -- eh, penghujung cerita maksudnya. So, epilog ini ceritanya beberapa bulan kemudian ya, jadi beneran chap kemarin itu adalah chap terakhir. Dan, tenang bakal ada sekuel, kok. Bakal dipublikasikan di platform yang sama, makanya follow akunku biar kalian bisa dapat notifikasi nantinya!
Thanks alot for everything! Happy reading!
Gadis berusia hampir sembilan belas tahun itu mendecak tidak suka. Kesal sendiri dengan si pengemudi ojek online yang tadi ia tumpangi. Driver itu malah tidak bisa membaca Google Maps dengan benar!
"Sialan, telat nih gue pasti." Lirikan matanya terus berganti, dari jam tangan yang melingkar manis di tangan kiri, lalu kembali mendongak menatap koridor yang entah kenapa terasa sangat panjang hari ini. Dan sialnya, kelas gadis ini ada di ujung koridor sana.
Tanpa gadis itu sadari, dari koridor sebelah yang berujung pada koridor yang ia lewati, membuatnya terlihat seperti pertigaan jalanan raya, seseorang yang juga sama terburu-burunya seperti gadis itu sedang melintas.
Dan entah karena alasan takdir, atau memang kebetulan semata, kedua insan ini bertubrukan, tepat di depan kelas yang terbuka, menampilkan seorang pengajar ahli yang menaikkan alis memandang mereka, kini tergeletak jatuh di lantai berwarna krem ini.
"Ah, anj--" Gadis itu mengatupkan bibir tersadar. Akhir-akhir ini ia memang jauh lebih ekspresif dibanding saat ia masih menduduki bangku jenjang sebelumnya, termasuk gaya bicaranya yang semakin terbuka saja, menuruti isi hati.
Ia berdiri, merapikan celana jeans biru gelap milliknya dan memperhatikan ke bawah, khawatir ada sesuatu yang terjatuh yang dirinya tidak sadari. Tanpa menatap siapa si penabrak yang semakin membuat harinya kacau saja.
Tapi, sedetik setelahnya ia menepuki kening sendiri. "Gue 'kan emang nggak pegang apa-apa di tangan."
Pemuda tampan dengan garis wajah khas Indonesia asli ini mengangkat alis tinggi. Merasa familiar dengan suara dan juga perawakan gadis ini walau wajahnya masih tertunduk, mengakibatkan poni panjang miliknya menjuntai menutupi wajah.
"Hei, jangan di depan sana. Masuk kelas, sana. Hari pertama kok malah telat."
Gadis itu mendongak, menoleh ke samping memandang sang dosen yang kini memberinya tatapan mematikan. Yah, jika memang ternyata ada kasus yang membuat seseorang mati karena tatapan, itu sungguh mengerikan.
Laki-laki itu juga menoleh ke samping, tak sempat memperhatikan wajah si perempuan. Dan saat ia mengalihkan pandangan, yang ada gadis itu malah sudah melangkah, melewatinya.
"Hei." Si pria mengejar, tapi tak berusaha untuk menggapai si gadis. "Minta maaf dulu, kek."
Si gadis menghentikan langkah. Tanpa berbalik, ia berucap  dengan nada kasar. "Berisik. Gue telat, setan." Lalu kembali melangkah, terkesan berlari, masuk ke kelasnya.
Si pemuda dengan tinggi lumayan untuk seusianya itu terdiam di tempat. Memandangi punggung gadis yang menghilang di telan ruangan yang juga ia akan datangi.
Hanya ada satu nama di kepalanya sekarang. Sungguh, suara itu tidak bisa lepas dari ingatan, bahkan walau sangat berbeda dari yang biasa ia dengar di kesehariannya sebagai remaja tanggung itu.
Anya Shafira.
Sebuah nama yang sanggup menghadirkan ribuan rasa dan juga pemikiran-pemikiran yang melanglang buana, menyusuri setiap ingatan bagaimana mereka menghabiskan masa putih abu-abu dengan saling mendiamkan.
Ada rasa sesal di sana. Memberi sensasi menyesakkan bagi si pemuda yang kini tersenyum pedih sambil terus mencoba menguasai diri.
Ia merutuk, memarahi habis-habisan dirinya di masa lalu yang melakukan kesalahan terbesar, setidaknya itu menurutnya. Membuat dia yang hampir mencapai tangga terakhir dalam hubungan asmara, sebuah tangga yang akhirnya akan memberi kebahagiaan justru terlempar jauh ke bawah, ke tangga paling dasar, bahkan menurutnya masih terjatuh jauh ke bawah, ke dalam tanah kotor dan pengap.
Pemuda itu kini menggelengkan kepala. Berusaha mengeyahkan segala hal yang terlintas di benak yang akan merusak perasaan bahagianya sebagai mahasiswa baru di salah satu universitas bergengsi seperti saat ini.
Ia akhirnya melangkah tenang, tak peduli bahwa ia juga terlambat seperti gadis tadi, yang sudah terbirit-birit memasuki kelas.
"Assalamualaikum, Pak." Si pemuda tersenyum sopan, kemudian meringis pelan mendapat tatapan tajam dari sang pengajar yang kini sudah berbincang panjang lebar dengan seluruh murid barunya.
"Raka Pradipta, ya?"
"Eh? I-iya, Pak." Pemuda yang disebutkan nama lengkapnya itu mengusap rambut, sedikit menggaruknya.
"Masuk." Walau terdengar menyenangkan karena tak harus mendapat hukuman, nada suara itu tetap saja menyeramkan bagi telinga Raka. "Untung hari pertama," desis sang dosen dengan mata terus memicing tajam memandang Raka yang hanya memberikan cengiran andalannya ketika sedang dalam keadaan bingung harus merespon bagaimana.
Walau setelahnya, ia mengatupkan bibir, dengan mata terus mengerjap, terdiam di tempat. Matanya terpaku, memandang gadis yang berjarak beberapa meter di hadapannya yang kini sibuk menulis sesuatu di buku, terduduk dengan tenang tanpa merasa harus menolehkan kepala.
"Anya."
Suara pelan namun sangat tegas itu merasuk masuk ke telinga si gadis, membuatnya berhenti darii kegiatannya dan mendongakkan kepala.
Tatapan mereka bertemu. Sama-sama membulatkan mata terkejut dan juga sama-sama menegak tanpa sadar.
Ada rasa rindu menjerat keduanya, seolah merambat menjadi benang tipis yang mengikat, membuat keduanya tak ada yang memutuskan pandangan.
Walau kesadaran kembali memenuhi otak si gadis, melalui sebuah ingatan menyakitkan yang harus membuat segala usahanya berbulan-bulan hancur berantakan.
Membuat jiwanya kembali ditelan kegelapan, kembali mencari pegangan agar tak terperosot jauh ke dalam lubang menyakitkan.
Gadis itu mengerjap sendu, memilih mengalihkan pandangan karena rasa panas yang menjalar di kedua mata. Ia menunduk, meraih pulpen baru miliknya dengan tangan terlihat berusaha menahan getaran hebat.
"Raka Pradipta. Kenapa bengong di situ?"
Si pemuda mengerjap kaget. Ia dengan kaku menoleh ke belakang, memandang si pengajar dengan rambut botak tengahnya itu dengan bingung.
Ia mengerjap lagi, lalu tersadar apa yang terjadi, Raka kembali memberikan cengiran dan berlari pelan menuju bangku kosong, di belakang gadis itu. Jauh. Jauh sekali. Malah jarak ini terlalu jauh dibandingkan jarak aman yang diberikan sang gadis selama mereka masih hangat berteman.
Ah, berteman, ya?
Ada rasa hangat menjalar di dada sang pemuda. Ia mendongak, menatap langit-langit kelas dengan senyum menawan penuh rasa syukur miliknya.
Setidaknya, sang gadis pujaan bisa kembali ke kehidupan normalnya, walau ia tidak tahu bagaimana gadis itu bisa keluar dari belenggu yang bertahun-tahun menjeratnya.
Pemuda itu bergumam tidak jelas, kembali menegakkan tubuh, memandang punggung sang gadis yang kini terlihat lebih tegap dan lebih kuat di banding pertama kali ia memandang.
