39

Sudah beberapa lama, Damar tidak pernah memiliki waktu dengan keluarganya selain waktu saat makan malam? Pekerjaan nya yang semakin banyak membuat Damar tidak sering berada di dalam rumah, pria itu walau masih muda, begitu serius menjalani bisnisnya. Sikapnya yang terlampau dewasa di usianya juga ketampanan dan kecerdasan nya membuat banyak orang kagum hingga banyak dari kolega bisnis yang bekerja sama dengan nya selalu mencocokkan nya dengan puteri mereka.
Tapi Damar selalu menganggap itu lelucon yang konyol, bahkan tak sering dia terkekeh mengejek diam-diam ketika mengingat usianya baru menginjak 20 tahun. Itu jelas umur seorang pria yang masih sangat muda untuk menjalani pernikahan, dan mereka yang menawarkan puteri mereka begitu berpikiran sempit.
Mengesampingkan hal itu, ini lah yang Damar tidak pernah bayangkan sebelumnya terjadi. Suatu hari, dikala langit masih baik-baik saja, Lamia tiba-tiba saja mengunjunginya, ke kantor nya dan mengajak nya ke taman tempat mereka saat itu pernah ke sana. Yang lebih mengejutkan nya lagi, wanita itu mendadak menangis terisak di sebelahnya ketika mereka melewati keheningan cukup lama di atas ayunan.
"Bibi..." Damar tidak tau harus mengatakan apa, selain memanggilnya dengan bingung. Dia sendiri sedikit takut, menatap Lamia dengan hati-hati sebelum berkata. "Kenapa Bibi menangis? Apa Bibi ingat sesuatu?"
"Apa kamu sendiri percaya, jika aku sudah mengingat semuanya?" Lamia balas bertanya, menatap Damar dengan matanya yang memerah.
Seketika warna di wajah pemuda itu luntur, sebelum matanya terbelalak tak percaya, menatap dengan horor pada Lamia yang balas menatapinya dengan tajam. Damar bergetar saat berbicara, "Se-semuanya... maksud nya, semuanya yang itu..." dia merasa dirinya benar-benar menjadi orang tolol.
Diam-diam Damar memaki dirinya sendiri karena tak berdaya menghadapinya.
"Tidak. Belum." Lamia mengusap matanya, mendesis dengan mata menyipit dan kening mengernyit. "Masih ada yang belum aku ingat seluruhnya." Matanya tampak menerawang sejenak, sebelum air matanya kembali meleleh. "Damar.... apakah kamu masih mencintai ku?"
"Bibi... tentu saja keponakan ipar mu ini mencintai mu." Rasanya Damar ingin muntah ketika mengeluarkan kalimat penuh bualan itu. Membuat Lamia menyeringai dalam air mata, terbahak dengan keras. Tapi tawanya langsung berhenti saat ekspresinya berubah mengkerut.
Dia menghapus air matanya, saat berkata. "Kenapa kamu memanggil ku Bibi? Kamu tau, itu sangat menggelikan. Sudahkah kamu lupa untuk memanggil ku apa? Cepat panggil aku Mommy."
Bukankah sebutan Mommy lebih menggelikan? Umur mu hanya tiga tahun lebih tua dari ku, tidak ada wanita dengan umur 23 tahun memiliki anak umur 20 tahun!
Walau Damar diam-diam membatin, memaki Lamia dengan sengit di dalam. Di permukaan dia tersenyum pura-pura malu saat memanggil nya. "Yes, Mom!"
Lamia tampak puas, meminta Damar untuk duduk dengan benar di ayunan, sementara dia akan mendorongnya. Damar tidak bisa menolak, seperti biasa, dia akan dengan sigap bergerak menuruti nya. Wanita itu terlihat sangat senang, bibirnya tersenyum dengan lebar, tapi terlihat sangat aneh karena ada air mata yang menetes di kedua matanya, terus-menerus.
Untuk Damar yang sering kali melihat Lamia seperti ini di masa lalu, bermanja-manja padanya, bahkan menyuruh nya memanggil dia Mommy. Sudah terlalu biasa. Hanya saja, dia tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya yang sebelumnya tampak nyaman dengan pekerjaan yang selalu dirinya sukai untuk di sentuh, harus di ganggu lagi dengan kejiwaan Bibi ipar-nya yang agak terganggu akibat kematian anaknya.
✳✳✳
Satu tahun lalu...
Saat itu pertengahan di bulan Desember. Di luar sedang hujan lebat, dan mansion sangat hening karena banyak dari kerabat, pelayan dan lain nya tengah berlibur untuk merayakan tahun baru mereka masing-masing. Kebetulan Damar sedang sibuk dengan makalah kelulusan dan sidang, jadi dia memilih menetap di mansion dan tidak kemana-mana.
Hanya saja, dia tidak tau. Malam yang seharusnya tenang dan sunyi mendadak bergema karena satu teriakan perempuan. Mengingat bahwa hanya ada dia seorang diri malam ini karena beberapa pelayan hanya datang di pagi hari dan pergi di sore hari, membuatnya harus mendengar suara mengerikan itu sendirian.
Damar tentu saja terkejut dan takut.
Tapi saat menyadari bahwa suara itu datang dari lantai dua, dan itu adalah kamar di mana Bibi dan Paman nya berada, Damar jadi semakin takut.
Apakah wanita itu sudah muak dan sekarang menggila?
Damar tau, isteri dari Paman nya itu tidak kemana-mana di tahun baru ini. Selama wanita itu masuk ke mansion, dia terus berada di kamar dan tidak sekalipun keluar. Apalagi sekedar untuk berinteraksi dengan mereka. Ruang lingkupnya hanya kamar, walau sesekali dia pernah melihat wanita itu keluar pun, itu hanya akan mengambil beberapa cemilan dan buku.
Damar selalu diam-diam memperhatikan pintu kamarnya yang tertutup rapat dengan penasaran, tapi hanya berakhir dengan gedikkan bahu dan ekspresi acuh. Kemudian dia perlahan mengabaikan keberadaan nya.
Pernah ada seorang pria datang dan mencari Bibi-nya, Damar tidak tau hubungan mereka itu apa?
Tapi melihat ekspresi Bibi nya yang tidak suka tapi tetap memilih pergi dengan nya dan kembali membawa banyak belanjaan, tentu menjadi sebuah tanda tanya besar. Semua keluarganya mengira dia selingkuh, tapi melihat bahwa tidak ada hal istimewa yang terjadi selain fakta bahwa Bibi nya terang-terangan memeras pria itu, semua orang memilih tutup mulut. Damar sekali lagi melirik pada paman nya di sisi nya saat itu, saat di mana Bibi nya datang dengan kantong-kantong belanjaan dan mengacuhkan nya.
Paman nya tampak tenang tidak berkata apa pun, bahkan tidak menegur mengenai tingkah isteri nya yang boros, membuat siapa pun yang melihat agak sedikit iba terhadapnya. Seingat Damar, semenjak saat itu lah keluarganya jatuh tidak menyukai Bibi ipar nya ini.
Dan sekarang wanita itu berteriak?
Dia pasti kesurupan jin!
Namun walau dirinya ketakutan, Damar sedikit merasa khawatir. Mungkin Bibi nya itu sedang dalam masalah? Dia memang tidak terlalu dekat dengan nya, tapi bukan berarti Damar tidak mempedulikan Bibi ipar nya itu, dia masih lah keluarganya, dan sudah seharusnya Damar memperhatikan nya. Dan sebagai salah satu keluarga yang hanya ada satu-satunya di mansion, Damar harus memeriksa nya, dan melihat apakah Bibi nya itu baik-baik saja?
Menahan ketakutan nya sendiri, akhirnya Damar melangkah mendekati kamar. Awalnya dia ragu, tapi kemudian dia mengetuk pintu.
Keheningan yang menyelimuti mansion di tengah malam begitu sangat mengerikan, di tambah suara hujan deras di luar. Walau tanpa guntur, itu masih membawanya ke dalam suasana horror. Tiba-tiba Damar melihat pintu kamar Bibi nya tidak terkunci, jadi dia membukanya perlahan.
Hal pertama yang Damar lihat adalah kekosongan. Di sana tidak ada siapa pun, hanya lampu tidur yang menyala remang-remang yang menjadi pencahayaan satu-satu nya di kamar besar itu. Damar mengerutkan diri, hendak kabur saja dari sana, namun indera pendengarnya tanpa sadar menangkap suara rintihan.
Apa itu hantu? Damar langsung menebaknya dengan bulu kuduknya berdiri. Disaat genting, Damar tiba-tiba terdiam karena mulai merenungkan dirinya sendiri, dia adalah seorang pria, mana mungkin lelaki jantan sepertinya takut pada hantu? Itu terlalu tidak masuk akal! Jadi dengan keberanian nya yang kecil, Damar segera mencari saklar lampu dan menyalakan nya.
Kamar terang benderang, dan yang pasti tidak ada hantu.
Jelas itu hanya halusinasi-nya saja bukan?
Damar merasa konyol, tapi dia diam-diam menghela napas lega, merasa bangga karena dapat mengatasi ketakutan nya. Sehingga dia berbalik, berniat meninggalkan kamar, namun suara kesakitan seseorang tiba-tiba terdengar kembali menghentikan langkahnya. Kali ini rintihan tercekat itu mengeluarkan kata, "To...long..."
Damar langsung berbalik masuk dengan cepat, dahinya mengernyit dalam saat mengetahui bahwa suara itu adalah suara Bibi nya. Dia memang jarang sekali mendengar wanita itu bicara, tapi dia hafal dengan suara semua kerabatnya, jadi Damar langsung mencari-cari.
Semua sudut kamar dirinya periksa, dan terakhir adalah kamar mandi. Damar tidak tau, apa yang sebenarnya telah terjadi saat dia menemukan darah... tidak, banyak darah. Di seluruh ubin kamar mandi di penuhi genangan darah, membuatnya melebarkan mata terkejut, namun dia harus terkejut kembali saat matanya menangkap sosok Bibi nya itu, bersandar di tembok, tepatnya di bawah shower sedang merintih kesakitan memegangi perut nya...
Tunggu, jelas ada yang tidak beres di sini.
Darah ini mengalir dari dalam tubuh wanita itu, membasahi kedua kaki nya dan mengotori lantai. Damar sama sekali tidak melihat wanita itu menyayat tangan nya sendiri, jelas ini bukan tindakan ingin bunuh diri. Wanita itu masih waras! Namun dress nya yang seharusnya tampak sangat cantik, menjadi berlumuran darah, membuat pikiran nya gelisah, dan segera memberikan kesan ngeri saat Damar melihat nya dengan seksama.
"Bibi Lamia!"
✳✳✳

Komentar Buku (138)

  • avatar
    LimaJuliana

    eu dou 4. porque eu achei bonito mas é bom a historinha

    27/07

      0
  • avatar
    WannadaNayra

    bagusss😍😍😍

    25/07/2025

      0
  • avatar
    Nur Mul Yadi

    bagus ceritanya

    05/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru