Note : Sorry, agak telat update-nya, tidak sesuai janji kemarin. But, thanks yang udah nunggu. Happy Reading^^ Anya memandang ke arah luar melalui jendelanya. Kaca bening yang akhir-akhir ini nampak selalu berembun karena hujan, hari ini begitu berbeda. Tak ada embun, hanya cahaya menusuk mata. Anya menghela napas pelan. Matanya meredup saat dengan sengaja menoleh ke arah luar sekali lagi sebelum menutup tirai jendela. Hujan hari ini pergi ke mana? Apa mereka ada janji dengan matahari? Membuat Anya merasa seolah semesta sedang bersenda gurau atas keterpurukannya kali ini. Ini sudah hari ketiga sejak telepon hari itu. Ia tidak pernah beranjak dari kamar, bahkan untuk sekadar buang air, ia tidak memiliki keinginan itu. Dari bangun tidur hingga tertidur lagi, ia hanya akan menyelimuti diri dengan selimut tebal yang juga tidak pernah ia ganti. Wajahnya sudah begitu berminyak karena ia tidak pernah menyentuhkannya air. Kulitnya makin putih, menegaskan bahwa ia tidak pernah terkena sinar matahari selama tiga hari ke belakang. "Assalamualaikum." Anya mendongak, menatap pintu kamarnya dengan kerjapan ringan di mata. Itu suara sepupunya. Selama tiga hari ini, ia sengaja meminta mama untuk tidak mengganggunya. Beruntung mamanya menurut tanpa berkata apa-apa. Dan, mamanya meminta sepupunya yang telah putus sekolah untuk membantunya mengerjakan tugas rumah, yang biasa Anya lakukan. Anya seolah tak peduli lagi pada lingkungannya. Tidak peduli saat mama mungkin saja akan memikirkan apa yang telah terjadi padanya dan menangisi tindakan bodoh anak gadis ini. Dua hari lagi, semester baru akan dimulai. Sialnya, Anya masih merasa dirinya tidak siap menjalani hari itu. Pandangannya tertoleh ke arah tirai jendela berwarna hijau, tidak lagi peduli pada perbincangan adiknya dan sepupunya di ruang tengah yang bisa ia dengar jelas. Anya merebahkan diri, dengan kepala tetap mengarah ke tirai jendela. Cahaya matahari tanpa tahu diri berusaha menerobos masuk, memberikan nuansa indah di dalam kamar yang gelap dan pengap itu. Selama tiga hari ini, mamanya akan masuk, memaksa dirinya makan dengan menyuapi cewek itu. Di hari pertama, ia berhasil memakan semua makanan. Di hari kedua, karena rasa melilit di perutnya karena sebelumnya hanya makan sekali dalam sehari, membuat Anya memuntahkan apapun yang masuk ke mulutnya. Mamanya sempat menawari untuk ke rumah sakit. Tapi, dengan mata memohon, ia menolak. Ia tidak suka dengan mamanya yang perhatian seperti itu. Selama bertahun-tahun mamanya membangun tembok besar di antara mereka berdua, wanita yang begitu Anya hormati ini memberikan rasa kasih sayang yang berbeda dengan ibu kebanyakan. Dan Anya terbiasa dengan hal itu. Ia terbiasa dengan mamanya yang tidak akan banyak tanya mengenai urusannya, mengenai harinya dan mengenai perasaannya. Ia terbiasa dengan memandang tembok tinggi dihadapannya bahkan dengan sengaja memperkuat dinding itu. Anya mengusap wajah dengan telapak tangan dengan pelan. Ia bergumam tidak jelas merasa begitu lelah dengan hari-hari yang ia lewati akhir-akhir ini. Ia memejamkan mata, hendak tertidur bahkan ketika ia sadar ini masih pagi, dan mama dan papa begitu membenci orang yang tidur pagi. Tapi, Anya mendengus tak peduli. Berusaha terlelap dengan harapan ada perasaan membaik di hati saat ia terbangun nanti. Sedetik setelah ia merasa dirinya terhempas jatuh ke dunia mimpi, suara dengan nada mengejek terdengar. "Depresi ya karena masa lalu?" Anya tersentak, terduduk begitu saja, memberikan efek tersengat pada kepala membuat ia refleks memegang dahinya. Napasnya terengah, dengan bahu naik turun dan dada yang kembang kempis. Ia menutup wajah dengan kedua tangan. Selama tiga hari ini, di bawah matanya muncul lingkaran hitam yang membuat penampilan gadis ini semakin kusut. Ia tidak bisa tertidur dengan nyenyak, bahkan hampir tidak tidur sama sekali. Setiap ia menutup mata, suara-suara dari masa lalu akan terdengar. Membuatnya terengah, dengan jantung berdegup kencang. Anya menghela napas kasar. Ia mengacak rambutnya frustrasi. Ia sangat ingin menjerit, tapi jeritan sialan itu akan membuat mama masuk ke dalam, menanyakan keadannya membuatnya semakin sesak tenggelam dalam rasa sakit. Sekali lagi, ia menghela napas keras. Tersenyum pedih, membayangkan betapa nelangsanya kehidupannya. Ketukan pintu terdengar. Anya dengan segera menutup mata, berpura-pura tertidur. Tepat sesuai dugaannya, pintunya terbuka. "Kak, makan yuk." Itu bukan mama. Dalam keadaan mata terutup ia menghela napas lega. Setelahnya ia membuka mata, memandang si adik sepupu lekat, membuat yang dipandang terkejut, mengira cewek itu tertidur. "Nggak," sahutnya pendek. Si adik sepupu mengangguk kecil dengan takut dan mulai melangkah keluar dan menutup pintu kamarnya. Anya menutup mata lagi, merasa lelah. Ia menaruh tangan di belakang kepala, menjadikannya tumpuan, walau dibawah tangan itu ada bantal. Ia membuka mata, memandang langit kamarnya yang begitu kusam. Bahkan ada banyak sarang laba-laba disetiap sudut. Kapan terakhir kali ia membersihkannya? Anya mendengus geli. Saat ini, tenggorokannya begitu kering. Tapi, dari ujung kepala hingga kaki, Anya sungguh tidak ingin melakukan apa-apa. Bahkan jika bisa ia hanya ingin tertidur saja, sampai dirinya siap menghadapi dunia lagi. Maka, untuk mewujudkan itu, Anya memejamkan mata berusaha tertidur, walau kembali tersentak saat suara itu memenuhi kepalanya. *** "Assalamualaikum, tante." Anya beringsut duduk, mendengar suara tak asing dari luar kamarnya. Disusul sahutan sang mama yang menyebut nama Raina. Sesuai tebakannya. Mau apa Raina ke sini malam-malam? Anya mendengus, berusaha tidak peduli untuk apa sang sahabat berada di sini. Ia menyampingkan badannya yang sudah berbaring kembali ke posisinya, menatap tirai jendela yang memantulkan sedikit cahaya malam tanpa bintang. Tapi suara berdecit dari pintunya membuatnya melirik kecil ke arah pintunya. Di sana, Raina mendekat dengan langkah pelan. "Nya?" Anya tak menyahut. Ia tetap memandang ke arah tirai jendela. Ini sudah hari ke tujuh. Ia sudah tidak bersekolah dua hari ke belakang. Membuat beberapa kali ponselnya mendapatkan telepon dari teman sekelasnya, walau berakhir tidak terjawab oleh gadis itu. Suara decitan ranjang, membuat Anya mengetahui bahwa Raina kini telah duduk di pinggir ranjang. "Lo kenapa?" Masih tidak menyahut. Anya dapat mendengar helaan napas lelah dari Raina. "Nggak apa-apa," jawabnya setelah sekian lama hening di antara mereka. Anya masih memunggungi sang sahabat. Pikirannya tanpa diperintah memutar kejadian menjijikkan antara ia dan Raina membuat dadanya sesak disusul air mafa yang mengalir perlahan terjatuh ke ranjang. "Bukannya pas gue antar pulang lo baik-baik aja, ya?" Anya melirik, memandang Raina yang ternyata juga memunggunginya. "Lo ada apa? Cerita ke gue." Anya menghela napas. Mengeluarkan sesuatu dari hidungnya efek dari dirinya yang menangis. Ia dengan segera membersihkannya dengan lengan bajunya. Ia berbalik, kini berbaring memandang langit kamar. Terdiam cukup lama, tidak tahu harus berbicara apa. "Raka di luar," kata Raina tiba-tiba membuat Anya sepenuhnya memandang gadis itu yang masih memunggunginya. Raina juga berbalik. "Dia khawatir banget sama lo, udah dua hari nggak masuk sekolah." Anya berdecak tak suka. "Tuh cowok kenapa sih? Heran gue, baik banget sama gue." Raina membilatkan mata, lalu tersenyum geli sekaligus lega setelahnya. Yah, setidaknya Anya mau berbincang dengannya. "Lo nggak tahu?" Anya menggeleng kecil dengan polos. Raina menahan senyum melihat itu. Mereka terdiam lagi, kini dengan suara Raka dan mama di ruang tengah yang berbincang hangat. "Gue dapat telepon, Na." Raina mendongakkan kepala yang sedari tadi tertunduk lelah tidak mengerti keadaan cewek ini. Ia ingin membuka mulut, tapi mengatupkannya kembali saat Anya kembali bersuara. "Dari Sarina," sambung Anya pendek. Tapi cukup untuk membuat Raina yang memaki sweater tebal hari ini mendelik tak suka mendengar nama itu. Ia tahu semua cerita tentang masa putih biru Anya, termasuk nama-nama mereka yang membuat kehidupan Anya berada dalam kegelapan. Walau Anya pada awalnya tak pernah menyebutkan satu namapun dengan alasan lupa, pada akhirnya sisi kecil otaknya masih mengingat jelas itu semua. "Anjing emang ya mereka? Nggak puas apa dua tahun nyiksa lo?" komentar Raina pedas. Ia mendengus tak suka, ia menoleh sepenuhnya ke arah sang sahabat. Menelisik penampilan gadis itu. Rambut acak-acakan, mata menghitam serta wajah kusam. Dan jangan lupakan dengan tubuh gadis itu yang terlihat makin kurus. Ia tahu cewek di hadapannya ini sudah tidak makan dengan baik selama tujuh hari ke belakang dari mamanya. "Gue keluar dulu, ya?" pamitnya merasa perkataannya sebelumnya memberikan efek tersendiri bagi Anya, pandangannya makin menyendu. "Gue ikut." Raina membelalakkan mata terkejut. Serius? Kata mama Anya, gadis itu tidak ada niat ingin keluar dari kamar, bahkan hanya untuk mengambil air minum. Akhirnya, Raina menurut, membantu Anya berdiri. Setelah Anya berdiri tegak, Raina berjalan lebih dulu. Tapi suara berdebum keras, membuatnya kembali berbalik dan membulatkan mata terkejut. "Anya!"
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
만타프 😂😂
26/09/2025
0ceritanya bagus
14/07/2025
0baguss bangett novelnya
11/05/2025
0Lihat Semua