Ada rasa sesal di sana, membuat rasa sesak semakin merasuk, membuatnya tercekat. Laki-laki itu menarik napas sedalam mungkin, berusaha mengurangi rasa sesak yang justru semakin menjadi.
Jika saja saat itu ia bisa menahan diri sedikit lagi, kini ia akan bersanding bersama si gadis, menjadi pemuda yang akan dielukan oleh semua orang karena berhasil menjadi penyelamat hidup seseorang yang sudah berada di ambang batas.
Tapi, pada kenyataannya, semua semangat dan semua hal yang ia lakukan harus runtuh begitu saja saat mendapati raut wajah kecewa dan tersakiti dari si gadis saat ia mencoba melewati batas, sekali lagi.
Teringat jelas bagaimana memori itu terbayang, bahkan terasa masih kejadian di hari kemarin. Bagaimana bibir berdosanya ini menyentuh sesuatu yang tidak seharusnya -- mungkin, belum seharusnya ia sentuh.
Berakhir memberi rasa sakit tak terbendung. Berakhir dengan kondisi mereka yang seolah sedang terkena hujan badai, yang setelah semua terlawati, mereka menjadi salah dua korban yang tidak bisa diselamatkan dengan mudah.
Pemuda itu menggeram pelan. Semakin memandang nanar punggung si gadis.
Rasanya, ia harus melakukan sesuatu untuk kembali menyusun pecahan-pecahan hubungan hangat mereka berdua.
***
Anya duduk di salah satu bangku panjang kantin kampusnya saat ini. Ie menyendok makanan dengan semangat, tidak ingin membiarkan diri tersakiti karena tersiksa oleh ego dan perasaannya sendiri.
Semenjak semua berlalu, dan kini kembali normal seolah ia tidak pernah merasa hidup dalam kegelapan, gadis itu jauh lebih menghargai kesehatannya.
Ia sudah berhenti menyiksa diri dengan kegiatan-kegiatan sekolah yang menghabiskan seluruh malamnya. Walau sesekali ia tetap melakukan, karena jiwa organisasinya yang meronta ingin ditunaikan keinginannya.
Gadis itu mendongak, masih dengan sendok menggantung di mulut dengan tangan sebagai penyangga. Menatap seorang pemuda tampan duduk berhadapan dengannya.
Anya hendak bangkit, setelah menguyah makanan di mulutnya itu.
"Anya. Duduk dulu." Tapi, suara berat yang terdengar makin berat dari terakhir kali Anya mendengarkan itu membuat ia terpaku, dan menurut begitu saja.
Tapi, anak yang sekarang merantau itu tidak menatap si pemuda. Ia hanya memainkan sendok di atas bekal miliknya dengan pandangan lurus ke depan, di samping pemuda itu yang kini menatapnya lekat.
"Ada apa?" Anya melotot jengah, memandang Raka yang terus saja memandangnya tanpa mengatakan apa-apa.
"Bukan apa-apa." Raka menegakkan tubuh, menurunkan satu tangan ke atas paha dan tangan kanan menjulur ke hadapan Anya. "Cuma mau ajak kenalan," ucapnya pasti. Anya sesaat dibuat tertegun dengan pandangan serius pemuda ini.
"Gue ... Raka Pradipta. Mahasiswa baru semester satu program studi akuntansi, fakultas Ekonomi dan Bisnis."
Anya kini memandang pemuda di hadapannya makin dibuat tertegun. Tanpa dirinya sadari, tangan kanan gadis itu yang tadinya memegang sendok, beralih, terujulur membalas juluran tangan pemuda itu.
"Anya Shafira. Satu prodi dan satu Fakultas dengan Raka Pradipta. Salam kenal."

Komentar Buku (73)

  • avatar
    UngDaffa

    만타프 😂😂

    26/09/2025

      0
  • avatar
    SumyatiSumyati

    ceritanya bagus

    14/07/2025

      0
  • avatar
    Putry

    baguss bangett novelnya

    11/05/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru